Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Menjenguk Syakur


__ADS_3

"Uti, kenapa Papa belum pulang?" tanya Elza seraya menatap wajah Ani dengan lekat.


"Sabar ya, setelah ini Papa pasti pulang." Hanya itu yang bisa diucapkan Ani saat Elza bertanya hal itu berulang kali.


Bocah kecil itu sebenarnya beberapa kali menguap lebar karena rasa kantuk yang mulai melanda. Akan tetapi karena dua orang yang ditunggu belum juga datang, dia menahan kelopak matanya agar tidak tertutup terlebih dahulu. Rasa rindu terbesar adalah kepada sosok cantik yang selama ini menemani hari-harinya. Elza seperti kehilangan harapan karena kepergian Fina yang mendadak dan cukup lama baginya.


Klak. Pintu ruang rawat inap terbuka tanpa ketukan pintu sebelumnya. Benny masuk ke dalam ruangan diikuti Fina di belakangnya, "Assalamualaikum," ucap mereka berdua hingga membuat Dewi dan Ani menoleh ke arahnya.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah akhirnya kalian kembali juga," ucap Ani seraya beranjak dari tempatnya.


"Mbak Fina ... Papa ...," teriak Elza begitu melihat kedua sosok ysng diharapkan kepulangannya selama seharian penuh.


Setelah bersalaman dengan Ani dan Dewi, gadis berhijab itu segera menemui Elza. Dia membungkukkan badan agar bisa lebih dekat dengan Elza. Dia menatap bocah kecil itu dengan sorot mata sendu. Ada banyak rasa yang membaur menjadi satu dalam hatinya. Satu hal yang pasti, rasa sayang kepada bocah yang dulu dianggapnya nakal itu semakin bertambah.


"Maaf ya karena kemarin Mbak pulang mendadak," ucap Fina dengan tangan tak henti mengusap rambut tipis itu.


"Aku pikir Mbak Fina dibawa pergi kang Aris. Aku sedih tau!" ujar Elza tanpa melepas pandangan dari wajah cantik yang menatap lekat ke arahnya.


"Mbak gak akan pernah meninggalkan Elza, tenang saja." Fina mengembangkan senyumnya.


Terjadi obrolan ringan di antara Fina dan Elza hingga tidak ada kesempatan untuk Ani berbicara kepada Fina. Tak berselang lama adik ipar Benny yang bernama Doni datang menjemput Ani dan Dewi. Kedua wanita itu harus kembali ke rumah untuk beristirahat setelah seharian berada di sini.


"Terima kasih, Bu," ucap Benny saat bersalaman dengan ibunya.


"Sama-sama. Setelah Elza keluar dari rumah sakit, kita bertiga perlu bicara loh," ucap wanita paruh baya itu sambil menatap Fina dan Benny bergantian.


"Iya, Bu. Nanti aku akan mengajak Fina ke rumah Ibu, tenang saja. Oh, iya Bu. Besok sore boleh minta tolong lagi gak? Tolong gantiin kami sebentar saja di sini, karena kami akan menjenguk pelatihnya Elza di rumah sakit umum," pinta Benny setelah teringat jika tadi sempat menyusun rencana bersama Fina untuk menjenguk Syakur.


"Iya bisa. Besok sore Ibu kesini lagi," ucap Ani sebelum benar-benar pergi dari sana. Benny pun mengantar ketiga orang itu sampai di depan ruang rawat inap Elza.

__ADS_1


Duda tampan itu kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Elza. Dia berjalan menghampiri Elza dan Fina yang sedang asyik berbicara. Banyak hal ysng diceritakan Elza selama Fina pergi meninggalkannya. Rasa kantuk seperti hilang begitu saja karena kehadiran Fina di sana.


"El, dengarkan Papa," ujar Benny seraya menatap putranya dengan senyum yang sangat manis, "mulai sekarang Elza gak usah memanggil Mbak Fina lagi, tetapi diganti dengan sebutan Mama," ucap Benny hingga membuat Fina menatap tajam ke arahnya.


"Pak! Jangan terburu-buru!" sangkal Fina.


"Jadi, aku harus memanggil Mama Fina begitu kah Pa? Apa itu berarti Mbak Fina mau jadi mamaku?" Elza memastikan apa yang ada dalam pikirannya atas pernyataan yang diucapkan oleh Benny.


"Betul sekali. Papa dan Mbak Fina akan menikah. Setelah ini Elza punya Mama. Jadi ... Elza harus cepat sembuh, semangat kalau minum obat dan nurut apa kata dokter, Oke?" jelas Benny tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putranya.


Bocah kecil itu terlihat bahagia setelah mendengar penjelasan ayahnya. Dia tersenyum sambil menatap Fina dengan sorot mata bahagia. Andai saja tangannya tidak sakit, sudah bisa dipastikan jika saat ini Elza akan menghambur dalam pelukan Fina.


"Yee ... aku punya Mama! Aku punya Mama!" teriak Elza dengan antusias. Dia sangat bahagia seperti anak-anak yang baru mendapatkan hadiah dari orang tuanya.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Langit gelap berubah menjadi terang dan matahari pun semakin bergeser mendekat ke peraduan. Langit biru yang cerah perlahan dipenuhi gradasi jingga di ujung barat. Pertanda beberapa jam ke depan, matahari akan tenggelam dalam peraduan.


"Itu ruang melati no 7, Pak," tunjuk Fina pada salah satu ruangan yang ada di ujung koridor.


"Oke, kita ke sana sekarang. Semoga saja perawat tadi tidak salah memberikan informasi," ucap Benny. Pasalnya mereka sempat menunggu di lobby saat menanyakan ruang rawat inap Syakur, karena ada banyak pasien inap bernama Syakur. Sementara mereka berdua tidak tahu siapa nama panjang ayah dari Aris itu.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Benny menekan handle pintu tersebut, "Assalamualaikum," ucapnya ketika melihat Aris duduk di sofa yang ada di sana. Ternyata mereka tidak salah kamar, "ayo, Fin," ajak Benny sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.


Kedatangan mereka berdua tentunya berhasil membuat Aris terkejut. Dia tidak menyangka saja jika Fina dan Benny benar-benar datang membesuk ayahnya. Dia merasa canggung karena keadaan ini.


"Silahkan duduk," ucap Aris sambil memberikan tempat untuk mereka berdua. Sementara dia lebih memilih duduk di kursi kayu yang ada di sisi bed pasien.


"Bagaimana kondisi Pak Syakur sekarang?" tanya Benny seraya menatap pria paruh baya yang sedang duduk berselenjor di atas bednya.

__ADS_1


"Seperti yang Pak Benny lihat sekarang. Saya baik-baik saja. Kemarin itu rasanya seperti masuk angin. Dada sesak napas terus saya pingsan. Eh ternyata kata dokter saya kena serangan jantung," jelas Syakur dengan diiringi senyum tipis. Dia sendiri merasa heran karena tiba-tiba sakit begini.


"Oh ya, Pak. Bagaimana kondisi Elza sekarang?" tanya Syakur.


"Alhamdulillah Elza baik-baik saja, Pak. Mungkin tidak lama lagi bisa pulang dari rumah sakit," jawab Benny dengan sikap yang sangat tenang.


Sementara Aris dan Fina hanya diam saja. Mereka tidak saling bertegur sapa selama berada di dalam ruangan itu. Hingga beberapa puluh menit ke depan, akhirnya Benny memutuskan pamit pulang, mengingat tidak lama lagi waktu magrib akan segera tiba.


"Terima kasih atas kunjungannya. Maaf sekali sudah merepotkan Pak Benny," ucap Syakur saat bersalaman dengan Benny, "Ris, antar Fina dan Pak Benny sampai di depan," ujar pria paruh baya itu sambil menatap putranya penuh arti.


Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan. Aris terus menatap Fina hingga membuat Benny merasa risih, "sudahlah. Lebih baik belajar melupakan daripada terus dipandang. Ingat dia akan menjadi milikku," ujar Benny tiba-tiba untuk memperingatkan pemuda berwajah manis itu. Sementara Fina menatap tajam ke arah Benny, sebuah kode agar duda tampan itu tidak membahas masalah kemarin.


"Fin, apa tidak ada kesempatan lagi untukku? Ingatlah, Fin. Kita sudah pernah berkomitmen dulu." Bukannya menjawab sindiran Benny, pemuda manis itu justru mencoba untuk membuat Fina merasa bersalah.


"Kemarin adalah keputusan final dari saya. Jika memang kang Aris tidak sampai di Mojokerto, bukan berarti karena saya. Anggap saja kita tidak berjodoh," jawab Fina tanpa menatap wajah manis itu, "lagi pula Kang Aris masih bisa menjalin hubungan serius dengan gadis lain. Bersama gadis bernama Miranda mungkin," ucap Fina. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah Aris. Pemuda itu terkejut setelah mendengar Fina menyebut nama itu.


"Kenapa menyebut nama itu, Fin?" tanya Aris setelah terdiam beberapa detik.


Fina semakin kesal setelah melihat wajah Aris saat bertanya kepadanya. Pemuda itu seperti tidak merasa bersalah sedikitpun, "tanyakan pada diri Kang Aris sendiri!" ujar Fina dengan tegas. Dia menatap sinis pemuda yang sempat dia kagumi itu.


"Ayo Pak Ben, kita pulang," ucap Fina seraya menatap Benny penuh arti.


...๐ŸŒนTo Be Continued๐ŸŒน...


...Hmmm ... hmmmm. Aris Aris!!...


...โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–...


...Sambil nunggu othor up, baca juga karya author EsKobok dengan judul Izinkan Aku Selingkuh๐Ÿ˜...

__ADS_1



...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2