
Tugas menemani Fina di Surabaya akhirnya selesai. Setelah berada di Surabaya selama satu minggu, akhirnya Nisa harus kembali ke Mojokerto. Dia sudah masuk kuliah dan banyak hal yang menantinya di sana. Kenangan pahit tentang Aris telah ditinggalkan Nisa di kota tersebut. Dia pulang dengan membawa segenggam kekecewaan akibat penipu hati.
"Seperti ada yang kurang," gumam Nisa setelah duduk di bangku kereta api. Dia menatap keluar jendela dengan perasaan hampa.
Tak lama setelah itu, kereta api eksekutif jurusan Surabaya-Mojokerto akhirnya bertolak dari stasiun. Nisa mengamati keadaan di sekitar karena berharap ada seseorang muncul di sana. Akan tetapi, setelah sekian lama menanti, sosok yang diharapkan tidak terlihat meski hanya batang hidungnya.
"Cukup, Nis. Jangan terlalu berharap!" gumam Nisa dalam hatinya, "kamu tidak perlu mengharapkan kehadiran pria aneh itu!" Nisa menghela napas berat.
Gadis berhijab itu merasa kesepian selama dalam perjalanan menuju kota kelahirannya. Dia tidak bisa tidur karena masih was-was setelah kejadian di masa lalu meski saat ini dia sedang duduk bersama seorang wanita.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih satu setengah jam, kereta api eksekutif itu akhirnya berhenti di stasiun Mojokerto. Sebelum keluar dari gerbong, Nisa kembali mengamati keadaan yang ada di sekitarnya. Akan tetapi dia tidak menemukan seseorang yang sering muncul secara dadakan di sana.
Helaan napas terdengar di sana. Gadis berhijab itu berjalan lunglai keluar dari kereta api. Dia seperti kehilangan semangat dalam diri karena sudah lama tidak melihat keusilan seseorang.
"Kenapa sih! Kenapa aku harus merasakan semua ini!" Nisa bergumam sambil menundukkan kepala di tiang stasiun, "semuanya terasa membingungkan!" ujarnya setelah menegakkan kepala.
Setelah cukup lama termenung di sana, pada akhirnya Nisa melanjutkan langkahnya. Dia berjalan pintu keluar stasiun. Pesanan ojek onlinenya pun sudah menunggu di depan gerbang pintu keluar stasiun tersebut.
"Alamat sesuai yang dipesan, Pak," ucap Nisa setelah duduk di atas jok motor itu.
Selama dalam perjalanan menuju tempatnya dilahirkan, Nisa termenung sambil menatap keramaian kota. Ada rasa yang hilang dari diri, tetapi tidak tahu bagian mana yang hilang. Rasanya, dia merasa hampa karena segala hal yang dia alami.
"Terima kasih, Pak," ucap Nisa ketika turun dari motor di depan rumahnya. Tak lupa dia memberikan uang pembayaran kepada tukang ojek online tersebut.
Nisa berjalan lunglai menuju rumah yang tertutup itu, mengingat saat ini sudah masuk waktu dzuhur. Badiah pasti sudah berangkat ke masjid. Gadis berhijab itu masuk ke dalam rumah dan mengayun langkah menuju kamarnya.
"Hah!" Nisa menghela napas berat saat menghempaskan diri di atas ranjang empuk itu. Dia menatap langit-langit kamar itu dengan segala pikiran yang bersarang di kepala.
"Sebenarnya aku ini kenapa? Sedih gak jelas perkaranya, mau nangis tapi gak tahu apa yang mau ditangisi." Nisa bergumam lirih tanpa mengubah pandangannya dari plafon berwarna putih itu.
__ADS_1
Gadis cantik itu beranjak dari tempatnya ketika teringat tentang kotak titipan dari Ardi beberapa bulan yang lalu. Nisa segera membuka pintu almarinya untuk mencari kotak hitam pemberian Ardi.
"Ini sudah lebih dari tiga bulan 'kan?" gumam Nisa sambil menatap kotak tersebut, "berarti kotak ini sudah bisa dibuka. Aku penasaran apa isinya." Nisa membolak-balikkan kotak tersebut.
Namun, dia masih ragu untuk membuka kotak tersebut. Pada akhirnya Nisa mengembalikan kotak itu ke dalam almari. Dia mencari ponselnya dan ingin menghubungi kontak Ardi hanya untuk sekadar tahu bagaimana kondisi pria yang dianggapnya misterius itu.
"Coba aku telfon deh," gumam Nisa setelah menemukan kontak pemuda cool itu.
Panggilan tersebut terhubung, tetapi belum ada jawaban sampai Nisa melakukan panggilan untuk yang kedua kalinya. Degup jantung gadis berhijab itu mendadak berubah tak beraturan setelah panggilan terhubung. Dia tak bersuara karena ingin mendengarkan suara Ardi terlebih dahulu.
"Hallo, selamat siang ... dengan siapa di sana?"
Nisa segera menekan icon merah setelah mendengar suara merdu seorang wanita. Dia mengusap dadanya karena terkejut bukan Ardi yang menjawab. Segala praduga dan pikiran buruk mendadak muncul di kepala, hingga membuat Nisa semakin kacau.
"Siapa dia? Kenapa wanita yang menjawab telfonnya?" Nisa bermonolog.
"Apa mungkin dia istrinya Ardi?" Gumam Nisa sambil melepas jarum pentul yang tersemat di kerudungnya. Persekian detik kemudian, kerudung tersebut terlepas.
"Sejak kapan pulang, Nis?"
Suara Badiah berhasil membuat semua angan Nisa hilang begitu saja. Dia beranjak dari tempatnya dan menghentikan langkah tepat di hadapan ibunya.
"Beberapa menit yang lalu, Bu," jawab Nisa dengan diiringi senyum tipis.
"Bagaimana dengan Mbakmu?" tanya Badiah.
"Mbak sehat kok, Bu. Shazia juga gak rewel," jawab Nisa apa adanya.
"Ya sudah kalau begitu. Sebelum istirahat, sholat dzuhur dulu," ujar Badiah sebelum pergi dari kamar Nisa. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sepeninggalan Badiah, gadis cantik itu segera melaksanakan kewajiban empat rakaatnya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Beberapa menit kemudian, Nisa telah selesai melaksanakan kewajiban empat rakaatnya. Dia kembali ke kamar untuk beristirahat.
"Dia menghubungiku?" Nisa bergumam saat melihat ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Kontak Ardi.
Nisa menutup pintu kamarnya agar Badiah tidak mendengar apabila Ardi kembali menghubungi. Gadis cantik itu duduk di tepian ranjang sambil menunggu pria misterius itu menghubunginya. Dia mulai resah karena tidak ada panggilan meski sudah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya.
"Apa aku harus mengirim pesan kepada dia?" gumam Nisa sambil menatap layar ponselnya.
Setelah berpikir beberapa saat lamanya, Nisa memutuskan untuk menghubungi Ardi. Dia mengetik pesan di untuk pria yang dianggapnya aneh, tetapi berhasil membuatnya gusar.
Ada apa?
Hanya itu pesan yang dikirim Nisa kepada Ardi. Lantas, gadis cantik itu meletakkan ponselnya setelah menunggu balasan, tetapi tak kunjung datang. Nisa semakin resah karena pesannya hanya ada tanda dua centang biru.
"Yaaa ... kenapa dibaca aja sih!" Nisa kecewa setelah melihat hal itu, "bikin penasaran saja!" ujarnya.
Ponsel tersebut kembali berdering, tetapi bukan nomor Ardi yang menghubungi, melainkan nomor baru. Nisa tak segera menjawab panggilan tersebut karena tidak mengenal kontak itu. Ada rasa takut yang muncul di dalam hati, mengingat banyak hal membahayakan yang marak terjadi. Akan tetapi setelah panggilan tersebut berdering sebanyak tiga kali, baru Nisa bersedia menjawab panggilan.
"Tolong aku. Buka kotak hitamnya." Terdengar suara rintihan Ardi dari seberang sana. Tentu hal ini membuat Nisa terkejut bukan main karena mendengar rintih kesakitan pria yang dia kenali itu.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Aduh aduh ... Mas Ardi kenapa iniπ...
...βββββββββββββββ...
...Rekomendasi karya super keren untuk kalian. Yuk baca juga karya author Zafa dengan Suamiku Bukan Milikku. Kuy gercep!
__ADS_1
...
...π·π·π·π·π·π·π·...