
Hari demi hari terus berganti bersama waktu yang tak henti berputar. Kehampaan hati masih dirasakan oleh Nisa karena tak kunjung mendapat kabar dari pria yang dulu dianggapnya aneh itu. Satu bulan sejak kedatangan Wiratama dan istrinya telah berlalu, hingga sampai saat ini pun Badiah belum mau membahas perihal perjodohan itu.
"Melamun aja, Nis," ucap teman sekelas Nisa yang bernama Mila. Mereka baru selesai kelas sejarah islam.
"Iya nih, Mil. Lagi gak mood ngapa-ngapain," jawab Nisa dengan malas. Dia menutup bukunya dan dimasukkan ke dalam tas.
"Pasti lagi galau ya!" tebak Mila dengan antusias, "cielah temenku lagi jatuh cinta nih," goda Mila dengan tatapan penuh arti.
"Apa sih, Mil!" Nisa berdecak kesal karena terus digoda Mila.
Gadis berhijab itu mengambil ponsel yang ada di dalam tas setelah terdengar bunyi notifikasi pesan. Dia membuka kunci ponselnya dengan malas karena pasti ada pesan tidak penting dari group. Nisa menautkan ujung alisnya ketika tahu ternyata nomor baru yang mengirim pesan kepadanya.
Aku tunggu di cafetaria kampus sekarang.
Nisa segera beranjak dari tempatnya setelah membaca pesan tersebut. Dia tahu jika itu adalah pesan dari Ardi alias Johan, "Mil, aku tinggal sebentar ya," pamit Nisa sebelum pergi meninggalkan temannya.
Gadis cantik itu setengah berlari menuju cafetaria. Dia tidak peduli meski ada beberapa teman yang menyapa. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, satu hal yang pasti ... dia ingin segera bertemu dengan pria aneh itu. Nisa mengatur napas setelah sampai di samping cafetaria tersebut. Dia tersenyum tipis ketika melihat sosok pria yang memakai jaket parasit hitam serta topi hitam yang sedang duduk menatap jalan raya.
"Boleh aku duduk di sini," ucap Nisa setelah sampai di tempat Ardi berada. Dia menatap lekat sosok yang sangat di harapkan kehadirannya akhir-akhir ini.
Ardi tersenyum ceria ketika melihat gadis berhijab itu berdiri di sebrang mejanya. Dia tak segera menjawab pertanyaan itu karena masih asyik memandang wajah cantik yang sudah dirindukan itu, "silahkan," gumamnya dengan diiringi senyum tipis.
Tatapan mata keduanya saling bersirobok. Seakan sedang mengisyaratkan sebuah rasa yang begitu besar. Nisa sendiri seperti kehilangan kata-kata setelah berhadapan langsung dengan Ardi. Padahal sebelumnya dia sudah berencana untuk memaki pemuda yang menghilang tanpa kabar itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ardi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Seperti yang kamu lihat saat ini. Aku baik-baik saja," jawab Nisa dengan suara lirih.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya. Syukurlah kalau begitu." Ardi bernapas lega setelah mendengar jawaban Nisa, "terima kasih sudah menolongku," ucapnya.
"Apa hanya itu saja yang menjadi tujuanmu datang menemuiku?" tanya Nisa tanpa melepas pandangan dari wajah Ardi.
Nisa sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan saat ini. Kedatangan Ardi secara mendadak membuatnya kehilangan semua angan dan rencana yang sudah dia susun sebelumnya. Mata indah itu mulai berembun karena rasa yang membaur menjadi satu. Tak berpengalaman dalam menjalin asmara, ternyata membuat Nisa terseret arus perasaan terlalu jauh. Bahkan, dia sudah mencintai meski belum mendengar sendiri pengakuan dari Ardi.
"Tentu saja tidak. Aku ingin duduk berdua denganmu dan bicara denganmu mengenai banyak hal. Aku merindukanmu," jelas Ardi seraya menatap lekat gadis berhijab yang ada di hadapannya.
Ada rasa hangat yang menjalar dalam hati setelah mendengar kerinduan yang terucap dari bibir Ardi. Nisa menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan untuk menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan Ardi. Rasa sesak yang selama ini bersarang di dada, perlahan hilang begitu saja.
"Sekarang belajarlah dulu. Aku akan menunggu sampai kuliahmu selesai," ucap Ardi dengan tegas, "aku tidak suka melihatmu bolos di jam pelajaran. Jadi ... sekarang masuklah!" lanjut Ardi dengan diiringi senyum tipis. Tanpa banyak membuang waktu lagi, Nisa segera beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan ardi seorang diri di sana.
****
Tepat pukul satu siang jam kuliah Nisa telah berakhir. Gadis cantik itu sangat bersyukur karena tidak ada tambahan jam seperti biasanya. Dia buru-buru keluar dari kelas karena sudah tidak sabar untuk bertemu Ardi. Langkah kaki gadis cantik itu akhirnya sampai di cafetaria, tetapi dia tak menemukan Ardi di sana.
Tidak ada yang Nisa temukan di sana hingga dia mencari di luar pintu gerbang. Ada rasa kecewa yang kembali hadir dalam hati ketika Ardi mengingkari janji. Dia kembali ditinggalkan tanpa pamit seperti dulu.
"Jangan murung begitu." Suara yang sangat familiar itu terdengar bersamaan dengan tepukan di bahu Nisa.
"Dari mana?" tanya Nisa seraya menatap Ardi dengan lekat.
"Aku menunggumu di sana sejak tadi," tunjuk Ardi pada mobil civic hitam yang terparkir di sudut barat area kampus, "kamu pasti takut aku tinggal lagi ya," tebak Ardi hingga membuat Nisa tersipu malu.
"Ayo!" Ardi menarik pergelangan tangan Nisa.
"Aku bawa motor," ucap Nisa sebelum melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Biarkan saja di sini. Nanti kita ambil atau sekarang kamu titipkan saja di parkiran terminal atau rumah sakit gitu?" tawar Ardi agar lebih mudah.
"Emmm ... aku titip di terminal saja," ucap Nisa setelah mempertimbangkan tempat parkir yang tak seberapa jauh dari kampusnya.
Kedua anak muda itu akhirnya mengambil kendaraan masing-masing. Mereka keluar dari area kampus secara beriringan menuju terminal bus yang dimaksud Nisa. Tak sampai sepuluh menit, Nisa telah sampai di terminal bus Mojokerto. Dia menitipkan motornya di sana. Lantas gadis berhijab itu keluar dari area terminal dan berjalan menghampiri mobil yang dikendarai Ardi.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Nisa setelah masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi depan yang ada di sisi kiri Ardi.
"Makan siang sekaligus mencari tempat nyaman untuk bicara," jawab Ardi sebelum melajukan mobil hitam itu.
Keadaan kembali hening setelah pemuda berpenampilan cool itu melajukan mobilnya. Hanya suara lagu pop indonesia yang terdengar di sana. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Nisa. Padahal banyak hal yang ingin dia pertanyakan kepada Ardi. Entah kemana semua kata-kata yang dia miliki selama ini. Dia merasa gugup dan takut berada di sisi Ardi. Padahal dulu dia sangat tidak suka jika diikuti oleh pemuda itu.
"Kenapa tegang begitu? Biasa saja kali," gumam Ardi setelah menatap Nisa sekilas.
"Gak papa kok. Ini sudah biasa saja kok," elak Nisa tanpa berani menatap Ardi.
"Kalau capek tidur saja," ucap Ardi dengan senyum tipis.
"Aku gak capek!" sergah Nisa sambil membenarkan posisi duduknya.
Tak ada pembahasan lagi di antara keduanya. Mereka kembali tenggelam dengan pikiran masing-masing sampai mobil yang dikendarai Ardi memasuki area rumah makan yang terkenal elit di Mojokerto. Rumah makan tersebut belum termasuk sebagai restoran, tetapi memiliki beberapa ruang private yang bisa dipesan untuk pertemuan penting. Mereka berdua segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah makan tersebut. Nisa terkesiap ketika Ardi meraih tangannya untuk digenggam saat berjalan ke sana.
"Ya Allah, maafkan hamba. Maaf ... saya tahu ini tidak boleh dilakukan. Akan tetapi saya tidak bisa menolaknya," batin Nisa sambil menatap kedua tangan yang saling bertautan itu.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Akhirnya ketemu juga dua orang iniπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...