Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tukar Cincin


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,


Bunga asmara bermekar indah di hati seorang gadis yang sedang duduk di depan meja rias. Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibirnya, seakan tidak pernah pudar dari wajah cantik itu. Gerakan tangannya sangat pelan saat menyisir rambutnya yang masih basah. Dia bersenandung karena sedang diselimuti rasa suka cita karena cinta.


"Duh gak nyangka banget kalau besok udah lamaran aja. Gak kebayang deh bagaimana rasanya," gumam Nisa dengan diiringi senyum yang sangat manis. Dia merasa bahagia karena pada akhirnya Johan menepati janjinya.


Rasa rindu mulai hadir dalam diri gadis cantik itu, padahal satu minggu yang lalu Johan datang menemuinya. Mereka berburu seserahan untuk lamaran di hari esok. Selama satu hari penuh mereka menghabiskan waktu bersama untuk melepas rasa rindu yang menggebu.


"Kok bisa gitu aku berjodoh dengan dia? Padahal dulu ngeselin banget itu orang. Akan tetapi sekarang aku maunya dekat terus sama dia. Astagfirullah haladzim," gumam Nisa sambil memoles wajahnya dengan bedak.


Para saudara sudah berkumpul sejak tadi pagi untuk membantu Badiah mempersiapkan acara besok pagi. Fina pun sudah di sini bersama anak dan suaminya. Tentu semua biaya lamaran ini ditanggung oleh Benny.


"Nis, kalau kamu udah selesai tolong ajak Shazia ya! Aku mau bantu Ibu," ucap Fina setelah masuk ke dalam kamar adiknya. Dia tidak bisa membantu apapun karena harus menjaga Shazia. Balita menggemaskan itu mulai aktif merangkak ke sana sini dan meraih barang-barang yang ada di hadapannya.


"Ya sudah turunkan di kasur situ aja, Mbak. Habis ini aku selesai kok. Tinggal ganti baju," jawab Nisa.


"Iya, terus dia bisa terjun tuh dari atas tempat tidur nih! Kayak gak tahu aja bagaimana tingkahnya" ujar Fina seraya duduk di tepian ranjang bersama Shazia.


"Amma ... Ma ... Ma," celoteh Shazia seraya menatap Fina.


"Setelah ini ikut Tante Nisa, Oke! Zia main sama Tante dulu ya, Mama mau bantu Mbah Bad." Fina menatap putrinya dengan senyum penuh arti.


Tak lama setelah itu, Shazia telah berpindah tangan kepada Nisa. Gadis cantik itu membawa Shazia keluar dari rumah. Mungkin saja Nisa membawa keponakannya itu bermain ke rumah tetangga.


Sementara Fina langsung pergi ke ruang keluarga dan bergabung bersama Badiah dan yang lain. Mereka sedang menata beberapa kue yang akan dipakai sebagai berkatan untuk keluarga dari Jakarta. Tidak banyak yang ikut serta melamar ke Mojokerto, mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh.

__ADS_1


"Fin, Ibu besok harus dandan juga kah?" tanya Badiah seraya menatap Fina.


"Ya iyalah, Bu. Masa iya ketemu calon besan gak pakai dandan. Malu dong," ujar Fina seraya menatap Badiah dengan lekat.


Para saudara yang ada di sana pun ikut memberikan saran kepada Badiah. Tentu mereka mau yang terbaik untuk pelaksanaan lamaran besok pagi. Mereka sangat antusias membantu setelah tahu jika calon suami Nisa adalah seorang tentara. Para saudara Badiah ikut bahagia karena kedua keponakannya memiliki suami yang bisa mengangkat derajat mereka.


Terkadang harta dan profesi bisa membuat seseorang yang awalnya tidak suka kepada kita menjadi suka dan tentunya berubah menjadi baik seperti ibu peri.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Malam telah berlalu setelah berada di persimpangan waktu. Rumah sederhana Badiah sudah dipenuhi beberapa saudara dan tetangga dekat yang diundang untuk menyambut kedatangan tamu dari Jakarta. Backdrop mewah pun telah terpasang di ruang tamu untuk dipakai acara tunangan nanti.


"Ya ampun Mbak, aku kok nervous gini ya," bisik Nisa dengan helaan napas yang berat.


"Katanya udah keluar gerbang tol Mojokerto. Mungkin sekarang sudah sampai di kota," jelas Nisa sambil menatap Fina. Gadis cantik itu terlihat sangat gelisah.


Pagi ini Nisa terlihat cantik dan anggun meskipun tanpa melepas hijabnya. Dia memakai kebaya modern yang dipadukan dengan kain songket yang terkesan elegan itu. Tubuhnya yang ramping terlihat indah karena kebaya pres body tersebut.


"Nis, siap-siap. Tamunya sudah datang," ucap Badiah saat masuk ke dalam kamar putrinya untuk memberi tahu jika Johan dan keluarganya sudah tiba.


Tentu saja hal ini semakin membuat Nisa gelisah. Rasa malu, gugup dan bahagia membaur menjadi satu dalam diri gadis cantik itu. Badiah sendiri sudah keluar bersama Fina untuk menyambut kedatangan tamu dari jauh itu. Ada tujuh mobil mewah yang ikut serta dalam acara tunangan ini. Mereka hanya beberapa keluarga inti dan rekan dari Wiratama dan istrinya.


"Assalamualaikum," ucap serempak tamu yang tiba di halaman rumah.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh," sambut pihak keluarga Badiah dengan suka cita.

__ADS_1


Dalam acara sakral itu, Johan tampil menawan dengan memakai batik senada dengan pakaian Nisa. Tubuh atletisnya semakin menunjang penampilannya pagi ini. Wajahnya yang manis terlihat berseri-seri. Sorot matanya menandakan sebuah kebahagiaan yang sangat besar.


Semua tamu dari Jakarta duduk di ruang tamu dan ada juga yang duduk di teras. Sementara Badiah dan Rahayu duduk bersanding. Mereka berdua tersenyum ceria ketika acara tersebut dimulai oleh MC yang bertugas. Nisa sendiri masih berada di dalam ruang keluarga, karena menurut adat di kampung tersebut, mempelai wanita akan keluar jika acara telah dimulai.


"Silahkan Mbak Nisa diajak bergabung di sini agar calon mertuanya tahu bagaimana kecantikan calon menantunya," ucap MC yang bertugas.


Tak lama setelah itu, Nisa pun keluar bersama Fina. Dia bersalaman dengan tamu undangan yang ada di ruang tamu. Penampilannya pagi ini berhasil membuat Johan terkesima. Pemuda asal Jakarta itu sampai tak berkedip hingga Nisa duduk bersebelahan dengannya.


"Cantik," gumam Johan dengan suara yang sangat lirih dan mungkin hanya Nisa yang bisa mendengarnya.


Jelas saja pujian itu berhasil membuat pipi Nisa semakin bersemu merah. Dia menundukkan kepala sambil mendengarkan setiap ucapan MC ataupun sambutan dari perwakilan kedua keluarga. Dia semakin gugup ketika saat yang mendebarkan tiba. Dia mendengar sendiri Wiratama berbicara langsung kepada Badiah untuk meminang dirinya sebagai istri Johan. Acara tukar cincin pun akhirnya dimulai setelah Badiah menerima lamaran tersebut.


"Kepada Mbak Nisa dan Mas Johan silahkan berdiri di depan. Acara tukar cincin akan dimulai," ucap MC tersebut hingga membuat semua orang berdiri dari tempatnya.


Alunan sholawat nabi mengiringi prosesi tersebut. Nisa sendiri ingin menangis karena terharu. Dia teringat tentang mendiang ayahnya di saat seperti ini. Setelah acara tukar cincin berlangsung, Johan kembali membuka kotak bludru yang lain. Dia mengambil kalung emas dari kotak tersebut dan memasangkannya di leher Nisa.


"Dengan berlangsungnya tukar cincin yang disaksikan semua tamu yang hadir, maka ... kedua mempelai dinyatakan resmi menjadi sepasang calon suami istri ...." Ada banyak hal yang disampaikan oleh MC tersebut setelah penyematan cincin pertunangan.


Pada akhirnya, kedua insan yang memiliki rasa dan tujuan yang sama telah bersatu dalam ikatan resmi. Mereka harus bersabar menunggu dua tahun lagi untuk meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan. Bukankah bersabar demi tercapainya kebahagiaan memang dibutuhkan?


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...


...Selamat ya Nisa dan Johan, akhirnya kalian resmi jadi tunangan๐Ÿ˜Ž...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2