
Detik demi detik penuh kesedihan telah dilalui keluarga besar Fina dan Benny. Semua keluarga sedang merasakan sesak di dada ketika melihat dua insan yang sedang terbaring lemah di atas bed pasien rumah sakit. Pihak keluarga sengaja pesan kamar VIIP dengan dua bed pasien di dalamnya agar pihak keluarga bisa menjaga tanpa harus terbagi di dua ruangan.
Fina dalam masa pemulihan setelah melahirkan dalam kondisi fisik darurat. Mungkin tak hanya itu saja, mental wanita cantik itu pun sedang diuji saat ini. Dia tidak tahu bagaimana kelanjutan kondisi bayi laki-laki yang sudah lahir ke dunia yang fana ini. Untung saja, dia masih diberikan keselamatan oleh Sang Kuasa karena tidak terjadi kerusakan rahim ataupun cidera perut serius karena benturan saat kecelakaan. Hanya luka memar tersebar di bagian depan tubuh dan wajah.
Sementara Benny, mengalami luka jahit di beberapa tubuhnya. Hasil foto rontgen menunjukkan ada keretakan di tulang ekor. Mantan duda itu tidak perlu di operasi, melainkan harus istirahat total selama satu bulan. Berjalan pun tidak diperbolehkan. Dia harus duduk di atas kursi roda selama masa penyembuhan. Untuk hasil CT scan, tidak ada kondisi membahayakan akibat benturan keras di kepala. Namun, ada luka jahit di kening, tangan dan kakinya.
"Bagaimana, Bu? Apa ada perkembangan dengan cucu kita?" bisik Ani setelah Badiah masuk ke dalam ruangan tersebut. Janda dua anak itu baru saja kembali dari ruangan bayi untuk melihat kondisi cucunya.
Badiah hanya menggeleng pelan dengan tatapan sendu. Rasanya wanita paruh baya itu tidak sanggup untuk menjawab, "kondisinya semakin menurun. Dokter sudah memasang selang oksigen untuk membantu bernapas," bisik Badiah kepada Ani. Dia takut Fina mendengar bagaimana kondisi putranya.
"Astagfirullah haladzim," gumam Ani dengan suara yang bergetar.
"Bu, Ibu. Aku haus." Terdengar suara Benny di dalam ruangan tersebut hingga membuat kedua ibu itu harus menghentikan pembicaraan.
Ani segera beranjak dari tempatnya dan mengambil botol berisi air mineral. Wanita paruh baya itu tidak tega melihat kondisi putranya. Dia melihat dengan jelas bagaimana kesedihan yang dipendam oleh putra sulungnya itu.
"Bagaimana kondisi Fina, Bu?" tanya Benny setelah memberikan botol tersebut kepada ibunya.
"Itu istrimu sedang tidur," tunjuk Ani pada bed yang ada di sisi Benny. Jarak di antara kedua bed tersebut sangatlah dekat.
Benny mengalihkan pandangan ke samping. Dia mengamati wajah cantik yang masih terlelap itu. Air mata pun tak dapat terbendung lagi karena rasa sesal yang begitu besar. Benny tak henti menyalahkan diri karena semua kejadian ini adalah salahnya. Andai saja dia mendengarkan kata-kata Fina agar berhati-hati dan tidak ngebut di jalan, pasti semua ini tidak akan terjadi. Fina tidak akan terluka dan bayinya lahir tanpa ada kelainan.
"Bu, semua ini adalah salahku," ucap Benny sambil menangis pilu. Dia tidak dapat membendung lagi semua rasa yang memenuhi relung hatinya.
"Tidak, Nak. Semua ini adalah jalan dari Allah. Kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus kuat demi istri dan anakmu. Kasihan Fina jika tahu kondisimu seperti ini." Ani mencoba menenangkan putranya yang sedang menjalani ujian dari Sang Pencipta.
"Mas, Mas Benny!" ujar Fina dengan kelopak mata yang masih tertutup rapat. Sepertinya wanita cantik itu sedang mengigau.
__ADS_1
"Sayang. Aku di sini! Bangunlah," ujar Benny seraya menatap ke samping. Tangannya terulur hingga menyentuh bed pembaringan sang istri. Akan tetapi dia tidak bisa menggapainya.
Fina tersentak dari tidur nyenyaknya. Matanya terbelalak dengan tatapan lurus ke atas. Setelah beberapa detik mencoba menata kesadaran, akhirnya Fina menoleh ke samping. Dia menatap haru pria tampan penuh luka itu.
"Mas baik-baik saja?" tanya Fina dengan suara yang lirih. Dia mendesis kesakitan tatkala mencoba mengubah posisinya miring agar bisa menatap wajah suaminya dengan posisi nyaman.
"Aku baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku." Mantan duda itu berusaha mengembangkan senyum agar Fina tidak khawatir lagi.
Sepasang suami istri itu saling bertanya tentang kondisi masing-masing hingga tak lama setelah itu ada petugas rumah sakit yang masuk ke dalam ruangan. Petugas tersebut mengantar sarapan untuk kedua pasien di ruangan ini.
"Kalian harus sarapan. Pokoknya harus makan yang banyak agar lekas sembuh," ujar Ani saat menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya dibantu dengan Badiah. Kedua ibu itu akhirnya membantu anak masing-masing.
"Assalamualaikum, mohon maaf karena sudah mengganggu waktunya. Keluarga pasien Benny Chandra Suherman dan Fina Imaniyah, harap segera datang ke kantor perawat. Terima kasih."
Terdengar suara panggilan yang berasal dari speaker ruangan. Kali ini Ani lah yang memutuskan keluar dari sana karena Badiah sedang merawat Fina. Wanita paruh baya itu berjalan seorang diri menuju kantor perawat yang ada di bagian depan koridor ruangan VIP.
"Mari ikut saya ke ruang bayi, Bu. Biar nanti perawat di sana yang menjelaskan sendiri," ujar perawat cantik itu.
Ani pun mengikuti langkah perawat yang mengantarnya menuju ruangan bayi. Entah kabar apa yang sedang menunggu kehadiran nenek dari Elzayin itu. Dia ketar-ketir karena takut ada kabar buruk mengenai cucunya.
****
Mata dengan beberapa kerutan itu terlihat sembab saat berjalan menuju ruang VIIP tempat Benny dan Fina dirawat. Tatapan mata wanita paruh baya itu lurus ke depan dan terlihat kosong. Sementara di tangannya dia menggendong bayi dalam bedong berwarna kuning dengan diikuti dua orang perawat.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit lamanya berada di ruang bayi, akhirnya wanita paruh baya itu kembali dengan membawa bayi mungil yang setia menutup kelopak matanya sejak dilahirkan hingga kini.
"Ibu," sapa Fina setelah melihat kehadiran mertuanya di sana. Dia mengembangkan senyum karena pada akhirnya bisa bertemu dengan putranya.
__ADS_1
"Saya ingin menggendongnya, Bu." Fina mengulurkan tangannya untuk menerima bayi yang ada dalam gendongan ibu mertuanya.
Tanpa banyak bicara, Ani memberikan bayi tersebut kepada Fina. Wajah wanita paruh baya itu terlihat memerah karena sedang menahan sebuah rasa yang bergemuruh di dada.
"Anaknya Mama ganteng sekali," gumam Fina sambil menyentuh pipi halus itu.
Sementara Benny hanya mengembangkan senyum tipis ketika melihat raut wajah bahagia istrinya. Namun, semua senyum manis iru hilang sudah tatkala Benny memandang ekspresi wajah ibunya. Tentu dia tahu jika ibu yang sudah melahirkannya itu sedang menutupi sesuatu yang buruk. Benny terasa lemas saat menerka sesuatu yang tidak diinginkan itu.
"Ya Allah, jangan sampai itu terjadi. Hamba tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Fina," batin Benny setelah mengalihkan wajah.
Fina mengernyitkan keningnya karena belum melihat pergerakan putranya. Dia mulai resah karena kondisi ini dan pada akhirnya dia mengarahkan jari telunjuknya ke dekat hidung yang terlihat sangat mancung itu.
"Ibu ... Ibu ... Ibu." Napas Fina tersengal setelah tahu kenyataan yang ada, "anakku tidak bernapas! Anakku tidak bernapas! Apa yang terjadi?" cecar Fina dengan suara yang bergetar. Dia menatap dua perawat yang ada di sisi kanan bed pembaringannya.
Tangis Ani pun pecah setelah mendengar pertanyaan itu. Dia hanya bisa menggeleng pelan tanpa bisa bersuara. Wanita paruh baya itu memberikan isyarat agar perawat tersebut menjelaskan kondisi bayi yang dilahirkan Fina itu.
"Ibu Fina, mohon maaf sebelumnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah berkehendak lain. Bayi Ibu menghembuskan napas terakhirnya beberapa waktu yang lalu," jelas perawat tersebut dengan hati-hati.
Suara jerit tangis Fina terdengar di dalam ruangan VIP itu setelah tahu kebenarannya. Dia mendekap tubuh mungil itu dengan air mata yang tak henti mengalir. Harapan besar yang dia tanam pupus begitu saja dengan kepergian anak pertamanya. Ani mengambil bayi tersebut setelah Benny meminta untuk melihat putranya untuk yang terakhir kalinya. Fina pun masih histeris di sana. Badiah dan dua perawat tersebut sampai bingung harus bagiamana membujuk wanita cantik itu agar lebih tenang.
"Fina! Ya Allah!" teriak Badiah setelah melihat Fina tak sadarkan diri.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Maaf ya konfliknya sedih beginiðŸ˜Mau ngasih konflik pelakor gak tega ih🙄...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1