Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 70


__ADS_3

Subuh berkumandang. Aisyah terbangun dan tidak mendapati Gus Aham di sisinya. kemana perginya?!.", pikir Aisyah.


Tak lama kemudian, masih dalam kebingungannya. ia melihat suaminya keluar dari kamar mandi. ya, Gus Aham baru saja selesai mandi dan menyiapkan air mandi untuk istrinya. ia hanya ingin memanjakan Aisyah sekarang. baik saat ini, esok ataupun nanti. ia ingin melayani istrinya, dan bukan Aisyah yang terus melayaninya.


"Sudah bangun?!.", tanya Gus Aham. ia tersenyum melihat wajah polos bangun tidur istrinya. tetap cantik walau bangun tidur dan tidak bersolek.


"Mas, sudah siapkan air. kamu mandi dulu, ya?!.", ucap Gus Aham. Aisyah mengangguk sebagai jawaban.


Ia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. sementara Gus Aham memesan sarapan untuk mereka. Gus Aham meminta sarapannya di kirim ke kamar.


Ini hari terakhir mereka di kota pahlawan. Gus Aham dan Aisyah akan berkunjung lagi ke kota ini kurang lebih sepekan lagi. itupun untuk cek mata selanjut, untuk memastikan bahwa transplantasi kornea itu benar-benar berhasil dan tidak ada penolakan.


Aisyah keluar dengan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan suaminya di kamar mandi tadi. terlihat Gus Aham meletakkan sarapan yang sudah ia pesan dari nampan pelayan ke meja tempat mereka akan sarapan bersama.


Pelayan itu pamit undur diri begitu menyelesaikan tugasnya.


"Sarapan dulu?!.", ajak Gus Aham pada Aisyah setelah pelayan itu benar-benar keluar dari kamar mereka.


Aisyah mendekat, Gus Aham menarik kursi untuk istrinya dan Aisyah segera duduk.


"Lain kali, ndak usah nyiapin air mandi buat saya ya, Gus?!. saya kan sudah bisa lihat. jadi, njenengan ndak perlu repot-repot.", ucapnya ketika Gus Aham sudah duduk di depannya.


"Kita, sudah sepakat untuk memulai semuanya kan?!.", Gus Aham tersenyum mencoba menjelaskan pada Aisyah.


"Dan, apa yang mas lakukan. adalah, usaha seorang pria untuk mendapatkan hati gadis yang di sukainya. jadi, biarkan mas melakukan apapun untuk mendapatkan hati kamu. hasilnya?!, semua terserah kamu. jangan merasa ndak enak.", ucapnya pada Aisyah. Gus Aham tersenyum berharap Aisyah tidak menganggap semua ini hal yang berat baginya.

__ADS_1


Aisyah yang masih menunduk melirik Gus Aham dengan ragu. tapi saat matanya melihat pria di depannya itu sedang tersenyum, membuatnya menarik nafas lega. mungkin memang benar kalau suaminya tulus dengan semua itu. jadi, ia tidak perlu merasa khawatir.


"Sarapan, ya?!.", ajaknya pada Aisyah. dan ia mencoba tersenyum pada suaminya. Aisyah hanya tersenyum tipis, tapi itu mampu membuat wajah Gus Aham berseri-seri. ia mengangguk menjawab ajakan suaminya.


"Hari ini mau pulang ke pondok?!, ke panti?!. atau masih mau tinggal disini?!.", tanya Gus Aham sambil mengambilkan makanan untuk Aisyah.


"Pulang saja. toh, sudah selesai kan?!.",


"Pulang ke pondok?!. atau ke panti?!.",


"Terserah njenengan saja.", jawabnya menerima uluran sepiring nasi lengkap dengan aneka lauk dari suaminya.


Gus Aham memesan semua makanan kesukaan Aisyah pagi ini. ia ingin melihat istrinya makan dengan lahap, mengingat beberapa hari ini Aisyah sulit sekali untuk disuruh makan.


"Maem yang banyak. setelah ini, kita berkemas, trus pulang. nanti mampir ke panti dulu baru ke pondok. ibu pasti senang tau kamu bisa lihat lagi.", ucap Gus Aham. Aisyah tersenyum dan mengangguk saja, menyetujui ide suaminya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah dan Gus Aham sudah berada di mobil untuk perjalanan pulang. kali ini, mereka mampir dulu ke pusat oleh-oleh yang ada di Surabaya.


Ia ingin membeli banyak barang dan makanan untuk anak panti dan kedua keponakannya, sebagai tanda syukur karena istrinya di beri kelancaran dalam operasi transplantasi kornea.


Kedapannya, Gus Aham hanya berharap tidak ada penolakan pada operasi itu dan Aisyah bisa melihat Selamanya. karena ada banyak yang ingin ia tunjukkan pada kekasih hatinya itu.


"Ini banyak sekali, Gus?!.", ucapnya. melihat begitu banyak barang dan makanan yang mereka beli.

__ADS_1


"Mereka akan suka, kan?!.", tanya Gus Aham.


"Enggeh. tapi....", ucapannya terpotong. Aisyah ragu untuk melanjutkan. apakah anak-anak panti butuh boneka?!.", pikirnya.


"Sebagian mungkin suka, tapi kalau anak laki-laki?!.", ia nampak berfikir bagaimana mengatakan pada suaminya. mengingat suaminya membeli boneka sesuai jumlah dari semua anak-anak panti.


"Njenengan, dulu. juga suka mainan boneka?!.", tanyanya ragu. ia takut menyinggung perasaan suaminya. Gus Aham nampak berpikir sejenak.


"Tidak.", jawabnya. ia menggeleng mengingat masa kecilnya yang tidak di izinkan banyak bermain seperti saudara-saudaranya yang lain dengan alasan sakit bawaan yang di alaminya. ia berjanji pada dirinya sendiri, kelak jika ia memiliki putra dan putri, ia tidak akan membatasi semua pergerakan mereka. apapun yang mereka ingin lakukan, asalkan itu positif dan berdampak baik, ia tidak akan melarangnya.


Akibat dari semua larangan yang ia dapat. begitu ada kesempatan, ia ingin mencoba hal-hal baru yang ekstrim. salah satunya, seperti balap liar.


Gus Aham ingat dengan benar, ia mulai ikut balap liar saat dikirim ke pesantren untuk pertama kalinya. waktu itu karena masih dalam masa rukhsoh dan liburan, Gus Aham izin untuk pergi mengunjungi salah seorang temannya. tak disangka, di depan jalanan rumah temannya biasa digunakan untuk arena balap liar. karena jalanan beraspal itu hanya di lalui oleh petani yang akan ke sawah jika waktu pagi dan sore. sedang balap liar itu sering terjadi pada malam hari.


Dari berkunjung kerumah temannya itulah, Gus Aham sering memperhatikan pada awalnya. lalu, lama-lama ia tertarik dan mulai mencoba untuk ikut balapan. sekali, kedua kali dan beberapa kali membuatnya ketagihan lagi, dan lagi.


Bukan taruhannya yang membuatnya ketagihan, karena Gus Aham tidak pernah mengeluarkan dan menerima taruhan dari lawannya. tapi rasa bangganya saat bisa mengalahkan pembalap liar lain dan menjadi satu-satunya yang sampai di garis finis terlebih dahulu.


Membuat nya dikenal banyak orang dan mendapatkan banyak teman. mengingat, masa kecilnya yang tidak di izinkan untuk melakukan permainan apapun.


Begitu juga dengan usaha yang ia rintis, baik bengkel otomotif, rumah makan ataupun yayasan anak jalanan. ia hanya ingin bermanfaat dan bersosialisasi dengan semua kalangan, terutama kalangan bawah seperti mereka.


Ia tidak ingin berdiri di belakang nama besar orang tuanya. ia ingin berjalan sesuai nuraninya sendiri. itupun karena ia merasa tidak akan mampu mengemban untuk meneruskan pesantren yang kini di kelola orang tuanya. karena ia faham, ia bukan seperti Gus Ma'adz, Gus Fahim ataupun Gus Irfan, yang manut, nurut dan faham serta khatam ilmu-ilmu agama. jadilah, ia ingin bermanfaat pada orang banyak sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang ia miliki. tapi Abah keburu menilainya dengan pandangan yang berbeda.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2