
Ceklak.
Fina mengusap sisa air mata yang membasahi pipi setelah pintu kamar terbuka. Dia mengubah posisi duduk bersandar di headboard ranjang agar lebih nyaman saat menceritakan semua masalah yang terjadi. Sesekali dia mengusap perut yang mulai membuncit itu.
"Bagaimana? Sudah tenang atau masih ingin menangis?" tanya Benny setelah duduk di tepian ranjang. Dia mengusap paha kanan Fina beberapa kali agar lebih tenang dan nyaman.
Wanita berbadan dua itu tak segera menjawab. Beberapa kali dia mengatur napas agar rasa sesak di dada segera hilang. Tak lupa dia pun mengusap air mata yang tersisa di pelupuk mata.
"Mas ada masalah apa sih sama Dita kok ya sampai gak ngasih dia uang jajan lagi?" tanya Fina langsung pada intinya.
Benny memicingkan mata setelah mendengar pertanyaan dari Fina. Kini, dia mulai paham masalah apa yang membuat istrinya menangis. Pasti banyak hal yang sudah diucapkan ibunya. Bukan tanpa sebab Benny berpikir seperti itu, dia tahu betul bagaimana sifat ibu dan adiknya.
"Apa saja yang sudah dikatakan ibu kepadamu?" tanya Benny dengan tatapan yang tak lepas dari wajah istrinya.
"Tidak ada. Ibu hanya bicara mengenai Dita," jawab Fina singkat. Dia tidak mau menceritakan semua yang diucapkan Ani kepadanya.
Tatapan mata pria tampan itu tak lepas dari bola mata yang sedang bergerak ke kiri dan ke kanan. Benny tahu jika saat ini istrinya masih berbohong. Tentu dia tidak suka menghadapi keadaan seperti ini karena bisa memicu kesalahpahaman.
"Apa perlu aku datang menemui ibu saat ini juga?" tegas Benny hingga membuat Fina terbelalak.
"Jangan!" cegahnya seraya meraih tangan Benny dan digenggamnya dengan erat, "nanti ibu bisa semakin marah ke aku kalau Mas kesana," jelas Fina dengan mata yang berembun.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu coba jelaskan ke aku, apa saja yang sudah dikatakan ibu!" desak Benny tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
Tidak ada pilihan lain selain jujur mengenai masalah ini. Pada akhirnya Fina menceritakan semuanya pembicaraan bersama mertuanya beberapa jam yang lalu. Tak ada yang dikurangi ataupun ditambah. Semua diceritakan sebagaimana mestinya.
"Aku tuh bingung, Mas. Kenapa sepertinya aku disalahkan dalam hal ini. Mas tahu sendiri 'kan jika aku tidak pernah ikut campur masalah ekonomi kita. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, mengingat kita pun tidak pernah membahas masalah keuangan ataupun kebutuhan rumah tangga kita. Aku hanya menerima semua yang sudah Mas atur," jelas Fina dengan mata yang mulai berembun.
Benny hanya bisa menghela napas mendengar keluh kesah istrinya. Ternyata, semua yang ada di kepalanya tidak selalu benar dan tepat. Dia pun merasa bersalah karena secara tidak langsung ibu dan adiknya telah menyudutkan Fina dalam masalah ini.
"Aku minta maaf karena sudah menjadi pemicu kemarahan ibu kepada kamu. Asal kamu tahu, Sayang. Aku melakukan semua ini bukan tanpa alasan atau sekadar ingin menguasai semuanya sendiri."
"Hidup menjadi seorang duda selama beberapa tahun membuatku terbiasa mengatur keuangan secara mandiri. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua pendapatanku dari kamu. Dalam pikiran, aku hanya ingin kamu menjalani hari-hari menjadi istriku tanpa harus pusing memikirkan kebutuhan rumah tangga. Aku hanya ingin kamu enjoy dan nyaman menikmati segala yang aku berikan. Sungguh, aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya dari kamu."
"Bukan itu maksudku, Mas. Aku tidak mempermasalahkan persoalan keuangan kita. Justru aku sangat berterima kasih kepada Mas karena sudah menempatkan aku di surganya rumah tangga. Aku tidak menuntut apapun dari Mas. Akan tetapi ada satu hal yang aku minta ... tolong bicara sama aku kalau memang keluarga kita sedang ada masalah, biar aku tidak terlihat bodoh karena tidak tahu apa-apa."
"Terkadang apa yang menurut kita baik dan benar, belum tentu seperti itu di mata orang lain, Mas. Kita itu suami istri, apapun yang terjadi, seharusnya kita berdua tahu agar bisa menghadapinya bersama. Tolong setelah ini Mas jangan menyimpan semuanya sendiri, aku pun ingin diajak bicara."
Fina merasa lega setelah menyampaikan segala kerisauan yang menyesakkan dada. Wanita berbadan dua itu kembali menangis setelah Benny mendekap tubuhnya dengan erat.
"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf. Setelah ini aku akan mencoba saran darimu," ucap Benny sambil mengusap punggung yang tertutup rambut hitam itu.
Fina mengurai tubuh dari dekapan hangat suaminya. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi dan setelah itu kembali duduk bersandar di headboard ranjang, "lalu bagaimana dengan urusan Dita? Bahkan, aku tidak tahu tentang masalah ini, Mas!" Fina menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Biarkan saja! Selagi Dita tidak datang menemui ku dan bicara sendiri, aku tidak akan memberikan uang jajannya seperti dulu. Aku sedang memberinya pelajaran agar tidak semena-mena dengan Elza," jawab Benny dengan tegas.
"Mas tidak boleh seperti itu. Mas harus memikirkan perasaan Ibu dan posisiku. Masa iya aku harus disalahkan lagi karena masalah beberapa bulan yang lalu!" protes Fina dengan tatapan tajamnya.
"Sayang. Aku ini saudara tua, kakaknya Dita. Kalau memang Dita merasa butuh ke aku, ya dia dong yang harusnya datang. Kenapa harus ibu yang disuruh kemari. Lagi pula Dita tidak akan kekurangan uang karena gaji suaminya juga besar kok. Dani itu HRD di perusahaan yang ada di Rungkut. Jadi, untuk kebutuhan pasti Dita gak kekurangan. Orang Bapak dan Ibu aku jatah sendiri," jelas Benny sambil memijat kaki Fina untuk memberikan kenyamanan lebih.
"Tapi kata ibu, Dita kelabakan harus mencari uang buat bayar angsuran mobil karena gak Mas kasih uang." Fina masih kukuh pada pendiriannya.
"Itu salahnya sendiri. Aku memberikan uang jajan bukan untuk membayar angsuran. Akan tetapi untuk tabungan, barangkali suatu saat dia kepepet dan sedang terhimpit masalah ekonomi. Kalau uang yang aku berikan dipakai untuk kemewahan, itu bukan urusanku."
Sepertinya benar dengan yang dikatakan oleh Ani, jika Benny orang yang keras kepala. Bahkan, Fina sendiri tidak bisa meluluhkan hati suaminya itu agar berdamai dengan Dita. Wanita berbadan dua itu hanya diam saja karena tidak tahu harus bagaimana menanggapi pendapat suaminya.
"Sudahlah, lebih baik kamu tidak perlu memikirkan masalah ini. Kamu harus belajar cuek menghadapi segala sesuatu yang bisa membuat rumah tangga kita goyah. Sekarang yang paling penting itu, aku, Elza dan kamu bisa hidup bahagia dan rukun. Jangan terlalu memikirkan omongan orang lain meski itu omongan dari ibu."
"Bukan berarti aku mengajarkan perbuatan buruk dan menentang orang tua. Maksudku begini ... selagi semua nasihat itu baik, mari kita pakai untuk memperbaiki rumah tangga kita, tetapi jika nasihat itu hanya cibiran dan tidak bermanfaat untuk kita, ya sudah lupakan. Jangan menangisi sesuatu yang tidak terlalu penting. Aku harap masalah Dita tidak menjadi beban pikiranmu, karena kamu pun harus ingat ... ada si utun yang harus dijaga," tutur Benny sambil mengusap perut sang istri.
Hanya helaan napas berat yang berhembus dari wanita cantik itu setelah mendengar semua penuturan panjang suaminya. Fina hanya bisa diam sambil memikirkan jalan keluar yang tepat atas permasalahan di antara suami dan adik iparnya.
"Mas Benny kenapa enteng banget saat menanggapi masalah ini! Tapi ada benarnya juga sih semua ucapannya. Aku jadi heran, kenapa dia bisa berubah sok bijak begitu ya? Apa mungkin dia habis kesambet hantu di sekolahannya Elza ya," gerutu Fina dalam hatinya dengan tatapan yang tak lepas dari wajah tampan itu.
...🌹To Be Continued 🌹...
__ADS_1