
"Zia cantik ... lagi dijemur kayak kerupuk! Siap digoreng ya, Dek," ucap Elza sambil memandang bayi menggemaskan yang sedang menggeliatkan tubuh di atas kasur bayi. Shazia bergerak bebas karena bedong yang sejak tadi menghangatkan tubuhnya dibuka Fina.
Fina dan Benny mengulas senyum tipis ketika melihat apa yang dilakukan oleh Elza. Mereka sedang bersantai di teras rumah, menikmati suasana pagi di sana. Sekaligus, menghangatkan tubuh Shazia dengan sinar matahari selama beberapa menit.
"Kok adeknya disamakan dengan kerupuk?" tanya Fina.
"Habis udah cantik begini pakai dijemur segala. Seperti Mbok Jum waktu jemur kerupuk rambak, Ma," jawab Elza tanpa mengalihkan pandangan dari Shazia. Elza tak henti menoel pipi Shazia yang semakin mengembang itu.
"Ayo Papa antar ke sekolah. Nanti bisa terlambat kalau nemenin Adek Zia terus," ajak Benny setelah menikmati secangkir kopi hitam. Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju motor matic yang stand by di halaman rumah.
"Kakak berangkat dulu ya, Dek. Jangan cengeng!" ujar Elza sambil mengusap pipi Shazia dengan gerakan lembut.
Setelah berpamitan kepada Fina, bocah berusia enam tahun itu berangkat ke sekolah. Dia melambaikan tangan saat motor yang dikendarai Benny mulai meninggalkan halaman rumah. Kini, tinggallah Fina di teras rumah seorang diri. Tak lama setelah itu, Fina beranjak dari tempatnya saat ini karena waktu untuk Shazia berjemur sudah cukup. Dia kembali merapikan bedong itu agar lebih mudah saat menggendong putrinya.
"Aduh ... mulai nih, nangis lagi yang kenceng, Nak," gumam Fina saat mendengar suara tangisan Shazia.
Wanita yang belum genap satu bulan melahirkan itu, membawa putrinya masuk ke dalam rumah. Dia berjalan menuju ruang keluarga dan duduk di sana. Suara tangisan Shazia masih terdengar nyaring sampai Fina membuka kancing kemejanya untuk mengeluarkan kendi milik Shazia dan Benny itu.
"Nah, gini kan tenang. Jangan nangis-nangis telus dong, Nak cantik. Kalau ada Kakak nanti dimarahi loh!" ujar Fina sambil menatap Shazia yang sedang terbuka kelopak matanya.
Tidak ada kegiatan lain dalam keseharian Fina selain merawat Shazia dan Elza. Biasanya sebentar lagi Dita atau Ani pasti datang ke rumah ini untuk menemani Fina agar tidak bosan dan kesepian. Setelah Elza ada di rumah, mereka pun pulang dari rumah ini.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Tepat pukul dua belas siang, Elza pulang dari sekolah dijemput Benny. Mereka makan siang bersama sebelum beristirahat. Setelah makan siang, Benny pamit kembali ke tempat kerja, sementara Elza pergi ke kamarnya untuk istirahat. Tak lama setelah itu suara bel pintu terdengar beberapa kali.
"Mbok Jum, tolong dibukain pintunya," pinta Fina sambil menatap ke arah belakang. Wanita paruh baya yang bekerja di rumah ini pun segera mengayun langkah menuju depan.
"Mbak!"
__ADS_1
Fina menoleh ke sumber suara setelah mendengar suara Nisa di ruang keluarga. Dia terkejut karena Nisa tiba-tiba muncul tanpa kabar sebelumnya. Padahal, baru kemarin dia pulang dari Surabaya. Fina mengamati Nisa yang menghempaskan diri di sofa tunggal. Gurat lelah terlihat jelas di wajah cantik itu.
"Ada apa? Kenapa balik ke Surabaya? Ada yang ketinggalan kah?" cecar Fina seraya menatap wajah Nisa dengan lekat.
"Aku melakukan dosa besar, Mbak," jawab Nisa tanpa berani menatap Fina.
"Apa sih, Nis? Kamu ini ngomong apa?" Fina terlihat bingung setelah mendengar jawaban Nisa.
"Aku sudah berbohong kepada Ibu," ucapnya gadis berhijab itu.
"Bohong? Masalah apa?" Fina belum mengerti maksud adiknya.
"Bisa kita bicara di kamar saja, Mbak? Soalnya ini rahasia banget," ucap Nisa setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang keluarga, "Tapi aku mau telfon ibu dulu, jika aku ada di sini," lanjutnya setelah mengeluarkan ponsel dari tas ransel.
Fina dibuat penasaran karena pengakuan Nisa. Dia mengembangkan senyum manis ketika Nisa mengarahkan layar ponsel itu ke arahnya. Wajah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia terlihat di sana sampai Nisa mengakhiri panggilan tersebut.
"Ayo, Mbak kita ke kamar saja," ajak Nisa seraya beranjak dari tempatnya. Dia mengayun langkah menuju kamar yang biasa dia tempati jika menginap di sana. Tak lupa pintu kamar itu dikunci agar tidak ada siapapun yang masuk.
"Ada apa?" tanya Fina karena Nisa tak kunjung bercerita.
"Aku baru pulang dari Jakarta," ucap Nisa dengan suara yang lirih.
"Hah? Jakarta? Gila!" Fina terkejut mendengar pengakuan adiknya.
"Kemarin setelah sampai di rumah, aku langsung balik ke Bandara dan naik pesawat ke Jakarta. Aku berbohong kepada Ibu, jika pergi ke Surabaya untuk mengurus tugas, Mbak," ucap Nisa penuh sesal.
"Bocah edan!" ujar Fina dengan tatapan tajam, "lalu ngapain kamu ke Jakarta? Terus pakai uangnya siapa buat ongkos naik pesawat?" cecar Fina seraya bersedekap.
__ADS_1
Helaan napas berat terdengar di sana. Nisa mengubah posisinya hingga bisa berhadapan dengan Fina. Dia mengeluarkan kotak hitam pemberian Ardi dari dalam ranselnya.
"Aku gak kuat menyimpan ini sendiri, Mbak, karena terlalu berat. Tolong rahasiakan semua ini dari semua orang termasuk Mas Benny. Jika di masa depan memang ada yang perlu diceritakan, gak masalah ... asal jangan dalam waktu dekat ini. Aku percaya sama Mbak," ucap Nisa dengan tatapan penuh harap.
"Oke, ini menjadi rahasia kita berdua," jawab Fina dengan tegas. Kalau sudah seperti ini, ibu dua anak itu pasti benar-benar menjaga rahasia Nisa.
Satu persatu permasalahan mulai diceritakan Nisa kepada Fina. Mulai dari isi kotak hitam sampai isi surat yang ditulis Ardi. Nisa menyerahkan surat tersebut kepada Fina. Dia memberikan waktu kepada kakaknya itu agar membaca sampai selesai.
"Nis, ini maksudnya ayah kita seorang intel atau perwira gitu? Tetapi kenapa Ibu gak pernah cerita? Ayah juga gak pernah membahas hal ini?" Fina menatap Nisa penuh tanda tanya.
"Nah, itu yang aku gak tahu, Mbak. Coba deh Mbak ingat, pernah gak Mbak tinggal di Surabaya? Kalau aku jelas gak tahu lah!" Nisa bertanya balik.
"Seingatku ayah dan ibu jualan di pasar dari dulu deh, Nis. Seingatku hidup kita gak pernah tuh mewah. Paling mewah diajak ke swalayan yang ada di kota. Udah itu aja!" jelas Fina sambil mengingat bagaimana masa kecilnya dulu.
"Nah, berarti suatu saat kita harus bertanya kepada ibu, Mbak. Sekarang dengarkan lagi ceritaku setelah aku sampai di Jakarta," ucap Nisa.
Cerita tentang siapa nama asli Ardi pun dibuka Nisa di hadapan Fina. Dia menjelaskan bagaimana keadaan orang tua pemuda tersebut. Nisa menjelaskan siapa nama kedua orang tua Ardi serta apa pekerjaannya.
"Tunggu ... sepertinya aku gak asing dengan nama Rahayu dan Wiratama. Seperti pernah kenal tapi kapan ya?" sahut Fina setelah mendengar Nisa menyebut nama tersebut.
"Jadi sebenarnya gini ya, Mbak. Apa hubungannya Ardi dan keluarganya dengan keluarga kita? Lalu kenapa aku yang harus terseret dalam masalah pria itu? Sebenarnya kita ini siapa, Mbak? Ya Allah, sejak kemarin rasanya kepalaku pusing memikirkan ini, Mbak," keluh Nisa dengan helaan napas yang berat.
Fina mengambil foto yang ada di dalam kotak hitam itu. Dia mengamati foto masa muda orang tuanya. Satu persatu pria berseragam yang ada di sana pun tak luput dari pengamatannya.
"Nis, ini masa kecil Ardi?" tanya Fina sambil menunjuk foto anak kecil di sana, "aku sepertinya gak asing sama foto orang ini, Nis," gumam Fina seraya menunjuk foto seorang pria yang berdiri di sisi ayahnya.
...🌹To Be Continued 🌹...
__ADS_1
...Kita berhenti sejenak ya main tebak-tebakannya😆Masuk konflik rumah tangga dulu yok. Gimana? Mau berat, ringan atau sedang saja? Kuy komen😎...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...