
Akhirnya, setelah menemui dokter. Aisyah beserta keluarganya di minta untuk tanda tangan, surat persetujuan operasi.
Diputuskan, bahwa operasi akan di laksanakan besok pagi. jadi, mulai sore Aisyah sudah di haruskan berpuasa.
Ummi dan Abah, juga ibu serta kakaknya menemani ia dan suaminya sepanjang sore hingga malam.
Banyak yang mereka ceritakan. terutama rasa syukur Ummi yang tidak putus-putusnya, karena putranya sudah mendapatkan pendonor ginjal.
Meskipun Abah dan Ummi, tidak tau siapa pendonornya. tapi, Ummi berharap pendonor putranya di beri kesehatan dan umur panjang.
"Mugo-mugo, yang donorin ginjal buat Aham. di beri umur panjang ya, bah?!. murah rezki, operasinya lancar. terus, besok kita bisa ketemu sama orange. mau bilang matur nuwun.", harap Ummi. yang di amini semua yang hadir diruangan itu. Aisyah hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Pukul sepuluh lewat. Abah dan Ummi, serta ibu dan kakaknya pamit pulang. agar Aisyah bisa segera istirahat.
"Ummi, pulang dulu ya, nduk?!. besok sini lagi.", ucap Ummi, memeluk menantunya.
"Ibu, juga pulang dulu. kamu, cepat istirahat ya, nduk?!.", Aisyah menganguk, mengiyakan ucapan ibu dan mertuanya.
Setelah berpelukan dan berpamitan. satu, persatu dari mereka mulai keluar meninggalkan Aisyah dan Gus Aham di ruangan itu.
Aisyah menghampiri suaminya setelah mengantarkan semua anggota keluarganya sampai depan pintu.
Ia duduk di samping ranjang suaminya. malam semakin larut, tapi ia belum merasa ngantuk. ia ingin menghabiskan malam ini untuk menemani suaminya.
"Mas. besok kita akan sama-sama berjuang. njenengan, harus kuat, ya?!.", ucapnya. tangannya mendekap telapak tangan suaminya. lalu menempelkan nya di pipinya.
Ia rindu belaian itu. ia rindu hangatnya belaian tangan suaminya di rambut dan pipinya.
"Njenengan, pasti sembuh. percaya saya.", ucapnya. tangannya mulai meraih rambut lurus milik suaminya dan mengusapnya lembut.
"Setelah sembuh, kita akan berpisah sebentar. hanya sebentar, saya janji!.",
"Setelah itu, kita akan sama-sama terus.", ucapnya. kedua tangannya mendekap erat tangan suaminya yang menempel di pipinya. ia tersenyum sejenak, memandang wajah tampan Gus Aham.
__ADS_1
"Ada kejutan, saat kita sama-sama bisa melewati masa-masa kritis ini.", lanjutnya. ia memejamkan matanya, merasakan hangatnya sentuhan tangan suaminya di pipinya.
"Njenengan, mau tau?!.",
"Kalau mau tau. njenengan, harus berusaha kuat dan tetap semangat, ya?!.",
"Janji. nanti, saya akan kasih tau apa kejutannya?!.", ucap Aisyah, dengan senyum manisnya.
Malam semakin larut. tapi, ia tidak kunjung merasa mengantuk. entah karena terlalu senang dan bersemangat. atau, karena ia ingin menghabiskan waktu dan saat-saat ini bersama suaminya.
Jadilah, semalaman ia hanya duduk di samping ranjang Gus Aham, dan menceritakan semua yang terjadi padanya.
Tentang perasaannya, tentang keyakinannya, tentang doanya dan tentang harapannya bersama, dan kepada sang suami.
Terkadang dalam ceritanya, ia tersenyum sekalipun suaminya tidak membalas. terkadang, ia juga terlihat sebal dan menggemaskan saat bercerita pada suaminya.
Berbagai ekspresi tersirat di wajahnya. seperti perasaannya saat ini. senang, sedih, susah dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. membuatnya, tak bisa tenang. dan, ia mencoba menutupi dengan celotehan dan senyumnya saat bercerita pada suaminya.
Aisyah sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan terjadi pada ia dan bayinya. dan karena keadaan yang sedang tidak bersahabat. ia, memilih tidak memberitahukan kehamilannya pada semua orang.
Awalnya, ia ingin Gus Aham menjadi orang pertama yang mengetahui kehamilannya. tapi ia sadar, ini bukan waktu yang tepat. pengakuannya tentang kehamilannya, hanya akan membuat keluarganya semakin sulit untuk mengizinkan ia mendonorkan ginjal nya.
Baguslah, hasil tes darah yang dilakukan untuk pemeriksaan ginjal itu, tidak menunjukkan kadar HCG. sehingga baik dokter ataupun perawat tidak menyadari bahwa ia hamil.
Seharusnya, tes darah itu bisa menunjukkan kadar HCG, yang memberikan tanda bahwa Aisyah hamil. tapi, entahlah kenapa kadar HCG yang terbaca adalah normal.
Padahal, pada wanita umumnya. saat kehamilan di trisemester pertama, kadar HCG bisa naik 2-3 kali lipat. tapi, entahlah apa yang terjadi dengan Aisyah dan kandungannya.
Jam dinding menunjukkan pukul empat subuh. Aisyah beranjak dari duduknya dan segera pergi ke kamar mandi untuk wudhu. ia bersiap hendak melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat dua rakaat di laksanakan, ia tidak lupa berdoa. memohon yang terbaik untuk semuanya, memohon kesehatan dan keselamatan untuk suami, ia dan bayi mereka. serta memohon di lancarkan, semua urusan dan operasi hari ini. tidak ada yang ia inginkan selain kesembuhan suaminya, sehingga mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu.
Aisyah menyelesaikan doanya. ia segera melepas mukena dan melipatnya. lalu, meletakkannya di kursi.
__ADS_1
Aisyah menghampiri suaminya. ia mendekatkan wajahnya pada wajah Gus Aham. di sana, ia mengecup lembut kening, hidung dan bibir suaminya. sama seperti yang mereka lakukan, setiap kali Gus Aham pamit akan pergi, atau setelah mereka selesai berjamaah.
Untuk sesaat, ia meraih tangan suaminya dan mengecupnya lembut. cukup lama, sampai ia merasa puas dan lega.
Setelah dirasa cukup. ia segera pergi dari ruangan tempat suaminya di rawat. ia tidak bisa berlama-lama, mengingat akan banyak keluarga yang datang. dan ia sendiri, harus segera bersiap menuju ruang operasi menemani sang suami.
Aisyah berjalan menuju pintu, dan keluar. ia menatap suaminya lekat dari pintu. ada senyum harapan menghiasi bibirnya, sebelum akhirnya ia menutup pintu dan pergi.
Aisyah duduk seorang diri di kursi. menunggu saat ia di panggil dan harus masuk ke ruang operasi.
Sementara di ruangan Gus Aham. semua keluarga sudah datang. baik itu, Ummi, Abah, ibu, Gus Fahim, Gus Ma'adz beserta istrinya. mereka semua datang untuk menemani Gus Aham menjalani operasi transplantasi ginjal.
Pikirannya kosong. ia hanya mengkhawatirkan hasil operasi ini. harapannya hanya satu, mereka semua selamat.
"Tuk...,
"Tuk...,
Ketukan jari kakaknya membuyarkan lamunannya. Aisyah tersenyum dan menoleh. ia melihat kakaknya tersenyum, nampak memberinya semangat.
Mas Raihan menyentuh kan jari telunjuknya di kaca berembun yang membatasi ia dan adiknya.
Di kaca itu, ia nampak membuat sebuah lingkaran besar. kemudian, ia membuat titik dengan jarinya di kedua sisi atas lingkaran tersebut, hingga mirip dengan mata. tidak lupa, ia membuat garis melengkung di bagian bawah, sehingga tergambar seperti wajah yang sedang tersenyum. di bagian terakhir, mas Raihan membuat titik di atas garis lengkung itu, sebagai hidung dan memberi Aisyah isyarat untuk menyentuhnya.
Aisyah tersenyum. ia menempelkan jari telunjuknya di kaca, sehingga seolah-olah, jarinya dan jari mas Raihan bersentuhan. mereka sama-sama tersenyum, meski terlihat jelas ada air mata menggenang di pelupuk mata kakaknya.
Ia ingat. itu, adalah cara mereka berjanji saat masih kecil. saat Aisyah sedih, kakaknya pasti akan menggunakan cara ini untuk membuat adiknya tersenyum. dan berjanji, akan selalu menjaganya.
Aisyah membalikkan wajahnya. pura-pura melihat para perawat yang sedang keluar masuk mempersiapkan alat operasi. diam-diam ia menghapus air matanya. lalu ia mengangkat ponselnya, memberi isyarat pada kakaknya untuk foto berdua.
Mas Raihan yang faham, segera mengambil ponsel dari sakunya. ia menghapus air mata yang hampir jatuh itu. lalu memberi aba-aba pada Aisyah untuk berfoto selfie.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺