Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Mengupas Bawang


__ADS_3

"Mbok, di mana istri saya?" tanya Benny setelah mencari keberadaan Fina tapi belum juga ketemu.


Benny dan Elza sampai di rumah tepat pukul sepuluh pagi. Sambutan hangat yang biasa mereka dapatkan setelah masuk ke dalam ruang keluarga tak lagi dirasakan karena sang ratu tidak ada di singgasananya. Tentu hal ini membuat Benny heran, mengingat Fina tidak memberi kabar apapun jika sedang pergi.


"Ibu ada di teras belakang, Pak. Ngupas bawang merah," jawab Jumiatin seraya menyandarkan tongkat pel di dinding.


"Bawang merah?" Benny mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya Fina melakukan hal ini.


"Iya, Pak. Tadi setelah bu Ani pulang dari sini, ibu Fina menyuruh saya beli bawang merah dan bawang putih, katanya beliau lagi ngidam ngupas bawang," jelas Jumiatin tanpa ada yang ditutupi.


Benny semakin heran setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia tak segera pergi ke belakang karena masih ada orang bengkel yang sedang menunggunya di luar rumah. Mobil Xpander putihnya sedang membutuhkan servis, "baiklah kalau begitu. Terima kasih, Mbok," ucap Benny sebelum meninggalkan asisten rumah tangganya.


Sementara itu di terasa belakang, beberapa tissu bekas berserakan di lantai yang ada di sisi Fina. Entah berapa lembar tissu yang sudah dipakai untuk mengusap air mata yang tak henti menetes dari pelupuk mata. Wanita berbadan dua itu tak henti mengupas bawang meskipun bola matanya berubah merah karena merasakan perih.


"Seharusnya kamu bisa memberikan kedamaian untuk Benny agar tidak emosi kepada Dita,"


"Benny itu keras kepala. Seharusnya kamu bisa melunakkan hatinya karena kasihan Dita,"


"Jika memang kamu diberikan wewenang untuk mengelola keuangan, tolong jangan merubah apapun yang sudah menjadi kebiasaan. Ibu sedih jika melihat Benny dan Dita bertengkar seperti ini,"


"Tolong bujuk Benny agar tidak bersikap seperti ini kepada Dita. Hanya kamu yang mampu membuat Benny luluh,"


Air mata tak henti mengalir dari pelupuk mata hingga pipi mulus itu semakin basah dibuatnya. Pagi ini dia serasa mendapat kejutan dari mertuanya hingga tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Tentu masalah kakak beradik itu bukanlah urusannya, mengingat dia sendiri tidak tahu jika terjadi perang dingin di antara mereka.


"Kenapa aku diseret ibu dalam masalah ini? Seakan semua yang terjadi adalah salahku. Apakah dalam pikiran ibu, aku ini pengendali keuangan di rumah ini? Bahkan berapa uang yang ada di dompet mas Benny saja aku tidak tahu." Fina menggerutu di dalam hati dengan tangan tak henti mengupas bawang merah.


Wanita berbadan dua itu mengambil selembar tissu lagi untuk menghapus air matanya. Tanpa disadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Ya, dia adalah Benny. Mantan duda itu berdiri di belakang tubuh istrinya.

__ADS_1


"Ada masalah apa sehingga kamu menangis sendiri di sini?" Akhirnya Benny mengeluarkan suara karena penasaran dibuatnya.


Terkejut. Itulah yang dirasakan Fina saat ini. Dia tak segera membalikkan badan karena belum menyiapkan jawaban yang tepat untuk menyembunyikan masalah ini, "aku gak nangis, Mas. Mataku perih karena sedang mengupas bawang," jelas Fina tanpa berani membalikkan badan.


Wanita berbadan dua itu semakin gelagapan ketika mendengar derap kaki Benny semakin mendekat ke arahnya. Dia harus merubah ekspresi wajahnya dengan cepat agar Benny tidak curiga.


"Lihat aku sebentar," ujar Benny setelah duduk di hadapan Fina. Dia menatap dengan lekat sosok yang sedang mengupas bawang merah itu.


"Ada apa sih, Mas?" Fina mencoba bersikap manja di hadapan Benny agar tidak ada pertanyaan lagi.


"Ada apa?" tanya Benny dengan wajah serius.


"Gak ada apa-apa, Mas!" sergah Fina, "aku mendadak pengen ngupas bawang aja. Si utun yang minta ngupas bawang," jelas Fina dengan senyum yang dipaksakan.


"Jangan berbohong! Katakan! Ada apa ibu datang ke rumah?" desak Benny tanpa ada senyuman ataupun tatapan penuh cinta seperti biasanya.


"Gak ada apa-apa, Mas!" jawab Fina dengan suara yang bergetar. Tak lama setelah itu isak tangis pun terdengar di sana.


Benny membuang napas kasar setelah melihat isak tangi Fina. Dia menyesali apa yang baru saja diucapkan. Dia berpikir jika Fina menangis karena takut melihat sikapnya. Namun, masih ada pikiran lain di kepalanya, jika mengupas bawang adalah sebuah alasan yang dipakai istrinya untuk menyembunyikan sesuatu.


"Sayang, menangis karena merasakan pedih akibat mengupas bawang dengan menangis karena ada masalah itu jelas berbeda. Kamu tidak bisa berbohong karena aku tahu jika tangismu kali ini adalah tangis kesedihan. Sekarang lebih baik sudahi kegiatan yang bisa menyakiti matamu ini. Segera cuci tangan dan setelah itu mari kita bicara," ujar Benny setelah mengatur napas agar bisa bersikap biasa.


"Katanya dengan mengupas bawang bisa menyembunyikan air mata kesedihan. Akan tetapi pada kenyataannya Mas tetap tahu kalau aku lagi sedih. Gak ada gunanya dari tadi aku menahan rasa panas dan perih di mata!" gerutu Fina sambil memukulkan pisau itu di lantai.


Sekuat tenaga Benny harus menahan tawa karena di matanya, Fina terlihat lucu dan menggemaskan. Bagaimana bisa dia memiliki ide gila ini demi menutupi isak tangisnya. Bawang merah dan bawang putih yang ada di dalam kresek pun sampai hampir habis.


"Terus bawangnya mau buat apa? Udah dikupas sebanyak itu juga?" tanya Benny sambil menunjuk baskom berisi bawang merah dan bawang putih kupas.

__ADS_1


"Aku gak tahu, Mas." Fina menggeleng beberapa kali dengan isak tangis yang tak kunjung reda. Dia tergugu karena tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua masalah ini.


Benny berdiri dari tempatnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Fina di teras rumah belakang seorang diri. Tak lama setelah itu dia kembali lagi bersama Jumiatin yang mengekor di belakangnya.


"Mbok, tolong semua bawang ini diurus. Terserah mau dijadikan bagaimana," pinta Benny kepada Asisten rumah tangganya.


"Baik, Pak. Nanti akan saya atur. Apa perlu saya buatkan susu dulu untuk Bu Fina?" tanya Jumiatin seraya menatap tuannya itu.


"Tidak perlu, Mbok," tolak Benny dengan senyum tipis.


Pria tampan itu membungkukkan badan dan setelah itu membantu Fina bangkit dari tempatnya. Dia membawa Fina masuk ke dalam rumah dan tak lupa sebelum membawa istrinya itu ke kamar, dia mampir ke dapur agar Fina membersihkan tangannya terlebih dahulu. Tentu bau khas bawang merah begitu menyengat di indera penciuman.


"Ayo kita ke kamar. Kita selesaikan bersama masalah yang membuatmu menangis seperti ini," ajak Benny setelah cukup lama menunggu Fina membersihkan tangannya.


Benny berjalan beriringan bersama Fina melewati ruang keluarga. Ternyata di sana ada Elza yang sedang menonton televisi. Bocah kecil itu mengalihkan pandangan ke arah orang tuanya. Lebih tepatnya ke arah ibu sambungnya. Dia menatap heran karena Fina terus tertunduk.


"Pergilah ke kamar terlebih dahulu. Aku akan bicara dengan Elza," bisik Benny sebelum Fina melanjutkan langkahnya.


Benny berjalan ke tempat Elza berada saat ini. Dia duduk di sisi putranya itu dengan helaan napas yang berat. Dia harus merangkai kata yang tepat sebelum menjelaskan keadaan yang sedang dialami Fina, karena dia tidak mau jika putranya tahu bahwa Fina sedang menangis.


"Elza main sendirian dulu ya. Papa mau nemenin Mama di kamar sebentar. Mama sedih karena kangen sama Papa. Padahal, kita tadi kan baru pergi sebentar ya, El?" jelas Benny sambil mengusap rambut tipis putranya. Suara gelak tawa pun terdengar di ruangan keluarga itu setelah Benny dan Elza sempat melempar candaan.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Ada yang seperti Fina gak? Ngupas bawang untuk menutupi kesedihan😆...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2