Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Asam Lambung


__ADS_3

"Papa ... Pa! Papa!" teriak Elza sambil berpegangan pagar pembatas lantai dua. Dia menengok ke bawah karena Benny sedang ada di ruang makan.


Bocah kecil itu terlihat panik setelah melihat Fina muntah di kamarnya dan di kamar mandi. Sudah tiga hari ini ibu sambungnya itu sakit, sepertinya dia terlalu banyak pikiran sehingga asam lambungnya naik.


"Ada apa, El?" tanya Benny setelah menghampiri putranya. Dia baru saja selesai makan siang seorang diri di ruang makan.


"Mama muntah lagi, Pa di kamarku, tetapi sekarang Mama lagi di kamar mandi," jelas Elza seraya menunjuk kamar mandi yang ada di sudut lantai dua.


"Ya sudah kalau begitu Elza panggil Mbok Jum. Minta tolong suruh membuatkan Mama teh hangat sekaligus membersihkan kamar," titah Benny sebelum pergi meninggalkan putranya menuju kamar mandi.


Tanpa mengetuk pintu, pria tampan itu menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera menghampiri Fina yang sedang membungkukkan tubuh di depan closet. Benny pun mencoba membantu istrinya itu dengan memijat tengkuk dan pundaknya. Benny merasa khawatir melihat kondisi istrinya.


"Kita ke rumah sakit saja, ya," ucap Benny setelah melihat kondisi Fina lebih baik.


"Tidak perlu," jawab Fina singkat. Selama tiga hari ini sepasang suami istri itu sebenarnya sedang perang dingin. Saat sakit seperti ini pun Fina tidak mau berkeluh kesah ataupun bermanja-manja kepada suaminya karena masih merasa kesal.


"Jangan keras kepala. Kamu demam. Pasti membutuhkan pemeriksaan di rumah sakit," ucap Benny tanpa menghentikan pijatannya.


"Aku sudah minum obat. Gak usah khawatir. Lebih baik kembali saja ke pabrik." Saat sakit pun Fina masih ketus dengan suaminya.


Hanya helaan napas berat yang terdengar di balik tubuh Fina. Tentu keadaan ini berhasil membuat Benny merasa pusing. Sikap dingin yang ditunjukkan Fina berhasil membuat hubungan mereka menjadi membeku. Tanpa banyak bicara, mantan duda itu mengikuti langkah istrinya menuju kamar utama.


"Tolong titip Elza hari ini. Aku mau istirahat," ucap Fina setelah membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Dia menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Benny hanya diam saja setelah mendengar permintaan istrinya. Mantan duda itu fokus dengan ponselnya hingga membuat Fina semakin kesal. Ibu sambung Elzayin itu pun mengubah posisi membelakangi suaminya. Keheningan terasa di sana hingga beberapa puluh menit kemudian terdengar ketukan pintu.


"Pa, ada tamu," ucap Elza setelah membuka pintu kamar orang tuanya. Lantas dia masuk untuk melihat kondisi ibu sambungnya.


Benny segera beranjak dari tempatnya untuk melihat tamu yang dimaksud putranya. Sementara Elza, memilih naik ke atas tempat tidur untuk menemani Fina yang sedang bersembunyi di balik selimut tebal.


"Silahkan dok, ini istri saya yang harus diperiksa," ucap Benny setelah kembali ke kamar bersama seseorang. Tentu hal ini membuat Fina harus membuka kelopak matanya meski terpaksa.


"Permisi ya, Bu. Saya harus membuka selimutnya untuk memeriksa kondisi Ibu," ucap dokter tersebut dengan sopan. Dia mengeluarkan steteskop dari tas dan setelah itu mulai melakukan pemeriksaan.


Hingga beberapa puluh menit kemudian akhirnya pemeriksaan itu selesai. Dokter mengatakan jika ada gejala typus dan asam lambung naik. Beberapa obatpun diberikan dokter tersebut untuk Fina.


"Jangan sampai telat makan, ya, Bu. Apalagi banyak pikiran hingga membuat ibu menjadi setres. Karena semua itu bisa memicu asam lambung naik dengan gejala-gejala seperti yang Ibu rasakan saat ini," tutur dokter paruh baya itu setelah meletakkan obat di atas nakas, "jika obatnya sudah habis tapi sakitnya belum hilang, silahkan periksa ke rumah sakit," ucap dokter tersebut setelah beranjak dari tempatnya.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Fina dengan suara yang lirih.


"Kamu sudah makan?" tanya Benny setelah sampai di kamar. Dia duduk di tepian ranjang sambil menatap istrinya.


"Belum." Hanya itu yang menjadi jawaban Fina.


Benny meraih obat yang ada di atas nakas. Dia membaca satu persatu obat tersebut, "minum obat sebelum makan dulu," ucap Benny sambil menunjukkan obat tersebut kepada Fina, "El, tolong pergi ke bawah sebentar ya, minta Mbok Jum membuatkan bubur untuk Mama. Oke, Sayang?" pinta Benny dengan senyum yang sangat manis.


"Oke, Pa," ucap Elza sambil turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Setelah memastikan putranya keluar dari kamar, Benny menatap Fina dengan lekat. Mengamati wajah cantik yang masih murung selama beberapa hari ini, "jangan menyiksa dirimu sendiri. Kalau sudah sakit begini, bagaimana? Siapa yang kesakitan?" tutur Benny seraya menatap istrinya.


"Memangnya kenapa? Peduli apa Mas dengan keadaanku?" cibir Fina seraya menatap sinis ke arah suaminya.


"Fin. Jangan keterlaluan! Masalah sepele kamu besar-besarkan!" Emosi mantan duda itu mulai tersulut.


"Udah tahu sepele kenapa diperpanjang! Apa susahnya coba tinggal jalan ke Mojokerto. Aneh," cibir Fina lagi. Pasalnya wanita cantik itu merasa kesal karena semua yang sudah terjadi ini tentang keluarganya.


"Seharusnya kamu itu paham, jika aku belum mengajakmu ke sana pasti ada alasan!" ujar Benny dengan sorot mata penuh amarah, "tidak semua alasan bisa diungkapkan. Apa susahnya sih sabar menunggu sampai urusanku selesai!" Benny tak mengalihkan pandangannya dari Fina. Suaranya mulai meninggi hingga membuat Fina takut.


"Aku minta pulang gak sehari dua hari loh. Aku udah sabar hampir dua bulan ini! Mas memang udah berubah! Bukan Benny yang aku kenal sebelum kita menikah!" sarkas Fina dengan suara yang bergetar.


"Terserah!" ujar Benny seraya beranjak dari tempatnya. Ada rasa tidak tega ketika melihat mata berembun sang istri.


Benny memilih untuk menjauh dari Fina agar perdebatan ini tidak berlanjut. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan tak lama setelah itu keluar kembali dengan wajah yang lebih segar. Sepertinya dia baru saja membasuh wajah.


"Minggu depan setelah kamu sembuh, kita akan pulang ke Mojokerto. Ingat! Setelah kamu sembuh!" ujar Benny sebelum pergi meninggalkan kamarnya.


Goresan luka di hati semakin terasa perih karena kepergian Benny. Entah dia harus merasa bahagia ataukah marah menghadapi semua ini. Benny mengabulkan permintaan itu tanpa sebuah senyuman. Ekspresi wajahnya datar dan tentunya dengan suara yang meninggi. Air mata itu akhirnya mengalir begitu saja, entah karena nyeri di ulu hati atau karena rasa perih di hati. Satu hal yang pasti, semuanya membaur menjadi satu.


"Dasar suami gak ada akhlaq! Durhaka sama mertua! Ingin rasanya aku pecahkan saja lato-lato mu, Mas! Lihat saja, jika minggu depan sampai ingkar dengan ucapanmu sendiri, aku gak akan tinggal diam!" ujar Fina sambil mencengkram erat selimut tebal yang menutupi kakinya.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Aiih awet banget si Fina kalau lagi marah. Kalem tapi serem lah kalau begini🤣...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2