
"El, jangan bilang Mama ya, kalau tadi ada tamu dan Papa marah-marah," ucap Benny sebelum keluar dari mobil karena dia baru sampai di Mojokerto.
Bocah kecil itu hanya mengacungkan jempolnya, sebagai tanda bahwa dia paham dengan maksud Benny. Setelah membuka sabuk pengamannya, Elza segera keluar dari mobil, meninggalkan Benny seorang diri di sana. Keduanya baru sampai di Mojokerto menjelang siang.
"Assalamualaikum," ucap Elza ketika berdiri di depan pintu ruang tamu.
"Waalaikumsalam. Aduh ... cucunya Mbah sudah datang." Badiah menyambut Elza dengan senyum ceria. Wanita paruh baya itu segera mengangkat Elza ke dalam gendongannya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Benny setelah sampai di sana.
"Waalaikumsalam. Mari silahkan masuk dulu, Nak. Fina masih keluar sama Nisa. Sebentar lagi pasti pulang," ucap Badiah sambil berjalan masuk ke dalam ruang tamu.
Benar saja, tidak lama setelah itu terdengar suara motor matic berhenti di depan rumah. Tak berselang lama Fina dan Nisa masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu untuk menyambut kedatangan Benny.
"Elza sudah lama kah nunggu Mama di sini?" tanya Fina setelah duduk di samping Elza.
"Belum, Ma. Aku baru sampai," jawab bocah kecil itu sambil menyandarkan kepala di lengan Fina yang tertutup kerudung itu.
"Mas Ben, mau dibikinin kopi atau teh hangat?" tanya Fina seraya menatap calon suaminya itu.
"Kopi saja," jawab duda tampan itu dengan senyum yang manis. Dia merasa bahagia saja setelah mendengar Fina memanggilnya dengan sebutan itu.
"Biar aku saja yang membuatkan minum. Mbak tunggu di sini saja," ucap Nisa hingga membuat Fina duduk kembali, "benar begitu 'kan Bu?" gadis berhijab itu menatap ibunya penuh arti.
"Iya betul begitu. Ibu juga mau ke dalam dulu," pamit Badiah sebelum berdiri dari tempatnya.
Kini tinggallah mereka bertiga di dalam ruang tamu tersebut. Suara celotehan Elza terdengar di sana saat menceritakan apa saja yang dia alami selama satu minggu ini. Benny sendiri sampai tidak ada waktu untuk menyela pembicaraan di antara mereka berdua.
"Kok bisa ya aku kalah sama Elza. Wah, bagaimana kalau sudah menikah nanti? Kalah kekuasaan aku!" batin Benny seraya menyandarkan kepala dengan bantalan kedua tangan yang dilipat ke belakang.
"Oh iya, bagaimana keadaan tangan Elza? Masih sakit kah? Sudah bisa digerakkan?" tanya Fina.
"Kemarin kata pak dokter aku sebentar lagi akan sembuh, Ma!" ujar Elza dengan antusias. Fia merebahkan diri di atas pangkuan Fina. Sepertinya bocah kecil itu benar-benar merindukan kasih sayang dari Fina.
Tak berselang lama, Nisa keluar dari ruang keluarga sambil membawa nampan berisi tiga gelas minuman. Ada secangkir kopi hitam, segelas susu cokelat dan segelas kacang hijau hangat. Setelah meletakkan semuanya di atas meja, gadis cantik itu kembali ke dalam rumah.
"Minum susu dulu yuk!" Fina membangunkan Elza dari atas pangkuannya.
__ADS_1
"Papa juga mau deh!" timpal Benny hingga mendapat tatapan tajam dari Fina.
"Gak boleh! Papa tadi minta kopi kok!" sergah bocah kecil itu sambil menerima segelas susu pemberian dari Fina.
Suasana di ruang tamu terasa hangat karena pancaran kasih dari ketiga orang yang ada di sana. Mereka bercanda dan tertawa hingga Elza akhirnya tertidur di pangkuan Fina.
"Kapan kita akan menyetorkan data-data untuk surat pernikahan, Fin?" tanya Benny setelah ingat jika harus mengurus surat pernikahannya.
"Nanti sore saja kita pergi ke pak Moden. Ini sudah masuk waktu dzuhur takutnya beliau istirahat," jawab Fina sambil membenarkan posisi Elza, "lebih baik Elza dipindahkan di kamar saya saja, Mas," ucap Fina.
Benny segera beranjak dari tempatnya, dia mengangkat tubuh putranya dan setelah itu dia membawa putranya masuk ke dalam rumah. Dia mengikuti langkah Fina hingga memasuki kamar gadis cantik itu.
"Lah ngapain masih di sini?" tanya Fina setelah melihat Benny duduk di tepian ranjang.
"Aku juga ingin istirahat, Sayang. Aku capek," jawab duda tampan itu.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah silahkan istirahat di sini," ucap Fina. Gadis cantik itu mengambil ponsel yang ada di atas bantal.
Benny tersenyum penuh arti setelah mendengar Fina mempersilahkan dirinya untuk istirahat di kamar tersebut. Bayang-bayang indah terlintas di kepala. Dia sudah berpikir jauh jika siang ini akan tidur bersama Fina di ranjang yang sama. Duda tampan itu mengamati Fina yang sedang berdiri di depan almari. Dia mengambil pakaian yang tersimpan di sana dan setelah itu berjalan keluar dari kamarnya. Namun, langkah tersebut harus terhenti ketika mendengar seruan Benny.
"Mau tidur di kamar lain lah!" jawab Fina dengan tegas.
"Loh, kenapa begitu? Kita tidak tidur bertiga kah?" tanya Benny lagi.
Fina memicingkan mata setelah tahu apa yang membuat Benny bahagia siang ini. Ternyata ada udang di balik rempeyek, "jangan mimpi, Duda Mesum!" cibir Fina sebelum keluar dari kamarnya meninggalkan Benny dan Elza di sana. Tentu saja hal ini membuat bayang-bayang indah itu sirna seketika.
****
Siluet jingga mulai hadir di cakrawala barat, pertanda beberapa waktu ke depan sang mentari akan kembali. Seusai menunaikan sholat ashar, Fina bersiap pergi ke rumah salah satu perangkat desa yang biasa mengurus pernikahan. Dia naik motor hanya berdua dengan Benny karena Elza tidak mau ikut. Bocah kecil itu terlanjur asyik bermain dengan Nisa.
"Pegangan dong, Sayang, biar mesra gitu," pinta Benny saat motor yang dikendarainya melaju di jalanan beraspal itu.
"Malu dilihat orang! Udah ah jangan banyak maunya!" ujar Fina. Gadis itu terus mengembangkan senyumnya ketika berpapasan dengan tetangganya.
"Ibu-ibu di sini kok banyak yang suka ngerumpi ya, Fin?" tanya Benny setelah melihat banyak sekumpulan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya bermain.
"Ya emang begini suasana di desa, gak usah kaget. Maka dari itu jaga sikap. Kalau ada orang melihat kita, senyum tipis sambil menganggukkan kepala. Itu sopan santunnya jika lewat di desa," tutur Fina kepada calon suaminya itu.
__ADS_1
Setelah berkendara selama dua menit, akhirnya mereka sampai di rumah seseorang yang biasa dipanggil Pak Moden. Kebetulan sekali, di sana ada banyak orang yang sedang berkumpul karena di samping rumah Pak Moden ada TPQ. Tentu kehadiran Fina di sana mendapat perhatian dari para emak-emak penunggu anak mengaji.
"Monggo, Bu," ucap Fina sambil membungkukkan badan ketika lewat di hadapan mereka. Begitu pun juga Benny. Dia melakukan seperti yang dilakukan Fina. Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibirnya dan mungkin saja, banyak ibu-ibu muda yang terpesona dengan duda tampan itu.
"Eh, itu yang kemarin menjadi trending topik?"
"Iya, betul. Itu anaknya bu Badiah yang kerja di Surabaya.
"Berarti itu tadi calon suaminya? Ganteng banget lagi,"
"Dengar-dengar sih ya, itu majikannya sendiri. Kira-kira mereka udah ngapain aja ya, kan tinggal satu rumah?"
"Eh, gak mungkin kali. Itu anaknya bu Badiah kan dari pesantren. Tidak mungkin lah kalau berbuat seperti itu.
"Halah. Anak muda jaman sekarang mah sudah pasti begitu. Tuh buktinya dia berhasil menggaet majikannya. Apa mungkin gak dirayu dulu,"
"Jangan berburuk sangka dulu. Gak baik,"
"Tapi aku ikut senang melihatnya. Secara dari dulu bu Badiah itu hidupnya susah. Aku sampai kasihan, apalagi setelah ditinggal suaminya meninggal. Duh, makin terhimpit ekonominya. Setalah ini semoga saja bu Badiah hidupnya lebih enak,"
"Sssst ... udah udah udah. Stop! Itu anaknya udah mau pulang. Jangan diomongin lagi,"
Ya ... begitulah desas-desus emak-emak pengantar anak itu saat berkomentar. Mereka mengembangkan senyum yang manis ketika Fina berpamitan pulang. Sungguh, wajah-wajah itu seperti tanpa dosa dan beban. Padahal, baru saja selesai menggunjingkan Fina.
"Setelah ini kita kemana lagi?" tanya Benny setelah melajukan motornya keluar dari halaman luas Pak Moden.
"Pulang, Mas. Memangnya mau kemana lagi? Nanti Elza mencari kita," jawab Fina.
Pada akhirnya Benny pun menurut saja. Dia membawa motor matic tersebut ke arah rumah mertuanya, tanpa mampir ke tempat yang lain. Lagi pula, setelah ini dirinya pun harus kembali ke Surabaya karena sungkan jika harus berlama-lama di rumah bu Badiah. Dia harus menjaga Fina dan keluarganya agar tidak digunjingkan tetangga.
"Fin, minggu depan aku datang lagi. Kita foto prewedding sekaligus pesan undangan ya. Terus sekaligus booking WO nya. Kamu pikir saja mau pakai jasa WO mana," ucap Benny setelah sampai di halaman rumah Badiah.
...🌹To Be continued 🌹...
...Huuhh udah up tiga bab nih untuk hari ini🤣 Dipercepat aja yuk akad nikahnya😆Jangan lupa pakai dresscode warna putih🌻...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1