
"Bu, sambalnya enak banget," puji Benny setelah setelah merasakan bagaimana nikmatnya masakan Badiah siang itu.
Sementara Fina hanya diam saja setelah mendengar ucapan ayah Elzayin itu. Dia fokus pada makanan di piringnya karena takut jika pandangannya beradu dengan Benny. Tentu akan ada rasa tidak nyaman yang hadir dalam hatinya.
"Silahkan nambah. Sambalnya masih banyak, Pak," ucap Badiah dengan diiringi senyum yang manis.
Makan siang terus berlanjut hingga beberapa puluh menit lamanya. Setelah selesai membersihkan tangannya, Benny memilih duduk di ruang tamu sambil menunggu Badiah. Tak berselang lama, Fina keluar dari ruang keluarga sambil membawa secangkir kopi untuk Benny.
"Silahkan, Pak," ucap Fina setelah meletakkan cangkir tersebut di atas meja. Dia pun duduk di ruang tamu seperti yang diperintahkan oleh ibunya. Akan tetapi Fina memilih duduk di kursi tunggal yang agak jauh dengan Benny.
"Terima kasih," jawab duda tampan itu dengan senyum yang manis. Dia tak mengalihkan pandangan dari gadis yang terlihat gelisah itu.
Ruang tamu terasa sunyi sepi karena keduanya hanya diam dalam pikiran masing-masing. Sampai pada akhirnya Badiah datang ke ruang tamu untuk menemui pria yang sedang menunggu kedatangannya. Badiah duduk di kursi yang dekat dengan Benny.
"Jadi bagaimana, Pak Ben? Apa tujuan Anda datang ke rumah ini?" tanya Badiah tanpa basa-basi lagi.
"Saya datang kemari ingin bicara kepada Bu Bad perihal niat serius saya untuk mempersunting Fina," jawab Benny dengan sikap yang tegas dan berwibawa.
"Apa Pak Benny yakin? Seperti yang Bapak ketahui sejak awal datang ke rumah ini, kami bukanlah orang yang berada. Status ekonomi kita jauh berbeda. Apa di masa depan tidak akan dipermasalahkan seandainya Fina menjadi bagian keluarga Bapak? Jujur saya takut putri saya diperlakukan tidak baik karena dia tidak punya ayah dan karena berasal dari kalangan bawah," jelas Badiah panjang lebar. Dia mengeluarkan keraguan yang ada dalam hatinya.
"Ibu tidak usah khawatir mengenai hal itu. Sebelum saya memutuskan untuk mengejar Fina, tentu saya sudah bicara dengan kedua orang tua dan keluarga saya. Lagi pula putra saya pun sangat berharap jika Fina menjadi ibunya nanti," ungkap Benny seraya menatap Badiah dengan yakin.
__ADS_1
Pembicaraan serius di antara Benny dan Badiah terjadi di dalam ruang tamu itu. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilayangkan Badiah untuk Benny, demi membuang semua keraguan yang ada dalam dirinya. Benny pun selalu menunjukkan jika dirinya layak untuk menjadi suami gadis cantik yang sedang tertunduk itu. Ya ... Fina hanya diam saja selama pembicaraan berlangsung. Dia pasrah kepada ibunya karena tidak bisa mengambil keputusan.
"Lalu setelah ini di mana Fina akan tinggal? Apakah dia akan tetap aman jika tinggal di rumah Pak Benny? Saya hanya takut terjadi Fitnah mengingat di sana Fina pun masih bekerja untuk Pak Benny," tanya Badiah tanpa mengalihkan pandangan dari Benny.
"Fina akan tetap tinggal di rumah saya seperti biasanya. Ibu tenang saja, saya tidak akan melakukan apapun seperti yang Ibu takutkan." Tentu Benny tahu kemana arah pembicaraan Badiah.
"Setelah Elza sembuh, saya akan melamar Fina secara resmi, Bu. Saya mohon waktunya karena sekarang dia masih dirawat di rumah sakit. Mungkin setelah pulang pun dia masih butuh perawatan. Oleh sebab itu, saya mohon izin kepada Ibu agar Fina tetap tinggal di rumah saya," ucap duda satu anak itu dengan yakin agar Badiah memberikan izinnya.
Sebagai seorang ibu tentu Badiah merasa khawatir dengan kondisi ini. Apalagi Benny adalah pria berpengalaman dan putrinya adalah gadis polos yang belum pernah memiliki pengalaman dalam hal-hal seperti ini. Dia takut keduanya tidak bisa menahan godaan untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama, mengingat di sana cukup bebas. Namun, perlahan keraguan itu mulai terkikis karena Benny terus meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
"Baiklah kalau memang seperti itu yang Pak Benny inginkan, saya mengizinkan Fina kembali ke Surabaya. Saya harap hubungan ini segera diresmikan agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan." Setelah berpikir sejenak, akhirnya Badiah memberikan izinnya.
"Terima kasih, Bu atas izinnya. Saya pasti akan menjaga Fina, seperti yang ibu inginkan," ucap Benny dengan diiringi senyum yang manis.
"Bu, berhubung saya akan menjadi menantu Ibu, bisa tidak jika memanggil saya pakai nama saja. Jangan pakai sebutan 'Pak'?" Benny tersenyum lebar setelah mengatakan hal ini, "Ya, misalnya diganti 'Nak' begitu," usulnya hingga membuat Fina menegakkan kepala sambil menatap sinis ke arah Benny.
"Dasar banyak maunya!" umpat Fina dalam hati.
"Oh iya, iya. Maaf, soalnya sudah kebiasaan panggil seperti itu. Nanti saya ganti lah." Badiah tertawa pelan setelah mendengar protes dari calon menantunya itu, "kalau begitu saya masuk sebentar, silahkan ngobrol dengan Fina dulu, Pak. Eh salah. Nak maksudnya," pamit Badiah sebelum pergi dari ruang tamu.
Kini tinggallah Fina dan Benny di dalam ruang tamu tersebut. Duda tampan itu beranjak dari tempatnya dan berpindah tempat di kursi yang tunggal yang ada di sisi Fina. Dia tak henti mengembangkan senyum karena berhasil mendapatkan gadis pujaannya itu. Kurang beberapa langkah lagi Fina akan menjadi miliknya.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam saja? Gak pengen ngobrol sama calon suami mu ini?" tanya Benny sambil menatap Fina penuh arti. Dia sangat bahagia karena tidak ada lagi pria yang merebut Fina darinya.
"Gak usah PD. Bukan calon suami lah! Kan belum lamaran resmi!" sarkas Fina dengan nada ketus. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Benny. Jujur saja saat ini dirinya pun sangat gugup.
"Cielah calon istriku galak banget sih! Jadi pengen tak hiiih!" ujar Benny sambil mengeretakkan giginya karena gemas dengan sikap Fina.
Bersamaan dengan itu dering ponsel Fina terdengar nyaring di sana. Benny melihat nama Aris di layar ponsel itu, "angkat dan loud speaker, Fin!" titahnya. Fina pun menurut saja dengan perintah itu.
"Hallo, Fin. Aku sekarang berada di baypass Surabaya Mojokerto. Ada kendala yang terjadi kepadaku saat ini. Aku harus kembali ke Surabaya karena ayahku masuk rumah sakit karena serangan jantung. Apa tidak bisa jika semua ini ditunda dulu?" Pemuda itu sepertinya sedang panik jika didengar dari cara bicaranya.
Benny memberikan isyarat agar Fina tidak menjawab pertanyaan itu. Dia mengulurkan tangan sebagai kode agar Fina memberikan ponsel itu kepadanya. Gadis cantik itu pun memberikan ponselnya tanpa protes sedikitpun.
"Dek Aris yang terhormat. Lebih baik kamu tidak usah meneruskan perjalanan ke Mojokerto, karena usahamu akan sia-sia. Aku sudah sampai di Mojokerto dan menemui ibunya Fina. Jadi, setelah ini tolong lupakan Fina, karena tidak lama lagi kami akan menikah," jelas Benny dengan tegas dan setelah itu dia memutuskan sambungan telfon tanpa mendengar jawaban Aris lagi.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Duh lega gak sihπSebentar lagi pak Dud gak dud lagi π...
...ββββββββββββββββ...
...Ada rekomendasi karya keren nihπYuk baca karya author Selvi_19 dengan judul Maria Girls VS Ustadz Tampan. Jangan sampai ketinggalan yaπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...