
"Ibu cerita saja ke Fina, apa yang membuat ibu tertekan," ucap Fina setelah mendengar ucapan ibunya.
Degup jantung Badiah semakin tak beraturan setelah mendengar tutur kata putrinya. Dia takut, bingung dan sedih apabila Fina sampai tahu masalah ini. Tentu Badiah pun merasa sungkan jika Benny mendengar masalah ini. Wanita paruh baya itu takut semua masalah yang sedang dihadapinya akan berimbas pada rumah tangga yang baru saja diterjang badai itu.
"Uang Ibu habis, Fin. Tak hanya itu, modal dagangan pun habis sampai banyak barang dagangan yang kosong. Ibu bingung harus mencari uang ke mana lagi. Terus Ibu juga takut sama suamimu, mengingat semua modal adalah pemberian suamimu," jelas Badiah dengan suara yang lirih karena takut didengar oleh Benny.
Tentu Fina terkejut setelah mendengar hal ini, dia tidak percaya jika Badiah sampai menghabiskan uang tabungannya begitu saja, apalagi sampai uang dagangan. Hanya ada satu yang ada dalam pikiran Fina saat ini, "Ibu punya hutang kah? Kok sampai uang tabungan habis?" tanya Fina dengan tutur kata yang sopan.
"Tidak, Nak. Ibu tidak punya hutang sama sekali. Sumpah demi Allah," jawab Badiah dengan tegas. Wanita paruh baya itu belum berani membuka kelopak matanya meski sedang bicara dengan Fina. Dia masih merasa puyeng dan semuanya masih berputar-putar.
"Lalu apa, Bu?" Fina semakin penasaran dibuatnya, "apa karena banyak tetangga yang hutang ke Ibu?" tanya Fina pada intinya.
"Iya. Benar. Kamu nanti bisa melihat sendiri di buku berapa nominal hutang mereka. Ibu sudah berusaha menagihnya, Fin, tapi mereka gak ada yang mau bayar. Justru mereka malah gak mau beli ke Ibu lagi. Terus bagaimana Ibu bisa mengisi dagangan kalau mereka gak bayar hutangnya?" jelas Badiah panjang lebar.
"Terus uang pribadi Ibu kemana? Jujur saja, Bu," tanya Fina lagi.
"Sama saja. Uang tabungan Ibu dipinjam bu Neneng dan bu Zulaikah banyak, Fin. Mereka juga belum ada yang bayar ke Ibu, padahal Ibu sudah nagih ke mereka. Kalau Ibu gak ngasih utang ke mereka, pasti mereka mengungkit ekonomi kita di masa lalu. Ibu jadi merasa bersalah, mengingat dulu kita sering hutang demi biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari."
Pada akhirnya janda dua anak itu mengeluarkan semua duri yang menyakiti hati dan pikirannya. Perlahan rasa sesak hilang dari dada setelah satu persatu masalah diungkapkan kepada Fina.
"Apa mereka jahat sama Ibu? Mungkin kalau gak dikasih hutang Ibu dimaki begitu?" tanya Fina setelah mendengar cerita dari ibunya.
__ADS_1
"Ya kamu tahu sendiri 'kan bagaimana mereka?" Kali ini Badiah mencoba membuka kelopak matanya, tetapi tak lama setelah itu dia menutupnya lagi. Semua masih terasa berputar-putar.
"Saat hutang mereka bicaranya halus dan lembut, tetapi saat ditagih malah maki-maki Ibu, Fin," ujar Badiah dengan suara yang meninggi.
"Ya sudah tidak perlu dipikirkan lagi, Bu. Nanti Fina kasih uang untuk Ibu. Setelah ini Ibu tidak perlu meminjami mereka lagi, meski nanti jadi bahan gosip bu Zulaikah dan bu Neneng ya biarkan saja. Toh, Ibu tidak ada urusan dengan mereka. Sekarang yang terpenting itu, Fina dan Nisa rukun, terus Ibu gak perlu lagi mikir biaya kuliah Nisa," tutur Fina untuk menenangkan hati ibunya.
"Ibu hanya takut suamimu marah karena modal yang dia berikan habis, dagangan juga gak ada, uang bulanan juga gak jelas arahnya. Apalagi ditambah dengan gosip yang beredar sampai pelanggan Ibu tidak ada yang beli karena takut. Semua ini benar-benar membuat Ibu tertekan, Fin," keluh Badiah dengan helaan napas yang berat.
Tentu hal ini membuat Fina semakin penasaran. Dia tahu jika Badiah menyembunyikan sesuatu hal selain masalah hutang. Dia semakin mendekatkan diri ke Badiah agar tidak salah menerima informasi dari ibunya itu.
"Ibu jujur saja ke Fina. Apa yang membuat keadaan menjadi semakin kacau begini?" Fina bertanya sekali lagi kepada ibunya karena Badiah nampak ragu saat membahas masalah ini.
"Keluarga kita sedang hangat diperbincangkan para tetangga, Fin. Ibu baru tahu jika semua ini adalah ulah si Zulaikah itu. Dia menyebarkan fitnah yang sangat keji, masa iya dia menyebut suamimu menjalani pesugihan dan semua kejadian yang menimpa kalian hingga bayi kalian meninggal adalah karena dijadikan tumbal,"
"Banyak tetangga yang terpengaruh dengan omongan dia. Maka dari itu mereka berhenti belanja di Ibu karena takut dijadikan tumbal selanjutnya. Ibu heran saja, ada masalah apa si Zulaikah sama Ibu! Dia punya banyak hutang di Ibu, tetapi sikapnya seperti itu. Apa Ibu ini salah jika menagih uang Ibu sendiri? Ya Allah ...."
Akhirnya semua duri dikeluarkan Badiah di hadapan putri sulungnya. Dia merasa lega karena tidak menyimpan semua masalahnya sendiri. Tentu jika bersama Nisa, Badiah tidak bisa mengeluarkan semua ini karena dirasa kurang tepat.
"Astagfirullahhaladzim. Sumpah demi Allah, Fina dan Mas Benny tidak melakukan hal keji itu, Bu. Semua terjadi murni kecelakaan. Semua harta benda yang Mas Benny miliki pun hasil kerja kerasnya selama ini," jelas Fina dengan suara yang bergetar karena menahan rasa membaur menjadi satu.
"Si Zulaikah makin lama makin kurang ajar emang, Bu. Berani sekali dia menuduh seperti itu! Minta diberi pelajaran itu orang!" Fina mendadak geram dengan wanita bernama Zulaikah itu. Sepertinya radar gosip itu perlu diberi pelajaran.
__ADS_1
"Jangan melakukan apapun, Nak. Sudah biarkan dia berbuat semaunya. Nanti pasti ada balasan sendiri untuk dia." Badiah takut jika Fina akan melakukan tindak kekerasan akibat tidak bisa menahan emosinya.
Wajah cantik itu bersemu merah karena menahan emosi yang sudah membakar diri. Napasnya memburu seperti sedang menemukan mangsa untuk diterkam, "sekarang lebih baik Ibu istirahat dulu, Fina mau mandi karena udah sore ini. Ibu tidak perlu memikirkan ucapan ngelantur si Zulaikah itu. Ingat, kita makan bukan dari radar gosip itu!" ujar Fina sebelum beranjak dari tepian tempat tidur.
Fina keluar dari kamar tersebut dengan napas yang memburu. Dia berjalan melewati ruang keluarga, ruang tamu dan berakhir di toko kelontong ibunya. Wanita cantik itu menarik laci dan membuka buku hutang yang tersimpan di sana. Dia mencari nama Zulaikah dan membaca setiap angka yang tertulis di sana.
"Hmmm ... banyak juga hutang si radar gosip ini! Aku harus memberi dia pelajaran!" ujar Fina sambil menutup buku tersebut. Dia pergi dari toko membawa buku utang piutang itu untuk menemui Zulaikah.
Tanpa mengurus anak dan suaminya, Fina mengambil kunci motor matic milik Badiah di ruang keluarga. Dia bergegas mengeluarkan motor tersebut dari ruang tamu karena belum sempat terpakai sama sekali seharian ini.
"Mbak mau kemana?" tanya Nisa setelah melihat kakaknya mengeluarkan motor dari ruang tamu.
Fina tak menghiraukan pertanyaan itu, dia terus mendorong motor tersebut hingga sampai di halaman rumah. Lantas, dia kembali ke teras rumah untuk menemui Nisa.
"Antar aku ke rumahnya Zulaikah sekarang!" ujar Fina seraya menyerahkan kunci motor kepada Nisa, "Tidak perlu mandi ataupun ganti baju!" cegah Fina ketika melihat adiknya bersiap masuk ke dalam rumah.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Aiish ... ada yang seperti ini tak?π...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1