Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Vertigo


__ADS_3

"Mbak, aku harus pulang sekarang!" ujar Nisa ketika menghampiri Benny dan Fina yang sedang berjemur di halaman belakang.


Fina membalikkan badan setelah mendengar ucapan adiknya. Lantas dia menghampiri Nisa yang sedang berdiri di tengah pintu dapur untuk memastikan sekali lagi ucapan adiknya itu.


"Pulang sekarang? Kenapa mendadak?" tanya Fina penasaran.


"Tadi aku habis ditelfon bude Atun, katanya sudah tiga hari ini ibu sakit. Sampai tokonya ditutup loh," jawab Nisa.


"Loh tapi Ibu tidak memberi kabar kepada kita? Kemarin kita telfon juga Ibu gak bilang apa-apa." Fina terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh adiknya.


"Ada apa?" tanya Benny setelah bergabung dengan istri dan adik iparnya.


"Ibu sakit, Mas. Katanya sudah tiga hari ini," jelas Fina pada suaminya.


"Ya sudah kita ke Mojokerto sekarang," ujar Benny tanpa banyak berpikir. Dia bergegas masuk untuk bersiap pergi ke rumah mertua.


Penghuni rumah megah tersebut segera bersiap sebelum pergi ke Mojokerto. Beberapa pakaian ganti telah disiapkan Fina karena dia akan menginap di tempat Badiah selama beberapa hari ke depan. Tentunya Elza pun akan ikut bersama mereka, mengingat dia sedang liburan seusai semester.


"Loh kamu gak balik ke Surabaya lagi kah? Kok semua pakaianmu masuk koper?" tanya Fina setelah masuk ke dalam kamar yang ditempati Nisa selama berada di sini.


"Enggak, Mbak. Kasihan ibu sendirian di rumah. Lagi pula Mbak juga udah sehat, aku pun habis ini masuk kuliah, Mbak," jawab Nisa sambil mengemas beberapa peralatan make up ke dalam tas.


Meski berat membiarkan Nisa kembali ke Mojokerto, tetapi Fina harus melepaskan karena Badiah lebih membutuhkan adiknya. Fina bergegas keluar dari kamar tersebut dan menyiapkan segala keperluan Elza.


Detik demi detik telah berlalu, semua penghuni rumah itu pun siap berangkat menuju Mojokerto. Mobil Pajero hitam sudah disiapkan sopir di halaman rumah. Sejak kecelakaan itu terjadi, Benny memperkerjakan sopir pribadi karena belum bisa membawa mobil sendiri. Lagi pula dia seperti trauma saat berada di dalam kendaraan.


"Yee ... aku mau liburan di rumahnya Mbah Bad!" Elza terlihat sangat bahagia setelah tahu jika akan menginap di Mojokerto selama beberapa hari. Dia belum tahu jika Badiah sakit.


"Elza suka banget ya liburan di rumahnya Mbah Bad?" sahut Nisa setelah melihat rona bahagia di wajah anak sambung kakaknya itu.


"Suka banget! Aku punya banyak teman di sana," jawab Elza dengan antusias.

__ADS_1


"Kalau di sana gak boleh main di sungai!" Fina memberi peringatan kepada Elza dengan tegas.


"Yaaa!" Semangat yang sempat berkobar mendadak hilang begitu saja setelah mendengar peringatan dari Fina, "aku udah besar loh, Ma. Masa iya belum boleh main di sungai," protes Elza seraya menatap ibu sambungnya.


"No! Bahaya!" jawab Fina dengan tegas.


"Tante Cantik!" Elza mengembangkan senyum ke arah Nisa dengan tatapan penuh arti.


Sementara adik kandung Fina itu hanya bisa menggeleng beberapa kali karena tidak berani melanggar larangan Fina. Lagi pula dia sendiri tidak pernah ke sungai karena takut ada buaya ataupun ular. Sejak kecil dia sering didoktrin Badiah jika bermain di sungai bisa dimangsa buaya yang lapar.


"Main di rumah sepertinya lebih seru kok, El," jawab Nisa sambil mengusap rambut Elza dengan diiringi senyum yang manis.


*****


Menjelang siang mobil hitam yang dikendarai sopir pribadi Benny telah sampai di Mojokerto. Mobil tersebut berhenti di halaman rumah Badiah. Toko kelontong yang ada di depan rumah itu pun tutup total. Seluruh penumpang mobil tersebut segera keluar dan bergegas masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, Bu," ucap Nisa dan Fina serempak setelah memasuki rumah yang sunyi sepi.


"Bu, aku dan Mbak Fina pulang," ucap Nisa setelah duduk di tepian tempat tidur, "Ibu sakit apa?" tanya Nisa.


"Ini Ibu sedang tidak mimpi 'kan? Kalian benar-benar ada di rumah 'kan?" Badiah memastikan jika suara kedua putrinya bukanlah halusinasi.


"Iya, Bu. Ini Fina juga ikut pulang sama Mas Ben dan Elza juga." Fina ikut meyakinkan ibunya.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau kalian pulang," jawab Badiah, "vertigo Ibu kumat. Ibu tidak berani membuka mata karena semuanya seperti runtuh dan berputar," keluh Badiah kepada anaknya.


"Ibu sudah periksa ke dokter kah? Atau Ibu mau ke rumah sakit saja?" tanya Fina sambil memijat kaki ibunya.


"Tidak perlu, Fin. Kemarin sudah diperiksa dokter Singgih. Bude Atun baru saja pulang, katanya mau menyiapkan bekal untuk si Ayu," ujar Badiah dengan posisi yang sama.


"Ibu ini mikir apa sih kok sampai vertigonya kambuh?" tanya Fina tanpa menghentikan pijatan di kaki ibunya.

__ADS_1


"Ibu ndak mikir apa-apa. Memang udah waktunya sakit aja," jawab Badiah dengan suara ysng. terdengar lirih.


"Mbah Bad ... aku kangen sama Mbah!" Suara Elza terdengar nyaring di dalam kamar tersebut. Sepertinya bocah kecil itu baru saja bangun setelah tidur selama dalam perjalanan.


"Wah ... anak bagus datang," ucap Badiah dengan suara yang lirih.


"Mbah Bad kenapa, Ma? Kenapa wajahnya ditutup?" tanya Elza setelah melihat keadaan Wanita paruh baya itu.


"Mbah lagi sakit, Sayang. Salim dulu," jawab Fina sekaligus memberikan kode agar putranya itu bersalaman dengan Badiah.


Elza meraih tangan Badiah dan dikecupnya dengan takdzim punggung tangan itu. Lantas dia menjauh dari sana karena tidak mau mengganggu Badiah yang sedang beristirahat, "aku mau main sama papa saja deh kalau begitu," pamit Elza sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Nis, tolong buatkan minum untuk Masmu dan Pak Sopir ya, biar Mbak yang menemani Ibu," pinta Fina seraya menatap Nisa penuh harap.


Tanpa protes sedikitpun, gadis berhijab itu beranjak dari tempatnya. Kini tinggallah Fina dan Badiah di dalam kamar tersebut. Fina menatap sedih ibu yang sudah berjuang keras untuknya dan Nisa. Tentu Fina hafal betul bagaimana kondisi ibunya saat ini, karena dulu Badiah sering mengalami vertigo tatkala sedang memikul beban berat.


"Bu, cerita saja sama Fina. Apa Ibu punya masalah?" tanya Fina sekali lagi. Dia menggeser tubuh agar lebih dekat dengan Badiah.


"Jangan dipendam sendiri, Bu, jika ada masalah. Ibu punya dua putri yang sudah dewasa dan bisa diajak bicara. Jangan sampai Ibu memikul beban berat seorang diri," tutur Fina dengan nada bicara yang lembut dan menenangkan, "kalau Ibu tidak cerita sama Fina, bagaimana mungkin Fina tahu jika Ibu sedang tidak baik-baik saja?" lanjut Fina sambil memijat tangan Badiah.


"Ibu tidak ada masalah, Nak. Kamu tidak perlu banyak pikiran. Lebih baik kamu fokus dengan kesembuhanmu sendiri dan suamimu," jawab Badiah tanpa membuka kelopak matanya.


"Fina tidak percaya kalau Ibu tidak ada masalah. Jangan sampai Fina tahu dari orang lain loh, Bu," gumam Fina lagi. Dia masih berusaha membujuk ibunya agar bersedia berbagi cerita tentang masalah yang sedang dihadapi.


Tubuh wanita paruh baya itu bergetar karena pada akhirnya pertahanannya runtuh. Badiah terisak dengan kelopak mata yang tertutup rapat. Dia tidak tahu harus dari mana dulu menceritakan masalah yang sedang dialaminya akhir-akhir ini.


"Beri Ibu waktu, Fin. Ibu belum siap jika harus bercerita sekarang karena bingung harus mulai dari mana dulu," gumam Badiah dengan suara yang bergetar, "lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, Ibu juga mau istirahat karena habis minum obat." Badiah mengusir putrinya secara halus agar pergi meninggalkannya di kamar ini seorang diri.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...


...waduh kira-kira ada masalah apa ini Ibunya fina๐Ÿ™„Ada yang pernah vertigo?...

__ADS_1


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2