
Malam telah hadir setelah sang surya tenggelam di ujung barat. Langit masih gelap karena bintang dan bulan belum menampakkan keindahannya. Mereka masih bersembunyi karena belum saatnya untuk menghiasi malam.
Setelah seharian mengurung diri di dalam kamar karena efek samping obat pemberian dokter, Fina keluar dari kamarnya. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Suhu badannya kembali normal dan rasa nyeri di ulu hati berangsur hilang. Gadis berhijab itu termenung di depan kamarnya, tatapan matanya terlihat kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lamunan itu mendadak hilang begitu saja ketika hidungnya mencium aroma sedap dari dapur.
"Siapa yang sedang masak di dapur?" gumamnya dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.
Fina mengayun langkah menuju dapur untuk memastikan siapa yang sedang berkutat di sana. Samar-samar gadis cantik itu mendengar suara gelak tawa seorang pria dan anak-anak.
"Oh, ternyata pak Ben dan Elza," gumam Fina dengan suara yang lirih.
"Wah sedang masak apa ini? Kelihatannya seru sekali," ujar Fina setelah berada di belakang ayah dan anak itu.
"Rahasia dong!" jawab Elza setelah membalikkan badan, "aku mau peluk Mbak Fina! Aku kangen karena seharian gak ketemu Mbak Fina!" Elza merentangkan tangannya sambil menatap Fina penuh arti.
"Loh tadi pagi kita kan udah ketemu di halaman belakang," ucap Fina saat mendekap Elza yang sedang berdiri di atas kursi plastik.
"Iya, tapi aku kangen sama Mbak Fina. Cepet sembuh ya, biar kita bisa bermain lagi." Elza menangkup kedua pipi Fina dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Si Elza bisa aja kalau merayu Fina. Semoga saja setelah dewasa nanti dia tidak seperti masa mudaku dulu. Jadilah pria setia, Nak," batin Benny setelah mendengar ucapan putranya.
Sejak mengetahui jika ayahnya sedang berusaha menjadikan Fina sebagai ibunya nanti, rasa sayang di hati Elza semakin bertambah. Dia sampai tidak bisa tidur siang karena asyik membayangkan betapa bahagianya bisa memiliki papa dan mama seperti teman-temannya. Setiap kali mendengar teman sekelas bercerita tentang bagaimana rasanya bisa tidur dalam satu kamar bersama orang tua, Elza hanya diam saja karena tidak memiliki pengalaman tentang hal tersebut.
"Elza habis dari mana sih kok ganteng banget malam ini. Pakai sarung lagi," gumam Fina setelah mengurai dekapannya. Dia mengamati penampilan anak asuhnya itu dengan teliti.
__ADS_1
"Tadi sore aku diajak Papa ke makam Mama Nurma, terus pulangnya diajak Papa pergi ke supermarket belanja," ujar Elza seraya menatap Fina.
Fina tertegun setelah mendengar Elza menyebut nama ibunya. Fina mengalihkan pandangan ke arah pria yang sedang sibuk dengan bahan makanan di sana, "Pak," gumam Fina hingga membuat Benny membalikkan badan. Gadis berhijab itu menatap Benny dengan tatapan penuh arti.
"Ya. Aku yang memberitahu Elza tentang siapa ibunya karena aku rasa sudah saatnya dia tahu," ucap Benny sambil mengusap kepala putranya.
Fina bernapas lega setelah mendengar hal itu karena setelah ini dia tidak perlu lagi berpikir keras jika Elza mulai membahas masalah 'Mama'. Fina mengembangkan senyumnya seraya menatap Benny sekilas, "saya lega mendengarnya, Pak," gumam gadis itu sebelum mengalihkan pandangan ke arah Elza.
"Tadi waktu di makamnya Mama, Elza membaca apa?" tanya Fina dengan tangan tak henti membelai rambut tipis anak asuhnya itu.
"Aku membaca surat yasin seperti yang diajarkan Mbak Fina, tapi aku hafal hanya setengahnya," jawab Elza.
"Gak masalah, Sayang. Nanti kita belajar lagi ya. Elza harus sering mengaji biar mama Nurma bahagia di surga. Elza mau 'kan menjadi anak sholeh seperti kata bu Guru?" tutur Fina dengan suara yang sangat lembut dan terdengar damai di hati.
"Ih Pak Ben. Apaan sih!" Fina berdecak kesal setelah mendengar hal itu, meski dia sendiri sedang tersipu malu karena bibir lemes ayah dari Elzayin itu.
"Loh tadi kamu kan memanggil Elza dengan sebutan 'Sayang'. Masa aku gak boleh membalas panggilan itu. Aku kan ayahnya Elza." Mantan playboy itu bisa saja mencari alasan atas apa yang dia ucapkan.
"Cie ... cie ... Papa sama Mbak Fina manggil Sayang-Sayang, seperti di film yang biasa ditonton Mbak Fina," seloroh Elza hingga membuat Fina semakin tersipu malu.
"Udah, ah, Mbak mau balik ke kamar saja! Elza nakal!" Fina membalikkan badan karena tidak mau terlalu lama berhadapan dengan Benny.
"Jangan!" sergah Elza ketika Fina mulai melangkah, "Aku dan Papa sedang menyiapkan makan malam untuk mbak Fina. Jadi, sekarang Mbak duduk dulu ya," bujuk Elza dengan sikap yang sangat manis.
__ADS_1
Sungguh, ini bukanlah bagian dari rencana yang disusun duda tampan itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan memang mendukungnya. Apalagi, Elza begitu pandai mengambil hati pengasuhnya itu.
"Iya, Fin. Aku sedang menyiapkan makanan untukmu. Lebih baik kamu duduk dulu di ruang makan. Gak usah membangkang, nurut sama suami!" ujar Benny dengan diiringi gelak tawa.
"Bercanda, Fin! Jangan terlalu serius lah," ujar Benny setelah mendapat tatapan tajam dari pengasuh putranya itu.
"Ayo sini, aku antar ke ruang makan!" Elza turun dari kursi tempatnya berdiri dan menarik pergelangan tangan Fina hingga sampai di ruang makan, "duduk dulu!" ujar Elza sambil menarik kursi untuk Fina.
Fina mengela napas panjang setelah melihat semua yang terjadi di dapur. Tentu semua ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya, karena berdebar dengan irama tak beraturan. Gadis berhijab itu menopang kepalanya dengan kedua tangan yang ditekuk di atas meja.
"Duh, baru saja ditinggal sakit tiga hari, Elza udah seperti itu. Pasti bapaknya ngajarin gak bener ini! Kacau!" gerutu Fina dengan mata yang terpejam.
Lagi dan lagi Fina dibuat bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Benny. Pasalnya duda tampan itu jarang sekali berbicara serius. Dia selalu bercanda meski dalam keadaan darurat pun. Fina memijat pangkal hidungnya karena merasa pusing dengan sikap Elza dan Benny.
"Ini teh hangat untuk Mbak Fina. Aku sendiri yang membuatkan teh ini untuk Mbak," ucap Elza setelah kembali ke ruang makan dengan membawa secangkir teh hangat untuk Fina.
"Terima kasih, El. Coba lihat tangannya dulu," ucap Fina setelah Elza meletakkan cangkir tersebut di atas meja makan. Gadis cantik itu sedang memeriksa jari-jari Elza karena takut jika bocah kecil itu terkena air panas seperti kemarin.
Tak berselang lama, Benny muncul di ruang makan dengan membawa makanan yang baru saja selesai disiapkan di dapur. Tentu ada makanan khusus untuk Fina, karena dia belum sembuh total. Duda satu anak itu sengaja membelikan Fina paket nasi tim di salah satu rumah makan yang menyediakan menu tersebut.
"Kenapa hanya diam saja? Kenapa gak dimakan? Jangan-jangan ... kamu nunggu aku suapin ya, Fin!" tebak Benny setelah melihat Fina termenung di tempatnya.
...πΉTo Be Continue πΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·...