
Detik demi detik terus berlalu sejak Fina mengirim pesan kepada kedua pria yang membuatnya resah. Kini, gadis cantik itu gelisah karena tidak tahu siapa yang akan sampai duluan ke rumah ini dan bertemu dengan Badiah. Dia mondar-mandir di rumahnya hingga mengganggu Nisa yang sedang duduk manis di ruang keluarga. Dia baru saja pulang dari kuliah.
"Mbak. Jangan kek setrika deh! Mbak ini kenapa sih?" Nisa belum tahu perihal yang sedang menimpa kakaknya.
"Sudahlah! Jangan banyak tanya! Ini urusan orang dewasa!" sungut Fina seraya menatap Nisa dengan tatapan tajamnya.
"Dasar aneh!" Cibir anak bungsu Badiah itu.
Fina memutuskan pergi ke dapur untuk mencari ketenangan di sana. Dia duduk di kursi kayu yang ada di sana agar tidak melihat bagian depan rumahnya, karena hal itu semakin memperburuk suasana hatinya.
"Bu, Fina gugup, Bu," gumam Fina seraya menatap punggung Badiah. Wanita paruh baya itu sedang membuat lauk untuk makan siang nanti.
"Gak usah terlalu percaya diri dulu, Fin," ujar Badiah tanpa membalikkan badan. Dia sibuk dengan spatula dan penggorengan, "kamu yakin salah satu di antara mereka akan datang? Lah bagaimana kalau keduanya tidak datang menemui Ibu?" Kali ini Badiah menatap putrinya sekilas dengan senyum tipis.
Seketika Fina menghempaskan tubuh di sandaran kursi setelah mendengar ucapan ibunya. Pikirannya mendadak kosong karena skakmat dari Badiah. Tentu akan terasa memalukan jika dugaan ibunya benar. Kedua pria itu tidak ada yang datang ke rumah ini.
"Bu, kenapa Fina tidak memikirkan opsi ini ya?" gumam Fina dengan tatapan lurus ke depan, "astaghfirullah, kenapa aku percaya diri sekali," gumamnya lagi.
Badiah tersenyum lebar setelah mendengar putrinya bergumam. Wanita paruh baya itu tidak bermaksud untuk membuat mental putrinya down. Semua yang Badiah lakukan hanya untuk membuat Fina lebih tenang. Dia sendiri risih melihat putrinya resah dan gelisah.
"Lebih baik siapkan nasi di ruang keluarga, kita makan bersama, Fin. Jangan melamun mulu, nanti kalau kesurupan bagaimana?" suruh Badiah ketika melihat putrinya termenung dengan tatapan kosong.
"Fin!" ujar Badiah lagi karena Fina tak mendengarkan perintahnya.
"Ya, Bu. Iya!" Fina gelagapan begitu mendengar suara lantang ibunya. Dia segera beranjak dari tempatnya dan melaksanakan perintah ibunya.
Fina mencoba berpikir positif, seperti yang disarankan oleh ibunya. Dia mengambil tiga piring dan beberapa perlengkapan lainnya. Tikar pandan telah digelar di sana dan tak lama setelah itu menu makan siang hari ini tertata rapi di atas tikar berwarna kuning tembaga itu.
__ADS_1
Fina dan Nisa tersenyum lebar ketika menu makanan favorit mereka tersaji di sana. Nila goreng yang dipenyet di atas sambal tomat beserta terong, kol dan kangkung kukus, berhasil membuat perut keduanya keroncongan. Sungguh, menu makanan ini benar-benar terasa nikmat, apalagi di saat siang begini.
"Wah ... bisa nambah tiga kali ini, Bu!" seru Nisa saat mengambil nasi.
"Aku nanti juga mau nambah ah!" sahut Fina sambil menunggu giliran untuk mengambil nasi karena hanya ada satu centong di sana.
"Assalamualaikum,"
Suasana di dalam ruang keluarga mendadak hening setelah terdengar suara seorang pria di depan rumah. Ketiga wanita yang ada di sana saling pandang untuk menerka siapa kira-kira yang datang.
"Assalamualaikum. Paket!" Sekali lagi terdengar suara teriakan seorang pria.
"Oh, paket ... Pak kurir ternyata," gumam ketiga wanita penghuni rumah sederhana itu serempak.
"Oh iya, aku kan habis check out sepatu," gumam Nisa setelah teringat jika yang ada di depan adalah kurir pengantar barangnya.
"Ibu ... Mbak! Ada tamu!"
Tentu Fina segera meletakkan centong nasi itu. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil kerudung seadanya. Sementara Badiah segera keluar untuk melihat siapa tamu yaang hadir di siang bolong begini.
"Ya Allah, siapa ya yang datang? Aku kok gugup begini." Fina bergumam sambil menyematkan jarum pentul di kerudungnya, "siapa sih yang datang, suaranya kok belum terdengar," gumamnya lagi. Tanpa memoles wajahnya dengan bedak ataupun liptin, gadis cantik itu segera keluar dari kamar. Dia memberanikan diri untuk melihat langsung tamu yang masih ada di teras rumah.
Fina tertegun setelah sampai di teras rumah. Tatapan matanya tak lepas dari sosok yang sedang duduk di kursi yang tak jauh dari ibunya. Degup jantungnya berubah tak beraturan setelah tatapan matanya bertemu dengan mata teduh yang sedang menatapnya itu.
"Pak Benny," gumam Fina dengan suara yang lirih.
"Hay, Fin. Aris belum datang 'kan?" tanya Benny sambil melambaikan tangan ke arah Fina. Duda tampan itu tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang Pak Benny masuk dulu. Kebetulan kita akan makan siang bersama. Saya tadi masak sambal tomat kesukaan pak Benny, tetapi tidak ada daun ubinya," ucap Badiah. Dia tahu jika pria yang menjadi majikan putrinya itu lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
"Bu, tapi saya kan yang sampai duluan ke sini. Bukan pria lain kan, Bu?" Benny memastikan hal itu kepada Badiah.
"Iya. Hanya pak Benny yang datang duluan ke sini," jawab Badiah dengan senyum yang lebar. Dia beralih menatap Fina yang sedang termangu di tempatnya.
"Eh, bukan, Bu. Tadi yang sampai sini duluan pak Kurir dan setelah itu disusul pak Benny," sahut Nisa saat membenarkan ucapan ibunya. Dia belum tahu apa maksud dari pembicaraan Badiah dan Benny.
"Iya, Ibu tahu. Sudah, sudah. Lebih baik kita masuk dulu. Mari Pak Benny, langsung ke ruang tengah saja. Sekalian makan siang bersama," ucap Badiah sebelum beranjak dari tempatnya.
Duda tampan itu merasa lega karena dirinya menjadi yang pertama. Gadis cantik yang masih berdiri di depan pintu itu, tak lama lagi akan menjadi miliknya. Visi misi Elza dan dirinya akhirnya terlaksana. Benny menghentikan langkahnya tepat di sisi Fina, Dia tersenyum manis saat gadis berhijab itu menoleh ke arahnya. Dia masih bungkam karena mungkin belum percaya atas apa yang terjadi saat ini.
"Ingatlah, Sayang. Aku pemenangnya. Setelah ini kamu akan menjadi milikku dan Elza seutuhnya. Aku harap pesanmu tadi pagi akurat dan dapat dipercaya," ucap Benny dengan suara yang lirih. Dia kembali mengembangkan senyum manis sebelum meninggalkan Fina di sana seorang diri.
Gadis berhijab itu menggeleng beberapa kali agar lekas sadar dari keadaan ini. Dia tidak menyangka sedikitpun jika Benny adalah pria yang datang pertama kali menemui ibunya.
"Aku sedang tidak bermimpi kan? Ini nyata gak sih?" Fina menggigit ujung jari telunjuknya karena belum percaya atas semua yang terjadi.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Cie cie cie ... hayo siapa timnya pak Benny? Memang tuh si pak dudπ€£...
...βββββββββββββββ...
...Sambil nunggu episode baru, kuy baca juga karya author MinNami dengan Arumiπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...