Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Akhirnya ....


__ADS_3

Suasana di dalam ruang keluarga mendadak sunyi sepi setelah pertanyaan terakhir Elza dilayangkan kepada ayahnya. Tentu saja, Benny hanya diam saja dengan tatapan tak percaya. Sungguh, ini bukanlah bagian dari rencananya. Dia dibuat kelabakan dengan aksi putranya sendiri. Semua rencana yang disusun rapi, kini berantakan karena sikap terburu-buru yang dilakukan Elza.


"Kenapa Papa diam saja? Bukannya waktu itu Papa bilang ke aku kalau Papa suka dengan mbak Fina," ujar Elza dengan suara yang lantang.


Gadis berhijab itu terbelalak setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari Elza. Dia tidak tahu apakah bocah kecil itu berbicara serius atau hanya sekadar omong kosong. Namun, jika dilihat dari sorot matanya, Fina yakin jika Elza mengatakan yang sebenarnya.


"Pak," gumam Fina dengan tatapan yang tak lepas dari Benny. Gadis berhijab itu butuh penjelasan dari sang empu.


Benny terpaku pada tatapan mata gadis impiannya itu. Semua kata-kata yang biasa dia ucapkan kepada para wanita yang menjadi mangsanya mendadak hilang begitu saja. Benny dibuat kikuk oleh putranya sendiri. Bahkan, semua ini rasanya melebihi mendapatkan pacar pertama.


"Elza ke kamar dulu gih. Papa mau bicara dengan Mbak Fina," ucap Benny setelah tersadar dari lamunan.


"Obrolan orang dewasa ya, Pa. Aku kok harus ke kamar." Elza menatap Benny dengan sorot mata penasaran.


"Iya. Terserah Elza mau pergi kamar siapa, yang pasti Elza tidak boleh mendengarkan obrolan Papa dan Mbak Fina," ujar Benny seraya mengusap rambut tipis putranya itu.


Tanpa protes lagi, Elza segera pergi dari ruang keluarga. Dia berlari menuju ke kamar pengasuhnya itu. Kini tinggallah dua orang dewasa yang hanya diam dalam pikiran masing-masing.


"Saya butuh penjelasan, Pak. Jujur saja saya tidak nyaman dengan situasi ini," ucap Fina dengan kepala yang tertunduk.


Hanya helaan napas duda tampan itu yang terdengar di sana. Belum ada jawaban atas keresahan yang dirasakan Fina saat ini. Benny benar-benar kehilangan rangkaian kata, rayuan dan cara untuk menghindar dari situasi ini.


"Ya, aku memang pernah mengatakan kepada Elza, jika aku menyukaimu dan aku ingin menikah denganmu," ucap Benny tanpa melepaskan pandangan dari wajah yang sedang tertunduk itu.

__ADS_1


Degup jantung gadis berhijab itu mendadak tak beraturan setelah mendengar pernyataan dari Benny. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena semua ini tidak pernah dia duga sebelumnya.


"Aku mengatakan ini kepada Elza bukan sekadar bualan saja. Aku serius dengan hal ini," ujar Benny dengan tegas.


Seketika Fina menegakkan kepalanya. Dia menatap Benny dengan lekat karena masih tidak percaya dengan semua ini, "kenapa harus saya yang Bapak sukai? Kenapa harus saya yang ingin Bapak nikahi?" cecar Fina tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan tersebut.


"Karena hanya kamu yang pantas menjadi Nyonya di rumah ini. Aku dan Elza sama-sama menginginkan kamu," ujar Benny dengan yakin.


"Pak, menikah itu tidak mudah. Kenapa Bapak memberitahu Elza tentang semua ini. Dia pasti berharap jika semuanya menjadi kenyataan," sanggah Fina dengan tatapan nyalang.


"Saya memang memiliki harapan besar kepadamu, Fin. Saya memiliki perasaan kepada kamu. Lalu apa lagi yang membuat semua ini tidak mudah?" tanya Benny dengan entengnya.


"Perasaan saya! Bapak juga harus memikirkan bagaimana perasaan saya, karena menikah itu harus didasari dengan cinta. Keduanya harus memiliki perasaan yang sama agar bisa membangun rumah tangga yang bahagia." Fina tidak terima dengan pemikiran Benny, karena terkesan memaksa dan tak berperasaan.


Gadis itu membuang muka ke arah lain setelah mendengar pertanyaan tersebut. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana, "Pak Ben tidak pantas menikah dengan saya. Masih banyak wanita yang lebih layak untuk menjadi istri Bapak," ucap Fina tanpa berani menatap Benny.


"Tapi mereka tidak layak untuk Elza. Aku menikah bukan untuk diriku sendiri, Fin. Aku ingin anakku pun merasakan kasih sayang dari sosok ibu dan kamu lah ibu yang pantas untuk Elza," jelas Benny.


"Saya belum ingin menikah, Pak. Saya harus membiayai kuliah adik saya. Banyak beban yang saya tanggung atas keluarga saya," ujar Fina dengan tegas. Gadis itu sepertinya berat untuk menerima Benny dalam hidupnya sebagai seorang pasangan.


"Jangan khawatir dengan masalah itu. Keluargamu adalah tanggung jawabku. Aku akan membiayai kuliah Nisa sampai lulus," ujar Benny dengan tegas.


Fina tersenyum kecut mendengar pernyataan Benny. Dia belum bisa percaya begitu saja dengan ayah Elzayin itu. Banyak ketakutan yang hadir dalam pikiran gadis berhijab itu jika sampai menjalin hubungan bersama Benny.

__ADS_1


"Kenapa pemikiran Bapak seperti itu? Seakan semuanya bisa dijalani dengan mudah dengan uang yang Bapak miliki. Pernikahan itu bukan untuk sekadar main-main, Pak. Butuh kesiapan mental yang kuat agar rumah tangga tetap utuh dan bahagia." ucap Fina dengan suara yang bergetar.


"Saya memang sangat mencintai dan menyayangi Elza, tetapi bukan berarti saya bisa menjadi ibunya, Pak. Saya belum tentu bisa menjadi ibu sempurna untuk dia," keluh Fina seraya menatap Benny dengan mata yang berembun. Suaranya masih bergetar karena dia sedang menahan rasa yang membuncah di dada.


Benny mengusap wajahnya kasar setelah mendengar semua yang diucapkan oleh Fina. Satu hal yang pasti, gadis yang duduk tak jauh darinya itu belum bisa menerima perasaannya. Akan tetapi, semua ini tidak membuat Benny mundur begitu saja. Dia semakin bersemangat mendapatkan Fina, entah bagaimana caranya.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk melangkah ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat. Setidaknya terimalah perasaanku. Sudah lama aku memendam perasaan kepadamu, tetapi aku menahan untuk tidak mengungkapkan karena aku takut kamu akan pergi," ucap Benny tanpa melepaskan pandangan dari Fina.


"Apakah kamu tidak memiliki perasaan kepadaku, Fin?" tanya Benny untuk memastikan bagaimana perasaan gadis di hadapannya.


Lagi dan lagi Fina membuang muka ke arah lain setelah mendengar pertanyaan ini. Dia sepertinya tidak mau menjawab pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya, "saya dan kang Aris sudah berkomitmen untuk menikah setelah kang Aris mendapatkan gelar S2 nya," jawab Fina tanpa berani menatap Benny.


"Kalian hanya berkomitmen tanpa sebuah ikatan resmi. Dia belum menemui orang tuamu. Lagi pula kalau memang dia serius ingin menikah denganmu, pasti dia akan menemui ibumu. Setidaknya dia melamarmu. Sekarang coba kamu pikir, apa yang dilakukan pemuda itu? Hanya sekadar ucapan 'kan?" Benny mencoba memprovokasi Fina agar Aris hilang dari pikirannya.


"Jika memang mau, sekarang juga aku bisa menemui bu Badiah untuk melamarmu," tantang Benny.


Wajah gadis berhijab itu bersemu merah karena menahan tangis di hadapan Benny. Beberapa hal telah disampaikan oleh Benny untuk meyakinkan Fina, jika dirinya adalah yang terbaik. Pembicaraan serius terus berlangsung hingga pada akhirnya Fin beranjak dari tempatnya.


"Tolong jangan bahas ini lagi. Saya belum siap untuk menjadi istri Bapak. Saya perlu waktu yang panjang untuk memikirkan semua ini. Saya tidak bisa menjanjikan apapun kepada Bapak, karena saya terlanjur berkomitmen dengan pria lain." Fina menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini, "permisi, saya mau kembali ke kamar," pamit Fina sebelum meninggalkan Benny di ruang keluarga.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Maaf ya othor upnya malam😍Ada acara di rumah🤧...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2