
Dua bulan menjalani hari-hari bahagia dengan status sebagai seorang istri telah dilewati Fina dengan rasa suka cita. Kehidupannya berjalan lancar tanpa ada kendala besar yang menjadi penghalangnya. Ada beberapa hal kecil yang sempat menjadi penyedap rasa dari rumah tangga yang dia jalani saat ini.
"Ma, kita ke rumah uti yuk! Aku pengen main sama adek Galang," pinta Elza seusai melepas seragam sekolahnya.
"Bagaimana kalau nanti sore saja? Sekarang sudah jam sepuluh loh. Apa adek Galang boleh main sama tante Dita?" tanya Fina seraya merapikan seragam Elza.
"Nanti kalau waktunya adek Galang bobok, kita pulang deh Ma." Elza masih berusaha membujuk ibu sambungnya itu agar bersedia diajak pergi ke rumah orang tua Benny.
"Baiklah, Mama ambil kunci motornya dulu." Akhirnya, Fina menyetujui permintaan anak sambungnya itu.
Beberapa menit setelah bersiap, mereka berangkat menuju komplek tempat tinggal Ani. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Elza segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah neneknya itu. Sementara Fina mengikuti di belakang Elza sambil membawa beberapa mainan putranya.
"Assalamualaikum," ucap Fina begitu masuk ke dalam rumah tersebut. Dia langsung masuk menuju ruang keluarga karena di waktu seperti ini, penghuni rumah ada di belakang.
"Waalaikumsalam," jawab Dita karena hanya ada dia dan putranya di ruang keluarga, "sendiri aja, Mbak?" tanya Dita setelah melihat Fina duduk di salah satu sofa tunggal yang ada di sana.
"Iya. Soalnya ini tadi Elza minta datang ke sini katanya pengen main sama Galang," jawab Fina sambil tersenyum simpul.
"Silahkan makan dulu, Mbak. Ada rica-rica mentok tuh, tadi Ibu yang masak," ucap Dita sambil menunjuk meja makan.
"Iya, gampang lah kalau masalah itu. Nanti saja kalau memang sudah lapar. Ibu kemana?" tanya Fina karena belum menemukan ibu mertuanya.
"Biasa di belakang sana sama bapak," jawab Dita tanpa menatap Fina karena dia sibuk menyuapi anaknya.
"Kalau begitu aku ke belakang dulu. Titip Elza sebentar," pamit Fina seraya beranjak dari tempatnya.
Bersamaan dengan itu, Dita selesai mengurung putranya. Dia beranjak dari tempatnya untuk meletakkan piring kotor bekas makanan putranya, "gak boleh main kejar-kejaran! Ngerti, Lang, El? Duduk dan main game di hape saja karena baru selesai makan." Dita memberikan peringatan kepada putranya sebelum meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
Adik ipar Fina itu sibuk di dapur untuk membuatkan putranya susu seperti biasanya. Menjelang tidur siang Galang selalu minta minum susu. Namun, baru saja air yang ada di dalam panci mendidih, terdengar suara teriakan Elza di ruang keluarga.
"Tante! Adek Galang muntah!" teriak Elza ketika melihat sepupunya menumpahkan isi perutnya di lantai.
"Kan ... kan ... kan! Maka dari itu nurut kalau Mama ngomong itu! Jangan lari-lari setelah makan! Kenapa susah dibilangin sih!" Dita marah-marah dengan suara yang lantang sehingga membuat Ani dan Fina masuk ke dalam rumah.
"Aku tadi diajak Kak Elza main kejar-kejaran, Ma," ucap Galang dengan suara yang bergetar. Dia takut melihat tatapan tajam ibunya.
"Elza, kenapa adiknya diajak lari? Tadi Tante kan sudah bilang gak boleh main kejar-kejaran!" Suara Dita meninggi ketika melihat putranya masih berusaha mengeluarkan isi perutnya, "Duduk anteng sambil main hape kan bisa," ujar Dita. Pasalnya selama ini dia menahan kesal dengan Elza, karena susah diatur.
"Aku belum waktunya main hape, Tante. Aku kalau main hape itu sebelum bobo siang," jawab Elza dengan polosnya.
"Duh!" Gerutu Dita.
"Ada apa, Dit? Suaramu itu loh kenceng banget!" protes Ani setelah sampai di sana. Wanita paruh baya itu belum tahu jika Dita sedang membereskan kekacauan yang terjadi.
"Enggak, Ma. Tadi aku main kejar-kejaran sama Adek Galang. Terus Adek muntah," jelas Elza seraya menatap ibu sambungnya.
"Sebelumnya mereka berdua sudah aku larang main kejar-kejaran. Eh, si Elza malah ngeyel. Aku suruh main game di hape gak mau. Katanya belum waktunya mainan hape." Dita kembali meluapkan isi hatinya, "jangan terlalu mengekang anak kecil. Gak ada salahnya lagi mereka main game. Lagi pula main hape saja pakai diatur waktu. Kasihan nanti ketinggalan sama temannya," cerocos Dita tanpa sadar.
Tentu Fina terkejut setelah mendengar suara lantang adik iparnya itu. Sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak jatuh karena takut membuat Ani kepikiran.
"Dit, pelankan suaramu!" ujar Ani setelah kembali ke ruang keluarga sambil membawa kain pel untuk membersihkan ruang keluarga.
Fina terpaku melihat Dita yang sedang membersihkan lantai dengan wajah yang murung. Apa yang sudah diucapkan Dita berhasil melukai hatinya. Ada rasa tidak rela dalam hati ketika adik iparnya itu memaki Elza.
"Kalau begitu aku bawa Elza balik saja. Emm ... setelah ini soalnya Mas Benny pulang," ucap Fina dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? Baru juga sampai di sini," cegah Ani seraya menatap menantunya dengan lekat, "tidak udah mendengarkan Dita. Jangan diambil hati," bisik Ani sambil menepuk bahu menantunya.
"Maaf, Bu. lain kali saja kami datang lagi ke sini," ucap Fina seraya menatap mertuanya itu dengan senyum tipis, "El, pamit dulu sama Uti dan Tante. Jangan lupa minta maaf ke Tante karena Elza sudah melakukan kesalahan." Fina menepuk bahu putra sambungnya itu.
"Tante ... aku minta maaf. Aku salah," ucap Elza sambil mengulurkan tangan ke arah Dita.
"Ya." Hanya itu yang diucapkan Dita sambil menerima uluran tangan Elza.
Wanita berhijab itu segera membawa Elza pergi setelah pamit kepada semua yang ada di ruang keluarga. Motor matic yang dikendarainya telah keluar dari halaman luas rumah Ani. Air mata tak dapat lagi dibendung. Fina tergugu saat masih berada di jalan menuju komplek perumahan tempat tinggalnya selama ini.
"Mama kenapa menangis?" tanya Elza sambil menengadahkan kepala.
"Gak papa kok, Nak," jawab Fina dengan suara yang bergetar.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Fina menggandeng Elza saat memasuki rumah megah tersebut. Air mata masih berlinang di pelupuk mata.
"Mama jangan sedih lagi. Nanti kalau ketemu Tante Dita, biar aku pukul lah dia karena sudah membuat Mama nangis," ujar Elza sambil menatap Fina yang sedang duduk dengan kepala yang tertunduk.
"Jangan, Nak. Tidak baik seperti itu," ujar Fina dengan suara yang masih bergetar.
Fina merasa shock setelah mendengar semua pembicaraan Dita tentang bagaimana cara didiknya terhadap Elza. Dia belum terbiasa dan tentunya belum paham bagaimana karakter Dita yang sesungguhnya. Maka dari itu tidak seharusnya Dita marah besar seperti tadi kepadanya dan Elza. Apalagi sampai membawa hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan.
"Setelah ini mainnya di rumah saja ya, Nak. Jangan main dulu sama Adek Galang biar Tante Dita gak marah," ucap Fina sambil mengusap kepala putranya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Adakah yang punya konflik dengan ipar macam si Fina? Komen dong π...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...