Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Senja Penuh Makna


__ADS_3

"Sayang, handphoneku di mana?" teriak Benny ketika tidak menemukan keberadaan ponselnya di kamar.


Pria tampan itu bergegas keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Fina karena dia ingat betul jika sebelum masuk ke kamar mandi, ponselnya diletakkan di atas tempat tidur. Benny mencari ke sekeliling lantai dua, tetapi belum menemukan batang hidung istrinya.


"Oh, ternyata di sini," gumam Benny setelah keluar ke balkon lantai dua, "itu handphoneku 'kan?" tanya Benny saat melihat benda pipih yang ada dalam genggaman tangan Fina.


"Iya, pinjam sebentar," jawab Fina tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang masih menyala itu.


"Ada apa sih?" tanya Benny setelah berdiri di belakang kursi kayu yang ditempati Fina. Dia membungkukkan badan dengan kedua tangan yang diletakkan di kursi sebagai penopangnya.


"Loh loh loh! Kenapa dihapus, Sayang?" tanya Benny setelah melihat Fina menghapus beberapa video yang ada di handphonenya. Tak hanya itu, satu aplikasi tersembunyi pun dihapus oleh istrinya itu.


"Mas gak perlu menyimpan video seperti ini!" tegas Fina setelah semuanya terhapus, "aku hanya berjaga-jaga siapa tahu Elza pinjam handphone Mas! Aku takut lalai seperti orang tuanya Putra. Menyimpan video dewasa dan tidak tahu jika anaknya ikut menonton video tersebut," jelas Fina tanpa menatap Benny.


Wanita cantik itu masih sibuk mengobrak-abrik galeri di ponsel tersebut. Dia tercengang karena tiba-tiba saja menemukan folder berisi fotonya. Matanya terbelalak karena ternyata Benny sering mencuri foto saat dirinya tampil sexy di kamar.


"Jangan dihapus!" cegah Benny setelah tahu Fina akan menghapus semua koleksinya, "itu koleksiku, Sayang!" Benny berusaha merebut ponsel tersebut.


"Gak! Semua ini harus dihapus! Aku baru tahu jika selama ini Mas mengambil fotoku. Apalah ini! Semua foto gak ada yang benar! Untuk apa sih foto seperti ini disimpan? Bukankah Mas bisa melihat langsung setiap hari? Kalau sampai foto ini tersebar bagaimana? Mas mau aku jadi tontonan banyak orang?" cecar Fina tanpa melepaskan pandangan dari wajah suaminya.


"Sayang, gak akan ada yang tahu karena handphone ini selalu ada bersamaku. Lagi pula tidak mungkin dong aku sebar foto istriku sendiri," kilah Benny setelah duduk di kursi yang ada di dekat Fina.

__ADS_1


"Mas, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Ya, siapa tahu saja suatu saat handphone Mas rusak, terus harus diservis. Mungkin juga bisa jatuh dan ditemukan orang lain, terus dibuka dan menemukan semua foto sexy ini. Memangnya Mas mau fotoku jadi konsumsi publik? Mas harus ingat tuh kasus artis yang pernah terjadi dulu! Koleksi pribadi tapi tiba-tiba tersebar dan dilihat banyak orang!" jelas Fina dengan nada tinggi.


"Kita itu tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, tetapi setidaknya kita sudah berhati-hati di hari ini agar bisa meminimalisir kondisi buruk, Mas. Jadi, tidak perlu protes kalau aku menghapus semua foto ini!" pungkas Fina sebelum beralih menatap layar ponsel suaminya.


Kalau sudah seperti ini, tidak ada yang bisa Benny lakukan. Semua penjelasan yang diucapkan Fina adalah kebenaran. Akan tetapi jiwa-jiwa mesumnya menolak jika semua foto nude candid itu dihapus begitu saja.


"Ah sudahlah! Lebih baik dihapus saja, daripada debat panjang dan berakhir dengan pertengkaran! Makin pusing aku membujuk Fina yang lagi marah nantinya, jika aku ngotot mempertahankan foto itu!" batin Benny setelah mendengar semua penjelasan panjang istrinya.


Siluet jingga terbentang luas di cakrawala menemani bola raksasa yang bergerak turun untuk menyembunyikan diri. Semilir angin senja mulai menerpa sepasang suami istri yang masih berbincang di balkon lantai dua. Membahas masalah rumah tangga dan cara mendidik Elza. Banyak hal yang disepakati keduanya ketika bertukar pikiran.


"Eh, Sayang. Bagaimana kalau setelah ini beli mobil baru?" tanya Benny setelah teringat kabar yang disampaikan oleh orang bengkel, jika mobil yang dulu dipakai kecelakaan rusak total di bagian depan. Tentu jika diperbaiki akan menelan banyak biaya.


"Untuk apa sih beli mobil lagi? Masih ada mobil 'kan di rumah? Udahlah kita pakai itu aja," cegah Fina karena banyak hal yang harus dipertimbangkan saat ini.


"Tapi aku butuh mobil yang agak kecil buat ke pabrik," ucap Benny lagi.


"Mending beli motor, Mas. Kalau ke pabrik bawa motor saja, gak terlalu jauh 'kan?" usul Fina setelah mendengar keluhan suaminya.


Pembahasan tentang keinginan Benny terus berlanjut dan Fina masih tetap memiliki jawaban yang sama. Dia tidak setuju jika Benny membeli mobil baru karena takut di hari esok ada kebutuhan besar yang menanti.


"Ini, Mas! Angkat dulu telfonnya," ucap Fina ketika ponsel yang ada di dalam genggaman tangannya berdering. Fina membaca sekilas nama yang tampil di layar ponsel tersebut, "siapa Rani?" batin Fina karena selama ini dia tidak pernah melihat nama itu di handphone suaminya.

__ADS_1


Wanita cantik itu menyimak pembicaraan yang berlangsung dengan seksama, agar tidak ketinggalan informasi. Akan tetapi tak lama setelah itu, Benny mengakhiri panggilan tersebut karena tahu jika Fina sedang menguping.


"Kalau begitu begini saja, setelah ini kita bertemu di cafe Mas Bro. Kita bahas dengan detail bagaimana konsepnya nanti," pungkas Benny sebelum memutuskan sambungan telfonnya.


"Sayang, setelah ini aku mau keluar sebentar untuk bertemu seseorang. Kamu dan Elza di rumah saja karena aku tidak akan lama," ucap Benny tanpa menatap Fina. Dia sibuk mengetik pesan di ponselnya, "ayo sholat sekarang. Biar aku nanti tidak telat," ajak Benny setelah mendengar suara adzan magrib berkumandang.


Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Seusai sholat magrib bersama anak dan istrinya, Benny pun siap-siap sebelum menemui seseorang di tempat yang sudah disepakati. Setelah selesai bersiap, dia kembali menemui Fina dan Elza di mushola yang ada di dekat dapur. Suara Elza yang sedang mengaji terdengar merdu dan menenangkan jiwa.


"Kok wangi banget sih? Rapi lagi pakaiannya!" protes Fina setelah mengamati penampilan suaminya.


"Ya namanya juga mau rapat, masa iya aku pakai celana kolor," sanggah Benny setelah mendengar protes dari Fina.


"Awas kalau macam-macam! Berani main gila di belakang, akan ku penggal si sanca!" ancam Fina setengah berbisik agar tidak mengganggu Elza.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal itu, Sayang," ucap Benny sambil menepuk bahu yang masih tertutup mukenah.


Setelah berpamitan kepada Fina, mantan duda itu pun bergegas berangkat agar tidak sampai terlambat. Jarak menuju cafe itu pun lumayan jauh dari tempat tinggalnya.


"Demi kebahagiaan Fina, semua ini aku lakukan. Semoga gak sia-sia," gumam Benny setelah masuk ke dalam mobil.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Happy weekend Guys😎...


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2