
"Mungkin sudah saatnya Elza tahu semua tentang Nurma," gumam Benny saat menarik laci yang ada di dalam almari.
Hujan telah datang tanpa diundang. Langit cerah seketika berubah gelap meski adzan dhuhur baru saja berkumandang. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengurung diri di kamar. Beristirahat dan tentunya merebahkan badan di atas tempat tidur king size yang empuk itu.
Benny mengambil dua album foto yang tersimpan di dalam laci almarinya. Dua album yang selama ini tersimpan rapi di sana karena banyak sekali kenangan indah bersama sosok yang tidak bisa lagi untuk digapai.
"Elza sedang main game apa?" tanya Benny setelah menghampiri Elza yang sedang asyik dengan iPad miliknya. Duda satu anak itu duduk di tepian ranjang setelah meletakkan dua album foto di atas nakas.
"Aku sedang melihat video silat, Pa," jawab Elza tanpa mengalihkan pandangan dari layar iPad yang ada di atas pangkuannya.
Benny naik ke atas tempat tidur, lantas dia duduk bersandar di headboard ranjang dengan kaki berselonjor. Dia sedang merangkai kata untuk mulai pembicaraan tentang Nurma, "El, iPad nya diletakkan dulu. Sini, duduk sama Papa," ujar Benny setelah melebarkan kakinya.
"Ada apa, Pa?" Elza menoleh ke arah Benny.
"Papa ingin menunjukkan sesuatu kepada Elza," ucap Benny dengan diiringi senyum tipis.
Setelah meletakkan iPad nya, Elza berpindah posisi duduk di hadapan Benny seperti yang diperintahkan. Bocah kecil itu hanya diam saja sambil menunggu Benny memulai pembicaraan.
"Papa ingin menunjukkan foto kepada Elza," ucap Benny setelah mengambil album foto berwarna putih.
Foto bayi mungil yang sedang tengkurap adalah foto pertama yang ditunjukkan Benny kepada Elza. Dia menjelaskan jika foto itu adalah dirinya di masa lalu. Tentu Elza sangat antusias karena baru pertama melihat foto tersebut. Suara gelak tawa bocah kecil itu terdengar nyaring di sana.
"Pa, ini siapa? Kenapa orang ini menggendong aku, Pa?" tunjuk Elza pada lembar album yang kedua, di mana ada foto wanita cantik yang sedang tersenyum bahagia.
__ADS_1
Benny tak segera menjawab pertanyaan itu. Dia membiarkan Elza melihat semua foto yang tersimpan di album tersebut. Sudah tiga kali bocah kecil itu bertanya tentang wanita cantik yang ada di dalam album tersebut.
"Pa, kenapa dia mencium Papa?" tanya Elza ketika melihat potret di mana Nurma sedang mencium pipi Benny, sementara Elza kecil berada dalam gendongan Benny. Foto tersebut diambil ketika Elza berusia sepuluh bulan, sebelum Nurma meninggalkan mereka berdua.
Benny mengela napas berat setah mendengar pertanyaan itu. Dia memberikan kecupan penuh kasih di kepala putra itu sebelum menjawab pertanyaan yang membuat dadanya terasa sesak. Tentu semua kenangan tentang Nurmala mulai terkumpul menjadi satu. Sosok perawat cantik yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan berhenti menjadi playboy metropolitan.
"Wanita ini bernama Nurmala. Dia adalah ibunya Elza," ucap Benny hingga membuat Elza menengadahkan kepala, "Elza bisa memanggil dia mama Nurma," lanjut Benny dengan diiringi senyum tipis.
Bocah kecil itu hanya diam saja setelah mendengar penjelasan ayahnya. Mungkin bocah yang belum genap berusia lima tahun itu sedang mencerna dan memahami apa yang diucapkan oleh Benny.
"Jadi aku masih punya mama? Tapi kemana mamaku, Pa? Kenapa tidak ada di rumah ini? Kenapa Mama tidak mau bertemu denganku? Kenapa Mama menyuruh mbak Fina merawatku, menemani aku tidur dan mengantarku sekolah. Kenapa Mama tidak mau memelukku?" cecar Elza seraya menatap Benny dengan lekat.
Benny seperti kehilangan tenaga setelah mendengar semua pertanyaan itu. Ya, inilah salah satu alasan yang menjadi dasar, kenapa dia menyembunyikan fakta tentang sosok yang melahirkan putranya ke dunia ini. Sekuat tenaga duda tampan itu menahan genangan air mata agar tidak jatuh membasahi pipi. Dia tidak tega melihat tatapan penasaran dari sorot mata putranya.
"Apa Elza tahu siapa yang biasanya di kubur di tempat pemakaman?" tanya Benny seraya mengusap kepala Elza dengan gerakan lembut.
"Tahu, Pa. Orang meninggal 'kan?" jawab Elza dengan cepat.
"Lalu kenapa orang bisa meninggal?" tanya Benny lagi. Dia penasaran sejauh mana pengetahuan putranya tentang semua ini.
"Karena sudah waktunya, Pa. Mereka dipanggil Allah karena sudah waktunya kembali," jawab Elza lagi.
"Apakah mereka bisa kembali lagi ke rumahnya?" Benny masih memberikan pertanyaan tentang hal itu.
__ADS_1
"Ih Papa ini bagaimana sih! Ya tidak lah, Pa. Mereka tidak bisa kembali lagi, kan sudah dikubur. Lagi pula mereka kan sudah bersama Allah di surga," tegas Elza.
"Sama halnya dengan mereka yang sudah tidak bisa kembali, Mamanya Elza pun begitu. Mama sudah meninggal sejak Elza masih kecil. Mama harus kembali kepada Allah, karena sudah waktunya tiba." Akhirnya Benny menjelaskan semua ini kepada putranya.
"Kenapa Mama pergi sendiri? Kenapa Mama meninggalkan aku dan Papa?" Tentu Elza tidak ada diam saja setelah mendengar penjelasan itu.
"Karena Allah hanya memanggil Mama, Nak. Dulu Mama sakit parah, setiap hari Mama menangis kesakitan hingga pada akhirnya Allah memanggil mama ke surga agar tidak merasakan sakit lagi." Benny mencoba memberikan pengertian kepada putranya.
Elza termenung setelah mendengar penjelasan ayahnya. Sepertinya dia sedang mencerna kenyataan yang baru saja diketahuinya. Tatapan bocah kecil itu beralih pada foto mendiang ibunya. Dia menatap lekat wajah cantik berhiaskan senyum manis itu. Lantas, tangannya mulai menyentuh wajah yang tercetak menjadi gambar itu.
"Aku sayang sama mama. Aku tidak marah meskipun mama tidak pernah mengantar aku ke sekolah dan tidak pernah tidur bersamaku. Apakah Mama juga sayang sama aku?" Elza bermonolog sambil menatap foto Nurmala.
Tanpa bisa ditahan lagi, air mata duda satu anak itu mengalir dengan deras hingga membasahi pipi. Pernyataan yang baru saja diucapkan oleh putranya berhasil meluluhkan lantahkan isi hatinya. Rasa kehilangan dan sedih kembali hadir dalam diri Benny. Sungguh Rasanya dia tidak sanggup untuk membahas Nurmala lebih jauh lagi. Benny buru-buru menghapus air matanya agar Elza tidak mengetahui semua itu. Dia harus terlihat kuat di depan putranya.
"Apa Elza mau ikut jika Papa pergi ke makam Mama?" tanya Benny setelah dia bisa menguasai diri.
"Tentu, Pa. Aku mau ikut karena aku ingin mendoakan Mama. Kata mbak Fina kalau bisa mengaji maka orang yang meninggal akan bahagia. Mama nanti pasti bahagia ya, Pa, kalau tahu Elza sudah bisa menghafalkan beberapa surat Al-Qur'an," ujar Elza dengan antusias.
Benny hanya bisa tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya karena tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan suara. Obrolan di antara ayah dan anak itu pun masih berlanjut hingga beberapa puluh menit lamanya. Mereka berdua membuka kedua album foto yang sudah disiapkan oleh Benny.
"Kira-kira Elza mau gak punya Mama baru?" tanya Benny begitu ada kesempatan membahas hal ini.
...πΉTo Be Continue πΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...