
"Mau makan apa?" tanya Ardi setelah mereka berdua duduk di salah satu ruang private yang ada di sana.
Nisa tak segera menjawab karena dia sibuk mengamati keadaan di sekitarnya. Tentu dia semakin takut karena menempati tempat tertutup seperti ini. Dia takut Ardi berbuat macam-macam dengannya karena pasti ruangan ini kedap suara.
"Kenapa kita duduk di tempat seperti ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Ardi, gadis berhijab itu malah bertanya balik kepada sang empu.
"Agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita," jawab Ardi dengan tenang, "kenapa? Kamu takut aku berbuat mesum kah?" tanyanya.
"Berjaga-jaga jauh lebih baik." Hanya itu yang menjadi jawaban Nisa.
"Kalau aku mau sudah dari dulu aku berbuat mesum kepadamu. Banyak kesempatan yang sudah aku lewatkan jika memang aku berniat seperti itu," ujar Ardi seraya mengulum senyum, "sudahlah, lebih baik segera tulis pesananmu. Jangan terlalu berpikir negatif tentangku." Ardi menyerahkan buku menu kepada Nisa.
Nisa sibuk memilih makanan yang dia inginkan. Gadis cantik itu cukup terkejut melihat harga yang tertera di sana. Akan tetapi dia tetap memilih makanan legendaris yang menjadi favoritnya selama ini. Rawon dengan daging serundeng.
"Kamu yakin ingin memesan ini saja? Rawon?" Ardi meyakinkan Nisa sebelum memberikan buku tersebut kepada pelayan yang sedang menunggu di luar.
"Ya, itu lebih dari cukup untukku," jawab Nisa.
Ardi kembali membuka buku menu tersebut. Dia menulis beberapa menu masakan di buku pesanan. Entah apa saja yang dia tulis di sana hingga membuat buku pesanan itu hampir penuh. Setelah selesai, pemuda tersebut membuka pintu ruangan untuk menyerahkan buku menu beserta buku pesanannya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Ardi menatap Nisa dengan lekat.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku selama ini? Sebenarnya apa sih mau mu itu?" Nisa mengubah posisinya. Dia menjadi duduk tegak dengan kedua tangan diletakkan di atas meja.
Ardi melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Lantas, dia membuka kancing kemeja hingga membuat Nisa reflek menutup mata dengan kedua tangannya. Sementara Ardi hanya tersenyum simpul melihat bagaimana respon Nisa saat ini.
__ADS_1
"Buka matamu agar bisa melihat apa yang terjadi pada diriku," ujar Ardi dengan diiringi senyum tipis.
"Hah? Kenapa diperutmu ada jalur kereta?" Nisa terkejut setelah melihat keadaan perut Ardi.
"Ini adalah luka jahit saat dulu aku terluka. Aku terkena senjata tajam, tetapi aku tetap bersyukur karena masih diberi keselamatan dan bisa hidup sampai sekarang. Ada beberapa luka seperti ini di beberapa tubuhku. Mau lihat?" jelas Ardi sambil melempar pertanyaan setelahnya.
"Tidak. Itu saja lebih dari cukup!" Nisa sanggup melihat luka seperti itu lagi. Dia takut dan merinding melihat bekas jahitan di tubuh pemuda yang sudah mencuri hatinya.
"Ini lah salah satu alasan yang membuatku tidak bisa menemuimu. Aku berobat sampai ke luar negeri agar segera pulih. Untuk alasan kenapa aku tidak menghubungimu lewat telefon, semestinya kamu sudah tahu alasannya. Selama beberapa bulan kemarin misiku belum selesai, otomatis semua komunikasiku sedang dalam pantauan," jelas Ardi seraya menatap Nisa.
"Apa kamu selemah itu? Tidak bisa kah kamu melawan musuh sehingga terluka seperti itu? Prajurit macam apa kamu ini!" Ada gurat kekhawatiran yang begitu besar dari sorot mata gadis berhijab itu.
Ardi mengembangkan senyum tipis setelah mendengar pertanyaan itu. Dia kembali memakai jaketnya sebelum menjawab pertanyaan dari Nisa. Dia merasa bahagia karena ternyata Nisa mengkhawatirkan keadaannya. Ya ... meski sebelumnya dia tahu jika Nisa tidak suka dengan kehadirannya.
"Semua ini ku lakukan demi kamu, Nis. Dulu aku sudah pernah berjanji kepada ayahmu untuk selalu menjaga keselamatanmu. Aku memang sengaja menggagalkan diri dari misi ini. Aku berharap dipecat dari intel dan tidak berada di dunia itu lagi. Jika aku melakukan yang terbaik dan berhasil menjalankan misi, maka ... tugasku lebih berat lagi. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu meski kita menikah nanti." Ardi terlihat sangat serius saat menjelaskan hal ini.
"Kenapa kamu sangat yakin jika aku mau menikah denganmu?" tanya Nisa dengan tatapan lekat.
"Karena aku tahu kamu pasti memiliki perasaan kepadaku. Jika tidak ada rasa suka di hatimu, tidak mungkin kamu nekad pergi ke Jakarta untuk menemui orang tuaku," ujar Ardi dengan senyum penuh arti.
Obrolan harus terhenti karena ada pelayan yang mengantar pesanan. Beberapa menu makanan tersaji di sana hingga hampir memenuhi meja persegi itu. Nisa heran saja kenapa banyak sekali makanan yang dipesan oleh Ardi.
"Sebaiknya kita makan dulu. Nanti kita bisa melanjutkan pembicaraan ini," ujar Ardi sambil menyiapkan sendok dan garpu.
Nisa menganggukkan kepala saat menanggapi ucapan Ardi. Sesekali gadis cantik itu mencuri pandang ke arah pemuda yang ada di hadapannya. Dia mengamati setiap lekuk wajah yang terbentuk dengan indahnya. Baru kali ini Nisa menyadari jika Ardi begitu menawan. Postur tubuh yang gagah semakin menunjang penampilannya.
__ADS_1
"Makan dulu. Rawonnya keburu dingin. Kamu bisa menatapku nanti setelah makananmu habis," gumam Ardi tanpa melihat Nisa. Dia sibuk dengan makanan yang ada di piringnya.
Seketika Nisa menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan karena ketahuan sang empu. Wajahnya kembali bersemu merah karena menahan malu, "kenapa dia bisa tahu sih jika sedang aku amati, padahal aku rasa dari tadi dia sibuk makan!" gerutu Nisa dengan kepala tertunduk.
Siang itu dia menikmati rawon ternikmat itu dengan lahap. Pasalnya kali ini bukan karena rawonnya melainkan karena makan dengan ditemani orang spesial. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya telah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Masih ada beberapa makanan penutup yang akan menemani mereka selama bicara di sana.
"Jadi bagaimana? Apa yang membuatmu resah?" tanya Ardi seraya menatap Nisa.
"Entahlah. Aku mendadak kehilangan semua pertanyaan," jawab Nisa sambil bersandar di kursi yang dia tempati, "aku hanya ingin tahu kenapa kamu memilihku untuk menyampaikan pesan kepada orang tuamu? Bukankah masih banyak orang lain yang bisa kamu suruh untuk memberi kabar ke Jakarta?" tanya Nisa.
"Kamu pikir duniaku semudah itu, Nis? Tugasku berhubungan dengan mafia, penjahat dan beberapa orang-orang hebat yang bisa mendapatkan siapa saja yang berhubungan denganku. Sejauh ini hanya kamu yang belum dijangkau mereka. Aku bisa menjamin akan hal itu," jelas Ardi dengan tegas. Sikapnya menandakan jika dia prajurit yang tidak suka dengan basa-basi.
"Terus?" Nisa menautkan satu alisnya.
"Apalagi?" Ardi menatap Nisa dengan penasaran.
"Kenapa orang tuamu datang memintaku? Bukankah di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dariku? Lebih sempurna dan lebih cocok mendampingimu? Aku hanya gadis desa yang jauh dari kata layak menjadi istri dari seorang prajurit," cecar Nisa dengan tatapan mata yang tak lepas dari Ardi.
Sementara Ardi hanya tersenyum simpul setelah mendengar semua pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu mengapa bisa tertarik kepada Nisa. Padahal, jika mau dia bisa mendapatkan wanita metropolitan di Jakarta. "Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik denganmu. Bukankah mencintai seharusnya memang tanpa alasan? Menurutku kamu adalah gadis unik yang aku temui saat ini. Apalagi kamu adalah putri seseorang yang menolong keluargaku. Akan tetapi bukan alasan itu yang membuatku tertarik padamu. Jangan memintaku untuk menjelaskan, karena aku sendiri tidak tahu cara mengungkapkannya. Satu hal yang pasti, aku ingin menikah denganmu," jelas Ardi dengan tatapan intens dan serius.
Nisa menggigit bibirnya setelah mendengar lamaran langsung dari Ardi. Dia merasa sangat bahagia karena mendengar langsung ungkapan lebih dari sekadar kata cinta dari bibir Ardi. Namun, ada satu hal yang membuatnya ragu dan memupus semua rasa bahagia itu.
"Sepertinya ibuku tidak suka dengan hubungan ini," ungkap Nisa dengan suara yang lirih. Tentu hal ini membuat Ardi terkejut. Pasalnya dia tidak menduga jika Badiah tidak merestui hubungan ini.
...πΉTo Be Continued πΉ...
__ADS_1
...Aduh aduh aduh ... cielah ada yang bahagia nih gegara ketemu ayangπ Sementara kita bahas Nisa dulu gak masalah ya, lagi seru nihπ...
...π·π·π·π·π·π·π·...