Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kebekuan menguntungkan,


__ADS_3

"Tatapan mata kang Aris kok masih dingin aja, ya. Apa dia masih marah sama aku," batin Fina seusai latihan di halaman rumah Benny.


Dua minggu sejak pertandingan kala itu telah berlalu. Setelah istirahat selama satu minggu, Elza kembali latihan rutin, karena nanti dia akan diajukan di pertandingan tingkat provinsi. Maka dari itu dia tetap harus Istikomah latihan seperti sebelumnya.


Jalinan komunikasi di antara Aris dan Fina mendadak dingin seperti cuaca malam ini. Pemuda yang biasa memberinya senyuman manis, kini kehilangan semua itu. Aris sepertinya masih kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Fina, meski gadis itu sudah berusaha menjelaskan dan meminta maaf.


"Kang, silahkan diminum dulu," ucap Fina sambil memberikan air mineral dalam botol kepada Aris setelah latihan berakhir.


"Terima kasih," ucap pemuda itu dengan datar. Sikapnya benar-benar membuat Fina semakin tidak enak hati.


Tanpa bicara apapun lagi, Fina menjauh dari tempat Aris berada saat ini. Dia enggan untuk bertanya kepada pria itu mengenai sikap yang ditunjukkannya sejak kejadian di pertandingan kala itu. Sementara Aris mencoba untuk tetap pada pendiriannya, diam tanpa penjelasan apapun.


"Seharusnya kamu bertanya kepadaku kenapa sikapku menjadi seperti ini? Nyatanya kamu hanya diam saja dan membiarkan semua ini terasa dingin dan membeku. Aku hanya takut pak Benny akan merebutmu dariku. Aku cemburu melihat kalian begitu kompak saat menemani Elza. Apakah aku salah jika aku takut kamu diambil orang lain, Fin?" batin Aris sambil membuka tutup botol air mineral pemberian dari Fina.


Sementara itu di balkon lantai dua, Benny sedang mengulum senyum ketika mengamati kedua sejoli yang ada di halaman rumah. Dia bahagia melihat sikap keduanya, tak ada senyum manis yang biasa dia lihat di antara kedua sejoli itu.


"Hmmm ... aku penasaran apa yang membuat pemuda itu bersikap dingin kepada Fina," gumam Benny dengan tatapan yang tak lepas dari sosok pengamatannya malam ini, "apa mungkin dia melihat Fina memelukku saat Elza dinyatakan menang kala itu?" Benny mencoba menerka penyebab kebekuan kedua sejoli itu.


Duda satu anak itu tetap di sana mengawasi latihan yang belum usai. Tatapannya tak lepas dari gadis yang duduk di depan pintu garasi, tatapannya terlihat kosong dengan bibir tertutup rapat. Tak ada senyum manis ataupun sorot penuh cinta seperti biasanya.


"Kasian juga kalau melihat dia sedih begitu. Tapi aku suka dengan keadaan ini. Menguntungkan untukku. Aiih ... kenapa aku bisa tertarik sama dia sih! Padahal dia gadis polos dan tentunya gak berpengalaman," gumam Benny tanpa mengalihkan pandangan dari objek yang berhasil mencuri dunianya.


"Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus secepatnya meninggalkan Renata dan bergerak cepat mendapatkan Fina, sebelum pemuda itu yang terlebih dahulu mendapatkannya." Benny mencengkram erat pagar balkon.

__ADS_1


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Langit gelap perlahan berubah menjadi terang setelah berada pada persimpangan waktu. Siluet kuning terlihat jelas di cakrawala timur pertanda sang mentari akan bersiap menunjukkan keindahannya. Hari minggu adalah hari santai di kediaman rumah Benny. Dewi jarang sekali masak di hari libur itu karena sang majikan lebih sering makan di luar.


"Fin, jadi bikin kue gak?" tanya Dewi saat menghampiri Fina yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang.


"Jadi dong Mbak. Tadi aku udah beli bahan-bahannya di toko depan komplek. Coba Mbak cek dulu di kulkas sambil nunggu saya selesai," ucap Fina tanpa menatap Dewi. Dia masih sibuk dengan beberapa pakaian yang masih ada di dalam bak cucian.


Asisten rumah tangga itu pun akhirnya kembali ke dapur untuk melakukan pekerjaan seperti yang diucapkan oleh Fina. Mereka berdua akan mencoba membuat kue kering dengan mengandalkan tutorial dari youtube.


Sejak pagi buta Elza diajak Benny pergi ke car free day yang ada di salah satu kawasan perumahan tak jauh dari komplek tempat tinggal Benny. Duda tampan itu sedang melihat beberapa karyawan yang sedang menggelar bazar di sana untuk memperkenalkan produk baru di industri miliknya.


"Gimana Mbak? Apa sudah lengkap bahan-bahannya?" tanya Fina setelah menghampiri Dewi di dapur.


"Udah, Fin. Kita tinggal mencampur bahan-bahannya aja. Coba cek videonya, berapa takaran bahan untuk satu resep nastar," ucap Dewi yang sedang sibuk dengan beberapa bahan pembuatan kue kering itu.


"Mbak aku mau angkat telfon sebentar. Ibu yang nelfon," ucap Fina setelah mendengar dering ponselnya.


"Angkat aja, Fin. Biar aku yang membereskan adonan ini," ucap Dewi tanpa menatap Fina. Dia sibuk membentuk adonan menjadi bulat-bulat.


Fina menjauh dari dapur saat menjawab telfon dari ibunya. Dia duduk di ruang makan saat berbicara lewat sambungan telfon bersama Badiah. Wajah gadis cantik itu terlihat serius ketika mendengarkan suara lembut ibunya.


"Baik, Bu. Nanti akan Fina usahakan pulang saat Nisa wisuda. Ibu tidak usah mengkhawatirkan hal itu," ucap Fina setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh ibunya, "nanti malam Fina hubungi lagi ya, Bu, setelah mendapat izin dari pak Ben," lanjutnya. Tak lama kemudian, obrolan itu pun akhirnya selesai dan Fina kembali ke dapur.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ibumu ada masalah?" tanya Dewi setelah Fina berada di sampingnya.


"Tidak, Mbak. Ibu hanya menyuruh saya pulang saat adik saya wisuda kelulusan," jawab Fina.


Detik demi detik terus berlalu hingga waktu hampir sampai di tengah hari. Akhirnya kue nastar buatan Dewi dan Fina selesai dibuat. Aroma gurih dari nastar keju yang baru saja keluar dari oven itu memenuhi dapur tersebut. Mereka sudah tidak sabar untuk mencicipi kue tersebut.


"Wah, bau apa ini? Sepertinya enak banget." Tiba-tiba saja ada suara Benny di dalam dapur.


"Oh, kami baru saja selesai membuat nastar keju, Pak. Bila Bapak berkenan mencicipi silahkan tunggu di ruang makan saja, nanti Fina akan membawakan nastarnya untuk Bapak," ucap Dewi dan Benny pun segera pergi dari sana sesuai dengan ucapan ART nya itu.


"Kok aku sih, Mbak," protes Fina dengan bibir yang mengerucut.


"Lah sekalian minta izin pulang 'kan!" jawab wanita yang sedang sibuk menata nastar keju itu di dalam toples, "udah sana! Bawa nastar dan minuman dingin ini ke ruang makan. Udah ditunggu pak Ben tuh!" ujar Dewi seraya memberikan nampan kepada Fina.


Fina akhirnya mengikuti saran yang diberikan oleh Dewi. Dia bergegas pergi ke ruang makan untuk berbicara dengan Benny mengenai rencana untuk pulang, "monggo dicicipi, Pak," ucap gadis cantik itu setelah meletakkan nampan berisi kue dan minuman untuk Benny.


"Terima kasih," ucap duda tampan itu dengan diiringi senyum yang manis.


"Pak, mohon maaf sebelumnya. Saya mau izin pulang minggu depan," ucap Fina saat memulai pembicaraan bersama ayah dari anak asuhnya itu.


Fina menceritakan pembahasan bersama ibunya tentang wisuda kelulusan Nisa. Sementara Benny tak kunjung menjawab permintaan pengasuhnya itu. Dia sedang menimbang permintaan Fina itu.


"Begini saja, Fin. Kamu tahu sendiri kan jika Elza selalu ikut saat kamu pulang kampung. Untuk kali ini aku akan mengantar kamu pulang dan mengantar kalian ke acara wisuda kelulusan adikmu. Aku yang akan menjaga Elza saat kamu hadir di sekolah adikmu. Jika memang kamu ingin menginap lebih lama di rumah ibumu, aku bisa mencari hotel di sana," jelas Benny sambil menatap Fina. Dia tidak tega jika kali ini Fina membawa Elza pulang ke Mojokerto, mengingat ada kegiatan penting yang harus dihadiri pengasuh putranya itu.

__ADS_1


...🌹To Be Continue 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2