
Semilir angin malam menerpa sosok yang sedang termenung di teras belakang. Asap rokok mengepul di sana, entah berapa batang yang sudah dihabiskan Benny untuk menemaninya di tempat terbuka itu. Dia belum menemukan solusi atas permasalah yang dia hadapi saat ini.
"Kopi, Mas," ucap Fina sambil meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja yang ada di sisi Benny.
"Terima kasih," jawab ayah dua anak itu tanpa menatap sang istri, "anak-anak sudah tidur?" tanya Benny. Kali ini dia menatap Fina.
"Sudah. Mereka ada di kamar masing-masing," jawab Fina seraya mengembangkan senyum manis.
Tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi di sana. Mereka berdua hanya diam saja sambil merasakan dinginnya angin malam. Tentu keadaan ini sangat tidak nyaman bagi Fina. Dia sendiri tidak suka melihat Benny murung.
"Mas, jangan terlalu dipikirkan. Kita pasti bisa menemukan solusinya. Ingat anak-anak kita masih kecil, Mas," ucap Fina seraya meraih tangan kiri Benny.
"Enggak. Aku biasa saja," jawab Benny tanpa ekspresi.
Fina hanya menghela napas panjang setelah mendengar jawaban suaminya. Dia pun tidak bisa membantu apa-apa selain berdoa karena tidak memiliki pengalaman dalam bekerja atau pun berbisnis. Fina sendiri ikut terlarut memikirkan masalah ini hingga membuat kepalanya berdenyut.
"Mas, itu ada telfon," ucapnya sambil menunjuk ponsel yang sedang bergetar.
Benny segera meraih ponsel tersebut. Dia berdiri dari tempatnya saat ini dan menjauh dari Fina saat menjawab telfon dari orang suruhannya. Ayah dua anak itu mondar-mandir di sisi kolam ikan sambil berbicara lewat telefon.
"Besok aku harus pergi ke Jakarta," ucap Benny setelah duduk kembali di tempat asal, "Gatot membawa barangnya ke Jakarta," ucap Benny seraya menatap Fina.
"Mas yakin jika dia membawa barangnya ke Jakarta? Apa sudah tahu di mana alamat pastinya?" tanya Fina seraya menatap Benny dengan lekat.
"Belum. Mereka hanya tahu jika Gatot membawa barang ke Jakarta Selatan," jawab Benny dengan pandangan lurus ke depan. Mantan duda itu seperti sedang merencanakan langkah yang akan diambilnya setelah ini, "hubungi Nisa saja, suruh dia menemani kamu di sini selama aku di Jakarta." Benny menatap istrinya dengan lekat.
"Aku tidak tega jika kamu di rumah ini sendirian meskipun dekat dengan ibu dan Dita," sorot mata ayah dua anak itu terlihat khawatir.
"Baiklah. Aku ambil handphone dulu," ucap Fina seraya beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Pakai handphone ku saja." Benny memberikan ponselnya kepada Fina.
Ibu Shazia itu kembali duduk di tempatnya setelah menerima ponsel sang suami. Dia mencari kontak Nisa dan setelah itu segera menelfon adiknya itu. Perbincangan di antara kakak beradik itu terdengar di sana. Fina sedikit menceritakan alasan yang membuat Benny harus berangkat ke Jakarta selama beberapa hari ke depan.
"Johan? Kamu yakin, Nis?" tanya Fina setelah mendengar penjelasan adiknya, "begini saja, kamu berangkat malam ini bisa gak? Mumpung masih isyak. Naik taksi online saja biar aku yang membayarnya. Bila perlu ajak ibu, Nis, biar gak sendirian di rumah," ucap Fina sebelum panggilan terputus dengan Nisa.
"Siapa Johan?" tanya Benny setelah Fina mengembalikan ponselnya.
"Temannya Nisa yang ada di Jakarta. Nanti setelah Nisa datang, dia akan menjelaskan sendiri. Ini tadi dia masih menghubungi temannya itu, ya siapa tahu bisa membantu," jelas Fina seraya menatap suaminya.
"Sebaiknya kita makan dulu yuk, Mas, sambil menunggu Nisa datang. Aku juga belum makan malam kok, nungguin Mas," ajak Fina. Dia khawatir dengan kesehatan suaminya karena sejak pulang kerja hingga saat ini belum makan sedikitpun.
Fina telah menemukan titik terang atas permasalahan ini. Setidaknya masih ada jalan keluar bagi Benny. Apalagi, nanti jika Johan bersedia membantu melacak pria bernama Gatot. Pasti Johan sendiri memiliki akses lebih luas untuk melacak hal-hal seperti ini. Jangankan sales sepatu, musuh negara saja dia bisa mengendus keberadaannya.
****
"Kalau semua pintu sudah dikunci, Mbok Jum istirahat saja," ucap Fina ketika melihat Jumiatin berjalan menuju arah belakang.
"Baik, Bu," jawab Jumiatin sebelum berlalu pergi.
Nisa duduk di ruang keluarga bersama dengan Fina dan Benny. Dia memberikan titipan dari Badiah kepada Fina. Gadis berhijab itu meregangkan otot-otot tubuh karena lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
"Kamu tadi gak sempet ganti baju, Nis?" tanya Fina sambil mengulum senyum ketika mengamati penampilan Nisa. Gadis berhijab itu memakai setelan piyama lengan panjang serta jaket denim untuk menghangatkan badan.
"Mana sempat ganti baju. Mbak nyuruhnya cepat datang sih. Oh ya, Ibu gak bisa ikut ke sini karena besok ada tahlilan di rumah," jawab Nisa seraya melepas jaketnya.
"Kamu tidak memberitahu Ibu 'kan tentang masalahnya?" selidik Fina dengan tatapan penuh arti.
"Enggaklah. Aku hanya bilang kalau Mbak suruh ke sini karena Mas Benny mau berangkat ke Jakarta malam ini juga," jelas Nisa dengan santainya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan temanmu? Apa dia bersedia membantu kami?" tanya Fina tanpa basa-basi karena keadaan benar-benar genting.
"Iya mau. Malam ini dia mencoba melacak keberadaannya. Coba Mbak kirim foto orangnya, NIK KTP, nomor telfon dan kalau bisa e-mailnya," jelas Nisa setelah teringat pesan yang disampaikan oleh Johan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Benny segera mengirim data diri pria bernama Gatot Pujo itu kepada Nisa. Meski dia masih bingung siapa Johan sebenarnya, mantan duda itu masih enggan untuk bertanya. Pikirannya hanya tertuju pada barang yang dibawa kabur oleh Gatot.
"Sudah aku kirim, Mas. Kita tunggu saja kabarnya besok pagi," jawab Nisa setelah selesai berbalas pesan dengan Johan.
"Semoga ada kabar baik, Nis." Hanya itu harapan Benny satu-satunya.
"Lebih baik sekarang Mas istirahat saja dulu. Isi energi buat besok pagi. Jangan sampai malam ini tidak tidur karena di hari esok membutuhkan banyak tenaga. Aku mau ngobrol sama Nisa sebentar," tutur Fina dengan sorot mata penuh arti.
Pada akhirnya Benny mengikuti saran dari istrinya karena memang begitu kebenarannya. Dia pergi meninggalkan Fina dan Nisa di ruang keluarga karena mungkin ada sesuatu hal yang perlu dibahas.
"Kamu kok kelihatannya bahagia banget sih, Nis? Ada apa?" selidik Fina sambil mengamati ekspresi yang tidak bisa disembunyikan oleh Nisa.
"Dua hari yang lalu Johan menemuiku, Mbak," jawab Nisa dengan wajah sumringah.
"Oh pantas saja kamu kelihatan bahagia. Gak murung terus," gumam Fina tanpa mengalihkan pandangan dari Nisa, "berarti sekarang Johan sudah bisa dihubungi?" tanya Fina lagi.
"Sudah dong, Mbak," jawab Nisa dengan antusias, "Dia juga sudah bertemu dengan Ibu, tetapi hasilnya nihil, Mbak. Ibu tetap belum memberikan restu padahal Johan sudah pindah divisi," jelas Nisa dengan helaan napas yang berat.
"Bantuin aku dong, Mbak, biar Ibu memberikan restunya," pinta Nisa dengan sorot mata penuh harap.
Fina menatap Nisa penuh arti setelah mendengar permohonan itu. Ada rasa kasihan dalam diri Fina karena kisah cinta adiknya tidak semulus jalan tol. Sepertinya Fina sedang mempertimbangkan permintaan Nisa karena tidak tega melihat keresahan adiknya itu.
"Nanti Mbak coba bujuk Ibu pelan-pelan deh. Semoga aja mempan, tetapi ya jangan didesak dulu, nanti malah makin gak suka lagi sama Johan." Fina menyanggupi adiknya mengenai hal ini hingga membuat Nisa tersenyum penuh arti. Setidaknya masih ada keluarga yang mendukung kisah cintanya bersama Johan.
...🌹To Be Continued 🌹...
__ADS_1