
Hari-hari bahagia telah berlalu begitu saja. Bulan madu sekaligus liburan di Bali pun telah dilalui dengan rasa suka cita. Kini, semua kembali ke aktivitas masing-masing. Benny pun sudah mulai beraktivitas di AlasKa seperti biasanya, berkutat bersama laporan penjualan dan design produk baru yang membuat pundi-pundi rupiahnya semakin bertambah. Begitu juga dengan Elza, bocah kecil itu sudah bersedia kembali ke rumah, tentu saja setelah Fina melayangkan bujuk rayunya.
"Sayang, nanti aku antar sekalian ya ke sekolahnya," ucap Benny sambil merapikan pakaiannya saat ini, sementara Fina sibuk di depan meja rias.
"Terus pulangnya bagaimana, Mas? Aku bawa motor saja ya," tanya Fina sambil menatap Benny lewat pantulan cermin di hadapannya.
"Pulangnya naik taksi online saja, lebih aman," jawab Benny setelah menghampiri Fina di tempatnya. Dia meraih sisir yang ada di atas meja dan segera merapikan rambutnya dan setelah selesai, dia mengecup puncak rambut Fina beberapa kali.
Pembahasan itu akhirnya terhenti ketika Benny mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Dia segera berlalu dari tempat sang istri dan membuka pintu berwarna putih itu. Senyum manis seketika hadir di wajah segarnya tatkala melihat kehadiran Elza.
"Selamat pagi, Papa," sapa Elza tanpa melepas pandangan dari wajah ayahnya.
"Selamat pagi jagoannya Papa. Mari masuk, tuh Mama masih dandan," tunjuk Benny pada sosok yang masih berkutat di depan meja rias.
Bocah berusia lima tahun itu berlari menghampiri ibu sambungnya. Dia berdiri di sisi meja rias sambil mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Fina, "Mama cantik," puji Elza seraya mengembangkan senyum tipis.
"Terima kasih, Sayang. Mama dari dulu memang cantik dong," jawab Fina tanpa menatap Elza, karena dia fokus pada alis yang tak kunjung rapi.
"Kalau begitu nanti aku boleh beli mainan lato-lato, ya, Ma," pinta Elza. Ternyata bocah kecil itu memiliki permintaan.
Sementara Benny hanya mengulum senyum setelah melihat bagaimana putranya mengambil hati Fina. Pasalnya akhir-akhir ini Elza merengek meminta permainan yang sedang viral itu, tetapi tidak diizinkan Fina karena menurutnya terlalu berbahaya.
"Tidak boleh. Mending Elza minta mainan yang lain. Kalau main lato-lato terus kena kepala bagaimana? Nanti sakit, Sayang." Fina meletakkan pensil alisnya dan mencoba memberikan pengertian kepada putra sambungnya itu. Dia takut Elza lepas kontrol dan melukai teman-temannya karena mainan keras itu.
"Nanti aku pelan-pelan deh Ma mainnya," bujuk Elza agar diizinkan membeli lato-lato.
"Elza tanya Papa saja kalau begitu, Mama mau bersiap dulu." Akhirnya Fina melempar masalah lato-lato kepada Benny.
"Ya ... Mama pasti marah kan! Ya sudah deh aku gak jadi beli lato-lato," ucap Elza dengan helaan napas yang berat, "tapi nanti malam sampai satu minggu ke depan aku bobo bareng di sini, boleh ya Ma?" Elza menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Nah, kalau itu boleh banget. Nanti malam Elza bobo bareng sama Mama dan Papa," ujar Fina sambil mengusap pipi mulus putra sambungnya itu.
"Yeeeee! Akhirnya aku bisa bobo bareng Papa dan Mama!" seru Elza sambil mengangkat kedua tangannya. Dia sangat bahagia karena hal ini.
Sementara Benny harus menepuk keningnya karena kebahagiaan Elza tentu bertentangan dengan kebahagiaannya. Jika Elza tidur di kamar ini selama satu minggu, maka selama itu pula dia tidak bisa melihat Fina memakai pakaian dinas yang sudah dia sediakan di dalam almari.
"Ya ampun. Bagaimana ini? Aku harus mencari cara agar Elza tidak tidur di kamar ini. Bisa puasa selama seminggu aku!" batin Benny saat menatap bagaimana antusiasnya Elza, "kalau sudah seperti ini Papa yang pusing, Nak! Jika kamu di sini, Mama gak mungkin bisa mainin lato-lato nya Papa!" imbuhnya sambil mengacak rambut yang baru saja dia rapikan.
"Papa kenapa? Kok rambutnya diberantakin?" tanya Elza. Dia heran saja melihat tingkah ayahnya.
"Papa pengen main lato-lato sama Mama! Tapi gak bisa," jawab Benny dengan tatapan penuh arti.
Fina terbelalak setelah mengetahui maksud dan arah tujuan suaminya itu. Dia memberikan tatapan tak suka kepada pria tampan yang setiap malam memberinya kehangatan itu.
"Ayo kita berangkat sekolah, El. Biarkan saja Papa nangis karena gak bisa main lato-lato!" sindir Fina saat berjalan bersama Elza melewati suaminya.
Malam telah datang setelah sang mentari kembali ke peraduan. Bertepatan dengan itu, ketiga penghuni rumah tersebut baru selesai menikmati makan malam bersama.
"Mama, aku tadi ada PR mewarnai," ucap Elza setelah menghabiskan minumannya.
"Setelah ini dikerjakan ya." Fina mengembangkan senyum tipis sambil mengusap rambut putranya.
"Mama, aku juga ada PR nih," ujar Benny dengan tatapan penuh arti.
"Memangnya Papa ke sekolah juga kok pakai PR segala!" protes Elza setelah mendengar ucapan ayahnya.
Fina tak menghiraukan ucapan suaminya itu, karena dia bisa menebak kemana arah pembicaraan tersebut. Wanita yang tampil tanpa hijab itu menggiring Elza pergi ke ruang keluarga untuk mengerjakan PR dari guru kelas. Benny melarangnya tampil tertutup jika berada di dalam rumah, karena memang tidak ada siapapun lagi selain mereka bertiga.
"Ini kah PR nya?" tanya Fina setelah membuka tas sekolah Elza. Dia mengambil buku mewarnai yang tersimpan di sana. Sementara Elza hanya menganggukkan kepalanya setelah melihat buku yang diangkat Fina.
__ADS_1
Fina meletakkan buku tersebut di atas meja, dia menyiapkan crayon yang tersimpan di dalam tas bergambar Transformers itu. Fina memperhatikan setiap yang dilakukan Elza karena dia ingin tahu bagaimana perkembangannya setelah bocah kecil itu lama tidak masuk sekolah. Tadi pagi adalah hari pertama masuk sekolah setelah izin panjang karena cidera.
"Eh, eh, eh kok begitu, Nak. Mewarnai itu satu persatu. Kok crayonnya dipakai sekaligus begitu," protes Fina ketika melihat Elza menyatukan tiga warna crayon sekaligus.
"Iya, Ma. Tadi kata Nawal waktu di sekolah, mewarnai harus begini. Katanya biar lebih cepat selesai, Ma," jelas Elza sambil menunjukkan bagaimana gaya temannya tadi saat mewarnai.
"Salah, Nak. Mewarnai itu harus sabar. Jadi pakai crayonnya satu persatu dulu. Elza biasanya kan bisa mewarnai," bimbing Fina sambil menunjukkan bagaimana cara mewarnai yang benar.
"Iya sekarang aku tuh pengen selesai cepet, Ma. Aku sudah tidak sabar ingin bobo bareng Papa dan Mama," ucap Elza.
Ternyata alasan inilah yang membuat Elza melakukan hal yang kurang benar. Sebenarnya Fina ingin tertawa karena pemikiran lucu putra sambungnya itu. Akan tetapi dia tidak mau terlihat cengengesan saat menemani Elza belajar.
"Mewarnai yang benar dulu, Nak. Waktu kita masih panjang. Memangnya kenapa coba harus buru-buru?" selidik Fina seraya menatap putranya dengan lekat. Dia sedikit curiga dengan gelagat Elza.
Fina memicingkan mata ketika tahu Elza sedang menatap Benny yang ada di atas sofa. Pasti ada sesuatu yang tidak beres di antara anak dan ayah itu. Fina menatap Elza penuh arti, mencoba mencari cara untuk menggali rahasia yang ditutupi keduanya, "kalau main rahasia, Mama mau nangis saja lah," gumam Fina dengan suara yang lirih, "bisikin Mama sekarang!" titah Fina sambil menunjuk telinganya.
Tentu Elza tidak akan tinggal diam setelah melihat gurat kesedihan yang terlihat dari wajah cantik itu. Dia meletakkan crayon yang ada dalam genggaman tangannya dan setelah itu pindah ke atas pangkuan Fina. Sebelum memberitahu Fina, bocah kecil itu menatap ayahnya sekilas. Benny menggelengkan kepala beberapa kali sambil memberikan kode agar Elza tetap bungkam. Akan tetapi bocah kecil itu tak mengindahkan.
"Tadi sore Papa bilang ke aku, Ma. Jika bobo sama Papa dan Mama, aku harus tidur cepat karena Papa dan Mama mau main lato-lato. Kalau aku gak nurut nanti gak dibolehin Papa bobo sama Mama lagi," bisik Elza dengan jelas.
Fina terbelalak setelah mengetahui hal ini. Dia tidak habis pikir, kenapa Benny tega mengatur strategi ini. Jelas saja wanita cantik itu tidak setuju dengan tindakan tersebut. Rahangnya terlihat mengeras karena menahan sesuatu yang ingin meledak.
"Mas Benny!" sungut Fina dengan tatapan membunuh, "setelah ini kalau masih membahas lato-lato lagi, maka akan aku pecahkan lato-latonya!" ujar Fina sambil menunjukkan genggaman tangan kepada Benny. Mantan duda itu otomatis menyilangkan kedua tangan di atas paha sambil tersenyum tanpa dosa.
...🌹To Be continued 🌹...
...Hayoloh! Pecah itu lato-lato🤣Jangan lupa komen dong😆Othor tuh makin semangat kalau baca semua komentar kalian😍...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1