
Satu bulan kemudian,
Pesanan sepatu dan sandal di industri milik duda tampan itu semakin banyak. Bagian produksi sampai kuwalahan dan harus lembur setiap hari. Benny pun disibukkan dengan pekerjaan di industrinya. Urusan Elza sudah di handle oleh Fina. Hanya ketika kontrol, duda tampan itu ikut mengantar ke rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, alat penyangga bahu sudah dilepas, tetapi bocah kecil itu belum diperbolehkan terlalu banyak bergerak.
"Pak, ini daftar nama dan denah tempat duduk bus yang sudah saya isi. Semua karyawan ikut seperti yang Bapak perintahkan," ucap Hilda sambil menyerahkan dua lembar kertas kepada Benny.
"Terima kasih. Kegiatan di sana sudah kamu susun 'kan? Resortnya sudah siap? Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun," ujar Benny sambil menatap pegawainya itu.
"Semua sudah siap, Pak. Pengisi acaranya pun sudah dipesan pihak Resort." Hilda menunjukkan laporan yang dikirim pihak Resort yang ada di kawasan salah satu pantai yang ada di Situbondo Jawa Timur.
Acara Family Gathering Industri AlasKa akan dilaksanakan dua hari lagi. Mereka akan berangkat hari sabtu pagi dan akan menginap di sana selama satu malam. Minggu pagi mereka akan bertolak dari Situbondo menuju Surabaya.
"Target harus selesai di hari kamis. Jumat kita setengah hari saja. Pulangkan semua karyawan jam dua siang," ujar Benny setelah membaca beberapa lembar kertas mengenai susunan acara di Situbondo nanti, "silahkan kembali bekerja," ucap Benny seraya menatap Hilda.
Setelah Hilda keluar dari ruangan, Benny meraih ponselnya. Dia mencari kontak Fina untuk bertanya tentang kabar gadis berhijab itu. Ya ... meskipun pesannya jarang dibalas oleh gadis cantik itu, karena Fina fokus merawat Elza.
"Kebiasaan. Pasti ponselnya di kamar," gumam Benny karena tak kunjung mendapat balasan pesan dari Fina.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Langit cerah telah berubah gelap karena kehilangan sinar mentari. Tepat pukul tujuh malam, Benny memutuskan pulang dari industri miliknya. Pekerjaannya sudah selesai dan kini waktunya pulang untuk bertemu calon bidadari surga. Sebelum sampai di rumah, tak lupa Benny membeli makanan untuk Elza dan Fina. Martabak telor adalah makanan favorit kedua orang tersayang yang sedang menunggu di rumah.
"Akhirnya sampai juga," gumam Benny setelah mobilnya masuk ke dalam garasi. Dia bergegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah melalui pintu penghubung ruang keluarga dan garasi.
"Sepi banget, pada kemana ini?" gumamnya ketika sampai di ruang keluarga yang terasa sunyi sepi itu. Tidak biasanya ruangan ini sepi di jam-jam seperti ini.
"Wi, di mana Elza?" tanya Benny ketika kebetulan melihat Dewi di dapur.
"Mungkin di atas, Pak. Tadi Elza minta main di kamar atas," jawab Dewi.
"Ya sudah kalau begitu. Ini untukmu," ucap Benny sambil menyerahkan satu kotak martabak telor untuk ART nya itu.
__ADS_1
Satu persatu anak tangga telah dilaluinya hingga sampai di lantai dua. Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali di kamar Elza, duda tampan itu membuka pintu kamar tersebut. Ternyata dua orang yang dia sayangi itu tengah tertidur pulas.
"Fin, Fina," panggil Benny beberapa kali hingga membuat Fina membuka kelopak matanya. Dia segera beranjak dari tempat tidur dengan gelagapan.
"Maaf saya ketiduran," ucap Fina sambil menggeleng beberapa kali untuk mengusir rasa kantuk yang masih terasa.
"Ini aku bawakan martabak telor. Makan dulu gih, nanti tidur lagi." Benny menunjukkan tiga kotak martabak telor kepada Fina.
"Elza baru saja tidur. Apa perlu dibangunkan? Kasihan dia karena sejak tadi sore mengeluh bahunya sakit," ucap Fina sambil menatap Elza yang sedang terlelap.
"Tidak perlu. Biarkan saja dia tidur di kamar. Sekarang lebih baik kita makan martabak ini dulu di sana," tunjuk Benny pad ruangan keluarga yang ada di lantai dua.
Gadis cantik itu pun akhirnya mengikuti langkah Benny hingga sampai di ruangan keluarga. Dia duduk di kursi tunggal yang ada di sana agar tidak duduk bersanding dengan Benny.
"Tumben jam segini kamu sudah tidur?" tanya Benny sambil membuka kotak martabak.
"Cuma ketiduran aja, Pak. Enggak tidur beneran," kilah Fina tanpa menatap Benny. Dia mengambil satu potong martabak tersebut sambil menjawab pertanyaan dari Benny.
Hubungan keduanya belum diresmikan dalam pertunangan karena masih menunggu Elza pulih terlebih dahulu. Akan tetapi kedua orang tua Benny sudah menemui Badiah untuk membahas hubungan yang akan terjalin itu. Mereka sudah menentukan kapan dilaksanakannya acara tunangan resmi.
"Oh ya sabtu kita akan pergi ke Situbondo, Fin. Jangan lupa siap-siap karena nanti kita akan menginap di sana," ucap Benny seraya menatap Fina.
"Pak," gumam Fina dengan tatapan yang tak beralih dari Benny, "Elza ini belum sembuh loh, kenapa harus sekarang acara family gatheringnya?" protes Fina.
"Acara ini sudah dipersiapkan jauh hari sebelum Elza cidera, Sayang. Jadi, tidak bisa dirubah begitu saja, karena ini acara besar besar dan sudah reservasi dengan pihak pariwisata," jelas Benny seraya menatap Fina dengan lekat.
Sementara Fina mengalihkan pandangannya setelah mendengar Benny memanggilnya dengan kata sayang. Dia tersipu setiap duda tampan itu berusaha romantis, karena dia tidak tahu harus bagaimana. Mengganti panggilan 'pak' saja rasanya sangat berat.
"Kamu tidak usah khawatir, nanti kita tidak akan naik bus. Aku akan membawa mobil pribadi, jadi Elza pasti bisa duduk dengan nyaman," ucap duda tampan itu.
__ADS_1
"Loh terus Bapak nyetir sendiri begitu ke Situbondo?" Fina mengernyitkan keningnya.
"Tidaklah. Aku akan membawa sopir," jawab Benny seraya mengembangkan senyum tipis, "kenapa? kamu khawatir kah? Takut saya capek 'kan?" Benny menaikturunkan alisnya hingga membuat Fina berpaling ke arah lain.
"PD amat sih! Ogah! Ngapain juga khawatir!" kilah Fina karena malu mendapatkan pertanyaan itu.
Benny tergelak melihat bagaimana respon Fina. Inilah salah satu hal yang membuat Benny tertarik dengan Fina. Gadis itu tidak pernah bersikap genit ataupun berusaha menggodanya. Padahal, bisa dikatakan jika Benny adalah sosok pria yang sempurna.
"Oh, ya, Fin. Setelah dari Situbondo kita akan belanja seserahan. Kamu maunya pakai cincin tunangan yang bagaimana?" tanya Benny setelah teringat jika dirinya belum membeli apapun untuk acara tersebut.
"Saya terserah saja. Apapun yang Bapak kasih saya terima," jawabnya tanpa berpikir panjang.
"Berarti setelah tunangan saya tinggal di Mojokerto kan ya, sesuai dengan permintaan ibu?" Fina mengembangkan senyumnya.
"Iya ya. Kenapa sih harus pulang? Tinggal di sini aja apa masalahnya coba? Kita kan gak ngapa-ngapain," protes Benny dengan helaan napas yang berat karena tidak lama lagi Fina akan pulang ke Mojokerto sampai hari pernikahan tiba.
Ya, Badiah memang mengajukan syarat seperti itu. Ibu dari Fina itu ingin putrinya kembali ke Mojokerto setelah tunangan resmi digelar. Dalam pemikiran janda dua anak itu, setelah Fina dilamar secara resmi oleh Benny, maka statusnya akan berganti menjadi calon istri. Bukan lagi pengasuh Elza. Tentu kondisi ini sangat berbeda dari segi sudut pandang Badiah. Sebagai orang tua dia tidak mau jika putrinya terkena fitnah, apabila tinggal satu rumah dengan status calon suami istri. Hidup di jaman modern bukan berarti harus melupakan adat istiadat yang selama ini dia yakini.
"Nurut apa kata orang tua jauh lebih baik. Bukan karena Ibu orang desa atau kuno, tetapi Ibu hanya melaksanakan apa tatanan yang selama ini ada di sana. Lagi pula akan terasa tidak nyaman jika saya tinggal di rumah setelah Bapak lamar. Sekarang saja, saya rasanya udah gak nyaman di sini, karena takut dihujat orang apabila ada yang tahu. Mereka akan berpendapat jika kita melakukan hubungan yang tidak baik, padahal yang sebenarnya, kita tidak melakukan apapun," jelas Fina panjang lebar sambil menatap Benny dengan lekat.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Kira-kira ada apa ya nanti pas Family Gathering?? Yakin acaranya mulus lancarr??π€£...
...ββββββββββββββββ...
...Sambil nunggu othor up, kuy baca juga karya author Komalasari dengan judul Edinburgh. Jangan sampai gak baca ya karena ini sahabat othor yang paling olengπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...