Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Berburu Daster?


__ADS_3

Gemerlap bintang menghiasi hamparan gelap setelah ditinggalkan sang raja sinar. Semilir angin telah menyingkirkan semua awan gelap hingga ribuan bintang terlihat indah di pandangan. Adzan magrib telah berkumandang beberapa puluh menit yang lalu. Waktu menunaikan kewajiban tiga rakaat pun telah selesai.


"Pa, tadi aku bisa mengerjakan semua soal ujiannya," ujar Elza setelah selesai belajar membaca bersama Fina.


"Memangnya tadi ujian pelajaran apa?" Benny begitu tanggap saat mendengar cerita dari putranya.


"Tadi ujian menghitung, Pa. Aku bisa menjawab semuanya," ujar Elza sambil membusungkan dada di hadapan Benny.


"Yakin kalau jawabannya benar semua?" sahut Fina seraya menatap putra sambungnya.


"Yakin dong, Ma! Semua soalnya sangat mudah! Aku bisa menjawab dalam waktu lima belas menit!" ujar Elza dengan bangganya, "kalau tidak percaya Mama boleh tanya bu Isma deh." Elza semakin meyakinkan ibu sambungnya itu.


"Anak Papa hebat banget sih! Sekarang mau hadiah apa?" tanya Benny seraya meraih putranya hingga duduk di atas pangkuannya.


"Serius nih boleh minta hadiah?" Elza meyakinkan statement ayahnya.


"Iya serius. Elza tinggal bilang saja mau minta hadiah apa," jawab Benny dengan senyum tipis.


Tentu bocah kecil itu merasa gembira setelah mendengar jawaban Benny. Dia segera membisikkan sesuatu yang membuat Benny tersenyum tipis. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh ayah dan anak itu.


"Oke, kita berangkat sekarang bagaimana?" tanya Benny setelah menyanggupi keinginan putranya.


"Yeeeee. Aku dapat hadiah!" teriak Elza dengan gembira, "Ma, ayo kita berangkat!" ajak Elza seraya menarik tangan Fina.


"Kemana, Nak?" tanya Fina dengan heran.


"Beli sepeda baru dong!" jawab Elza dengan antusias.


Setelah mendapat kode dari Benny agar segera bersiap, Fina pun beranjak dari tempatnya. Dia harus menyiapkan Elza sebelum pergi. Dia tidak mau jika sampai Elza terlihat tidak rapi.


"Mumpung keluar, sekalian belanja daster aja kali ya. Aku mulai gak nyaman pakai celana," batin Fina saat menyiapkan pakaian ganti untuk Elza.


Setelah cukup lama bersiap bersama Elza, akhirnya mereka berdua kembali ke ruang keluarga. Ternyata, Benny sedang tidak ada di sana dan bersamaan dengan itu, Fina pun mendengar suara seseorang di ruang tamu.

__ADS_1


"Oh, ternyata masih ada tamu," gumam Fina. Dia memutuskan menunggu suaminya di ruang keluarga karena takut mengganggu jika ikut bergabung di depan.


"Mbok, ada tamu siapa?" tanya Fina tatkala melihat Jumiatin membawa nampan berisi minuman menuju ruang tamu.


"Ada adiknya Pak Benny, Bu," jawab Jumiatin, "saya ke depan dulu, Bu," pamit asisten rumah tangga itu.


Fina termenung setelah tahu siapa tamu yang sedang ditemui oleh suaminya. Dia bingung harus bagaimana saat ini karena takut salah dalam bersikap. Pada akhirnya Fina pun menahan Elza agar tidak menyusul Benny di ruang tamu. Dia ingin memberikan ruang untuk kakak beradik itu menyelesaikan masalahnya.


"Tunggu Papa di sini saja ya. Papa dan Tante Dita sedang bicara serius. Anak kecil tidak boleh mendengarkan," jelas Fina dengan senyum tipis. Dia memberikan Elza pengertian agar bocah kecil itu tahu sopan santun meski di rumah sendiri.


Elza pun paham dengan penjelasan Fina. Dia duduk di salah satu sofa yang ada di sana sambil bermain game di ponsel. Sementara Fina memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan air putih yang biasa dibawa saat keluar dari rumah. Semenjak hamil, wanita cantik itu lebih banyak mengonsumsi air putih seperti saran dari dokter.


Beberapa puluh menit kemudian, Benny masuk ke dalam ruang keluarga. Dia duduk di samping Fina dengan helaan napas yang berat. Mantan duda itu mengembangkan senyum ke arah Fina saat menggenggam tangan halus itu.


"Bagaimana? Sudah baikan?" tanya Fina dengan suara yang kalem.


"Sudah. Dia sudah minta maaf atas semua kesalahannya," jawab Benny, "aku sudah memberitahu dia agar tidak mengulang semua kesalahan yang sudah dia perbuat," lanjutnya.


Benny hanya mengembangkan senyum tipis saat menanggapi saran dari istrinya. Lantas, dia segera beranjak dari tempatnya dan mengajak Fina berangkat menuju toko sepeda untuk memenuhi janjinya kepada Elza.


"Pa, nanti aku mau sepeda yang besar dan warnanya hitam. Aku mau naik sepeda keliling komplek sama Papa dan Mama," jelas Elza saat berjalan keluar dari rumah.


"Mama tidak boleh naik sepeda dulu, Sayang. Mama kan sedang hamil. Nanti kalau dedek bayinya sakit bagaimana?" Benny mencoba memberi pengertian kepada putranya mengenai kondisi Fina.


Mobil pajero hitam itu membelah jalanan kota yang cukup padat. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit lamanya, mobil hitam itupun sampai di tempat tujuan. Elza dengan antusias memilih deretan sepeda yang berjajar rapi di sana hingga pada akhirnya berhasil menemukan pilihan yang tepat.


"Sekalian sepeda itu juga, Pak," tunjuk Benny pada sepeda yang sempat dipilihnya, "Jangan lupa yang warna merah itu juga," ucap Benny pada pegawai toko yang sejak tadi melayani meraka bertiga.


"Mas, kenapa beli tiga?" tanya Fina setelah melihat sendiri sepeda mana saja yang dipilih Benny.


"Biar kapan-kapan kita bisa naik sepeda bersama," jawab Benny sebelum melakukan pembayaran, "saya minta sepeda nya dikirim besok pagi," ujar Benny saat menyerahkan kartu hitam miliknya kepada kasir.


Kebahagiaan terlihat jelas dari sorot mata Elza setelah sepeda yang dia inginkan telah diberikan untuknya sebagai hadiah. Bocah kecil itu tak henti mengembangkan senyum saat berjalan keluar dari toko ini.

__ADS_1


"Kalau sudah dapat sepeda, berarti bilang apa ke Papa, El?" tanya Fina setelah masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan Elza duduk dengan aman.


"Terima kasih, Papa. Besok aku belajar lebih rajin deh," ujar bocah kecil itu sebelum mendaratkan kecupan mesra di pipi ayahnya.


"Mas, belanja daster dulu yuk! Aku udah gak nyaman pakai celana," pinta Fina saat Benny mulai melajukan mobilnya.


Benny menatap Fina sekilas karena tidak percaya jika Fina meminta daster, karena selama ini yang dia tahu, Fina enggan memakai daster. Padahal Benny sendiri yang memintanya agar mengoleksi daster di rumah. Entah mengapa, dia begitu suka membayangkan Fina hanya memakai daster di rumah saat menyambutnya ketika pulang kerja.


"Nanti kalau beli daster sekaligus yang banyak, Sayang," ucap Benny setelah mobil yang dikendarainya sampai di tempat parkir salah satu mall yang ada di Surabaya.


"Kenapa harus banyak sih, Mas? Aku mau beli dua aja. Lagi pula buat apa mengumpulkan koleksi daster? Aku gak terlalu suka," jawab Fina sebelum keluar dari mobil.


Mereka bertiga memasuki gedung raksasa itu dengan wajah ceria. Fina langsung mencari toko yang khusus menyediakan segala jenis daster dan underwear. Wanita berbadan dua itu mulai memilih model daster yang tergantung rapi di gondola.


"Mas, ini bagus gak?" tanya Fina setelah mengambil salah satu model daster yang ada di sana.


"Bagus. Sexy itu," ujar Benny setelah mengamati bentuk pakaian yang ditunjukkan istrinya.


Setelah berada di dalam toko tersebut selama beberapa puluh menit, akhirnya mereka bertiga selesai belanja. Benny membawa beberapa paper bag keluar dari toko tersebut. Entah berapa potong daster yang sudah dibeli untuk istrinya itu.


"Pa, memangnya Mama mau jualan ya? Kok beli bajunya banyak sekali!" protes Elza setelah berada di atas eskalator menuju lantai dasar.


"Papa yang mau jualan daster, El, bukan Mama!" sahut Fina dengan wajah yang tertekuk karena kesal melihat suaminya.


Bukan hanya dua atau tiga potong pakaian yang sudah dibeli Benny untuk Fina. Akan tetapi ada lebih dari sepuluh potong daster yang sudah dibeli Benny untuk istrinya itu. Dia hanya mengembangkan senyum tipis ketika mendapat protes dari Elza dan Fina.


"Papa bukan mau jualan, Sayang. Akan tetapi semua pakaian ini akan dipakai Mama saat di rumah. Mama akan berubah jadi emak-emak berdaster yang cantik dan tentunya lebih menarik perhatian Papa," jelas Benny dengan diiringi senyum tipis. Tentu penjelasan ini mendapatkan tatapan tajam dari Fina karena takut Elza bertanya lebih lanjut.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Yuk komen yuk! Othor tuh lebih semangat dan terhibur kalau bac komen dari kalian 😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2