Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kekhawatiran Aris,


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian,


"El, jangan lupa jika di KEJURNAS nanti, tendangan cobra nya dipakai ya," ucap Aris seusai latihan khusus bersama Elza, "pokoknya Elza gak boleh kehilangan fokus agar bisa melihat gerakan lawan. Hati-hati terhadap gerakan tipuan," tutur Aris seraya mengembangkan senyumnya.


"Siap, Kang Aris!" ujar Elza dengan antusias.


Latihan hampir setiap hari dilaksanakan karena sebentar lagi kompetisi antar pedepokan Pagar Bangsa akan digelar. Elza benar-benar disiapkan untuk mewakili Pagar Bangsa Surabaya karena dia berhasil melewati beberapa seleksi bersama anggota yang lain.


"Sekarang Elza boleh istirahat." Aris mengembangkan senyumnya ke arah Elza.


"Bagaimana, Kang? Apakah fisiknya sudah cukup untuk bertarung di KEJURNAS nanti?" tanya Fina setelah melihat latihan selesai. Dia menghampiri Aris yang sedang duduk bersama Elza dan beberapa anak lainnya di teras.


"Kondisi fisiknya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia pasti mampu menghadapi lawan nanti. Oh ya, jangan lupa jaga asupan gizi dan waktu istirahatnya agar tetap seimbang," ucap Aris setelah minum air mineral yang disediakan oleh Benny setiap ada latihan di rumahnya.


Obrolan pun terjadi di sana. Aris terlihat serius saat berbicara dengan Fina. Mereka sedang membahas masalah kompetisi dan beberapa hal mengenai Pagar Bangsa. Sesekali Aris tersenyum ketika menatap wajah gadis pujaannya itu. Hingga pada akhirnya ada mobil Xpander masuk ke halaman dan langsung masuk ke garasi. Tidak lama setelah itu, Benny muncul dari pintu garasi. Dia membawa dua kantong kresek putih di tangannya.


"Assalamualaikum," ucap Benny setelah sampai di teras rumah.


"Waalaikumsalam," jawab serentak semua orang yang ada di sana.


"Fin, ini ada nasi goreng untuk anak-anak. Silahkan dimakan," ucap Benny sambil menyerahkan kantong kresek berwarna putih kepada Fina, "ini ada barang untuk kamu, aku simpan di meja yang ada di ruang keluarga ya," ucap Benny sambil menunjukkan satu kresek putih yang ada di tangannya.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab Fina seraya mengembangkan senyumnya.


Sebelum pergi dari sana, Benny menatap sekilas ke arah putranya. Sepertinya Benny sedang memberi kode untuk putranya agar mengawasi gerak-gerik Aris. Lantas, dia segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, karena seharian ini dia berada di industri miliknya. Ada banyak pekerjaan yang membutuhkan dirinya.

__ADS_1


"Monggo dimakan dulu nasi gorengnya. Sendoknya ada di dalam," ucap Fina setelah membuka bungkus nasi goreng tersebut, "silahkan dimakan, Kang. Jangan bengong saja." Fina mengembangkan senyumnya setelah melihat Aris termenung sambil menatap nasi goreng yang ada di tangannya.


"Aku mau disuapin Mbak Fina aja," ujar Elza setelah melihat interaksi Fina dan Aris. Sepertinya bocah kecil itu tidak suka melihat kedekatan pengasuh idaman ayahnya tersenyum manis kepada Aris.


"Ya sudah sini, biar Mbak suapin." Fina meletakkan makanannya dan beralih membawa makanan Elza. Dia begitu telaten mengurus segalanya tentang Elza.


Sementara itu, pemuda yang duduk berhadapan dengan Fina itu hanya diam saja. Sesekali dia mengamati interaksi Fina dan Elza. Terlihat jelas dari sikap yang ditunjukkan, jika Fina sangat menyayangi Elza. Sorot mata gadis cantik itu tidak bisa dibohongi lagi. Hingga beberapa puluh menit lamanya akhirnya semua selesai menikmati nasi goreng pemberian dari Benny.


"Fin," gumam Aris setelah melihat gadis di hadapannya selesai makan.


"Iya, Kang. Ada apa?" tanya Fina sambil membuka tutup botol air mineralnya.


"Apa kamu tidak merasa, jika pak Benny memiliki perasaan kepadamu? Sebagai sesama pria, aku tahu jika beliau sedang berusaha mendekatimu," tanya Aris dengan suara yang lirih.


"Mungkin itu hanya alasan beliau agar kamu tetap kerja di sini, padahal ada sesuatu yang diinginkan darimu," sanggah Aris setelah mendengar penjelasan Fina.


"Tidak, Kang. Memang apalagi yang diharapkan dari saya?" Fina masih tetap pada pendiriannya.


"Ya, mungkin saja beliau ingin menjadikan kamu istrinya. Secara beliau kan duda, tidak mungkin lah beliau tidak memiliki perasaan kepada kamu, mengingat kamu sudah bekerja di rumah ini selama beberapa tahun," jelas Aris dengan sorot mata penuh kekhawatiran.


"Kang Aris jangan berpikir buruk. Pak Ben gak pernah mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya harus merasa khawatir. Niat saya di sini itu kerja, Kang. Lagi pula status sosial kami itu berbeda. Seleranya pak Ben itu tinggi, bukan gadis desa dan bau kencur seperti saya, Kang," tutur Fina hingga membuat Aris mengela napasnya.


Pembicaraan mereka tak luput dari pendengaran Elza. Meski bocah kecil itu sibuk dengan gadgetnya, tetapi dia mendengarkan semua pembicaraan di antara Fina dan Aris. Dia melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh ayahnya, mengawasi setiap apa yang dilakukan kedua anak muda itu.


"Kenapa kamu terlalu polos sih, Fin! Sudah jelas jika pak Benny ada rasa denganmu, tetapi kenapa kamu tidak menyadari hal itu!" ujar Aris dalam hatinya. Semakin hari dia merasa ketar-ketir karena takut kalah bersaing dengan Benny.

__ADS_1


"Fin, Beberapa bulan lagi aku sudah memasuki tesis. Aku harap kamu sabar menungguku sampai lulus S2," ucap Aris dengan sorot mata penuh harap.


"Semoga semuanya lancar ya, Kang. Saya akan tetap seperti ini. Mari kita berdoa agar jalan kita menuju hubungan yang halal dimudahkan oleh Allah. Kang Aris fokus kuliah, saya juga fokus kerja untuk membiayai kuliah adik saya," jawab Fina dengan tutur kata yang terdengar lembut dan menenangkan.


"Aku berharap kita bisa menikah dan hidup bahagia, Fin," ucap Aris dengan diiringi senyum manis.


"Apa? Menikah?" Elza menyela pembicaraan itu setelah mendengar Aris mengungkapkan harapannya.


"Iya, menikah. Boleh ya Kang Aris menikah sama Mbak Fina?" tanya Aris kepada Elza.


"Tidak! Mbak Fina hanya milikku. Nanti kalau menikah pasti Mbak Fina akan meninggalkan aku dan pergi bersama Kang Aris," sergah Elza dengan tegas.


"Memangnya Elza tahu bagaimana orang menikah?" tanya Fina penasaran.


"Tahu lah! Aku kan pernah diajak Papa datang melihat pengantin. Aku juga tahu karena melihat foto papa dan mama waktu menikah," ucap Elza dengan hati-hati agar tidak membuka rahasia misi bersama ayahnya, "pokoknya Mbak Fina gak boleh menikah sama kang Aris!" ujar bocah kecil itu.


Aris hanya mengulum senyum mendengar larangan Elza. Dia sama sekali tidak curiga jika Elza adalah bagian dari misi ayahnya. Aris hanya berpikir jika sikap yang ditunjukkan adalah hal wajar yang dilakukan anak-anak, mengingat Fina sudah merawat Elza dengan curahan kasih sayang yang begitu besar. Sementara Fina sendiri mulai curiga dengan sikap yang ditunjukkan oleh Elza. Sepertinya ada sesuatu yang ditutupi anak asuhnya itu.


"Sepertinya pak Benny sudah mengajarkan sesuatu yang tidak beres kepada Elza!" batin Fina sambil mengamati Elza.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Mohon maaf ya kemarin gak up🤭Othor tahun baruan😂merefresh otak biar menghayalnya makin lancar😂...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2