
Gus Aham memarkir mobilnya teapt di pelataran panti. ia segera turun untuk menemui Aisyah.
Langkah kakinya di percepat. ia ingin segera bertemu dengan istrinya, memeluk dan mengecupnya. ia rindu senyumnya, ia rindu tawa renyahnya, ia rindu aroma tubuhnya, ia begitu rindu perlakuan manja istrinya.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham begitu sampai di depan pintu.
"Wassalamu'alaikum salam.", sahut mba Yati dari dalam yang sedang mengganti sprei bantal sofa.
"Gus. kok sendiri?!, ndak sama mba Aisyah?.",
Deg. pertanyaan itu, seolah mengatakan bahwa Aisyah tidak disini.
"Aisyah, tidak kemari?.", tanyanya ragu, tapi keluar juga dari bibirnya.
"Apa maksudnya?!. dengan pertanyaan, Aisyah tidak kemari?.", sahut mas Rai yang baru saja masuk ke aula.
Gus Aham sedikit terkejut, ia menghela nafas berat.
"Mas.", hanya itu yang keluar dari bibirnya saat melihat kakak iparnya muncul dan bertanya maksud perkataannya.
Mas Rai hanya diam. ia menunggu penjelasan lebih lanjut dari Gus Aham.
"Aisyah, pergi dari rumah. aku pikir, dia kesini.", ucapnya setelah diam beberapa saat.
"Adikku tau kewajibannya sebagai seorang istri. dia tidak mungkin keluar dari rumah tanpa izin suaminya, kecuali.....
Kalimat terakhir mas Rai menggantung. ia tau kakak iparnya menunggu penjelasan darinya, terlihat jelas dari sudut matanya yang sedang menyelidik dan menatap Gus Aham.
Gus Aham menunduk. ia tidak bisa jujur sekarang, atau mas Rai akan marah. masalah mas Rai marah atau ingin menghajarnya, ia tidak masalah. yang jadi masalah adalah keberadaan Aisyah yang belum di ketahui, jadi ia harus secepatnya mencari istrinya apalagi ia sedang hamil.
"Mas. masalah buat perhitungan sama aku, nanti saja. yang penting sekarang, kita harus cari Aisyah dulu.", ucapnya menjawab pertanyaan kakak iparnya.
Mas Raihan terdiam. benar kata Gus Aham, yang penting temukan Aisyah dulu. apalagi adeknya tengah hamil sekarang.
__ADS_1
"Mba Yati. kalau ibu atau Mira telfon, jangan bilang masalah ini. takut perjalanan ibu dan Mira ndak tenang.", pesan mas Raihan.
"Injih, mas.", jawabnya.
Kebetulan pagi ini, ibu dan mba Mira harus pergi ke Pati, Jawa tengah. mba Mira ada acara keluarga disana, jadi ibu menemani menantunya yang sedang hamil muda itu. ibu khawatir mba Mira kerepotan kalau Abel rewel di jalan, mengingat ibunya kini tengah berbadan dua.
Sedangkan mas Raihan harus tetap tinggal karena ada jadwal seminar yang tidak bisa di cancel, lagi pula kalau pergi semua kasihan mba Yati kerepotan sendiri mengurus anak panti dan donatur yang berkunjung.
"Mas. tau tempat biasa yang di datengi Aisyah, kalau sedang sedih?.", tanya Gus Aham. mas Raihan terdiam sejenak, ia nampak berfikir.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Gus Aham
"Le, jemput mas di perempatan selatan pondok"
Ya, tadi Gus Aham mengirimi pesan singkat pada Gus Ma'adz, perihal perginya Aisyah. jadilah, mas Raihan pergi ikut dengan Gus Aham untuk menjemput Gus Ma'adz dulu dan lanjut mencari Aisyah.
Gus Ma'adz sudah menunggu di perempatan jalan selatan pondok. ia yakin tidak ada santri yang melihatnya berjalan kesana, mengingat sekarang sekolah sudah masuk lagi setelah jam istirahat.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham duduk di belakang kemudi dengan Gus Ma'adz yang duduk di sampingnya, sedang mas Raihan duduk di jok belakang.
Mas Raihan mengatakan, kalau Aisyah sedih dia akan pergi ke taman sewaktu kecil. tapi saat dia sudah beranjak dewasa dia lebih suka pergi mengunjungi makam-makam para wali, auliya' dan kyai. jadilah, mereka menyusuri setiap taman dan makam auliya' yang di lewati.
Makam terdekat di wilayah ini adalah pondok Ploso, jadi mereka menuju ke sana.
Begitu sampai, Gus Aham segera memarkir mobilnya sementara Gus Ma'adz dan mas Raihan mengurus prosedur izin masuk ke area makam.
Di Ploso hanya waktu-waktu tertentu di izinkan untuk ziarah makam bagi orang luar, kalau bagi santri Ploso sendiri bisa sewaktu-waktu.
Mereka tidak menemukan Aisyah disini. tapi karena ini area makam, meskipun tidak menemukan yang di cari, mereka tetap menyempatkan diri tawasul dan berdoa di makam.
Gus Aham tampak khusyuk. ia hanya berdoa agar bisa segera di pertemukan dengan istrinya.
__ADS_1
Begitu selesai berdoa, mereka keluar dari area makam. tujuan selanjutnya, pondok salafy Sumbersari yang terletak di sekitar pare, tepatnya di dusun Sumbersari.
Di tempat itu juga mereka tidak menemukan Aisyah, beralih mereka ke pondok Ringinagung yang masih satu arah dengan pondok Sumbersari. tapi tidak juga mereka menemukan Aisyah.
Tujuan berikutnya adalah Tebu Ireng, Jombang. tapi mereka tidak juga bertemu dengan Aisyah.
Karena tidak menemukan Aisyah di makam" kyai yang sudah di sowani, Gus Aham pun mengemudikan mobilnya ke arah Mojoagung, Betek. sesuai dengan arahan mas Raihan.
Awalnya, mas Raihan sendiri tidak yakin Aisyah pergi sejauh ini sendiri. tapi Gus Aham tetap melajukan mobilnya kesana.
Mereka segera menuju ke makam Mbah Alif begitu turun dari mobil, tidak ketemu. setelah tawasul mereka lanjut ke makam syekh Sayyid Sulaiman, tapi belum juga bisa menemukan Aisyah.
Mereka sudah nampak kelelahan. Gus Ma'adz dan mas Raihan bahkan bisa tertidur walau sejenak di mobil sebelum akhirnya sampai di Troloyo, Trowulan Mojokerto tepatnya. makam syekh Jumadil Kubro yang menurut cerita merupakan Mbah nya Walisongo.
Waktu menunjukkan jam satu dini hari, mereka semua tampak kelelahan. tapi tetap semangat mencari Aisyah di tengah ramainya para peziarah yang datang dari berbagai kota.
Mereka memasuki area makam setelah berwudhu lebih dahulu.
"Ayo, le. tawasul dulu, doa dulu. biar hati tenang, pikiran ndak kemrungsung. sekalian minta sama Allah supaya Aisyah selalu di jaga.", ajak Gus Ma'adz pada adiknya yang sedari tadi tidak bisa tenang.
Gus Aham menoleh, melihat kakak iparnya yang memberi isyarat kedipan mata untuk menyetujui usulan Gus Ma'adz.
jadilah mereka masuk ke area makam. di sana, mereka bertawasul dan berdoa. kali ini, Gus Aham lebih lama dalam memanjatkan doa. ia tidak minta apa-apa selain di pertemukan dengan istri dan calon anaknya dalam keadaan sehat. bahkan bulu matanya basah di akhir doanya. ia sempat menutup wajahnya beberapa saat sebelum akhirnya menyudahi doanya.
Keluar dari area makam, Gus Aham mengajak ke dua kakaknya untuk menginap di hotel. bagaimanapun, mereka butuh istirahat juga.
Begitu selesai check-in mereka segera di antar ke kamar mereka. Gus Ma'adz dan mas Raihan yang memang sudah sangat kelelahan itu dengan cepat tertidur. sementara Gus Aham hanya duduk di balkon, menatap gemerlapnya kota Surabaya di malam hari.
Ya, mereka sudah sampai di kota Surabaya. tujuan berikutnya adalah makam Mbah Bungkul dan sunan Ampel.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1