
Cahaya sang dewi malam tengah menguasai hamparan gelap karena sang dewi menunjukkan bentuk sempurnanya. Semilir angin malam semakin menambah syahdunya suasana malam itu. Langit tampak indah tanpa hiasan awan gelap yang biasa menyelimuti.
"Sayang, sedang apa di sini?" tanya Benny setelah menemui Fina yang sedang berdiri di pinggir pagar pembatas balkon kamarnya.
"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin menikmati suasana malam ini saja," jawab Fina dengan suara yang lirih.
"Bohong." Benny tidak percaya dengan pengakuan istrinya itu, "kamu pasti sedang memikirkan sesuatu," lanjut Benny sambil mendekap tubuh ramping itu dari belakang.
Hanya helaan napas berat yang terdengar di sana. Sepertinya tebakan mantan duda itu tepat sasaran jika dilihat dari bahasa tubuh wanita berbadan dua itu. Benny sabar menunggu hingga istrinya itu siap bercerita.
"Ini tentang Elza," jawab Fina setelah beberapa saat terdiam.
"Memangnya ada apa dengan Elza?" tanya Benny dengan sikap yang kalem.
"Aku tidak setuju jika Elza dititipkan di Ibu, Mas. Jemput Elza sekarang, Mas," jawab Fina sambil menahan tangisnya.
Sudah dua hari ini Elza diambil Dita dan Ani. Bocah kecil itu diajak tinggal sementara di rumah Ani dengan alasan takut membahayakan kehamilannya. Lagi pula, Ani dan Dita takut jika Fina kerepotan mengurus Elza.
"Ibu dan Dita melakukan semua ini karena mereka sayang sama kamu, Sayang. Mereka tidak mau jika terjadi sesuatu kepada kamu." Benny berusaha menenangkan istrinya.
"Memangnya ada apa dengan Elza? Dia justru menjadi penghibur bagiku. Rumah terasa ramai jika ada dia. Aku sama sekali tidak kerepotan, Mas. Elza cukup mengerti kok," jelas Fina.
Mantan duda itu hanya bisa mengusap lengan istrinya dengan gerakan yang lembut. Dia sendiri bingung harus bagaimana mengingat semua ini adalah keinginan ibunya. Padahal, dari lubuk hati yang paling dalam, dia sendiri tidak setuju jika Elza ada di sana.
"Pokoknya aku mau Elza pulang, Mas. Aku gak mau sampai Dita ataupun Ibu direpotkan Elza. Lagi pula aku ... aku tidakโ" Fina menghentikan ucapannya karena tidak mungkin dia menjelaskan alasan yang sesungguhnya kepada Benny.
"Aku tidak suka dengan cara Dita mendidik anak-anak. Aku sudah susah payah membatasi Elza dari gadget, tetapi kalau di sana hampir seharian Elza bermain gadget," lanjut Fina dalam hatinya.
"Kenapa gak dilanjutkan?" tanya Benny setelah beberapa detik menunggu penjelasan Fina.
__ADS_1
"Sudahlah. Pokoknya aku mau Elza pulang, Mas. Biar aku gak kesepian di sini." Fina tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, nanti aku akan bicara sama Ibu." Benny menyanggupi permintaan istrinya, "bagaimana kalau aku mencari pengasuh lagi untuk membantu kamu merawat Elza?" tawar Benny tanpa melepas dekapan hangatnya.
"Tidak perlu, Mas. Aku masih bisa mengurus Elza. Apalagi sekarang Mbok Jum tinggal di sini," tolak Fina karena memang dirinya masih bisa menghandle semua keperluan Elza.
Seiring berjalannya waktu, usia kandungan Fina sudah memasuki minggu ke enam. Mual dan muntah masih dia rasakan setiap bangun tidur dan tubuhnya menjadi lemas. Namun, keadaan itu tidak berlangsung lama karena setelah minum susu atau pun makan sesuap nasi, tenaganya kembali pulih. Dia masih bisa beraktivitas seperti biasanya meskipun sedang hamil muda.
"Besok pagi aku usahakan Elza pulang. Jangan sedih lagi, oke?" bujuk Benny setelah mengecup puncak rambut istrinya, "sekarang lebih baik kita masuk ke kamar. Angin malam tidak baik untuk kamu," ajak Benny seraya melepaskan dekapan hangatnya.
"Bagaimana kalau gak boleh sama Ibu?" tanya Fina setelah membalikkan badan. Dia menatap Benny dengan sorot mata penuh arti.
"Kita lihat saja besok pagi. Ibu pasti paham dengan keadaan ini," jawab Benny seraya mengembangkan senyumnya, "ayo!" Benny meraih tangan Fina untuk dituntun masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya Fina tidak yakin jika mertuanya mengizinkan Elza kembali ke rumah ini. Entah karena apa sebabnya sehingga kekhawatiran mertua dan ipar Fina itu terlalu berlebihan.Selama ini tidak akan keadaan yang perlu dikhawatirkan karena semua berjalan dengan lancar.
...๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ...
Malam indah telah berlalu begitu saja. Langit gelap telah berubah menjadi cerah setelah sang raja sinar menunjukkan kuasanya. Seusai sarapan berdua dengan istri tercinta, Benny pamit pergi ke rumah ibunya.
"Pokoknya Elza harus pulang sama Mas!" pesan Fina saat mengantar suaminya hingga di teras rumah.
"Iya, Sayang. Jangan khawatir." Benny menepuk bahu Fina sambil mengembangkan senyum merekah. Tak berselang lama, pria tampan itu berangkat dengan membawa motor matic karena jarak yang tak seberapa jauh.
Motor matic berwarna hitam itu mulai melaju, melewati jalan komplek yang cukup sepi karena kebanyakan penghuni komplek ini orang-orang sibuk dan mayoritas pekerja di kantor. Jadi tak seberapa ada tetangga yang duduk santai sambil bergosip ria. Hanya beberapa tetangga dekat Benny yang suka ngerumpi saat menunggu anak-anaknya bermain.
"Assalamualaikum," ucap Benny sebelum masuk ke dalam rumah orang tuanya. Dia baru sampai di sana setelah dua menit berkendara dari rumahnya.
"Waalaikumsalam. Papa!" teriak Elza setelah melihat kehadiran ayahnya di ruang keluarga.
__ADS_1
Bocah kecil itu meletakkan ponsel yang masih menyala di atas sofa dan segera berlari menyambut ayahnya, "Mama gak ikut ya, Pa?" tanya Elza seraya menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah ayahnya.
"Mama di rumah menunggu Elza pulang," jawab Benny sambil mengangkat tubuh putranya, "bagaimana kalau setelah ini Elza ikut Papa pulang? Mama kasihan loh di rumah sendiri kalau Papa lagi kerja," bujuk Benny seraya mengusap pipi putranya.
Ekspresi wajah bocah kecil itu berubah sendu. Dia sepertinya merasa bersalah setelah tahu jika sosok yang dipanggilnya 'mama' itu sendirian di rumah, "tapi kata Uti sama Tante Dita aku gak boleh pulang sampai adek bayinya keluar dari perut Mama," jelas Elza seraya menatap wajah ayahnya.
"Memangnya kapan Uti bilang begitu?" Benny mengernyitkan alisnya setelah mendengar ucapan Elza.
"Kemarin, Pa, waktu aku minta pulang. Kata Tante aku harus nurut biar Mama gak sedih. Aku jadi bingung, sebenarnya Mama sedih karena aku ada di sini atau karena aku ada di rumah?" Elza bergumam sambil menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan.
Benny tak segera menjawab pertanyaan itu karena penjelasan di antara Elza dan Ani ada perbedaan. Lantas, dia menurunkan Elza dari gendongannya karena ingin menemui ibunya.
"Elza tunggu di sini sebentar ya. Papa mau bicara sama Uti," ucap Benny seraya mengusap rambut putranya dan setelah itu dia mengedarkan pandangan karena sedang mencari seseorang, "Adek Galang kemana? Elza kenapa main di sini sendirian?" tanya Benny karena tidak menemukan keponakannya di sana.
"Adek Galang lagi makan di belakang sama Tante Dita. Aku gak boleh dekat sama Adek Galang dulu, karena tadi habis aku pukul," jelas Elza dengan polosnya.
"Kenapa Elza nakal begitu?" Benny mengernyitkan keningnya.
"Tadi hapeku dibanting, Pa! Itu sampai layarnya pecah. Adek Galang kan mau pinjam tapi masih aku pakai, terus direbut dan dibanting." Elza mengadukan kejadian yang dia alami, "terus Adek Galang aku pukul tangannya. Dia nangis dan aku dipukul balik sama Tante." Gurat kesedihan terlihat jelas di wajah tampan yang menjadi duplikat Nurmala itu.
Benny meradang setelah tahu kejadian yang dialami oleh putranya. Dia segera meninggalkan Elza di ruang keluarga dan berjalan menuju terasa belakang. Sudah kebiasaan di keluarganya, jika di pagi hari begini menghabiskan waktu di belakang.
"Bu. Aku ingin bicara," ucap Benny setelah sampai di teras belakang.
...๐นTo Be Continued ๐น...
...Aiish konflik intern keluarga nih๐Hayo siapa yang biasa seperti ini๐...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...
__ADS_1