
Mojokerto.
Hembusan angin mesra menyapa seorang gadis yang sedang termenung di teras rumah. Dari sorot matanya terlihat jelas jika gadis itu kehilangan semangat dalam diri. Wajahnya nampak murung dengan tatapan lurus ke depan. Hanya suara hewan malam yang menemaninya di tengah malam yang sepi ini.
"Haaah. Untuk apa coba aku mengharapkan kabar dari seseorang yang tidak pasti," gumam Nisa dengan suara yang lirih, "bodoh sekali sih! Kenapa aku terlalu naif dan percaya diri jika pria itu memiliki rasa kepadaku. Nisa! Nisa! Sadar, Nis. Kamu hanya dimintai tolong saja! Tidak lebih!" Gadis cantik itu menghardik dirinya sendiri.
Dia memijat kepala tanpa hijab itu karena merasa pusing dan berdenyut. Ketika ekspetasi tak sesuai dengan realita. Angan hanya menjadi kenangan karena yang dinanti tak kunjung kembali. Ya ... gadis cantik itu sedang gusar karena perasaannya sendiri.
"Jangankan datang menemui, mengirim pesan saja tidak dilakukan!" gerutunya lagi ketika melihat ponsel yang terletak di atas meja itu.
"Apa mungkin dia meninggal?" Nisa bergumam ketika memikirkan opsi terburuk yang menimpa Ardi.
Hanya helaan napas berat yang terdengar di sana karena tidak ada jawaban pasti atas kerisauan hatinya. Nisa beralih menatap jalanan desa yang cukup sepi itu karena saat ini hampir tengah malam. Berada di dalam rumah tak membuatnya tenang karena terus kepikiran tentang pria aneh itu.
"Sudah tiga bulan loh ini! Masa iya dia gak datang menemuiku. Setidaknya dia harus menjelaskan semua teka-teki yang ditinggalkan, bukan menghilang seperti ini!" gerutunya lagi ketika teringat ada banyak pertanyaan yang membuat dirinya penasaran. Terutama tentang siapa ayahnya.
Sampai saat ini, Nisa belum berani bertanya kepada Badiah tentang masa lalu keluarganya. Dia masih ragu karena belum mempunyai cukup bukti untuk mengulas tentang masa lalu ayahnya. Sudah bisa dipastikan jika Badiah pasti bisa mengelak jika belum ada bukti yang menguatkan.
"Nis, kenapa masih di luar?" Tiba-tiba saja terdengar suara Badiah yang muncul dari balik pintu ruang tamu, "ayo masuk! Gak baik anak gadis berada di luar di jam-jam seperti ini," tutur Badiah seraya menatap putrinya. Wanita paruh baya itu sepertinya bangun dari tidur nyenyaknya.
"Aku gak bisa tidur, Bu. Enak di sini, udaranya segar," jawab Nisa seraya mengembangkan senyum tipis. Dia berusaha menyembunyikan kerisauan hatinya dari Badiah.
"Sudah, jangan membangkang! Masuk, Nis! Terlalu bahaya jika berada di luar rumah. Apalagi, di luar sepi begini. Ayo masuk!" ajak Badiah seraya menarik tangan putrinya, "Nisa!" Wanita paruh baya itu memberikan peringatan pertamanya karena Nisa tak kunjung beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Nisa pun ikut masuk bersama ibunya. Tak lupa Badiah mengunci pintu tersebut setelah putrinya masuk ke dalam rumah. Badiah bersiap kembali ke kamarnya, tetapi semua itu dia urungkan setelah mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu segera duduk di lantai tepat di sisi jendela. Dia mencari celah korden jendela agar bisa melihat siapa yang sedang berhenti di jalan depan rumahnya.
"Siapa dia? Sepertinya sedang mengamati rumah ini?" batin Badiah sambil mengamati pria paruh baya yang berdiri di bahu jalan tepat di depan rumahnya.
Badiah tak segera beranjak dari tempatnya sebelum orang tersebut pergi. Dia melihat pria paruh baya itu sedang menelfon seseorang, seperti sedang memberikan informasi mengenai alamat ini.
"Apa tujuan pria itu memata-matai rumahku?" batin Badiah tanpa melepas pandangan dari sosok tersebut
Wanita paruh baya itu termenung di tempatnya karena sedang memikirkan jalan keluar agar pria tersebut segera pergi dari sana. Dia beranjak dari tempatnya dan setelah itu berjalan menuju ruang keluarga. Badiah menekan tombol sakelar lampu dan ruang tamu pun terlihat terang. Tak lama setelahnya suara deru motor terdengar di sana dan pada akhirnya pria tersebut pergi dari depan rumah Badiah.
"Bu, kenapa masih ada di sini? Ada apa di depan?" tanya Nisa setelah menepuk bahu Badiah.
Tentu Badiah terkejut setelah Nisa berada di sana. Dia segera membalikkan badan dan memasang ekspresi wajah jika dirinya sedang baik-baik saja, "gak ada apa-apa, Nis. Ayo istirahat!" ajak Badiah sebelum meninggalkan Nisa di sana.
"Nis, kamu pernah lihat seseorang mengamati rumah kita gak?" Pertanyaan Badiah berhasil menghentikan langkah Nisa menuju kamar.
"Enggak, Bu. Memangnya ada apa sih?" Nisa semakin penasaran dibuatnya.
"Tadi seperti ada yang mengintai rumah kita," jelas Badiah seraya duduk di sofa ruang keluarga. Sepertinya janda dua anak itu mulai resah.
"Mungkin gak sengaja berhenti kali, Bu," sangkal Nisa agar ibunya tidak terlalu khawatir.
"Gak mungkin lah. Rumah kita ini di desa dan masuk ke dalam gang, Nis. Mana mungkin ada orang gak sengaja berhenti terus mengamati rumah kita. Ya, kalau rumah ini ada di dekat jalan raya, hal itu wajar. Lah wong ini di desa! Kamu sih gak tahu tentang masalah pengintaian!" cerocos Badiah tanpa menatap Nisa. Dia menatap foto usang yang ada di ruang keluarga yang tak lain adalah foto Hasanuddin.
__ADS_1
Nisa mengernyitkan keningnya setelah mendengar penjelasan ibunya. Tidak biasanya Badiah bersikap seperti ini. Nisa tahu jika ibunya saat ini sedang tidak tenang, "terus memangnya Ibu paham gitu dengan masalah pengintaian?" pancing Nisa dengan wajah sok polos.
Badiah gelagapan setelah mendengar pertanyaan putrinya. Wanita paruh baya itu mendadak salah tingkah karena tatapan Nisa seakan mengintimidasinya, "Ibu ... Ibu ... ya jelas gak paham lah!" jawab Badiah dengan tegas, tetapi dengan nada terbata. Dia tidak nyaman dengan situasi ini.
"Aku kira Ibu paham," gumam Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari wajah ibunya.
"Orang awam mana paham dengan hal-hal seperti itu, Nis. Ibu hanya khawatir ada orang yang berniat jahat kepada kita," gumam Badiah tanpa berani menatap Nisa, "kamu kenapa belum tidur? Bukannya besok ada undangan tadarus dari pondok?" Wanita paruh baya itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Belum ngantuk, Bu," jawab gadis cantik itu sambil menyandarkan badan di sandaran sofa.
"Memangnya sedang memikirkan apa?" Kali ini Badiah menatap ke arah Nisa. Bahkan, ekspresi wajahnya bisa berubah dalam sekejap.
"Menurut Ibu jatuh cinta itu salah gak, Bu?" Nisa melempar pertanyaan kepada ibunya.
"Tidak. Asal di tempat dan waktu yang tepat," jawab Badiah dengan senyum tipis, "pria mana yang sudah membuat anak ibu ini jatuh cinta sampai tidak bisa tidur begini?" selidik Badiah.
"Bolehkah aku jatuh cinta kepada seorang tentara, Bu?" tanya Nisa lagi seraya menatap Badiah dengan lekat.
"Tidak!" tegas Badiah tanpa berpikir panjang. Wanita paruh baya itu termangu untuk sesaat, "maksud Ibu, kalau bisa jangan jatuh cinta kepada seorang aparat atau yang jauh dari kita," imbuh Badiah.
Tak ada pembahasan apapun lagi setelahnya. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Nisa semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan ibunya. Umpan yang dia berikan ternyata tepat mengenai mangsa. Ketidaksetujuan Badiah dengan memiliki menantu seorang aparat, tentu mempunyai alasan besar di baliknya.
"Pasti Ibu menyembunyikan sesuatu mengenai masa lalunya," batin Nisa saat mengamati kegusaran yang terpancar dari sorot mata ibunya.
__ADS_1
...🌹To Be Continued 🌹...