Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Murung.


__ADS_3

Siluet jingga terlukis indah di cakrawala, menemani sang penguasa sinar kembali ke singgasana. Burung-burung berterbangan mencari sarang karena tidak lama lagi langit berubah menjadi gelap. Suara kicauannya semakin menambah syahdunya suasana senja di komplek perumahan yang ditempati Benny.


"Mbak Fina. Aku pengen main bola," pinta Elza setelah menghampiri Fina yang sedang duduk di teras rumah.


"Gak usah main bola, El. Udah di sini aja, habis ini kan magrib," cegah Fina tanpa senyum. Wajah cantik itu terlihat redup sejak dua hari yang lalu.


Elza mengerucutkan bibirnya setelah mendengar penolakan dari pengasuhnya. Bocah laki-laki itu patuh atas apa yang diucapkan oleh Fina meski dia pun ikut murung seperti pengasuhnya. Tanpa banyak bicara, Elza masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Fina di teras sendirian. Mungkin dia akan menemui Benny yang baru pulang dari kerja.


Tok ... tok ... tok ....


"Pa ... Papa! El mau masuk, Pa!" ujar Elza ketika mengetuk pintu kamar ayahnya beberapa kali. Tidak lama setelah itu pintu terbuka lebar.


"Ada apa, El?" tanya Benny setelah duduk di tepian tempat tidur. Sementara Elza berdiri di hadapannya.


"Aku pengen main bola, Pa. Tapi gak boleh sama mbak Fina," keluh Elza seraya menatap ayahnya.


"Papa juga setuju sama mbk Fina, karena setelah ini kan magrib. Sebaiknya Elza main di dalam rumah." Benny mencoba memberi pengertian kepada putranya agar tidak menyalahkan Fina.


"Tapi aku sedih, Pa, karena sejak kemarin-kemarin mbak Fina gak mau senyum. Wajahnya begini nih." Elza memperagakan bagaimana wajah pengasuhnya.


"Kok bisa mbak Fina murung seperti itu? Pasti Elza nakal ya!" tebak Benny seraya mengusap kepala putranya dengan lembut.


Bocah laki-laki itu segera menggelengkan kepalanya setelah mendengar tuduhan ayahnya, "enggak. Aku nurut terus kok Pa sama mbak Fina," sanggah Elza dengan tegas. Setelah itu Elza hanya diam dengan mata yang digerakkan ke kiri dan ke kanan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin gara-gara tante jahat ya, mbak Fina jadi seperti ini?" Elza bergumam lirih setelah teringat pertengkaran Fina dan Renata malam itu.


"Tante jahat? Maksudnya tante Renata gitu?" tebak Benny sambil menatap putranya dengan intens.


"Iya. Waktu itu tante jahat marah-marah sama mbak Fina-ku. Aku gak suka kalau ada orang yang maki-maki mbak Fina, Pa!" ujar Elza dengan geram, "Papa gak usah punya teman nakal begitu! Dia nakal dan jahat!" Elza menatap ayahnya dengan bibir yang mengerucut.


"Apa Elza masih ingat, tante Renata marahnya bagaimana?" selidik Benny.

__ADS_1


"Emmm ... katanya mbak Fina gak boleh dekat Papa, gak boleh menggoda Papa gitu. Terus mbak Fina marah balik ke tante jahat," ucap Elza setelah mengingat sebagian ucapan kekasih ayahnya.


Tentu hal ini membuat Benny meradang. Dia tidak terima jika Renata memusuhi Fina, apalagi karena suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh gadis itu. Ya ... meski Benny sendiri yang tergoda akan pesona gadis cantik itu.


"Kalau begitu sekarang Elza main di kamar saja ya. Biar Papa yang membujuk mbak Fina agar tidak murung lagi," bujuk Benny dengan senyum yang sangat manis.


"Bener ya, Pa! Bilang sama mbak Fina, aku gak mau lihat dia marah atau sedih. Aku suka melihat mbak Fina senyum terus," ucap Elza sebelum memutuskan pergi dari kamar ayahnya.


Benny mengela napas yang berat setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh putranya. Dia sama sekali tidak mengetahui atau pun menaruh curiga jika kedua wanita yang ada dalam mobilnya kala itu sedang bersitegang. Beberapa kali duda satu anak itu melihat wajah murung pengasuh putranya, tetapi dia berpikir jika Fina sedang PMS ataupun memiliki masalah yang lain.


"Lebih baik aku bicara dengan Fina," gumamnya sambil keluar dari kamar.


Duda satu anak itu telah melewati setiap undakan tangga di rumahnya hingga sampai di ruang keluarga. Dia mempercepat langkahnya menuju teras rumah. Benar saja, ternyata Fina masih termenung di sana. Gadis cantik itu duduk di lantai dengan tatapan lurus ke depan.


"Fin," ucap Benny saat duduk di samping Fina tanpa permisi.


Sang pemilik nama mengalihkan pandangan ke samping hingga tidak sengaja beradu pandang dengan pria yang ada di sampingnya. Fina membuang muka ke arah lain ketika melihat tatapan berbeda dari Benny.


"Apakah kamu ada masalah dengan semua orang yang ada di rumah ini?" tanya Benny tanpa basa-basi.


"Tidak, Pak." Fina menggeleng pelan, "memang ada apa ya, Pak?" tanya Fina lagi.


"Elza tadi mengatakan jika beberapa hari ini kamu murung dan tidak bersemangat. Dia sedih melihat sikapmu menjadi seperti ini. Jika memang ada masalah, mari kita bicara agar tidak ada kesalahpahaman," jelas Benny seraya menatap Fina tanpa berkedip.


Tentu Fina terkejut setelah mendengar penjelasan Benny. Dia tidak punya niat membuat Elza menjadi sedih. Mungkin gadis cantik itu tidak sadar jika sikapnya sudah melukai hati bocah yang sangat disayangi nya itu. Fina mengela napas yang berat. Hatinya seperti sedang menahan banyak beban, tetapi gadis itu pun tidak tahu apa yang sudah membuatnya menjadi seperti ini. Bad mood.


"Katakan saja meski yang membuatmu kesal adalah Renata," ucap Benny hingga membuat Fina seketika menatap ke arahnya.


"Kenapa pak Ben membawa nama itu?" tanya Fina sambil mengerutkan alisnya.


"Karena Elza sudah bercerita jika Renata sempat memakimu. Apa yang sudah terjadi di antara kalian?" selidik Benny dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah cantik itu.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Pak. Yang jelas pacar Pak Ben itu sudah menuduh saya. Bapak sih kenapa gak perhatian lagi sama dia! Jadi saya yang disalahkan. Saya dianggap sudah merebut perhatian Bapak dari dia. Padahal saya kan gak pernah menggoda ataupun genit sama Pak Ben!" Akhirnya Fina mengeluarkan unek-uneknya.


Benny mengembangkan senyum tipis setelah mendengar penjelasan Fina dengan nada penuh penekanan. Entah mengapa, rasanya Benny begitu bahagia melihat sisi lain dari pengasuh putranya. Selama ini yang dia tahu, Fina adalah sosok yang kalem dan sopan. Tidak pernah bicara dengan nada tinggi ataupun meledak-ledak seperti saat ini. "Kamu memang tidak menggodaku, Fin, tetapi aku yang tergoda oleh pesonamu," batin Benny.


"Apakah hanya ini saja yang membuat sikapmu berubah begini?" tanya Benny lagi.


"Tidak lah!" jawab Fina dengan cepat, tetapi setelah itu dia membekap mulutnya karena menjawab tanpa berpikir panjang.


"Katakan saja." Benny semakin menatap Fina dengan intens.


"Maksud saya tidak ada lagi, Pak. Hanya itu saja." Fina menggeleng pelan dan berusaha menghindari tatapan Benny.


"Sudahlah, jujur saja. Jangan bohong agar hal-hal seperti ini tidak terulang lagi. Aku hanya ingin Elza bahagia," jelas Benny tanpa melepas pandangan dari wajah Fina, meski dari samping.


Desakan dari Benny berhasil membuat Fina semakin bingung. Bahkan, dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Ingin menangis tapi bingung apa yang membuatnya sedih. Sungguh, gadis itu berada dalam keresahan hati yang membuatnya bingung.


"Ikuti kata hatimu, Fin. Katakan satu hal saja yang membuat napasmu menjadi sesak seperti saat ini," ucap Benny setelah mengamati kegelisahan gadis yang sedang mengela napas beberapa kali.


"Saya tidak suka melihat pak Ben bermesraan di depan saya! Saya risih, Pak. Mata saya bisa ternoda kalau sering melihat pak Ben mesra-mesraan!" keluh Fina dengan penuh penekanan.


Benny terbelalak setelah mendengar pengakuan gadis berjilbab itu. Tentu sebagai seorang pria yang berpengalaman, Benny bisa menyimpulkan jika sikap yang ditunjukkan Fina beberapa hari ini adalah perasaan kecewa karena terbakar api cemburu.


"Kamu cemburu, Fin? Kamu tidak suka jika aku bersama Renata?" Benny tersenyum penuh arti setelah melihat ekspresi wajah pengasuh putranya itu.


Mata indah itu melebar sempurna setelah mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Benny. Tentu Fina tidak tahu bagaimana rasanya cemburu karena selama ini dia belum pernah menjalin hubungan bersama pria manapun. Rasa cinta saja dia belum paham sepenuhnya, apalagi rasa cemburu.


Perdebatan terjadi di sana. Fina keukeh menolak tuduhan majikannya itu. Sementara Benny sendiri semakin gencar menggodanya hingga rona merah tercetak jelas di wajah cantiknya. Hidung kembang kempis serta tatapan mata yang tidak fokus. Itulah yang membuat Fina berdiri dari tempatnya. Dia ingin kabur karena malu tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Terserah pak Ben lah! Yang jelas saya tidak cemburu ataupun memiliki perasaan seperti tuduhan dari Bapak. Permisi, saya mau sholat magrib!" ujar gadis cantik itu sebelum pergi meninggalkan Benny.


...🌹To Be Continue 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2