
Peringatan yang dilayangkan oleh Benny sepertinya semakin membuat Fina tertantang. Wanita berbadan dua itu ingin mengikuti apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Dia tersenyum smirk ketika melihat keresahan Benny karena tangannya tak henti mengusap sesuatu yang ada di dalam celana jeans itu.
"Fin! Jangan macam-macam!" Sekali lagi Benny memberikan peringatan kepada istrinya itu.
Bukannya berhenti, Fina malah tertawa lepas sambil meneruskan gerakan tangannya. Dia menengok ke belakang untuk memastikan jika Elza masih tidur pulas, "Elza! El ... Elza!" panggil Fina beberapa kali untuk memastikan jika Elza masih terlelap.
Fina membenarkan posisinya menjadi lebih dekat dengan suaminya. Sementara tangannya masih bermain-main di sana hingga merasakan sesuatu yang mengeras. Sepertinya dia berhasil membangunkan si sanca dari tidur nyenyaknya.
"Masa bodo meskipun ini di jalan!" ujar Benny saat menghentikan mobil di perempatan lampu merah. Dia membuka kancing dan resleting celana jeansnya agar si sanca bisa bebas bernapas.
"Kamu harus bertanggung jawab!" ujar Benny sambil menatap Fina penuh arti.
"Siapa takut!" Fina sepertinya semakin menantang suaminya itu.
Napas mantan duda itu mulai memburu karena degup jantung yang tak beraturan. Menikmati sensasi yang berbeda dari biasanya. Untung saja kaca mobilnya sudah dimodifikasi menjadi gelap, sehingga pandangan orang di luar tidak mudah menembus ke dalam mobil.
"Jangan sampai berhenti sebelum dia mengeluarkan bisa!" ujar Benny sebelum menjalankan mobil hitam itu karena lampu hijau sudah menyala. Jalanan kota lumayan sepi karena saat ini sudah masuk jam dua belas malam.
Mantan duda itu hanya bisa mendesis kala rasa nikmat datang menghampiri. Darahnya berdesir hebat karena apa yang sedang dilakukan Fina saat ini berhasil menguji adrenalinnya. Ayah dari Elzayin itu tidak berani melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena takut kehilangan konsentrasi.
"Astaga!" gumam Benny sambil menggigit bibirnya ketika Fina nekat mengubah posisi hingga bisa melahap si sanca. Dia bermain-main di sana hingga membuat Benny harus mencengkram rambut yang ada dibalik kerudung itu.
"Lakukan lebih cepat!" titah Benny saat merasakan getaran hebat di tubuhnya. Dia menekan kepala Fina agar si sanca bisa masuk lebih dalam. Sementara tangan kirinya mengambil beberapa tissu yang ada di sana.
Mantan duda itu terpaksa menghentikan mobil di bahu jalan karena benar-benar kehilangan konsentrasi. Dia memejamkan mata ketika sampai pada puncak tertinggi sebuah rasa. Dia tidak peduli meski sari dari tubuhnya keluar di mulut sang istri.
"Oh My God!" gumam Benny sambil menyandarkan tubuh di sandaran kursi, "terima kasih, Sayang," ucap Benny setelah melihat Fina menegakkan tubuh.
"Aku pengen muntah rasanya! Asem! Hih!" Fina bergidik ngeri setelah tahu bagaimana rasa dari sari tubuh suaminya. Dia mencari kantong kresek yang selalu ada di dashboard mobil untuk memuntahkan sesuatu yang masih tersimpan di mulutnya.
"Hoek!"
__ADS_1
Benny mengembangkan senyum tipis saat melihat tingkah istrinya. Dia sibuk membersihkan si sanca dengan tissu sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih tersisa dalam tubuh.
"Rasain! Salah sendiri berani membangunkan si sanca!" ujar Benny setelah selesai membersihkan tubuh dan merapikan kembali penampilannya.
"Kita cari pom bensin dulu, Mas! Aku mau ke toilet!" pinta Fina setelah Benny melanjutkan perjalanan.
"Iya sekaligus cari yang ada mini marketnya. Aku mau beli sabun buat mandi," ucap Benny dengan pandangan fokus ke depan.
Setelah berkendara selama beberapa puluh menit, akhirnya Benny menemukan tempat yang cocok. Dia keluar dari mobil dan menyuruh Fina untuk tetap di dalam mobil saja.
"Belikan aku pasta gigi lengkap dengan sikatnya. Sekaligus makanan dan permen untuk menghilangkan rasa asem ini, Mas! Jangan terlalu lama!" ujar Fina sebelum Benny keluar dari mobil.
Hampir lima belas menit, Benny berada di minimarket yang ada di area pom bensin itu. Dia kembali ke dalam mobil dengan membawa satu kantong kresek putih berisi barang belanjaan.
"Kamu atau aku dulu yang ke kamar mandi?" tanya Benny setelah melihat Fina mengambil beberapa barang dari dalam kresek.
"Aku! Mas tunggu aja di sini, barangkali Elza bangun," jawab Fina sebelum keluar dari mobil.
Benny hanya bisa mengembangkan senyumnya ketika mengamati sang istri yang sedang berjalan menuju toilet. Dia tidak menyangka jika istrinya itu mendadak berubah menjadi liar. Entah dari mana Fina mempelajari semua ini.
***
Perjalanan panjang telah dilalui Benny dengan semangat yang tinggi, apalagi setelah mendapat suntikan vitamin dari sang istri. Dia mengendarai mobil pajero itu hingga sampai di tempat tujuan. Warung sambal kikil dan cingur itu masih ramai dikunjungi pembeli meski saat ini sudah memasuki pukul dua dini hari.
"Sayang, kita sudah sampai," ucap Benny saat membangunkan istrinya.
"Sampai mana, Mas? Rumah kah?" tanya Fina setelah membuka kelopak matanya.
"Katanya mau makan sambal kikil, kita udah sampai. Ayo turun!" ujar Benny setelah Fina benar-benar sadar dari tidur nyenyaknya.
"Elza, Mas!" Fina memberi kode agar Benny mengurus Elza. Entah itu diangkat atau dibangunkan agar ikut makan bersama.
__ADS_1
Mata yang selimuti rasa kantuk mendadak terbuka lebar setelah melihat kikil dan cingur yang terpampang jelas di atas meja. Fina beberapa kali menelan ludah saat membayangkan rasa makanan yang sejak tadi membuatnya kepikiran. Tanpa menunggu sang suami yang masih sibuk mengurus Elza, dia mencari tempat duduk yang nyaman. Tak lama setelah itu, ada seseorang yang datang untuk bertanya menu apa yang ingin dipesan.
"Dua porsi sambel kikil gak usah terlalu pedas. Satu porsi kikil tanpa sambel kalau ada pakai kuah saja. Minumnya nanti menyusul saja, nunggu anak dan suami saya," ucap Fina setelah membaca menu apa saja yang ada di sana.
Tak lama setelah itu, Benny pun masuk bersama Elza. Ternyata bocah kecil itu masih terlelap dalam gendongan ayahnya. Untung saja, Fina memilih tempat duduk lesehan sehingga bisa untuk membaringkan Elza.
"Nak, ayo bangun," ucap Fina sambil mengusap pipi halus itu, "Sayang, bangun! Ayo makan dulu sama Mama." Sekali lagi Fina mencoba membangunkan Elza.
Perlahan bocah kecil itu membuka kelopak matanya. Beberapa kali mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya lampu yang terang benderang itu. Elza segera bangkit dari tempatnya ketika melihat senyum manis Fina.
"Aku heran deh sama Elza. Dari tadi aku mencoba membangunkan dia, tapi gak direspon. Kalau kamu yang membangunkan kok cepat sekali!" protes Benny setelah melihat apa yang ada di hadapannya.
"Kita di mana, Ma?" tanya Elza saat mengedarkan pandangannya.
"Jauh dari rumah pokoknya. Elza mau minum apa?" tanya Fina.
"Terserah Mama," jawab Elza tanpa ekspresi. Sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
Benny segera berdiri dari tempatnya untuk pesan minuman sesuai dengan permintaan sang istri. Tak lama setelah itu dia kembali lagi ke tempat semula sambil menunggu menu yang sudah dipesan.
"Pasti capek ya, Mas? Sini aku pijat kakinya," tanya Fina sambil memberikan kode agar Benny duduk berselonjor.
Benny tak henti mengembangkan senyum tipis sambil mengarahkan kakinya ke dekat Fina. Perjalanan panjang ini tidaklah sia-sia jika bisa melihat wajah ceria sang istri. Apalagi ditambah dengan bonus yang diberikan Fina untuknya.
"Monggo," ucap pemilik warung saat menyajikan pesanan Fina di atas meja. Bersamaan dengan itu, pijatan di kaki Benny pun berakhir.
Mata indah itu berbinar seketika saat melihat menu yang tersaji di atas meja. Sebelum menikmati sambal kikil yang dipesan, Fina mengatur terlebih dahulu makanan untuk anak sambungnya itu. Setelah selesai dan Elza bisa makan dengan lahap, wanita berbadan dua itu pun mulai menikmati cita rasa dari sambal kikil ini.
"Uh! Enak banget rasanya!" ujar Fina ketika baru menikmati satu suap makanan tersebut, "alhamdulillah akhirnya kesampaian. Jangan ileran ya, Dek," gumam Fina saat tangan kirinya mengusap perut yang masih rata itu.
...๐นTo Be Continued ๐น...
__ADS_1
...Bukan bayinya yang ileran deh Fin! Tapi othornya yang ngiler๐...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...