Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Ide Gila Benny


__ADS_3

"Sayang, kenapa menunggu di sini?" tanya Benny saat menghampiri Fina di lobby rumah sakit, "kenapa gak langsung nunggu di depan poli kandungan?" Benny duduk di sisi Fina.


Fina menatap Benny dengan mata yang berembun. Bisa dipastikan tak lama lagi tangis ibu sambung Elzayin itu pecah di sana. Dia menelusupkan wajah di bahu kokoh Benny untuk menumpahkan segala kekesalan di hati.


"Aku gak mau ikut senam di sini lagi," ucap Fina di sela-sela isak tangisnya.


"Kenapa? Apa ada yang membuat masalah denganmu?" Benny terkejut setelah mendengar aduan istrinya.


"Renata senam juga di sini. Perutnya udah besar, Mas. Dia masih jahat sama aku!" Fina semakin mengeratkan pelukannya meski dari samping.


Benny termenung setelah mendengar penjelasan istrinya karena sudah bisa menebak apa yang dilakukan mantan kekasih itu. "Memangnya apa yang sudah dia lakukan kepadamu?" tanya Benny sambil mengusap lengan Fina dengan lembut.


Fina menegakkan badan sambil mengusap air matanya. Dia mengatur napas sebelum menceritakan kejadian yang dia alami selama mengikuti senam hamil bersama Renata. Sementara Benny mendengarkan dengan seksama cerita yang disampaikan oleh istrinya itu.


"Aku malu, Mas. Kenapa sih dia itu merasa seakan aku ini udah merebut Mas dari dia! Padahal aku gak melakukan hal itu. Dia menuduh aku sebagai penggoda majikan. Tak hanya itu saja sih, Mas. Ada lagi yang dia ucapkan kepadaku," jelas Fina dengan suara yang lirih karena sedang berada di tempat umum.


"Apa lagi?" Benny mengernyitkan keningnya.


Lantas, Fina menceritakan perihal penampilannya yang dikritik Renata. Dia menyampaikan rasa sedihnya karena hal itu. Tentu Fina takut jika praduga Renata sampai terjadi dalam rumah tangganya. Fina tidak mau ada wanita lain yang masuk ke dalam rumah tangganya.


"Tidak akan mungkin terjadi, Sayang! Jangan berpikir seperti itu lagi, oke!" tutur Benny sambil menatap Fina penuh arti. Tak lama setelah itu dia mengedarkan pandangan ke area rumah sakit.


Benny memicingkan mata ketika dari jauh melihat Renata berjalan bersama beberapa temannya. Sekelebat ide muncul di kepala untuk membalas sakit hati yang dirasakan oleh istrinya.


"Kamu mau membalas semua yang dilakukan Renata, Sayang?" tanya Benny seraya menatap Fina dengan intens.


"Membalas bagaimana?" Fina terlihat bingung.


"Hapus air matamu. Pasang senyum manis dan bahagia. Seolah tidak terjadi apapun. Kamu tidak boleh terlihat lemah karena dia akan melewati lobby ini," jelas Benny.

__ADS_1


Tentu Fina segera menghapus air matanya. Dia buru-buru membenarkan penampilannya agar tidak terlihat rapuh di depan Renata, "memangnya apa yang akan Mas lakukan?" tanya Fina.


"Kamu nurut saja sama aku. Ikuti semua permainan kecil ini. Mau gak?" tawar Benny sambil menyeringai.


"Jangan aneh-aneh deh!" Fina mengerucutkan bibirnya.


"Sekarang lebih baik kamu pindah dari sini. Sembunyi di sana! Nanti jika aku sudah memberikan kode, kamu keluar ke sini. Paham kan maksudku?" tunjuk Benny pada ruangan yang ada di depan, tempat menyetak surat egebilitas pemeriksaan untuk pasien pemakai asuransi.


Meski bingung dengan maksud dan tujuan suaminya, Fina pun beranjak dari sana. Dia mengikuti saran yang diucapkan oleh Benny tanpa protes. Dia berdiri di balik dinding kaca itu agar bisa mengamati apa yang akan dilakukan oleh Benny. Ini adalah tindakan paling gila menurut Fina di sepanjang perjalanan rumah tangganya.


Sementara itu, Benny mengatur posisi duduk santai dan terlihat cool. Dia mengeluarkan ponselnya dan pura-pura sibuk dengan benda pipih itu. Sesekali dia menoleh ke arah koridor rumah sakit untuk memastikan keberadaan mantan kekasihnya itu.


"Loh Mas Benny!" sapa Renata ketika melihat Benny di lobby.


"Kamu?" Benny pura-pura terkejut saat melihat Renata di sana, "ngapain di sini?" tanya mantan duda itu.


"Aku senam hamil di sini. Belom ketemu sama istrinya?" tanya Renata penasaran.


"Mas," ucap Fina ketika berada di sana. Dia berdiri di sisi Benny sambil menatap Renata.


"Nah ini dia istriku." Benny merangkul bahu Fina dengan erat. Seakan sedang menunjukkan jika wanita yang ada di sisinya sangat berharga.


"Aku duluan deh kalau begitu." Gurat kekesalan tergambar jelas di wajah dengan riasan make-up tebal itu.


"Loh kenapa buru-buru? Ke kantin dulu yuk, ya ..makan dulu gitu biar pernah."


Kedua wanita tersebut terkejut setelah mendengar pertanyaan Benny untuk mantan kekasihnya itu. Fina melebarkan mata setelah tahu suaminya mengajak Renata langsung di hadapannya. Sementara itu, Renata pun tak kalah terkejut mendapat tawaran seperti itu dari Benny. Dia menatap Fina dan Benny bergantian. Sepertinya biduan cantik itu sedang mempertimbangkan tawaran berharga dari mantan kekasihnya itu.


"Ya ... aku sih mau aja, tetapi aku gak enak sama istrimu," jawab Renata sambil menatap Fina.

__ADS_1


"Oke. Ayo kita ke kantin." Fina sepertinya tertantang dengan semua ini. Dia ingin tahu sejauh mana suaminya itu bertindak.


Benny dan Fina membalikkan badan. Mereka berdua berjalan di depan sambil bergandeng tangan. Sama seperti biasanya, Benny sangat memperhatikan istrinya, apalagi saat melewati undakan anak tangga. Mantan duda itu tidak akan tinggal diam saja. Dia pasti akan membantu Fina melewati undakan tersebut. Sementara Renata hanya bisa menyaksikan bagaimana sikap dua orang yang berjalan di depannya.


"Lebay banget sih!" gerutunya dalam hati. Ada rasa iri yang hadir setelah melihat bagaimana Benny memperlakukan istrinya, "beruntung banget si Fina dapat suami seperti Benny!" Hati biduan cantik itu mulai meradang.


Setelah berjalan menyusuri jalan berpaving block itu, pada akhirnya mereka bertiga sampai di cafetaria rumah sakit. Benny memilih tempat duduk di bagian depan agar tidak pengap. Dia menarikkan kursi untuk Fina dan setelah itu membantu Fina duduk di sana. Semua yang dilakukan Benny tak luput dari pengamatan Renata.


"Silahkan pesan apa yang kamu inginkan, aku traktir," ucap Benny sambil menatap Renata sekilas, "Sayang, mau makan sekalian gak? Siapa tahu udah lapar habis senam?" Benny menatap Fina penuh arti.


"Aku masih kenyang, Mas. Minum jus alpukat saja deh sama itu ada siomay kan?" tanya Fina sambil menatap buku menu yang ada di tangan suaminya.


"Oke, aku pesankan jus alpukat sama siomaynya," ucap Benny sambil menulis pesanan di kertas yang disediakan di sana, "kamu mau makan apa, Re?" tanya Benny tanpa menatap Renata.


"Teh tarik saja. Aku gak makan lagi diet!" jawab Renata dengan sinis.


Fina mengulum senyum setelah melihat raut wajah Renata. Dia mulai paham kemana arah dan tujuan suaminya. Rasa muak yang awalnya hadir di hati wanita berhijab itu, perlahan hilang setelah melihat bagaimana sikap Benny di hadapan Renata.


"Kalau aku jadi dia, gak sudi aku menerima tawaran makan bareng mantan sama istrinya. Renata ini udah gak waras kali ya? Tanpa rasa malu, dia menerima ajakan suamiku bersantai di sini. Orang normal mah pasti memilih pulang daripada sakit hati," gerutu Fina dalam hati sambil mengamati Renata yang sedang sibuk dengan ponselnya.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Kalau aku jadi Fina, gak bakal mau deh! Bisa emosi jiwa aku! Kalau kalian bagaimana?...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi bacaan yang wajib kalian kunjungi. Yuk langsung aja kepoin karya author Saputri 90 dengan judul Jodoh tak Diundang😎 Kuy gercep!...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2