
Dekorasi mewah persembahan dari Fina untuk adiknya telah berdiri megah di halaman rumah hingga menutup jalan. Pelaminan megah berdiri kokoh di bawah tenda tersebut. Semua persiapan pernikahan telah selesai dilaksanakan. Tinggal menunggu waktu beberapa jam saja akad nikah di antara Nisa dan Johan akan terlaksana.
Tentu mereka berdua telah melewati beberapa proses yang panjang untuk sampai di hari ini. Pernikahan yang diselenggarakan di kantor dinas Johan pun telah dilaksanakan.
Johan sendiri sudah pindah dinas di Surabaya. Setelah menikah nanti, dia bisa pulang pergi dari Surabaya ke Mojokerto. Dia berusaha keras untuk mendapatkan posisi jabatan yang dia emban saat ini. Tentu semua ini berkat campur tangan Wiratama. Dia telah memudahkan jalan putranya mencapai segala hal yang membuatnya bahagia.
Sejak pagi buta semua orang yang ada di rumah Badiah disibukkan dengan berbagai persiapan. Apalagi, calon pengantinnya. MUA yang bertugas sudah tiba sejak pukul lima pagi karena pagi ini banyak sekali yang harus di make-up. Akad Nikah digelar pukul delapan pagi, alhasil semua bekerja sama agar selesai tepat waktu.
"Kalian kalau pas di make-up begini kok seperti kembar ya? Mirip sekali," gumam Badiah setelah melihat Fina dan Nisa yang baru selesai di make-up.
"Ah ibu ini bagaimana? Jelas cantik Nisa lah. Fina ini udah tua dan punya anak dua. Jadi, beda dong sama yang masih gadis," kilah Fina seraya menatap Nisa dengan senyum penuh arti.
"Tau ih! Masa aku disamakan sama Mbak Fina. Beda, Bu. Cantik aku!" protes Nisa dengan bibir yang mengerucut.
"Ya, ya, ya ... cantik kamu kok," ucap Badiah dengan diiringi senyum tipis, "jangan cemberut gitu lah. Masa iya pengantinnya murung, nanti Johan kabur." Badiah menghibur putrinya.
Nisa beranjak dari tempatnya ketika sang MUA memanggilnya untuk memakai kebaya putih tulang yang akan dipakai akad Nikah. Dia masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri bertemu sang prajurit tercinta. Nisa sendiri baru wisuda kelulusan sarjana dua minggu yang lalu. Dia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam.
"Setelah ini Ibu harus hidup bahagia. Aku dan Nisa sudah menikah dan menemukan pria yang baik. Jangan terlalu banyak beban pikiran ya, Bu," tutur Fina seraya meraih tangan ibunya untuk digenggam.
"Namanya juga orang hidup, Fin. Pasti mikir, gak tahu apa nanti yang harus dipikir," ujar Badiah.
"Mama ... mama ... aku cantik," teriak Shazia saat berjalan menghampiri Fina. Bocah kecil itu pun tak mau kalah setelah melihat ibunya tampil cantik. Dia merengek ingin di make-up seperti Nisa dan Fina.
"Aduh ... aduh ... aduh ... cucunya Mbah cantik sekali." Badiah tersenyum lebar ketika melihat Shazia.
__ADS_1
"Princess nya Mama cantik sekali," ucap Fina sambil menatap Shazia penuh arti.
"Ayo ke Papa, Ma. Aku mau ke Papa dan kak Eza," rengek Shazia sambil menatap Fina. Bocah kecil itu sepertinya ingin memamerkan kecantikannya di hadapan Benny dan Elza.
Mau tidak mau, Fina harus beranjak dari tempatnya meski penampilannya belum sempurna. Dia masih memakai daster tetapi dengan riasan wajah yang cantik serta hijab yang rapi menutupi rambutnya.
"Itu, Papa!" tunjuk Shazia pada sosok pria yang sedang berdiri di depan pelaminan. Dia sepertinya sedang bicara serius dengan pihak WO. Sementara Elza sendiri berada tak jauh dari sana.
"Papa ... aku cantik kan?" teriak Shazia sambil berlari menghampiri Benny. Suara teriakannya berhasil membuat Elza beranjak dari tempatnya.
"Widih! Zia cantik sekali!" puji Elza setelah berhadapan dengan Shazia.
"Princess nya Papa kok cantik sekali ya! Siapa ini tadi yang dandanin?" Benny mengangkat tubuh putrinya ke atas gendongan.
"Tapi Mama kok lucu begitu sih? Mama mau pakai daster ya, Ma?" Elza memicingkan mata saat mengamati penampilan Fina. Sepertinya bocah yang baru naik kelas empat SD itu geli melihat penampilan ibu sambungnya.
"Mama belum ganti, Nak. Tolong jaga adek Zia ya, Mama mau siap-siap dulu," pinta Fina dengan senyum yang manis, "Dek, main di sini dulu sama Kakak dan Papa, ya. Mama mau ke dalam, oke?" Fina berbicara sambil menatap Shazia.
Pagi ini dress code untuk Bridesmaids dan keluarga besar adalah warna hijau mint karena nanti akan ada upacara pernikahan militer—sangkur PORA—selepas acara akad nikah berlangsung. Tentu hal ini menjadi momen yang mendebarkan bagi Nisa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana berlangsungnya acara tersebut.
Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Tak terasa waktu sudah sampai di pukul setengah delapan pagi. Johan dan keluarga intinya sudah tiba di kediaman Badiah. Tak lama setelah itu, penghulu dan petugas KUA lainnya pun tiba di sana.
"Wajahnya gak usah tegang begitu. Macam mau berangkat perang saja," bisik Wiratama ketika melihat ekspresi wajah putranya.
"Pa, jangan begitu. Rasanya sangat jauh berbeda ketika menghadapi musuh," jawab Johan dengan suara yang lirih. Dia gugup karena takut salah melafadzkan akad nikah.
__ADS_1
Tepat pukul delapan pagi, Nisa berjalan keluar dari rumahnya bersama Fina dan Badiah. Putri bungsu Hasanuddin Ibrahim itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya putih. Rangkaian bunga melati menghiasi hijab yang menutupi rambutnya semakin menambah aura kecantikan gadis cantik itu.
"Bagaimana? Apakah calon mempelai pria sudah siap ijab kabul?" tanya Penghulu yang duduk di sebrang meja yang ada di hadapan Johan dan Nisa.
"Siap, Pak," jawab Johan dengan tegas.
"Waduh ... calon pengantin pria sepertinya bersemangat sekali ini," seloroh Penghulu sambil mengulas senyum, "santai saja, Mas. Jangan terlalu tegang. Kalau tegang cocoknya nanti malam, Mas." Penghulu tersebut mencoba mencairkan suasana agar Johan lebih rileks.
Tentu hal ini membuat semua orang yang ada di sana tertawa lepas, termasuk pihak keluarga Wiratama. Sementara Nisa hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah yang bersemu merah. Dia merasa malu karena tahu maksud yang diucapkan oleh penghulu tersebut menjurus ke arah malam pertama.
"Sebelum akad nikah dimulai. Silahkan di cek dulu data dirinya. Takutnya ada yang salah, silahkan," ucap petugas KUA sambil membukakan map merah di hadapan Nisa dan Johan.
"Sudah benar, Pak," ucap Johan setelah membaca data dirinya.
"Baiklah, kalau begitu langsung saja kita mulai akad nikahnya agar Mas Johan merasa lega." Lagi dan lagi Johan menjadi bahan candaan petugas KUA. Wajahnya bersemu merah karena malu. Dia hanya bisa mengembangkan senyum bahagia.
Sebelum Penghulu menjabat tangan Johan, dia memberikan nasihat-nasihat pernikahan dan tak lupa menjelaskan kewajiban suami-istri. Setelah selesai, Penghulu tersebut mengulurkan tangannya dan disambut langsung oleh Johan. Akad nikah pun mulai terdengar di sana dan Johan mengucapkan dengan tegas akad nikah tersebut.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khairunnisa binti Hasannudin Ibrahim dengan mas kawin tersebut, tunai."
...🌹To Be Continued 🌹...
...Yeay akhirnya Mereka sah menjadi suami istri😎...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1