
"Astagfirullah haladzim, Ya Allah gusti," ujar Badiah sambil mengusap dada setelah mendengar cerita tentang musibah yang menimpa usaha Benny.
Tiga hari setelah Benny pulang dari Jakarta, baik Fina atau pun Benny ingin menyelenggarakan syukuran di Mojokerto. Semua ini dilakukan sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Allah karena sudah menyelamatkan mereka dari musibah itu. Acara syukuran akan digelar di dua tempat yaitu Mojokerto dan Surabaya. Berhubung acara di Surabaya lebih besar jumlah yang diundang, maka mereka mendahulukan acara di Mojokerto.
"Maka dari itu kami ingin menyelenggarakan syukuran di sini besok, Bu. Alhamdulillah Mas Benny selamat dari penipuan tersebut. Barang kembali ke gudang, Bu. Ya ... meski Mas Benny harus pergi ke Jakarta untuk mencari langsung orangnya," jelas Fina sambil menepuk paha ibunya.
"Terus kenapa kalian kok gak cerita ke Ibu waktu itu. Kenapa hanya bilang kalau ayahnya Elza pergi ke Jakarta gitu saja?" cecar Badiah seraya menatap kedua putrinya.
"Biar Ibu tidak khawatir lah. Kalau sekarang kan semua sudah selesai, baru kami mau cerita," jawab Fina dengan diiringi senyum manis.
"Terus, Nak, kamu di Jakarta sama siapa? Pasti tidak mudah menemukan orang seperti itu kan?" Badiah beralih menatap Benny.
"Alhamdulillah saya dibantu temannya Nisa yang ada di Jakarta, Bu. Kalau bukan karena bantuan dia mungkin saya sudah kehilangan barang senilai delapan ratus juta itu. Temannya Nisa sangat hebat karena bisa melacak keberadaan orang tersebut hanya dalam waktu satu malam. Padahal, sebelumnya saya seharian sudah menyuruh orang tetapi hasilnya nihil."
Benny menceritakan hal ini senatural mungkin agar Badiah tidak curiga jika saat ini dia sedang melambungkan nama Johan. Setelah sepasang suami istri itu berunding, mereka memutuskan untuk membantu melancarkan hubungan Nisa dan Johan. Mereka kasihan melihat cinta sepasang anak muda itu terhalang restu.
"Temannya Nisa? Jakarta?" Badiah mengernyitkan kening setelah mendengar hal itu. Hanya satu nama yang ada dalam pikirannya saat ini, "maksud Nak Benny, Johan?" Wanita paruh baya itu meyakinkan apa yang ada dalam pikiran.
"Loh ibu kenal sama Johan?" Benny pura-pura terkejut setelah mendengar nama yang tercetus dari bibir mertuanya.
Badiah mengalihkan pandangan ke arah Fina dengan sorot penuh Arti. Janda dua anak itu seakan bertanya mengenai ketidaktahuan Benny dengan permasalahan Johan dan keluarganya. Fina pun menganggukkan kepala sebagai jawaban jika Benny tidak tahu masalah Johan ataupun identitas ayahnya.
Sungguh, sepasang suami istri itu patut diacungi jempol karena sudah berakting dengan baik. Nisa sendiri hanya bisa tertunduk agar tidak melihat bagaimana akting kakaknya. Dia hampir saja tidak bisa menahan tawanya.
"Rasanya aku ingin sekali menyuruh mereka ikut casting sinetron," batin Nisa.
"Kenal, Nak. Jadi dia membantu kesulitanmu selama di Jakarta?" tanya Badiah.
Tentu ini kesempatan emas bagi Benny untuk membantu Johan mendapatkan restu. Dia menceritakan dengan jelas bagaimana kondisi di Jakarta dan apa saja kebaikan Johan. Tak lupa, dia menceritakan jika sebelum bertolak dari Jakarta, dia diajak Johan bertemu dengan kedua orang tuanya.
Badiah mendengarkan dengan seksama bagaimana menantunya bercerita. Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam hati setelah mendengar kebaikan itu. Badiah bukan tidak suka dengan kebaikan dan kepribadian pemuda bernama Johan itu, tetapi yang menghalangi restunya adalah karena dunia yang digeluti pemuda itu.
"Sepertinya Ibu mulai luluh nih," batin Nisa setelah melihat sekilas raut wajah ibunya, "terus, Mas Ben! Lanjutkan terus sampai Ibu luluh!" Nisa seperti memiliki harapan setelah melihat situasi ini.
__ADS_1
"Ibu sangat bahagia kalian selamat dari musibah ini. Entah karena pertolongan Johan ataupun orang lain, kalian tetap harus berterima kasih kepada Allah atas semua ini. Orang-orang yang memudahkan jalan kalian adalah perantara dari pertolongan Allah. Alhamdulillah, kalian bisa bertemu dengan orang-orang baik," jelas Badiah dengan mata yang berkaca-kaca.
Ya ... meski tidak secara langsung menyanjung Johan di hadapan semua orang, tetapi Nisa paham jika sebenarnya ibunya mulai mengakui kehebatan Johan. Apalagi, Benny terus memuji pemuda gagah itu di hadapan Badiah. Tentu ini akan menjadi poin tambahan bagi pemuda yang sedang berdinas di Jakarta itu.
"Oh iya, lalu bagaimana untuk acaranya besok? Belum ada persiapan sama sekali loh ini," tanya Badiah setelah teringat jika acara syukuran digelar secara mendadak.
"Ibu tidak perlu khawatir, aku sudah pesan di catering rumah makan Wong Dawung punya pak Kasmubin itu loh, Bu. Terus untuk kuenya juga sudah pesan. Jadi, besok tinggal masak rawon atau soto daging saja," jelas Fina agar ibunya tidak memikirkan untuk masalah itu.
"Ibu setuju kalau kamu pesan di situ. Selain porsinya besar, masakannya juga enak. Lagi pula ramah di kantong untuk harganya," ucap janda dua anak itu.
"Berarti setelah ini aku antar ke pasar ya, Bu. Mumpung belum keburu siang," usul Nisa.
"Ibu mau ganti baju dulu kalau begitu." Badiah beranjak dari tempatnya.
"Mana duitnya, Mbak. Biar aku saja yang belanja sama ibu." Nisa mengulurkan tangannya kepada Fina dengan senyum sumringah.
"Hmmm ... semangat bener yang baru dapat sinyal," sindir Fina sambil membuka dompetnya untuk mengeluarkan segepok uang.
****
Malam telah datang setelah ditinggalkan sang mentari. Beberapa kerabat dekat ada yang datang ke rumah Badiah untuk membantu mempersiapkan untuk acara besok malam. Fina, Nisa dan Badiah sibuk menata ruang tamu yang akan dipakai syukuran besok malam. Rencananya mereka akan mengundang tetangga dan kerabat dengan jumlah seratus orang. Tentu mereka membutuhkan tempat yang luas untuk menyelenggarakan acara tersebut.
"Bu, aku nulis undangan dulu ya. Sampai lupa kalau undangannya belum keurus," ujar Nisa sebelum masuk meninggalkan ruang tamu. Tak berselang lama, dia kembali dengan membawa undangan kertas yang ada di dalam kantong.
"Mbak, bantuin melipat undangan atau Mbak yang nulis namanya?" tawar Nisa setelah duduk di lantai beralas karpet itu.
"Kamu saja yang nulis namanya, Nis," jawab Fina setelah duduk di sana.
Badiah masih sibuk menata teras rumah karena masih ada beberapa barang yang perlu dipindahkan. Hingga beberapa puluh menit lamanya, janda dua anak itu akhirnya selesai melakukan tugasnya. Dia bergabung di ruang tamu bersama kedua putrinya.
Tatapan mata Badiah tertuju pada Nisa. Dia mengamati putrinya yang sibuk mengatur undangan bersama Fina. Ada banyak hal yang menjadi beban pikirannya. Tentu dia sebenarnya tidak tega melihat Nisa seringkali kecewa karena belum mendapat restu darinya. Badiah bisa melihat dengan jelas besarnya perasaan Nisa untuk Johan. Janda dua anak itu termenung karena memikirkan semua ini.
"Pak, apa yang harus aku lakukan, Pak? Haruskah aku menerima lamaran dari Wiratama dan membiarkan putri kita bahagia dengan pilihannya sendiri? Tidak bisa diingkari jika Johan adalah pria yang baik, tetapi rasanya aku berat melepaskan Nisa untuk dia, Pak," batin Badiah. Dia merasa sedang mengeluh di hadapan mendiang suaminya.
__ADS_1
Helaan napas berat terdengar di sana hingga membuat kakak beradik itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Mereka sampai menghentikan aktivitas saat melihat matanya yang berembun.
"Ibu kenapa? Apa yang sedang Ibu pikirkan?" tanya Fina. Jujur saja di khawatir karena melihat gurat kesedihan di wajah ibunya.
"Ibu hanya ingat Bapakmu saja. Andai Bapakmu tahu bagaimana kalian saat ini. Pasti dia bahagia," gumam Badiah sambil mengusap air matanya.
"Bu, jangan begitu. Bapak pasti tahu bagaimana keadaan kita. Ibu tidak perlu memikirkan hal itu lagi," tutur Fina sambil menepuk paha Badiah.
Badiah hanya bisa manggut-manggut setelah mendengar penuturan putrinya. Dia mencoba kembali menunjukkan sisi tegar yang selama ini dia tunjukkan kepada kedua anaknya.
"Nis, kamu itu benar suka sama Johan?" tanya Badiah tiba-tiba hingga membuat Nisa menelan ludah.
"Iya, Bu." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Nisa.
"Sudah kamu pikirkan dengan matang apa risiko menjadi istrinya semisal kalian berjodoh?" tanya Badiah lagi.
Nisa tercekat setelah mendengar pertanyaan itu. Dia menatap Fina dengan lekat karena bingung tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya. Nisa harus menjawab dengan yakin mumpung ada kesempatan baik di depan mata.
"Sudah, Bu. Aku sudah siap dengan segalanya," jawab Nisa dengan tegas.
Badiah kembali termenung setelah mendengar jawaban putrinya. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan segala sesuatu yang menjadi beban pikirannya saat ini. Sesekali Badiah menatap Nisa, tetapi tak lama setelah itu dia kembali tertunduk. Mungkin ada banyak hal yang sedang dipertimbangkan janda dua anak itu.
"Kalau begitu begini saja. Suruh dia menemui Ibu besok. Ibu ingin bicara dengannya. Ingat, besok! Ibu tidak menerima dia jika lusa baru datang ke sini! Katakan padanya, seorang prajurit harus sigap dalam bergerak!" ujar Badiah dengan tegas hingga membuat Nisa dan Fina tercengang.
Nisa hanya bisa menelan ludah setelah mendengar jawaban ibunya. Ada rasa senang dan gelisah yang membaur menjadi satu dalam hatinya. Dia hanya takut jika besok Johan tidak bisa menghadap ibunya itu.
"Aku harus menghubunginya sekarang!" ujar Nisa seraya beranjak dari tempat duduknya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Datang yuk ke acara syukuran Fina dan Benπ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1