
Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibir seorang pria yang baru memasuki area tenda pernikahan megah bernuansa putih itu. Dia puas dengan segala yang ada dalam pandangannya saat ini. Pelaminan, dekorasi mewah serta perlengkapan lain yang menunjang sesuai dengan keinginannya. Penampilan pria berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat gagah dengan setelan jas berwarna hitam. Dia terlihat tampan dan berwibawa jika mengenakan pakaian rapi seperti saat ini.
Pria yang masih menyandang status duda itu datang bersama keluarga inti. Ada Sukirman, Ani, Elza, Dita, Doni dan dua orang saksi yang dia bawa dari Surabaya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga besar Badiah.
"Aku sangat penasaran bagaimana penampilan Fina nanti," batin Benny setelah dipersilahkan duduk di kursi ysng sudah disediakan. Dia duduk di samping Elza. Bocah kecil itu pun terlihat rapi dan tampan dengan setelan jas yang sama dengan ayahnya.
Beberapa menit kemudian, acara akad nikah dimulai. Benny dipersilahkan duduk di hadapan penghulu dan setelah itu Fina dipanggil untuk disandingkan di sisi Benny. Tatapan semua orang tertuju pada sosok cantik yang sedang berjalan bersama Nisa dan Badiah. Mereka kagum dengan kecantikan dari gadis yang biasanya terlihat sederhana itu.
"Bidadari surgaku. Pengasuh idamanku dan Elza. Istriku, Masyaallah ... cantik sekali," batin Benny ketika mengamati sosok yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Rasanya Benny ingin sekali memeluk dan mencium objek indah yang saat ini berada di sisinya. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk memiliki gadis cantik itu.
"Saudara Benny Chandra Suherman, apakah Saudara sudah siap melaksanakan akad nikah?" tanya pak Penghulu sebelum acara mendebarkan ini dimulai.
"Sudah, Pak. Saya sudah siap melaksanakan," jawab Benny dengan tegas.
Sebelum akad nikah dimulai, Penghulu tersebut memberikan nasihat pernikahan. Menjelaskan hak dan kewajiban suami istri dan tentunya mengajarkan bagaimana jalannya akad nikah. Tak lama setelah itu penghulu tersebut menjabat tangan Benny dan mengucapkan akad nikah dengan menggunakan bahasa indonesia.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fina Imaniyah binti Hasannudin Ibrahim dengan mas kawin tersebut tunai," ucap Benny dengan fasih.
"Bagaimana para saksi?" tanya Penghulu tersebut kepada saksi yang ada di sana.
"Sah!" jawab serempak semua orang yang hadir di sana.
Fina meneteskan bulir air mata karena pada akhirnya dia sudah sah menjadi seorang istri dari pria asal Surabaya itu. Dia terharu karena dalam ingatannya masih ada sosok ayah yang tidak bisa lagi untuk dilihat. Kedua tangannya menengadah ketika mendengar doa yang dibacakan oleh penghulu.
"Ya Allah semoga saja mas Benny adalah pria terbaik untuk hamba," batin Fina.
__ADS_1
"Mbak Fina silahkan salim sama suaminya. Kalian berdua sudah sah dan halal di mata agama dan negara," ucap Pak Moden seraya menatap kedua mempelai.
Fina menegakkan kepala dan setelah itu menerima uluran tangan Benny. Punggung tangan itu dikecupnya dengan khidmat dan setelah itu Benny memberikan kecupan mesra di kening tersebut cukup lama.
"Ehem ... cie ... cie ... udah sah nih yee!" ujar keluarga dari Surabaya saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata pria yang menyandang status baru itu.
Setelah menandatangani surat-surat pernikahan, kini keduanya serah terima mahar. Beberapa lembar uang dan emas antam diberikan kepada Fina dalam bentuk nyata. Ada juga replika yang sudah di hias dalam figura. Dua surat pernikahan pun diserahkan kepada kedua mempelai.
"Aku punya Mama baru! Yeeee!" ujar Elza tiba-tiba hingga membuat semua orang tergelak. Bocah kecil yang baru saja pulih dari cidera itu turun dari kursi dan berjalan menghampiri Fina.
"Kalau begitu setelah ini Mama pulang ke Surabaya ya. Pulang sama aku?" Mata bocah kecil itu berbinar-binar.
"Pasti, Sayang," ucap Fina dengan diiringi senyum yang manis.
"Mama sangat cantik hari ini!" puji Elza dengan tulus hingga membuat semua orang di sana kembali tergelak.
Setelah segala urusan akad nikah selesai. Fina dibawa masuk ke dalam kamar karena harus ganti pakaian sekaligus model hijabnya. Kali ini tim MUA dikejar waktu karena upacara pernikahan akan dilaksanakan pukul sepuluh pagi. Sama hal nya dengan Fina, Benny pun harus bersiap. Pria tampan itu tetap saja dimake-up meski hanya make-up tipis.
Fina mengubah posisinya agar membelakangi Benny yang sedang melepas kemeja. Dia masih merasa malu, apalagi ada dua orang asing di sana. Tentu hal ini membuat kedua MUA tersebut mengulum senyum.
"Hmmm ... Mbak Fina malu ternyata. Gak papa meskipun dipandang Mbak. Udah halal kok," seloroh MUA yang sibuk memasang aksesoris di kepalanya.
"Mungkin malu karena ada kita, Vit. Apa perlu kita berdua keluar dulu Mbak Fin?" tanya asisten Vita seraya mengulum senyum. Dia pun sibuk mempersiapkan jarik yang dipakai Benny setelah ini.
"Jangan dong, Mbak," cegah Fina.
Persiapan demi persiapan akhirnya selesai dilakukan. Rombongan keluarga besar serta tetangga dari Surabaya pun sudah hadir di sana. Upacara pernikahan siap dilakukan. Kali ini bukan puisi ataupun tembang jawa sebagai pengiringnya. Fina memilih alunan sholawat nabi dengan diiringi rebana hadroh sebagai pengantar menuju pelaminan. Sungguh, suasana menjadi semakin sakral dengan alunan sholawat nabi yang dibawakan dengan merdu. Suara merdu itu berhasil menggetarkan jiwa semua orang. Suasana bahagia itu mendadak penuh haru.
****
__ADS_1
Semakin malam pesta pernikahan Fina semakin ramai. Tamu undangan terus berdatangan memenuhi tenda pernikahan megah itu. Malam ini Fina memakai gaun mewah berwarna biru laut. Dia duduk bersanding di atas pelaminan bersama Benny sambil mengembangkan senyum terbaiknya.
"Mas, itu pak Syakur dan kang Aris 'kan?" bisik Fina setelah melihat dua orang itu masuk ke dalam tenda pernikahannya, "perasaan aku tidak mengundang mereka," gumam Fina.
"Aku yang mengundang mereka," ucap Benny tanpa melepaskan pandangan dari dua orang tersebut.
Benny mengajak Fina turun dari pelaminan untuk menemui dua orang penting yang sengaja dia undang di pesta ini. Benny menyambut kedatangan Syakur dan Aris dengan senyum bahagia. Dia mempersilahkan pelatih putranya itu duduk di tempat yang nyaman.
"Silahkan dinikmati, Pak," ucap Benny.
"Terima kasih," ucap Syakur sambil mengangguk pelan.
Dalam tenda pernikahan yang megah itu, ada sosok yang sedang menahan gemuruh di dalam hatinya. Apalagi, setelah melihat wajah cantik yang terlihat sangat bahagia itu. Sungguh, rasanya seperti berada dalam kobaran api—panas—hingga kulit seperti terbakar api.
"Ris, jangan terlalu sering dipandang. Dia sudah menjadi milik orang. Kamu harus menerima jika dia bukan jodohmu," bisik Syakur setelah beberapa kali melihat putranya mencuri pandang ke arah pengantin wanita.
Sementara Benny tak henti tersenyum. Dia sengaja menatap ke arah lain, tetapi dia tahu jika pemuda itu sedang mengamati istrinya. Benny membiarkan hal itu karena mungkin saja hari ini adalah terakhir kalinya pemuda itu menatap lama gadis impiannya dulu.
"Kami harus pulang sekarang, Pak, karena sudah terlalu lama berada di sini," ucap Syakur setelah beberapa puluh menit lamanya berada di sana dan sempat ngobrol banyak hal bersama Benny dan Fina.
"Terima kasih atas kehadirannya, Pak. Saya senang karena Bapak bersedia datang ke pesta pernikahan kami," balas Benny saat bersalaman dengan Syakur.
Aris mengembangkan senyum tipis ketika bersalaman dengan Fina. Mungkin setelah ini dia tidak akan bertemu lagi dengan Fina, karena meski pun bertemu di suatu tempat, keadaan pun sudah berbeda, "semoga kamu selalu bahagia," ucap Aris sebelum meninggalkan pesta pernikahan itu.
"Kenapa Mas Benny mengundang mereka?" tanya Fina setelah anak dan ayah itu hilang dari pandangan mata.
Benny hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Lantas, dia meraih tangan berhiaskan henna berwarna putih itu dan digenggamnya dengan erat, "karena aku hanya ingin pemuda itu tahu jika kamu benar-benar menjadi milikku. Setelah ini aku tidak mau jika dia sampai mengharapkanmu, Sayang." bisik Benny dengan suara sensual.
...🌹To Be Continued 🌹...
__ADS_1
...Jan lupa emak-emak online, ampao dan kado untuk pernikahan mereka😆 Pakai unboxing gak nih?🤣...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...