
Malam telah datang setelah sang surya kembali ke peraduan. Bintang bertaburan di langit gelap tanpa hadirnya sang rembulan. Adzan isyak pun telah berkumandang sejak beberapa puluh menit yang lalu.
"Sayang, bangun dulu yuk! Ini aku bawa martabak telor spesial sesuai pesanan kamu," ucap Benny setelah duduk di tepian ranjang.
Fina membuka kelopak matanya saat merasakan belaian lembut di kepala. Dia menatap Benny dengan senyum manis, "baru ditinggal sebentar, tapi aku udah kangen Mas rasanya," ucap Fina dengan suara manja.
"Harus dong! Kamu harus kangen setiap waktu," jawab Benny, "ayo makan martabaknya dulu, biar lebih bertenaga," ucapnya sambil menunjukkan kantong kresek berisi sekotak martabak telur.
"Memangnya mau ngapain sampai harus bertenaga segala?" tanya Fina dengan tatapan penuh arti.
"Setiap malam kamu selalu lemas setelah muntah. Jadi, makan dulu martabaknya agar tenaga kamu pulih," jelas Benny seraya menatap istrinya. Tentu dia tahu kemana arah dan tujuan pertanyaan itu.
"Ya ...." Fina berdecak kesal, "aku kira mau diajak nananininunu. Tiga bulan nih jalan tol nganggur! Masa iya cuma ngocok arisan aja!" sindir Fina dengan helaan napas yang berat.
"Jangan mesum! Aku juga sedang menahannya. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu dengan anak kita. Kamu sedang hamil muda dan rentan keguguran. Kalau nanti kita nananininunu nya terlalu keras, bisa bahaya. Mending nanti saja kalau udah hamil tua." Benny menjelaskan alasannya kepada Fina.
"Ya kita geraknya pelan kan bisa Mas," sanggah Fina dengan senyum penuh arti.
"Memang selama ini kita bisa gerak pelan? Yakin?" Benny memicingkan mata ke arah istrinya.
"Engga sih! Fast ... fast ... fast!" Fina terkekeh setelah menjawab pertanyaan suaminya.
Sejak Fina dinyatakan hamil, Benny benar-benar menjaga kehamilan Fina. Bahkan, dia bisa mengesampingkan hasrat liar dalam dirinya. Ya, meski terkadang ingin terpuaskan, dia memilih melewati jalan alternatif dari pada jalan tol.
"Gak usah mancing-mancing! Nanti kalau disuruh ngocok arisan, mengeluh capek!" sarkas Benny, "udahlah, ayo makan ini dulu! Nanti keburu dingin, Sayang." Benny menunjukkan kantong kresek itu lagi kepada Fina.
"Kita nunggu Elza saja lah, dia masih latihan di depan 'kan?" tanya Fina.
"Aku tadi udah beli untuk anak-anak kok. Ini memang untuk kita. Aku tunggu di bawah, Oke?" ujar Benny seraya beranjak dari tempatnya. Ayah dari Elzayin itu pun akhirnya keluar dari kamar terlebih dahulu.
__ADS_1
Rumah tangga harmonis adalah tujuan semua pasangan suami istri. Berbagai macam jalan telah dilalui untuk mencapai hal itu. Akan tetapi terkadang banyak pasangan tidak bisa merasakan keharmonisan dan ketenangan karena keduanya memiliki ego yang besar dan tidak ada yang mau mengalah.
****
Suara derap 0 menggema di ruang keluarga saat Fina turun dari tangga penghubung di rumah tersebut. Wanita yang sedang hamil tiga bulan itu terlihat cantik dan anggun karena sedikit sentuhan makeup di wajah. Rambut panjang berwarna hitam itu dibiarkan tergerai di punggung.
"Mbok, kemana ayahnya Elza?" tanya Fina setelah sampai di ruang keluarga dan kebetulan ada Jumiatin yang sedang mengantar minuman.
"Bapak tadi sepertinya keluar, Bu," jawab Jumiatin seraya menunjuk arah ruang tamu.
Tanpa sadar, Fina membalikkan badan dan mengayun langkah menuju ruang tamu hingga sampai di teras rumah. Ternyata Benny sedang melihat Elza berlatih di halaman rumah. Dia berdiri di sisi Benny dan ikut menyaksikan latihan di sana.
"Tuh Mas! Anak kita energik banget 'kan!" ujar Fina tanpa melepas pandangan dari Elza.
Benny menoleh ke samping dan menjauhkan wajah dari istrinya. Dia mengamati penampilan Fina saat ini dan tatapan matanya berubah menjadi sinis, "kenapa ke depan?" tanya Benny.
"Aku nyusul Mas lah. Tadi aku cari di dalam Mas gak ada," jawab Fina.
"Astagfirullah, aku lupa, Mas!" Fina terbelalak sambil menyentuh rambutnya. Wanita berbadan dua itu pun bergegas masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke kiri dan ke kanan.
Benny mendengus kesal sambil menatap kepergian istrinya. Tentu dia tidak rela jika ada pria lain yang melihat keindahan di balik kerudung Fina. Setelah menatap Aris selama beberapa detik, ayah dari Elzayin itu mengikuti Fina masuk ke dalam rumah.
"Itu tadi bukan termasuk ngidam kan?" tanya Benny setelah sampai di ruang keluarga dan menghempaskan diri di samping Fina.
"Aku benar-benar lupa, Mas. Serius deh, aku gak punya niat memamerkan penampilan tanpa hijab di depan semua orang. Aku tadi itu memang ingin memanggil Mas," jelas Fina sambil meraih tangan suaminya untuk digenggam.
"Jangan cemberut dong!" ujar Fina saat melihat perubahan wajah suaminya, "aku benar-benar lupa, Sayang. Aku minta maaf ya." Fina mencoba merayu Benny agar kembali tersenyum.
"Jangan diulangi lagi!" tegas Benny dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Fina hanya mengembangkan senyum setelah mendengar jawaban suaminya. Dia segera membuka kotak yang ada di dalam kresek putih agar segera menikmati martabak telur bersama Benny.
"Ya ... udah terlanjur dingin," gumam Fina dengan ekspresi wajah kecewa.
"Pasti dingin lah! Belinya udah dari tadi, kamu juga disuruh makan pakai kebanyakan acara," celetuk Benny hingga membuat Fina menghentikan kunyahannya.
"Mas ini kenapa sih? Masih marah sama aku? Aku udah minta maaf loh! Kenapa masih sensitif gitu sih sama aku!" cecar Fina dengan mata yang berembun.
Bukannya berhenti makan dan pergi dari sana, Fina justru meraih kotak martabak dan diletakkan di atas pangkuannya. Satu persatu martabak telur itu telah dilahap tanpa menunggu Benny. Air mata pun tiba-tiba mengalir deras dari pelupuk mata. Entah apa yang membuatnya sedih seperti itu.
"Ini bumil kenapa lagi coba? Padahal yang seharusnya marah itu aku! Kenapa dia menangis dan seakan menjadi korbannya. Masa iya gara-gara martabak telur dia harus menangis bombai seperti itu!" batin Benny ketika mengamati apa yang dilakukan Fina saat ini.
Satu kotak martabak telur telah habis dalam kurun waktu beberapa menit saja. Benny pun hanya menikmati dua potong dari sekotak martabak itu. Dia masih bingung mengenai alasan yang membuat Fina menjadi sedih seperti itu.
"Sayang, kamu ini kenapa?" tanya Benny karena tidak tahan dengan situasi yang dia hadapi.
Wanita berbadan dua itu tak segera menjawab pertanyaan Benny. Dia mengusap air mata yang tak henti mengalir di pipi, "Mas itu jahat! Masa gara-gara kesalahan seperti tadi aku dimarahi! Bukan salahku juga kalau martabaknya dingin! Salahkan saja penjualnya! Kenapa bikin martabaknya cepat dingin!" ujar Fina seraya beranjak dari tempatnya. Dia meninggalkan Benny di sana seorang diri. Tentu apa yang baru saja terucap dari Fina berhasil membuat kepala Benny berdenyut karena bingung menghadapi sikap labil istrinya.
"Sekarang aku merasakan apa yang sudah dirasakan Elza! Astagfirullah, ternyata Fina sangat menyebalkan di kehamilan kedua ini. Masa iya martabak dingin, penjualnya yang disalahkan. Jalan pikirannya bagaimana sih!" gerutu Benny dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Banyak2 istighfar ya Mas Dudπ€£...
...βββββββββββββββ...
...Jangan lupa baca karya author Alya lii dengan judul Melawan Restu. Jangan sampai gak baca yaπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·...