
"Mari kita lihat seberapa hebat Mas meresmikan jalan tol ini," ucap Fina dengan senyum penuh arti.
Benny merasa tertantang setelah mendengar ucapan Fina. Gejolak yang lama terpendam mulai berkobar. Rasa rakut menyakiti sosok cantik yang ada di depan mata, sirna sudah karena dipenuhi bunga-bunga asmara yang bermekar indah.
Jarum pentul yang tersemat di bawah dagu telah terlepas begitu saja. Kerudung pasmina berhasil dibuka dan dibuang begitu saja di atas sofa. Rambut hitam itu akhirnya tergerai indah setelah Benny menarik tali rambut berwarna merah muda. Seperti malam-malam sebelumnya, Fina tetap terlihat cantik dan mempesona.
"Malam ini aku adalah milikmu, Mas," gumam Fina sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu ini. Lantas dia mengeratkan kedua tangannya di tengkuk suaminya itu.
"Kita harus bekerja keras agar adonan bayi segera jadi." Benny mengembangkan senyum manis di hadapan Fina.
Sementara kedua tangannya sibuk melepas kancing tunik yang dipakai Fina. Dia sudah tidak sabar untuk mengeksplor bukit teletubbies yang tersembunyi di balik kain berenda. Pada akhirnya tunik berwarna navy itu terjatuh di atas lantai.
"Mas, jangan buru-buru. Waktu kita masih panjang," ucap Fina dengan tatapan mata penuh arti, "akan lebih baik jika sebelum berhubungan kita membersihkan diri terlebih dahulu dan setelah itu sholat isya' berjamaah. Lanjut sholat sunnah dan dzikir dulu juga lebih baik loh," tutur Fina tanpa mengalihkan pandangan dari wajah suaminya.
Hanya helaan napas berat yang terdengar di sana. Semangat yang sempat berkobar mendadak hilang begitu saja setelah mendengar tutur kata Fina. Ya ... memang semua itu adalah kebenarannya. Mereka belum melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Sepertinya mandi dan sholat isya' berjamaah perlu kita lakukan sekarang. Untuk yang lain kita skip dulu," jawab Benny sambil tersenyum kecut.
"Tapi aku tidak membawa apapun loh, Mas," ucap Fina setelah dirinya hanya membawa tas slempang kesayangannya saat masuk ke dalam kamar hotel ini.
"Aku sudah menyiapkan segala keperluanmu di dalam koper itu." Benny menunjuk koper besar yang ada di sudut kamar.
"Hah? Serius? Kok bisa begitu? Kapan Mas menyiapkan semua ini? Aku kok gak tahu ya," cecar Fina ketika menemukan kopernya ada di sana.
"Kemarin malam ketika kamu tidur, aku menyiapkan semua itu terus kopernya aku masukkan ke dalam mobil," jelas Benny.
"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi duluan deh," pamit Fina saat membalikkan badan dan berjalan menuju sudut ruangan untuk mengambil perlengkapan mandi dan sholat.
__ADS_1
"Mandi bareng aja yuk!" usul Benny dengan diiringi senyum smirk.
"No! Aku bisa masuk angin jika terlalu lama mandi di malam hari," tolak Fina dengan tegas. Tak lama setelah itu Fina bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Setelah membersihkan diri masing-masing, kini sepasang suami istri itu melaksanakan kewajiban empat rakaat berjamaah di sana. Lantunan ayat suci Alquran menggema di sana hingga selesai di rakaat terakhir. Doa-doa terbaik pun telah dipanjatkan sepasang suami istri itu kepada Sang Kuasa.
"Mas, mau makan dulu?" tawar Fina sambil melepas mukenah putih tersebut.
Sementara Benny hanya diam saja sambil mengamati Fina. Mantan duda itu terkesima melihat pakaian yang sejak tadi tertutup mukenah itu. Dia tak berkedip ketika mengamati Fina dengan pakaian kurang bahan berwarna merah menyala itu.
"Sepertinya aku langsung makan kamu saja," jawab Benny sambil melepas pecinya.
Perlakuan manis dan lembut melengkapi suasana romantis yang tercipta di sana. Satu persatu tahap pembukaan jalan tol telah terlewati hingga sampai pada tujuan menginap di tempat mewah ini. Tentu, membutuhkan beberapa kali uji coba pengguntingan pita, mengingat ini adalah pertama kali setelah perbaikan dilakukan.
"Susah banget sih ini! Apa iya dulu gak dikasih jalan sama dokternya waktu dijahit!" protes Benny karena cukup susah membuka jalan tersebut.
Perlu kesabaran dan ketelatenan untuk mencapai sebuah tujuan dari peresmian jalan tol. Setelah bersusah payah menggunting pita, akhirnya jalan tol resmi dibuka. Suara erangan manja terdengar di sana, menandakan jika keduanya telah merasakan kenikmatan yang cukup lama hilang dari ingatan. Peluh keringat mulai membasahi badan meski suhu ruangan sudah diatur paling dingin. Permainan masih berlanjut meski sang bidadari beberapa kali mencapai puncak nirwana.
"Bersiaplah, Sayang," gumam Benny setelah merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dalam diri. Sesuatu yang sempat terpendam dalam diri, kini harus ditumpahkan di tempat yang tepat demi tercapainya sebuah tujuan.
Terbang tinggi menembus awan adalah tujuan sepasang suami istri itu. Mereka terkulai karena kehilangan banyak tenaga setelah semuanya berakhir. Fina memejamkan mata ketika merasakan dekapan hangat dan penuh kasih dari Benny. Mereka menyembunyikan diri di balik selimut tebal berwarna putih agar tidak merasakan dingin suhu AC di ruangan tersebut.
"Ternyata kamu masih hebat ya, Mas," gumam Fina sambil menengadahkan kepala, "aku pikir Mas udah gak sanggup lagi menunjukkan aksi hebat ini," lanjutnya sambil mengusap rahang kokoh itu.
"Kamu meragukan aku, Sayang?" tanya Benny tanpa membuka kelopak mata. Dia masih menikmati sisa pertempuran yang terjadi.
"Sempat sih," jawab Fina dengan diiringi senyum renyah.
__ADS_1
"Dasar!" ujar Benny sambil menepuk lengan Fina.
"Semoga setelah ini aku hamil lagi ya, Mas." Fina sangat berharap jika bisa hamil dalam waktu dekat ini. Ya ... meski terkadang dia merasa takut saat teringat kejadian mengerikan yang sempat dia alami.
"Tuhan pasti mendengar doa-doa kita. Kalau memang belum berhasil, aku akan semakin gencar mengaduk adonannya," ujar Benny dengan yakin.
"Modus!" sarkas Fina sambil mencubit pinggang suaminya itu.
Obrolan ringan terjadi di antara keduanya saat melepas lelah. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk pertarungan babak kedua. Sepertinya harapan Benny tentang bulan madu tidaklah salah, karena mereka bisa tenang tanpa takut kepergok Elza. Seringkali bocah kecil itu membangunkan Fina di tengah malam saat sang empu sedang asyik memadu kasih. Alhasil mereka harus menunda kegiatan malam tersebut.
"Oh, jadi ini tujuan Mas ngajak nginep di hotel terus Elza diungsiin di rumahnya Ibu, biar Mas bisa tenang dan konsentrasi penuh gitu saat melakukan ini?" tebak Fina sambil mengusap rahang Benny dengan lembut.
Benny tersenyum simpul setelah mendengar tebakan itu. Dia mengurai tubuh sang istri dan duduk bersandar di headboard ranjang. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk melemaskan otot leher yang sempat kaku.
"Benar sekali. Menurutku memang sesekali kita perlu melakukan hal ini. Pergi berdua hanya demi menikmati momen romantis yang jarang kita dapatkan saat ada Elza. Semua ini aku lakukan bukan karena tega dan tidak sayang sama Elza, tetapi demi menjaga keharmonisan di antara kita berdua. Ya ... biar kamu gak bosan gitu sama pria tua ini," jelas Benny sambil membelai rambut Fina dengan gerakan lembut.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Aiih jadi laper nih, eh baper maksudnyaπ Menurut emak-emak perlu gak ada quality time sama pasangan?π...
...βββββββββββββββ...
...PENGUMUMAN! ...
...Jangan lupa mampir ke karya baru aku ya π Ada di Noveltoon juga kokπ Sambil nunggu novel ini up, boleh lah intip-intip di sanaπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...