Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Penangkapan


__ADS_3

Penerbangan dari Surabaya menuju Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam lamanya. Setelah sampai di Bandara Soekarno Hatta, Benny dan dua orang lainnya menempuh perjalanan darat menuju Jakarta selatan dengan menggunakan taksi online. Tujuan utamanya adalah ke alamat yang diberikan Nisa untuk bertemu seseorang bernama Johan. Ternyata, setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih satu jam lamanya, taksi online itu berhenti di depan kodam jaya.


"Pak, kenapa kita berhenti di kantor TNI?" tanya Benny setelah mengamati keadaan yang ada di sekitar.


"Ini adalah alamat yang sesuai dalam pesanan di aplikasi, Pak. Saya hanya mengikuti alamat yang Bapak tulis," jawab driver tersebut.


"Kalau begitu tunggu sebentar, Pak. Saya mau telfon teman dulu," ucap Benny sambil merogoh ponsel yang ada di saku jaket.


Benny segera menghubungi kontak Johan, hanya sekali dering panggilan langsung terhubung. Dia mengatakan jika sudah sampai di alamat yang diberikan oleh Nisa. Tak sampai satu menit, panggilan tersebut berakhir.


"Ya, memang benar di sini alamatnya," ucap Benny pada kedua temannya.


Benny mengamati sekeliling markas TNI tersebut untuk melihat pria hebat bernama Johan itu. Dari jauh dia melihat sosok pemuda bertubuh tegap dengan seragam blonteng yang melekat di tubuh berjalan keluar. Benny mengernyitkan kening karena tidak asing dengan wajah pria tersebut.


"Ardi? Itu kan Ardi!" gumam Benny sambil menunjuk sosok bertubuh gagah yang sangat dekat dengan mobil yang dia tumpangi saat ini.


Tentu hal ini membuat Benny terkejut bukan main karena melihat satu orang yang sama tetapi dengan nama dan seragam yang berbeda. Ayah dua anak itu keluar dari mobil untuk menyambut kehadiran pria yang sudah menolongnya.


"Kamu yang bernama Johan?" tanya Benny setelah berhadapan dengan pria bertubuh tegap itu.


"Iya. Benar, saya Johan." Pemuda berpenampilan cool itu mengulurkan tangan kepada Benny. Keduanya bersalaman untuk sesaat, "bagaimana kabar Pak Benny?" tanya Johan dengan ramah.


"Tunggu, sebenarnya kamu ini siapa? Ardi atau Johan?" Benny terlihat bingung dibuatnya.


"Ardi dan Johan adalah orang yang sama. Seperti yang sedang berdiri di hadapan Bapak saat ini," jawab Johan dengan sorot mata penuh arti.


Benny hanya bisa menggeleng beberapa kali karena tidak percaya jika pemuda yang dulu menolongnya adalah seorang tentara. Mantan duda itu termangu di tempatnya karena tidak habis pikir dengan keadaan yang sedang dia hadapi saat ini.


"Mau berangkat ke lokasi sekarang? Pindah saja ke mobil saya," tanya Johan seraya menunjuk mobil yang terparkir di halaman kantor dinasnya.


"Aku bawa dua teman bersamaku, bagaimana?" tanya Benny karena tidak enak hati jika mengajak kedua temannya ikut bersama Johan.


"Kalau begitu ikuti mobil saya. Kita bisa berhubungan lewat telfon nanti bagaimana penyergapan akan dilakukan. Saya meminta bantuan teman seorang polisi untuk menggerebek gudang tersebut," jelas Johan.

__ADS_1


Benny kembali masuk ke dalam mobil sedangkan Johan mengambil mobil civic yang ada di tempat parkir tempatnya berdinas selama ini. Tak lama setelah itu mobil civic hitam keluar dari halaman luas itu dan melaju ke arah timur.


"Pak tolong ikuti saja mobil civic itu agar tidak kehilangan jejak," titah Benny sambil menunjuk mobil yang dikendarai oleh Johan, "urusan pembayaran gampang, Pak. Bisa diatur," ucap Benny tanpa berpikir panjang mengenai ongkos yang harus dia keluarkan nanti.


Kedua mobil berbeda jenis itu terus beriringan menuju gudang tempat Gatot Pujo menyembunyikan container berisi barang milik Benny. Hingga beberapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Johan berhenti di depan gudang. Pemuda gagah itu keluar dari mobil dan sedang melakukan panggilan telfon. Benny dan kedua pendampingnya pun ikut keluar dari mobil.


"Tunggu di sini sebentar," ucap Benny pada driver taksi online yang sejak tadi mengantarnya.


Benny menghampiri Johan untuk mendengarkan rencana selanjutnya. Pemuda yang masih memakai seragam dinas itu sedang menunggu kedatangan temannya. Tak lama setelah itu, pintu gerbang gudang terbuka sedikit dan muncullah seorang pria berpenampilan preman dari sana.


"Target dan barang bukti ada di dalam. Silahkan masuk karena tidak ada orang penting di sana. Hanya ada target, sopir dan kernetnya. Penjaga keamanan yang biasa menunggu gudang ini sedang keluar," jelas pria tersebut.


"Sudah siap semua berkas dan buktinya?" Johan bertanya kepada Benny tentang bagaimana kesiapan ayah dua anak itu. Semua berkas sudah dibawa oleh salah satu pendamping Benny yang tak lain adalah tim marketing yang menerima cek dari Gatot.


Ketiganya cukup terkejut ketika melihat pria berpenampilan preman tersebut tiba-tiba mengeluarkan senjata kecil dari jaketnya. Dia mengokang senjata itu terlebih dahulu untuk berjaga-jaga bila ada pemberontakan di sana.


Johan berjalan di garda terdepan sementara Benny dan yang lain ada di belakangnya. Tentu kehadiran mereka membuat dua orang yang sedang bermain kartu domino terkejut bukan main. Apalagi, setelah melihat penampilan Johan saat ini.


"Bangunkan bos kalian!" ujar Johan dengan tegas sambil menunjuk seorang pria yang tidur di bangku bambu.


"Loh, Bapak tadi kan yang menemani kami di sini? Sebenarnya ada apa ini?" sahut pria satunya lagi sambil menunjuk pria berpenampilan preman itu.


"Jangan banyak bicara! Bangunkan bos kalian!" bentak pria berpenampilan preman itu.


Tentu kedua orang tersebut ketakutan setelah melihat wajah garang Johan dan temannya. Mereka segera membangunkan Gatot agar tidak terlalu lama urusannya. Pria bernama Gatot itu pun gelagapan setelah bangun tidur melihat Benny dan salah satu tim marketing yang dia tipu. Pria berusi tiga puluh lima tahun itu terhenyak ketika melihat ada tentara dan preman yang sejak kemarin malam di sana.


"Ada apa ini?" tanya Gatot dengan sikap yang tenang.


"Saya ke sini mau ambil barang saya!" Kali ini Benny ikut menjawab pertanyaan penipu itu.


"Tidak bisa. Saya sudah menandatangani kwitansi jual beli, itu berarti barang milik saya!" Gatot bersikukuh jika semua barang itu adalah miliknya.


"Cek yang kamu berikan itu kosong alias ngeblong! Jadi kamu sudah menipu saya!" ujar tim marketing yang meloloskan Gatot saat pembayaran di pabrik.

__ADS_1


"Salahmu sendiri kenapa teledor. Pokoknya barang ini adalah milikku!" Gatot bersikukuh dengan pendapatnya.


"Alah! Jangan banyak bicara! Sekarang kamu mau mengakui kesalahanmu atau kami seret ke kantor polisi dengan tuduhan penipuan!" ancam pria berpenampilan preman.


"Ampun ... ampun. Jangan ikut sertakan kami dalam kasus hukum. Kami hanya sopir dan kernet yang dibayar mengantar barang. Kami tidak tahu tentang masalah penipuan!" sahut pria yang memakai pakaian tanpa lengan itu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Bawa saja orang ini ke kantor, Pak! Sepertinya ribet dan berbelit!" ujar Johan pada pria berpenampilan preman itu.


Terjadi berdebatan panjang di antara Gatot, Benny dan tim marketing Benny di sana. Pengusaha muda itu sangat geram karena Gatot tak kunjung menyerah dan masih berbelit-belit. Hingga pada akhirnya suara sirine mobil patroli terdengar di luar gudang.


"Apa-apaan kalian!" sungut Gatot setelah ada beberapa anggota kepolisian datang ke sana.


"Kami menerima laporan jika di sini ada kasus penipuan. Jadi, tersangkanya siapa, Ndan?" tanya salah satu anggota kepolisian saat menghadap pria berpakaian preman itu.


"Bawa mereka bertiga beserta barang-barang itu," tunjuk pria tersebut pada mobil container yang ada di dalam gudang.


Cukup lama mereka melakukan negosiasi bersama petugas yang ada di sana. Langkah Gatot sudah mati, dia tidak bisa berkutik lagi ketika polisi menyeretnya. Sementara sopir container itu disuruh mengendarai mobil raksasa itu menuju kantor polisi. Pemeriksaan lebih lanjut tentu akan dilaksanakan setelah ini.


"Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Benny kepada Johan dan pria berpenampilan preman itu. Dia bersalam dengan mereka berdua secara bergantian.


"Sama-sama, Pak. Mari kita ke kantor polisi untuk menyelesaikan permasalahan ini," ajak preman tersebut.


"Sebenarnya saya hanya ingin barang-barang saja ditarik lagi ke gudang saya di Surabaya. Saya hanya ingin mereka ditahan sementara sampai barang saja kembali ke gudang. Selebihnya saya tidak mau berurusan dengan hukum karena penipu itu!" jelas Benny kepada Johan dan preman tersebut.


Setelah bicara beberapa hal di sana, pada akhirnya mereka semua pergi meninggalkan gudang. Tak lupa mereka memeriksa gudang sebelum pergi karena takut di sana ada barang yang tertinggal. Segala urusan ini akan diselesaikan di kantor polisi setelah ini.


"Untung saja ada Johan, kalau tidak ada pasti raib barangku," batin Benny setelah berada di dalam mobil.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Yeee .... berhasil!! Johan the Best😎 Bakal dapat restu nih berkat bantuan Papa Ben😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2