
Satu minggu pasca pesta ulang tahun telah berlalu. Aktivitas kembali normal seperti hari-hari biasanya. Sepasang suami istri itu pun terlihat semakin bahagia setelah menghabiskan waktu berdua di kamar hotel. Bunga-bunga asmara semakin bermekar indah di antara keduanya.
"Elza, kenapa Mama sampai dipanggil ke sekolah begini?" tanya Fina setelah membaca surat yang baru saja diberikan oleh Elza.
Sementara putra sulung Benny itu hanya menggelengkan kepala, "aku enggak tahu, Ma," jawab Elza tanpa berani menatap manik hitam ibu sambungnya itu.
"Yakin?" Fina tahu betul jika Elza pasti membuat kesalahan di sekolah, "Elza sekarang ganti baju dulu terus makan siang," ucapnya karena dia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengulik informasi dari putranya itu.
"Jangan bilang sama Papa kalau dapat surat ya, Ma. Aku takut Papa marah," ucap Elza dengan suara yang lirih.
"Kalau Elza tidak salah kenapa harus takut? Elza harus belajar menerima konsekuensi atas apa yang sudah Elza lakukan," tutur Fina sambil mengusap kepala putra sambungnya itu.
Mengikuti emosi sesaat bukanlah cara yang tepat bagi Fina. Dia harus bisa mengambil celah dalam menghadapi sikap Elza. Tentu semakin bocah kecil itu tumbuh dan bergaul dengan teman-temannya, maka sikap dan karakter pun perlahan berubah.
"Huuh! Jangan sampai aku marah-marah ke Elza. Bisa patah itu anak." Fina bergumam dengan helaan napas yang berat setelah Elza pergi dari hadapannya.
Tentu semua ini tidak mudah bagi Fina. Dia harus memiliki kesabaran power full untuk mengahadapi segala sikap dan tindakan Elza. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal dan tentunya dia bisa dicap sebagai ibu tiri yang tidak becus mengurus anak.
"Assalamualaikum." Benny masuk lewat pintu penghubung ruang keluarga dan garasi.
"Waalaikumsalam. Tumben, Mas?" Fina mengernyitkan keningnya karena Benny sudah kembali ke rumah, padahal biasanya selepas dzuhur baru sampai di rumah.
"Iya, tadi habis ke toko ngecek laporan. Jadi, sekalian pulang," jawab Benny sambil menghempaskan badan di sisi Fina, "lagi pula hari ini rasanya aku kangen banget sama kamu loh," ucap Benny seraya menatap Fina penuh arti.
Fina mengembangkan senyum tipis ketika mendengar ungkapan suaminya itu, "perasaan setiap hari Mas bilang seperti itu deh ke aku," protes Fina karena setiap hari dia selalu mendengar ungkapan itu.
"Iya kah? Aku kok mendadak lupa ya," kilah Benny seraya mengembangkan senyum, "surat apa ini?" tanya Benny sambil menunjuk selembar kertas yang ada di atas pangkuan Fina.
"Oh, ini surat dari sekolahnya Elza," jawab Fina. Dia masih berusaha menutupi jika itu adalah surat panggilan.
__ADS_1
"Memang mau rapat apa lagi? Perasaan sudah pernah 'kan dipanggil ke sekolah?" tanya Benny dengan sorot mata penasaran.
Belum sempat Fina menjawab pertanyaan suaminya, terdengar dering ponsel yang ada di atas meja. Fina segera meraih ponsel tersebut dan ternyata nama wali kelas Elza yang menghubungi.
"Hallo, Assalamualaikum," ucap Fina dengan suara yang terdengar merdu ketika panggilan terhubung.
Pembicaraan via telepon terjadi di sana. Beberapa kali Fina mengernyitkan keningnya saat mendengarkan penjelasan panjang wali kelas putranya itu. Benny pun semakin penasaran karena Fina hanya diam sambil mendengarkan lawan bicaranya.
"Begini saja, Bu. Orang tuanya suruh menunggu di situ sebentar saja. Saya kesana sekarang sama Elza," pungkas Fina sebelum panggilan berakhir.
"Ada apa sih?" tanya Benny.
"Kita harus ke sekolahnya Elza sekarang, Mas. Kita ditunggu orang tua teman sekolahnya Elza." Fina beranjak dari tempatnya untuk mengambil kerudung dan tas.
"Iya, tapi ada apa?" Benny semakin penasaran dibuatnya.
"Aku juga kurang paham, Mas. Kita akan tahu nanti ketika sampai di sekolah Elza," ucap Fina sambil berlalu dari ruang keluarga.
"Elza sudah siap bertanggung jawab atas apa yang sudah Elza lakukan? Mama tidak tahu apa yang sudah terjadi, tetapi Mama berharap Elza jujur di depan semua orang. Jangan takut untuk mengakui kesalahan, karena orang hebat adalah orang yang berani mengakui kesalahannya," tutur Fina dengan suara yang lembut.
****
Mobil hitam yang dikendarai Benny telah sampai di halaman sekolah dasar, tempat Elza menimba ilmu setiap harinya. Suasana di sekitar sekolah tersebut cukup sepi karena kegiatan belajar mengajar telah berakhir. Ketiga penumpang mobil pajero hitam itu akhirnya keluar dan berjalan menuju ruang guru.
"Assalamualaikum," ucap Fina dan Benny setelah berada di depan pintu ruang guru.
"Itu dia anaknya, Ma!" teriak bocah yang duduk di sofa saat melihat kehadiran Elza.
"Oh, jadi dia yang menyebabkan tulang anakku geser sampai harus dipasang gips!" ujar wanita berambut pirang dengan dandanan menor yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Sabar, Bu." Wali kelas Elza beranjak dari tempatnya dan setelah itu menyambut kedatangan Fina sekeluarga. Wali kelas yang biasa dipanggil bu Erna itu mempersilahkan mereka bertiga duduk di sofa.
Suasana di dalam ruang guru terasa menyesakkan karena wanita berambut pirang itu terus menatap Elza. Sorot matanya terlihat menakutkan, tetapi Elza masih bisa bersikap tenang. Dia seperti tidak takut sedikitpun dengan wanita tersebut.
"Jadi begini, Pak, Bu ... sebenarnya saya memanggil Ibu atau Bapak itu besok pagi. Akan tetapi karena orang tuanya Arka meminta bertemu sekarang, terpaksa saya memanggil dadakan lewat telefon. Saya mohon maaf bila sudah mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu," tutur Erna dengan sopan.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Benny tanpa basa-basi.
"Menurut pengakuannya Arka, dia dihajar Elza hingga tangannya cidera. Saya mewakili pihak sekolah memohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak tahu kejadian ini. Elza sendiri sejak tadi belum bersedia bicara untuk menyelesaikan masalah ini." Wali kelas tersebut berusaha menjadi penengah di antara kedua kubu itu.
"Maaf Bu Erna, selama ini yang saya tahu, Elza tidak akan melukai temannya selama dia tidak diganggu terlebih dahulu," jelas Fina saat berusaha membela putranya.
"Maaf Bu Fina, Arka ini anak kelas tiga SD. Kebetulan wali kelasnya sedang cuti umroh, jadi semua ini saya yang menghandle sendiri. Maka dari itu saya butuh kejujuran Elza untuk mengetahui masalah inti yang menjadi pemicu mereka bertengkar seperti ini." Erna menjelaskan apa yang diketahuinya.
"Alah! Jelas dia yang nakal. Ngapain coba pakai berantem sama kakak kelas. Kalau bukan dia yang nakal, anak saya gak bakal terluka seperti ini!" ujar Wanita tersebut dengan ketus.
"Saya akan tanggung jawab atas kesalahan anak saya, tetapi Anda tidak berhak menyalahkan anak saya sebelum tahu akar dari permasalahan ini." Benny menjawab ujaran wanita tersebut, karena dia tidak terima jika Elza terus dipojokkan wanita tersebut.
Fina menyentuh pundak Elza hingga membuat bocah berusia enam tahun itu menengadahkan kepala. Dia hanya ingin memberikan keyakinan kepada putranya itu agar jujur dan memberikan keterangannya.
"Nak, sekarang coba jelaskan apa yang membuat kamu emosi seperti ini. Jangan takut, Mama dan Papa selalu ada di sampingmu," ucap Fina seraya mengembangkan senyum manis. Dia terus berusaha meyakinkan Elza agar berkata jujur.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...ββββββββββββββββ...
...Rekomendasi bacaan super keren untuk kalianπKuy baca karya author Lady Mermad dengan judul The Last Vampir HunterπNah loh judulnya aja udah bikin kepo kanπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...