Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tawaran konyol,


__ADS_3

"Kenapa pak Benny sangat baik kepada keluarga saya? Apakah ada alasan khusus yang membuat Bapak bersikap baik kepada saya ataupun ibu?" tanya Fina seraya menatap Benny dengan lekat. Dia mulai risau dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan Benny kepadanya.


Duda tampan itu tertegun setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Fina. Dia tak segera menjawab karena belum ada alasan yang tepat dan bisa diterima oleh gadis yang ada di sampingnya. Ini bukanlah momen yang tepat untuknya menyatakan perasaan cinta yang dia miliki.


"Ini adalah bentuk dari rasa terima kasihku kepadamu, Fin. Kamu sudah merawat Elza dengan sangat baik. Perubahan pada anakku terjadi berkat didikan darimu, terus keluargamu juga bisa menerima dia dengan baik. Bagaimana aku akan diam saja ketika kalian membutuhkan bantuan? Selagi aku bisa, pasti aku akan membantu kesulitan kalian," jelas Benny sambil menatap Fina. Entah bagaimana bisa duda tampan itu mendapatkan jawaban tepat dalam waktu singkat.


Fina memicingkan mata setelah mendengar penjelasan panjang dari Benny. Dia sepertinya masih ragu dengan jawaban itu. Gadis berhijab itu memicingkan mata ke arah Benny, "yakin hanya itu saja alasannya, Pak? Tidak ada udang di balik batu kah?" cecar Fina dengan tatapan menyelidik.


"Karena aku ingin menjadi suamimu." Tentu jawaban ini hanya terucap dalam hatinya saja.


"Iya lah. Lalu jawaban apa lagi yang kamu inginkan?" Benny menatap tajam ke arah Fina karena masih penasaran dengan pemikiran pengasuh putranya itu, "coba katakan apa yang ada di pikiranmu!" titah Benny dengan tatapan menyelidik.


Fina menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan setelah mendengar pertanyaan itu, "eemm ... saya kira Pak Ben punyaβ€”" Fina menghentikan ucapannya.


"Punya apa? Katakan dengan jelas!" Benny berdebar-debar menanti kelanjutan jawaban dari Fina. Dia tahu kemana arah pembicaraan gadis polos itu dan tentunya dia sangat mengharapkan Fina mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Saya pikir Pak Ben punya niatan untuk menjadikan saya sebagai tumbal pesugihan. Pak Ben kan kaya raya, punya usaha besar. Saya takut jika kebaikan Bapak hanya untuk menutupi hal itu. Padahal, Bapak akan mengorbankan saya sekeluarga," ucap Fina setelah beberapa detik terdiam. Dia menatap ke arah lain saat mengatakan hal itu.


Benny seketika menepuk keningnya setelah mendengar praduga dari gadis itu. Dia tidak pernah menyangka jika Fina berpikir sampai sejauh itu. Helaan napas berat terdengar dadi duda satu anak itu setelah mengetahui jika Fina pemikiran Fina sangat dangkal dan tentunya tidak peka akan kode-kode yang dia kirim. Sepertinya kesabaran Benny teruji ketika menghadapi pengasuh idaman putranya yang terlalu polos itu.


"Aku tidak menyangka jika pikiranmu sampai ke sana, Fin." Benny menggeleng beberapa kali sambil berdecak, "memangnya kamu pernah melihat ada kamar khusus di rumahku? Atau aku pernah melakukan ritual khusus di rumah?" cecar Benny seraya menatap Fina.


"Tidak ada sih, Pak. Akan tetapi saya kan tidak tahu jika di luar rumah. Bapak aja sering pulang malam," jawab asal gadis berhijab itu.


"Nah itu dia! Saya sering pulang malam karena bekerja, bukan ritual pesugihan!" ujar Benny dengan tegas.


"Ah masa Pak Ben kerja sampai larut malam? Yang benar saja! Kerja atau ngerjain biduan, Pak?" sindir Fina dengan senyum smirk.

__ADS_1


Seketika Benny terdiam setelah mendengar sindiran itu. Duda tampan itu dipaksa berpikir keras dalam keadaan genting seperti ini. Dia harus menghentikan pembahasan tidak penting yang akan berujung pada pembahasan tentang Renata.


"Terus kenapa? kamu pasti cemburu ya karena aku sering pergi bersama Renata. Oh, sekarang aku tahu, pasti kamu sering nunggu aku pulang ya," tebak Benny seraya menatap Fina dengan tatapan yang menggoda, "cie ... cie ... ada cemburu tapi gengsi mengakui," goda Benny hingga membuat Fina membuang muka ke arah lain.


Entah mengapa setiap Benny menuduh jika dirinya sedang cemburu, Fina selalu berubah menjadi gugup. Ada getaran aneh yang terasa dalam hatinya. Kalau sudah begini, Fina seperti kehilangan arah pembicaraan. Tidak ada pilihan selain menjauh dari sisi pria tampan itu.


"El, bagaimana kalau kita beli jajan di luar? Sepertinya tadi Mbak lihat ada orang jualan jajan kesukaannya Elza." Fina menemukan cara untuk kabur dari sisi Benny.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Suara adzan ashar baru saja selesai berkumandang. Matahari sudah berada di cakrawala barat, mencari momen tepat untuk kembali ke peraduan. Perlahan siluet jingga mulai terlukis di sekitar bola raksasa yang sedang memancarkan kilaunya.


Suara dengkuran halus terdengar dari seorang pria yang sedang tertidur pulas di kursi ruang tamu. Pria itu sepertinya sedang merasakan lelah hingga tak menghiraukan suara berisik yang ada di sekitarnya. Beberapa kali suara teriakan Elza terdengar di sana saat bermain dengan anak tetangga Badiah.


"Mbak Fina, ayo lihat kerbau!" ajak Elza dengan suara yang lantang.


"Sssst! Jangan berisik, nanti Papa bangun." Fina mendesis pelan seraya menunjuk ruang tamu yang tertutup.


"Emmm ... mending kita berangkat sekarang yuk!" Fina mencoba mengalihkan Elza dari pertanyaan yang sulit itu.


"Ayo Sandi, Dian, kita lihat kerbau di rumahnya pak Aksin!" ajak Fina pada dua bocah seusia Elza yang bermain di teras rumahnya.


Mereka berjalan menuju kandang yang ada di ujung gang. Kandang berisikan dua ekor kerbau milik salah satu tetangga Fina yang sengaja diternak. Setiap ikut Fina pulang kampung, Elza selalu datang ke tempat ini. Entah apa yang membuat bocah kecil itu tertarik dengan hewan berwarna abu-abu gelap itu.


"Pulang yuk! Udah mau magrib nih," ajak Fina setelah cukup lama berada di sana. Siluet jingga semakin terlihat jelas di cakrawala barat, pertanda tak lama lagi sang mentari akan kembali ke peraduan.


Setelah berjalan kaki beberapa puluh meter dari kandang kerbau, pada akhirnya mereka sampai di halaman rumah Badiah. Kedua anak tetangga yang menemani Elza bermain, pamit pulang karena harus pergi ke masjid.

__ADS_1


"Loh masih tidur aja ini orang! Kebo banget ternyata," gumam Fina setelah masuk ke dalam ruang tamu dan masih melihat Benny yang sedang terlelap.


"Fin, Pak Ben gak dibangunin dulu? Gak baik loh kalau sebelum magrib tidur begini. Coba bangunin dulu deh, Fin." Badiah berbisik kepada Fina. Wanita paruh baya itu merasa tidak enak hati setelah melihat gurat kelelahan di wajah majikan putrinya itu, "Ibu tinggal ke masjid dulu," pamit Badiah sebelum keluar dari ruang tamu.


"Aku mau ikut Ibu boleh?" tanya Elza seraya menatap Badiah penuh harap.


"Boleh dong. Ganti pakai celana dulu sama Mbak Fina ya," ucap Badiah dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Fina tidak bisa ikut ke masjid karena sedang kedatangan tamu bulanan.


Setelah Fina mengganti pakaian yang lebih rapi, Elza pergi ke masjid bersama Badiah. Ada rasa haru yang hadir dalam diri karena perlahan Elza mulai mengenal tentang agama. Senyum manis itu seketika pudar ketika pandangan matanya beralih pada sosok yang terlelap di ruang tamu.


"Anaknya udah pergi ke masjid, bapaknya masih tidur aja. Apa telinganya gak dengar suara kenceng toa masjid itu!" gerutu Fina saat berjalan menghampiri tempat Benny berada.


"Pak, Pak Ben! Udah magrib, Pak!" ujar Fina dengan suara yang lantang, "Pak Benny!" ujarnya lagi dnegan suara yang lebih lantang.


Kelopak mata itu perlahan terbuka setelah mendengar suara lantang Fina. Benny segera mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, terlihat jelas jika duda tampan itu masih bingung dengan keadaan di sekitarnya.


"Elza di mana, Fin?" tanya Benny karena tidak mendengarkan suara putranya.


"Ke masjid sama ibuk," jawab singkat Fina, "Pak Ben jadi nginep di hotel mana?" tanya Fina.


Tadi siang setelah pulang dari Jombang, Badiah meminta izin kepada Benny untuk membiarkan Fina menginap selama satu malam. Wanita paruh baya itu mengatakan jika ingin melepas rindu bersama putri sulungnya. Tanpa berpikir panjang, Benny mengabulkan permintaan itu. Dia mengatakan jika akan bermalam di hotel.


"Pengennya sih aku nginep di sini aja!" kelakar Benny hingga membuat mata indah Fina terbelalak sempurna, "Iya, iya! Aku nginep di hotel. Nanti lah aku nyari hotel yang cukup bagus di pusat kota," ucap Benny setelah melihat tatapan tak suka dari gadis berhijab itu.


Fina beranjak dari tempatnya karena jika masih tetap di sana, maka Benny akan semakin ngelantur. Menjauh lebih baik daripada harus kesal karena ulah jahil duda satu anak itu. Namun, baru saja Fina sampai di pintu tengah, Benny berhasil menghentikan langkahnya karena sebuah tawaran konyol.


"Kamu mau ikut nginep di hotel gak?"

__ADS_1


...🌹To Be Continue 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2