Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Keresahan Hati,


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-Qur'an, doa-doa serta mauidoh khasanah yang dilantunkan oleh ustadz yang ada di desa Fina terdengar menenangkan hati. Acara syukuran yang digelar Benny di kediaman mertuanya berjalan lancar meski acara tersebut diselenggarakan secara mendadak. Acara berjalan dengan khidmat hingga pak ustadz membacakan doa sebagai penutup. Tak lama setelah itu, semua tamu undangan mulai menikmati hidangan yang sudah disajikan di sana, termasuk menikmati rawon spesial buatan Badiah.


"Pak Benny, terima kasih atas undangan dan semua jamuannya. Semoga Bapak selalu dilindungi Allah dari segala macam bahaya dan musibah. Semoga rezeki Bapak semakin lancar," ucap ustadz tersebut saat berdiri dari tempatnya dan bersalaman dengan Benny. Semua tamu undangan pun sudah pamit pulang beberapa menit yang lalu.


"Terima kasih atas doanya, Pak Ustadz. Kami mohon maaf apabila sambutan dan perjamuan dari kami kurang berkenan di hati Bapak." Benny menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk sopan santun kepada tokoh agama tersebut.


Setelah mengantar ustadz tersebut hingga di teras rumah, Benny bergegas masuk untuk bergabung dengan saudara yang masih ada di sana. Mereka bercengkrama dan membahas banyak hal. Mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah lingkungan. Tidak akan ada habisnya jika bapak-bapak sudah berkumpul menjadi satu.


Sementara itu di dalam kamar, Nisa merasa resah karena hingga saat ini, pemuda yang sangat dicintainya tak kunjung datang. Nomornya pun tidak bisa dihubungi. Nisa benar-benar khawatir Johan tidak bisa datang menemui ibunya. Mengingat, ketika kemarin di hubungi Nisa mengenai permintaan Badiah, pemuda asal Jakarta itu tidak bisa menyanggupi datang karena sedang ada tugas dari atasan. Johan hanya mengatakan jika akan mengusahakan, apabila semua tugasnya selesai.


"Duh, bagaimana ini? Kalau sampai dia gak datang, alamat gak dapat restu nih," gerutu Nisa sambil mondar-mandir di kamarnya.


"Belum bisa dihubungi, Nis?" tanya Fina saat masuk ke dalam kamar Nisa bersama Shazia.


"Belum, Mbak. Nomornya belum aktif," jawab Nisa dengan gelisah.


"Sabar dan terus berdoa. Kalau memang dia jodohmu pasti nanti akan datang kok," tutur Fina agar Nisa tak semakin gelisah, "Ibu kalau udah punya kemauan memang begitu. Aku dulu juga mengalami hal yang sama, bedanya aku cuma bingung di antara dua pilihan saja, bukan perkara restu," jelas Fina sambil menimang Shazia. Balita lima bulan itu sepertinya sudah mengantuk.


"Mbak, kalau Johan gak datang bagaimana ini?" Nisa bertanya kepada Fina dengan wajah yang memerah karena menahan tangis. Jujur saja, dia merasa sedih saat ini.


"Tenang dulu," gumam Fina sambil menepuk bahu adiknya.


Fina mencoba menenangkan adiknya agar tidak panik menghadapi situasi seperti ini. Mereka berdua mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal lain. Hingga akhirnya Shazia terlelap di atas pangkuan Fina.


"Sekarang sudah jam delapan loh, Nis. Mana? Dia gak datang 'kan? Berarti dia gak serius sama kamu!" Tiba-tiba saja Badiah masuk ke dalam kamar dan mengatakan hal itu kepada Nisa.

__ADS_1


"Bu, dia pasti datang kok! Lagi pula Ibu ini bagaimana, jarak Jakarta-Mojokerto itu jauh, Bu. Mbok ya dikasih dispensasi, maksimal besok pagi misalnya," protes Nisa dengan wajah yang tertekuk.


"Kalau orang beneran serius, pasti bisa lah. Apalagi, dia seorang prajurit! Pasti cepat dalam bergerak. Ibu ingin tahu seberapa serius dia kepada anak Ibu. Seharusnya dia malu kalau sampai tidak bisa menjalankan misi kecil ini, malu sama Bapakmu!" ujar Badiah dengan ketus.


Sementara Nisa dan Fina hanya bisa melongo setelah mendengar ucapan ibunya. Sungguh, Badiah sangat berbeda dari biasanya. Sikap yang ditunjukkan pun tegas dan tidak bisa dibantah.


"Nis, memangnya jadi ibu persit harus seperti itu ya?" tanya Fina dengan pandangan lurus ke depan.


"Entahlah, Mbak. Aku juga tidak tahu," jawab Nisa dengan suara lirih.


"Kalau kamu jadi nikah sama Johan jangan seperti itu ya, Nis. Anakmu bisa shock nanti," gumam Fina lagi.


"Harapanku semakin pupus, Mbak. Dia tak kunjung datang padahal udah malam begini." Suara Nisa bergetar karena menahan tangis.


"Hei! Jangan pesimis!" Fina masih bersemangat karena dia yakin jika Ardi pasti datang, "sekarang masih jam delapan malam. Masih kurang empat jam lagi, Nis." Ibu dua anak itu tak henti memberikan semangat kepada adiknya.


Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Satu persatu saudara mulai pamit pulang. Kini, hanya menyisakan keluarga inti saja di ruang tamu. Nisa terlihat sangat resah karena saat ini sudah jam setengah sebelas malam, tetapi belum ada kabar apapun dari Johan.


"Sebaiknya kita semua istirahat saja. Sepertinya yang diharapkan Nisa tidak akan datang ke sini." Badiah menginteruksi anak dan menantunya. Sejak tadi sikapnya sangat tenang.


"Ibu saja dulu yang datang, Aku belum ngantuk," jawab Fina seraya menatap ibunya dengan senyum manis.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, Fin. Kasihan anak dan suamimu," tutur Badiah.


"Saya belum ngantuk kok, Bu. Kami sudah terbiasa tidur tengah malam," sahut Benny. Dia pun harus berusaha membantu Nisa.

__ADS_1


Keadaan ruang tamu terasa hening karena tidak ada pembahasan lagi di antara mereka. Nisa tak henti berdoa agar apa yang dia inginkan tercapai. Dia terus menyebut nama Johan dalam setiap doa yang diucapkan, agar pemuda itu diberikan keselamatan hingga sampai di sini.


"Nis, tutup pintunya!" titah Badiah setelah melihat penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas malam, "ayo kita istirahat!" Sepertinya perintah wanita paruh baya itu tidak bisa dielak lagi.


"Bu," gumam Nisa dengan sorot mata penuh harap.


"Tutup!" tegas Badiah dengan tatapan tajamnya.


Mau tidak mau Nisa akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata karena melihat sikap keras yang ditunjukkan oleh Badiah. Setelah pintu rumah tertutup rapat, semua yang ada di ruang tamu beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan menuju ruang keluarga dan tak lupa menekan tombol sakelar lampu ruang tamu.


Namun, langkah Nisa harus terhenti di ambang pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu ketika mendengar suara deru motor berhenti di depan rumah.


"Bu, ada yang datang!" teriak Nisa hingga membuat semua orang kembali keluar dari kamar.


"Ngaco kamu!" sahut Badiah.


Tok ... tok ... tok ... tok ...


Nisa membalikkan badan setelah mendengar suara ketukan pintu berulang kali. Dia segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Gadis itu sangat bersemangat karena dia yakin jika yang sedang berdiri di balik pintu adalah pria yang sejak tadi diharapakan kehadirannya.


"Akhirnya kamu datang!" ujar Nisa setelah pintu terbuka lebar dan melihat Johan berdiri di sana dengan senyum yang dipaksakan.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...


...Mohon maaf karena baru bisa update, othor lagi full kegiatan dua hari kemarin๐Ÿ˜Ž...

__ADS_1


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2