
"Bu. Aku ingin bicara," ucap Benny setelah sampai di teras belakang.
Semua orang yang sedang duduk santai di sana seketika mengalihkan pandangan ke sumber suara. Tak terkecuali Dita, adik kandung mantan duda itu menatap sekilas ke arah Benny. Tak lama setelah itu dia melanjutkan menyuapkan satu sendok nasi ke mulut putranya.
"Kapan kamu datang, Ben?" tanya Sukirman setelah melihat Benny duduk di kursi rotan yang tak jauh darinya.
"Baru saja, Pak," jawab Benny tanpa senyum sedikitpun.
"Kamu datang sendiri? Kemana istrimu?" sahut Ani sambil menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Fina.
"Fina tidak ikut, Bu. Aku datang ke sini ingin menjemput Elza pulang." Benny menyadarkan tubuh di kursi rotan tersebut seraya menatap Ani.
"Kenapa? Biarkan saja Elza di sini. Lagi pula di rumah dia tidak ada temannya, Ben," cegah Ani dengan tegas, "kalau di sini ada Galang. Ada temannya bermain," jelas Ani seraya menatap putra sulungnya itu.
"Enggak, Bu. Biar Elza di rumah saja karena aku kasihan sama Fina, dia kesepian kalau tidak ada Elza. Lagi pula di sini Elza bisa merepotkan Ibu dan Dita. Dia nakal dan susah diatur." Benny menatap adik kandungannya dengan lekat, sementara sang empu pura-pura sibuk dengan anaknya.
"Kamu ini ngomong apa sih, Ben! Ibu gak repot karena hanya ini yang bisa Ibu lakukan untuk membantu istrimu. Ibu tidak mungkin datang ke rumahmu setiap hari untuk melihat bagaimana kondisi di rumahmu. Lagi pula nih ya ... di sini Elza lebih bebas bermain daripada di rumah. Terkadang Ibu ini kasihan melihat cara didik istrimu kepada Elza," jelas Ani panjang lebar.
"Istrimu terlalu banyak aturan sehingga Elza seperti dipaksa bersikap dewasa. Padahal, wajar saja kalau dia bersikap manja. Jangan sampai anakmu kehilangan masa-masa kecilnya, Ben," tutur Ani seraya menatap putranya.
"Bu, kalau membahas masalah ini, aku rasa sudah terlambat. Sebelum Fina datang menjadi pengasuh Elza, Ibu tahu sendiri bukan bagaimana dia. Terus Ibu sama Dita kemana saja waktu itu? Kenapa gak mencoba membantuku untuk mendidik Elza?" Benny menatap Dita dengan tatapan tajamnya karena dia tahu pasti Ani telah diprovokasi oleh Dita.
"Sekarang keadaan Elza jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ini juga karena bantuan Fina. Dia benar-benar menyayangi Elza sehingga rela mencurahkan seluruh tenaganya untuk Elza. Berapa kali dia kena hajar Elza, tetapi dia tak pernah memukul cucu Ibu itu. Padahal, dia orang lain loh. Lah, apa kabar dengan Dita? Dia tantenya Elza tapi kenapa dia tega memukulnya?" sarkas Benny hingga membuat Dita terkesiap.
__ADS_1
Begitu pula dengan Sukirman dan Ani, kedua orang tua itu terkejut setelah mendengar ucapan Benny, "kamu ini kalau ngomong jangan ngelantur toh, Ben!" Ani memberi peringatan kepada Benny, "mana mungkin Dita tega memukul Elza. Jangan begitu sama adikmu sendiri," tutur Ani seraya menatap Benny dan Dita.
"Kalian ini saudara kandung. Jangan sampai bertengkar atau sampai berselisih. Ibu harap kalian ini selalu rukun. Biar Bapak sama Ibu ini tetap sehat. Semua orang tua pasti sedih kalau anak-anaknya gak rukun!" ujar Ani seraya menatap kedua anaknya bergantian.
"Ibu tanya saja ke Dita langsung karena aku sudah mendengar sendiri cerita dari Elza," ucap Benny sambil menatap Dita yang tak kunjung bicara.
"Dit!" ujar Sukirman dengan tatapan tajam.
"Iya, Pak. Tadi Galang dipukul sama Elza di depanku jadi aku reflek mukul Elza." Dita mengakui kesalahannya tanpa berani menatap Benny.
Sukirman membeku mendengar pengakuan putrinya. Jujur saja pria paruh baya itu merasa kecewa melihat tingkah putrinya. Tentu keadaan ini membuat beliau kepikiran karena takut kedua anaknya akan berseteru.
"Aku mau pulang dulu, Pak, Bu," pamit Benny agar tidak sampai bersitegang dengan Dita di hadapan kedua orang tuanya.
"Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, Dit. Aku tahu sebagai orang tua tentu saja kamu tidak terima jika Galang dipukul Elza. Akan tetapi jika kamu yang membalasnya sungguh sangat keterlaluan. Kita sebagai orang dewasa jangan sampai terlibat dalam urusan anak-anak."
"Ayolah! Coba mikir. Kamu ini udah hampir kepala tiga, sudah seharusnya kamu bersikap dewasa. Sesekali kepala itu dipakai mikir!" Sebuah nasihat dari seorang kakak untuk adiknya. Selama ini Benny tak banyak bersuara meski Dita berbuat salah. Akan tetapi untuk kali ini, dia tidak bisa tinggal diam untuk tetap pada mode hening.
Sementara Dita tidak berani menegakkan kepalannya di hadapan Benny karena memang merasa bersalah. Ibu dari Galang itu sejak dulu memang tidak berani melawan Benny karena dia tahu bagaimana sikap buruk kakaknya kala dikuasai emosi.
"Oalah, Dita ... Dita! Kamu ini kok ya tega." Sukirman hanya bisa menghela napasnya setelah Benny pergi dari sana.
Setelah Benny meluapkan emosinya, kini berganti dengan Ani. Sudah bisa dipastikan jika setelah ini wanita paruh baya itu akan mengeluarkan tausiyah panjang. Tentu Dita harus menerima konsekuensi atas apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain, Benny sedang mengambil beberapa pakaian Elza di kamar ibunya. Dia mengemas beberapa pakaian itu ke dalam tas ransel. Setelah menyelesaikan semuanya, Benny bergegas menemui Elza di ruang keluarga.
"Papa mau kemana?" tanya Elza setelah melihat ayahnya keluar dari kamar Ani dengan membawa tasnya.
"Kita akan pulang, Sayang. Mama kasihan di rumah sendirian," jawab Benny sambil mengembangkan senyumnya, "El, pamit Uti sama Akong dulu gih! Papa tunggu di depan," tutur Benny sebelum melangkah pergi dari sana.
Tak berselang lama, setelah Elza pamit menyusul ayahnya ke depan rumah dan diikuti dengan Ani di belakangnya. Bocah kecil itu pun naik ke atas motor yang sudah siap berjalan membelah jalanan komplek.
"Ben, jangan diambil hati. Doakan saja semoga sikap adikmu segera berubah. Ibu benar-benar tidak tahu jika Dita tega memukul Elza," ucap Ani sebelum motor yang dikendarai putranya bertolak dari sana.
"Kami pulang dulu, Bu," pamit Benny sebelum meninggalkan halaman luas rumah ibunya. Dia pergi dari rumah tanpa senyuman.
Tak berselang lama, Benny telah sampai di depan rumahnya sendiri. Dia segera mengajak Elza masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan sosok bidadari surga. Fina.
"Mama!" teriak Elza tatkala melihat ibu sambungnya termenung di ruang keluarga.
"Elza! Sayang." Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata wanita berbadan dua itu setelah melihat kehadiran putranya.
Elza menghambur ke dalam dekapan hangat ibu sambungnya itu. Dia merasa rindu setelah dua hari tidak bertemu. Kalau sudah seperti ini, kehadiran Benny di sana seperti tidak ada artinya lagi. Mereka asyik bercanda berdua tanpa menghiraukan Benny yang sedang termenung.
"Setelah ini Elza jangan tinggal di rumahnya Uti lagi ya. Mama sedih karena gak ada Elza di sini," bisik Fina tanpa melepaskan dekapan hangat bocah lucu itu.
...๐นTo Be Continued ๐น...
__ADS_1
...Anaknya yang bermasalah, emaknya yang gak terima๐...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...