Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Pindah Tempat


__ADS_3

"Jadi begini rasanya kalau bobo sama Papa dan Mama. Enak ya. Aku jadi tahu rasanya, gak hanya mendengarkan teman-teman kalau cerita," gumam Elza sambil menatap langit-langit kamar.


Fina terharu mendengar ucapan anak sambungnya itu. Seketika dia memeluk erat tubuh bocah kecil itu dengan penuh kasih. Dia tak henti mengecup pipi Elza. Rasa haru telah menyelimuti hati Fina karena mendengar hal itu. Sementara Benny memilih membelakangi putranya karena tidak tahan dengan perasaannya sendiri.


"Sekarang Elza harus bobo. Mau dipeluk siapa? Papa atau Mama?" tanya Fina seraya mengusap lembut rambut tipis itu.


"Mau dipeluk Papa sama Mama," jawab bocah kecil itu.


"Papa," panggil Fina karena ayah dari Elzayin itu masih membelakangi mereka berdua.


Benny segera melakukan apa yang diminta putranya itu. Dia mengecup kening putranya berkali-kali dengan rasa yang membuncah di dada. Selama ini dia belum bisa memberikan kasih sayang sempurna kepada buah hatinya itu dan malam ini akhirnya Elza bisa merasakan dekapan hangat dari kedua orang tuanya.


"Elza sekarang bobo gih, sudah malam. Besok harus sekolah," ucap Benny seraya mengusap rambut putranya.


Begitu pun dengan Fina, dia hanya bisa mengembangkan senyumnya sambil menatap Elza. Mata indah itu mulai berkaca-kaca karena terharu dengan suasana yang tercipta malam ini. Dia tak melepaskan tatapannya dari sosok kecil yang terlihat bahagia itu.


"Mama tahu bagaimana rasanya tidak bisa memeluk seorang ayah. Pasti semua itu tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Sejak kecil kamu tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Mama tidak bisa membayangkan seandainya ada di posisimu, Nak. Seorang ayah belum tentu bisa merangkap tugas seorang ibu. Akan tetapi seorang ibu bisa melakukan tugas seorang ayah."


Fina hanya mampu bergumam dalam hati tentang apa yang ada di hadapannya. Malam itu ranjang king size milik Benny terasa penuh. Tidak ada gempa lokal yang tercipta di sana. Obrolan santai terdengar di sana, kehangatan keluarga telah dirasakan ketiga orang yang ada di balik selimut tebal itu.


"Ma, apa aku tidak boleh latihan silat lagi? Aku kangen sabung, Ma," keluh Elza seraya menatap ibu sambungnya itu.


"Gak bisa, Sayang. Elza waktu itu kan sudah mendengar sendiri bagaimana kata pak dokter. Jika Elza harus berhenti sementara dari silat karena tangannya belum pulih sepenuhnya." Fina mengingatkan Elza bagaimana nasihat dokter ortopedi kala itu.

__ADS_1


"Aku jadi gak bisa dapat piala dong, Ma. Nanti aku gak bisa membanggakan Papa dan Mama lagi," gumam Elza dengan helaian napas yang berat.


"Tanpa mendapat piala, Elza sudah membuat Mama bangga." Fina menenangkan pikiran putranya itu agar tidak memikirkan masalah prestasi lagi.


"Elza cukup belajar dan sekolah yang rajin. Menjaga akhlaq dan menghormati Papa dan Mama. Tidak perlu memikirkan prestasi lagi. Kalau beberapa tahun ke depan tangannya udah pulih, El bisa latihan lagi," ucap benny sambil tersenyum penuh arti.


"Apa tidak ada kompetisi lagi Ma, selain silat? Tapi aku juga bisa apa ya," gumam Elza sambil menatap langit-langit kamar.


"Mama ada ide nih. Bagaimana kalau setelah ini Elza lebih sering hafalan. Kalau nanti ada lomba hafalan atau tartil, Elza bisa ikut. Lomba tanpa harus kesakitan? Bagaimana? Setuju?" tanya Fina setelah menemukan titik terang untuk masalah ini.


"Hafalan ya, Ma? Gak bisa gelut lagi dong, Ma!" Sepertinya Elza masih bersikukuh di dunia bela diri.


"Iya, sambil menunggu pulih dari cidera, Elza kan bisa hafalan dulu. Biar waktunya gak terbuang sia-sia, Sayang," bujuk Fina sambil menatap Elza penuh arti.


Obrolan terus berlanjut hingga beberapa menit ke depan. Ketiga penghuni ranjang king size itu bercanda dengan suka cita hingga gelak tawa Elza terdengar di sana. Setidaknya bocah kecil itu merasa terhibur dan melupakan sejenak tentang lomba pencak silatnya. Hingga beberapa puluh menit kemudian, suara gelak tawa itu berganti dengan suara dengkuran halus Elza dan Fina. Mereka berdua kelelahan setelah tertawa bersama.


"Kenapa di saat tidur seperti ini kamu terlihat sangat cantik sih," batin Benny sambil menyusuri setiap keindahan wajah cantik itu. Jari telunjuknya berhenti di bibir tipis yang sedikit terbuka itu.


"Rasa kenyal dari bibir ini menjadi candu bagiku. Rasanya setiap waktu aku ingin menggigit bibir ini," batinnya lagi.


"Oh sial! Lato-latonya udah mulai beraksi nih, pasti setelah ini menaranya berdiri. Astaga!" keluh Benny dengan suara yang lirih.


Mantan duda itu berdecak kesal setelah sinyal-sinyal menara semakin kuat. Dia mulai gelisah karena sulit menenangkan lato-lato yang terlanjut bergerak, sehingga menimbulkan ketegangan menaranya. Kalau sudah begini mau tidak mau harus ada lawan untuk menuntaskan semuanya. Apalagi ditambah dengan bayang-bayang wajah kacau sang istri saat terbang ke awan. Sungguh, semua ini semakin menyiksa diri. Benny berpindah tempat di sisi Fina, meski satu kakinya harus terjuntai ke lantai.

__ADS_1


"Sayang. Bangun dong," bisik Benny sambil memberikan sentuhan lembut di beberapa titik tubuh istrinya itu, "Sayang, bangun sebentar aja yuk!" bisiknya lagi. Dia memastikan jika Putranya benar-benar tertidur lelap.


"Apa sih, Mas?" Fina mengerjap pelan setelah tidur nyenyaknya terganggu karena sentuhan di beberapa titik tubuhnya.


"Nih, udah tegang. Lato-latonya minta dimainin, Sayang. Ayolah!" ajak Benny sambil mengecup tengkuk Fina.


"Ada Elza di sini, Mas. Astagfirullah," ucap Fina sambil menunjuk bocah yang sedang terlelap itu.


"Kita main di luar aja. Di ruang keluarga," usul Benny seraya menunjuk arah luar kamarnya.


"Jangan gila, Mas! Ada CCTV! Gak ah!" sergah Fina dengan tegas.


"Tenang saja, aku matiin deh CCTVnya. Ayo lah, Sayang. Biar pernah," rayu Benny dengan sorot mata penuh harap. Dia menggesek menara itu di bagian belakang tubuh Fina, "kalau menolak permintaan suami, dosa loh, Sayang. Kamu tahu kan tentang hal ini," bisik Benny sambil merema-s gundukan yang ada di bagian belakang tubuh Fina.


Kalau sudah begini, Fina tidak bisa menolak permintaan itu. Mau tidak mau akhirnya wanita cantik itu mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar. Tak lupa dia menutup pintu setelah berada di luar kamar.


"Ya ampun, Mas. Macam petak umpet saja! Bagaimana kalau Elza bangun dan melihat kita?" tanya Fina setelah duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Jujur saja dia merasa takut karena semua ini.


Tanpa banyak berkata lagi, Benny segera menonaktifkan kamera CCTV yang ada di rumahnya. Setelah selesai, dia kembali lagi ke ruang keluarga yang terletak di dekat kamar Elza. Benny tersenyum manis sambil menatap sang istri penuh arti.


"Padamkan lampunya, Mas! Aku gak mau ya jika kita kepergok Elza!" ujar Fina sambil menatap sinis suaminya itu.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Hayoo ... siapa yang sering pindah tempat kalau main lato-lato sama bapaknya anak-anak?...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2