
"Mama ... aku kangen Mama," bisik Elza sambil merengkuh tubuh Fina, "aku sayang Mama. Aku mau Mama bangun sekarang. Jangan ninggalin aku seperti adek bayi, Ma," lanjut Elza dengan isak tangis yang terdengar pilu.
Bocah kecil itu sedang berada di ICU untuk bertemu dengan sosok ibu yang selama ini merawatnya. Sudah dua hari ini Fina tidak sadarkan diri seusai mengetahui jika bayi yang dilahirkannya meninggal dunia. Tim medis sengaja memindahkan Fina ke ruang ICU untuk agar mendapat perawatan intensif dan pemantauan khusus. Hari ini kondisinya mulai stabil setelah kemarin menurun drastis. Mungkin wanita cantik itu shock atas semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Mama harus bangun! Aku mau main sama Mama!" tangis Elza terdengar pilu di sisi ibu sambungnya itu.
Pihak keluarga sengaja mendatangkan Elza agar melihat kondisi ibunya. Mereka berpikir mungkin saja suara Elza bisa memicu pulihnya kesadaran Fina. Bocah kecil itu hanya ditemani seorang perawat yang bertugas di sana karena hanya satu orang saja yang diizinkan masuk ke ruangan khusus ini.
"Adek harus mengatakan sesuatu yang bisa membuat Mama marah. Coba Adek ingat apa saja yang bisa membuat Mama marah," bisik perawat tersebut saat Elza menegakkan tubuh.
Elza termenung di sana. Sepertinya bocah kecil itu sedang mengingat momen yang bisa memancing emosi Fina. Dia mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca, di mana seluruh keluarganya sedang berkumpul. Ada Ani, Sukirman, Badiah, Nisa, Benny, Dita dan Dani yang sedang menunggunya di luar sana. Mereka berharap jika Elza berhasil membangunkan Fina dari kondisi ini. Elza segera mendekatkan diri di telinga Fina setelah berhasil menemukan sesuatu yang bisa membuat Fina emosi.
"Mama ... aku sedih berada di rumah Uti. Aku selalu dimarahi Tante Dita. Dia jahat, Ma! Aku gak boleh bermain sama adek Galang," ujar Elza dengan yakin.
Suara monitoring jantung pun berbunyi lebih kencang. Grafik yang ada di layar monitor tersebut bergerak cepat dan itu artinya Fina mulai merespon suara putranya. Emosinya mulai naik setelah mendengar keluh kesah Elza.
"Lanjutkan, Dek! Lebih sedih lagi agar Mama segera bangun!" bisik perawat tersebut setelah memantau grafik di layar monitor tersebut.
"Apakah aku harus menangis, Tante?" Elza bertanya sambil berbisik. Perawat tersebut mengacungkan jempol ke arahnya sebagai tanda jika setuju dengan ide Elza.
__ADS_1
"Aku sedih, Ma. Semenjak Mama berada di sini, aku di rumah sama tante Dita. Kemarin aku menumpahkan minuman Tante terus gelasnya pecah. Lalu aku dipukul, Ma! Aku sakit tapi gak ada yang menolong. Huaa!" Elza mengadu dengan suara isak tangis yang terdengar kencang.
"Ayo, Ma! Bangun, Ma! Ayo balas Tante Dita! Mama harus membantuku, Ma!" Elza menggoyang tangan Fina seperti saat merengek meminta mainan.
"Kenapa Mama gak bangun! Mama jahat! Mama gak sayang aku lagi! Aku mau pulang saja, aku mau ke tempat Mama Nurmala!" ujar Elza seraya melepaskan genggaman tangannya di telapak tangan Fina.
Grafik di monitor itu terus bergerak naik dan tanpa diduga tangan Fina justru mencengkram erat tangan Elza. Wanita cantik itu sedang menahan Elza agar tidak pergi dari sana. Tentu hal ini membuat perawat tersebut tersenyum dan setelah itu dia memanggil dokter jaga.
"Elza!" Bibir pucat itu terbuka bersamaan dengan suara yang terdengar lemah. Perawat dan dokter tersebut menyaksikan langsung bagaimana Fina sadar dari tidur panjangnya.
Ketiga orang yang ada di sisi bed Fina tinggal menunggu perkembangan selanjutnya karena mereka yakin jika sebentar lagi Fina akan sadar. Detik demi detik telah berlalu dan prediksi dokter jaga ICU pun menjadi kenyataan. Kelopak mata itu perlahan terbuka. Beberapa kali kelopak mata tersebut mengerjap karena harus menyesuaikan cahaya terang di ruangan tersebut.
Tanpa banyak bicara, perawat tersebut mengangkat tubuh Elza hingga bisa duduk di tepian tempat tidur agar Fina bisa melihat wajah tampan bocah kecil itu. Fina mengalihkan pandangan ke samping agar bisa menatap wajah putra sambungnya.
"Mama, aku sayang Mama," ucap Elza sambil memeluk erat tubuh yang masih lemah itu, "Mama harus cepat sembuh agar bisa pulang. Aku rindu sama Mama," ujar Elza tanpa menegakkan tubuhnya. Dia masih memeluk erat tubuh ibu sambungnya itu karena rasa rindu masih membelenggu.
"Mama juga rindu Elza," jawab Fina dengan suara yang terdengar lirih.
Setelah memberikan waktu beberapa menit kepada Fina dan Elza, akhirnya tim medis harus mengakhiri pertemuan ibu dan anak itu karena harus melakukan beberapa serangkaian pemeriksaan. Elza diantar keluar oleh perawat yang menemaninya sejak dia masuk ke dalam ICU.
__ADS_1
"Coba ibu lihat ke arah jendela itu! Berapa banyak keluarga yang menanti kesadaran Ibu," tunjuk dokter tersebut pada keluarga yang ada di luar ruangan.
Fina mengikuti arah telunjuk dokter tersebut. Dia mengembangkan senyum tipis setelah melihat semua keluarga melambaikan tangan ke arahnya. Dia sangat merindukan sosok yang sedang duduk di kursi roda. Sosok suami yang menunjukkan senyum manis tetapi dengan mata yang berembun.
"Ibu harus semangat sembuh. Berapa banyak keluarga yang menanti Ibu pulih." Dokter tersebut memberikan dukungan semangat kepada Fina saat melakukan pemeriksaan.
Sementara itu di luar ruangan keluarga besar itu menyambut kedatangan Elza yang baru keluar dari ICU. Bocah kecil itu menghambur dalam pelukan Benny dan menumpahkan isak tangisnya di sana. Entah alasan apa yang membuat bocah kecil itu menangis dalam dekapan hangat ayahnya.
"Aku takut Mama pergi seperti adek bayi," gumam Elza dalam dekapan ayahnya, "tapi sekarang aku bahagia karena Mama sudah bangun," lanjutnya tanpa mengurai tubuhnya.
"Memangnya tadi Elza bilang apa sampai Mama bisa bangun?" tanya Benny. Mantan duda itu penasaran saja dengan cara yang dipakai Elza, karena sejak kemarin semuanya sudah mencoba untuk membangunkan Fina tetapi gagal.
Bocah kecil itu mengurai tubuhnya dan setelah itu dia berjalan mendekati Dita. Dia menatap Dita beberapa saat lamanya karena masih ragu ingin menceritakan alasan yang sesungguhnya. Elza takut jika Dita marah karena dia sudah menggunakan adik ayahnya itu sebagai kambing hitam.
"Tante Dita, aku minta maaf karena tadi sudah mengadu kepada Mama jika Tante jahat sama aku. Tadi bu susternya bilang, aku disuruh membuat Mama marah, jadi aku mengadu ke Mama jika Tante udah jahat dan memukulku," jelas Elza seraya memegang tangan adik ayahnya itu.
Semua orang terkejut mendengar penjelasan Elza karena mereka tidak menyangka jika Elza secerdas itu dalam menemukan ide. Ya ... meski mereka tahu jika nanti Dita lah yang terkena imbasnya. Adik kandung Benny itu hanya bisa menghela napas yang berat setelah mendengar penjelasan dari keponakannya itu.
"Tante bahagia Mama kamu sudah sadar, tetapi Tante jadi sedih setelah tahu Tante yang akan diamuk Mama Fina setelah dia pulih. Oh keponakan yang pintar ... kamu membuat Tante dalam masalah," gumam Dita dengan ekspresi wajah sedih. Dia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi.
__ADS_1
...🌹To Be Continued 🌹...