
"Elza, dengarkan Ibu. Apa benar Elza yang memukul Arka?" Kali ini Erna ikut bertanya agar masalah ini cepat selesai.
Elza tak segera menjawab pertanyaan dari gurunya. Dia menatap Benny dengan sorot mata yang menunjukkan keresahan. Lantas, dia beralih menatap Fina beberapa detik. Ibu sambungnya itu tersenyum manis dan tentunya mendukung jawaban Elza.
"Iya. Saya yang menyebabkan tangan Arka cidera," ucap Elza dengan tegas.
"Apa alasannya?" selidik Erna tanpa mengalihkan pandangan dari Elza.
"Dia tiba-tiba menyerang saya, Bu!" sahut Arka dengan suara yang lantang.
"Lagi pula gak mungkin anak saya yang mulai duluan. Arka itu anak pendiam dan baik jika di rumah." Ibu Arka pun ikut menimpali sanggahan putranya.
"Sabar, Bu. Tolong beri saya waktu untuk mendengarkan penjelasan Elza. Kalau hanya mendengar cerita dari satu sisi saja, maka masalah ini tidak akan selesai," ujar Erna seraya menatap Ibu dari Arka itu.
"Elza, jelaskan kepada Ibu, kenapa kamu memukul Arka sampai tangannya cidera seperti itu? Ibu harap kamu jujur," cecar Erna setelah beralih menatap Elza.
"Karena Arka sering meminta uang saku saya, Bu. Setiap hari uang saku saya dipalak sama dia. Tidak hanya saya, teman-teman juga diminta uangnya. Setiap hari sudah saya kasih, Bu. Tetapi tadi saat saya beli sosis bakar, dia juga meminta sosis saya! Tetapi tidak saya kasih. Terus Arka mukul kepala saya duluan."
.
"Kata Mama kalau masih dipukul sekali saya tidak boleh langsung membalas, tetapi Arka mukul saya lagi dan merebut sosis saya. Dia juga meminta sosisnya Safa dan Zahra, tetapi mereka tidak mau memberi. Terus Safa dan Zahra didorong hingga jatuh. Jadi, ya saya hajar si Arka karena sudah nakal! Dia menyakiti teman-teman saya!"
"Alah kamu pasti bohong! Kamu mengarang cerita 'kan!" Ibu Arka tidak terima dengan penjelasan Elza.
"Anda bisa diam tidak? Biarkan dulu masalah anak-anak ini diselesaikan oleh gurunya! Saya tahu semua orang tua ingin membela anaknya, tetapi ya jangan seperti ini caranya! Saya juga tidak terima jika anak saya terus Anda salahkan!" Fina pun ikut menanggapi orang tua dari Arka itu.
"Sudah ... sudah. Biarkan saya yang menyelesaikan semua ini." Erna melerai kedua wanita yang sedang berseteru itu.
__ADS_1
Waki kelas Elza itu terlihat pusing menghadapi situasi ini karena orang tua Arka terus emosi dan tidak mau diam. Setelah keadaan dirasa kondusif, Erna pun melanjutkan penyelesaian ini.
"Arka, apa benar yang disampaikan oleh Elza?" tanya Erna seraya menatap Arka.
"Ibu berharap kamu jujur," lanjut Erna tanpa mengalihkan pandangan dari bocah kelas tiga SD itu.
Arka menundukkan kepala karena takut dengan semua orang yang ada di ruangan tersebut. Dia bergeming dan terlihat gugup. Mungkin saja dia takut dengan ibunya, tetapi karena Erna terus mendesak agar dirinya menjawab pertanyaan, akhirnya Arka menegakkan kepala.
"I ... i ... iya, Bu. Saya memang melakukan apa yang diceritakan Elza," jawab Arka dengan gugup.
"Kenapa kamu melakukan itu? Kamu sudah besar dan tahu 'kan jika yang kamu lakukan adalah salah," tanya Erna setelah mendengar pengakuan Arka.
Arka tak menjawab pertanyaan dari Erna. Dia kembali menundukkan kepala setelah melihat wajah ibunya yang semakin terlihat merah karena merasa malu karena putranya lah yang membuat kesalahan.
"Berarti sudah jelas 'kan? Siapa yang nakal dan tidak? Jika seperti ini ceritanya, apakah anak saya sepenuhnya bersalah?" Kali ini Fina ikut berkomentar karena tidak tahan melihat wanita yang ada di hadapannya.
"Tante, jika setelah ini, Arka mengulang kesalahannya. Apa lagi, sampai memukul anak perempuan, maka akan saya patahkan tangannya yang kiri. Dia sudah terlalu banyak mengambil uang saku teman-teman saya," ucap Elza dengan santainya. Bocah berusia enam tahun itu pun sepertinya sangat kesal dengan Arka.
"Maka dari itu, tolong putranya lebih diperhatikan lagi, agar tidak berlagak sok pemberani. Kalau sudah seperti ini siapa yang disalahkan kalau bukan orang tuanya? Karena anak-anak seusia mereka ini sangat butuh perhatian dan kepedulian orang tuanya," sahut Fina karena tidak terima putranya dibentak orang lain.
"Jadi bagaimana? Berapa biaya pengobatan anak Anda? Saya akan menggantinya karena saya sadar jika perbuatan anak saya merugikan orang lain. Tolong Anda jujur saja agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah ini." Benny pun langsung bertanya pada intinya. Dia tidak keberatan meski harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk masalah ini, mengingat putranya sudah melakukan kekerasan.
"Tidak perlu. Saya tidak akan menerima uang sepeserpun dari Anda!" tegas orang tua Arka.
"Loh jangan begitu. Lebih baik Anda katakan saja, mumpung ada bu Erna di sini. Saya tidak mau masalah ini berbuntut panjang. Suatu saat kita pasti bertemu saat rapat atau pengambilan rapot. Jangan sampai di masa depan Anda mengungkit masalah ini," sahut Fina saat melihat wanita berambut pirang itu berdiri dari tempat duduknya.
"Masalah ini saya anggap selesai. Saya tidak butuh bantuan dari kalian." Mungkin orang tua dari Arka itu malu karena ternyata putranya yang bersalah, "saya permisi dulu, Bu Erna. Maaf sudah mengganggu waktunya," ujar wanita tersebut saat berpamitan kepada wali kelas Elza. Dia membantu putranya turun dari kursi dan setelah itu keluar dari ruang guru tanpa bersalaman dengan Fina atau pun Benny.
__ADS_1
Sementara Erna hanya menghela napas yang berat setelah melihat bagaimana sikap orang tuanya Arka. Lantas, dia beralih menatap Fina dan Benny setelah memastikan jika Arka dan Ibunya benar-benar pergi dari sana.
"Terima kasih, Pak, Bu, karena sudah meluangkan waktunya datang ke sekolah. Masalah ini sudah selesai dan saya harap tidak dilanjutkan di luar sekolah. Saya sebagai wali kelas, sangat berharap jika di masa depan masalah ini tidak terulang lagi," tutur Erna dengan kalem.
"Kami minta maaf karena putra kami sudah membuat kekacauan di sekolah. Setelah ini, kami akan lebih memperhatikan lagi pergaulan Elza," ucap Fina seraya menatap Erna dengan lekat.
"Saya sebagai guru di sekolah sangat berharap jika Ibu dan Bapak lebih memperhatikan semua kegiatan anak-anak di rumah. Pendidikan karakter di sekolah tidak cukup untuk membangun karakter anak. Peran orang tua dalam hal ini sangatlah berpengaruh. Tugas guru hanya beberapa jam saat di sekolah dan selebihnya orang tua yang berperan penting dalam mendidik anak. Apa lagi, sekarang zaman sudah modern. Banyak orang tua yang lalai dengan perkembangan anaknya. Mereka asyik sendiri dengan ponselnya, sementara anaknya dibiarkan berkutat dengan gadget tanpa pengawasan. Kami semua sebagai guru sebenarnya ingin bekerja sama dengan orang tua untuk memperbaiki akhlaq anak-anak yang mulai menurun."
"Semua ini memang tidak mudah dipraktekkan, Bu. Akan tetapi jika kita tidak berusaha melawannya, maka kita sendiri yang akan menyesal setelah anak kita tumbuh tidak sesuai dengan umurnya," tutur Erna panjang lebar.
"Terima kasih, Bu, atas nasihatnya. Setelah ini kami pasti lebih memperhatikan Elza. Kami pamit pulang ya, Bu," ucap Fina dengan kalemnya. Dia beranjak dari tempatnya dan tak lupa bersalaman dengan wali kelas putranya itu.
Setelah keluar dari ruang guru, tiba-tiba saja Benny mengangkat tubuh Elza ke dalam gendongannya. Benny tersenyum simpul saat melihat Elza masih menunjukkan rasa takut. Entah mengapa meski Elza melakukan kekerasan hingga menyebabkan tangan lawannya cidera, Benny merasa bangga atas apa yang sudah terjadi.
"Jangan takut, Nak. Papa tidak marah kok. Akan tetapi lain kali jangan seperti itu lagi. Memberi pelajaran untuk teman yang nakal boleh, tetapi jangan sampai cidera," tutur Benny saat berjalan menuju mobilnya, "apa Elza terlalu emosi saat melihat Safa dan Zahra disakiti Arka?" tanya Benny sambil mengulum senyum karena merasa putranya adalah calon pria sejati.
"Atau mungkin Elza suka dengan Safa dan Zahra?" celetuk Fina hingga membuat ekspresi wajah putra sambungnya itu berubah masam.
Bocah kecil itu terlihat tidak suka dengan pertanyaan itu karena memang dia tidak suka dengan dua teman yang dianggapnya berisik itu. "Aku tidak suka dengan mereka berdua, Ma! Aku hanya tidak suka ada yang kasar sama perempuan! Apa lagi Safa dan Zahra masih kecil," kilah Elza dengan sorot mata tidak suka.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Hayoo siapa yang pernah mengalami kejadian ini?...
...ββββββββββββββ...
...Rekomendasi karya super keren untuk kalian baca nihπSambil nunggu othor up, kuy baca karya author Sensen dengan judul Reinkarnasi Istri Kecil Mafia....
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...