Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tarik Ulur


__ADS_3

Selamat menikmati kesunyian malam ini. Aku mau bobok dulu. Good night, Mas Benny yang terhormat. Jika sanca memberontak keluar, silahkan diselesaikan sendiri. Ini adalah hukuman untuk suami genit.


Tubuh tegap terasa lunglai serta getaran-getaran di dalam raga hilang begitu saja setelah sang empu membaca pesan masuk. Bayang-bayang liar atas tubuh indah sang istri hilang begitu saja hingga membuat sanca kembali tertidur.


"Jadi aku kena prank?" gumam Benny setelah meletakkan ponsel di atas meja. Helaan napas berat terdengar di sana sebagai tanda rasa kecewa, "ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Benny seraya beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju kamar utama untuk menemui istrinya.


"Astaga! Dikunci," gerutu Benny saat menekan handle pintu yang tertutup rapat.


Benny merasa frustasi atas kejadian ini. Setelah bayang-bayang liar memenuhi pikiran, kini hanya beban yang hadir dalam pikiran. Padahal, Benny tidak melakukan apapun kepada dengan Renata, tetapi Fina memberikan hukuman seberat ini.


"Ini lebih berat dari sekadar menanggung gaji karyawan," gumam Benny sambil menarik rambutnya kasar, "oh sanca. Bersabarlah! Sarangmu sedang tertutup rapat," gumam Benny sambil membenarkan letak sanca yang tertidur pulas di dalam sangkar.


Benny merasa gusar karena belum menemukan jalan keluar atas masalah sepele ini. Bahkan, tak sedikitpun dia genit kepada Renata. Akan tetapi malam ini dia harus menanggung hukuman dari sang istri. Pria tampan itu masih mondar-mandir di depan kamarnya karena bingung harus tidur di mana. Tidak mungkin jika dia harus tidur di ruang keluarga. Pada akhirnya mantan duda itu memutuskan tidur di kamar putranya.


"Untung saja Elza sudah tertidur pulas," gumamnya setelah membuka pintu kamar tersebut.


Sementara itu di kamar utama ... Fina tak henti tertawa saat membayangkan bagaimana ekspresi wajah suaminya. Dia pun sudah menonaktifkan ponselnya agar Benny tidak bisa mengganggunya.


"Rasain! Kena tipu kan!" gumam Fina sambil melepas lingeri menggoda itu dari tubuhnya. Dia kembali memakai piyama lengan panjang sebelum merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Salah sendiri kenapa pakai duduk bersanding sama ulet bulu! Tanggung sendiri tuh akibatnya," gumamnya lagi setelah berada di atas tempat tidur, "haah! akhirnya malam ini aku bebas dari rasa geli!" ujar Fina dengan hembusan napas yang berat.


Malam ini tidak ada guncangan lokal yang terjadi di atas ranjang king size itu karena sang empu hanya tidur bersama guling tercinta. Fina mulai menutup kelopak matanya agar cepat terlelap meski tanpa kehadiran Benny di sana.


Detik demi detik terus berlalu. Tanpa terasa penunjuk waktu sudah berada di angka satu dini hari. Selama itu pula, Fina hanya bisa membolak-balikkan badan di atas tempat tidur. Harapan segera terbang menuju alam mimpi sepertinya hanya sekadar angan. Kelopak mata itu tertutup rapat tetapi telinga masih bisa mendengarkan suara jarum jam yang tak pernah berhenti berputar.


"Ya Allah, kenapa hamba tidak bisa tidur begini," gumam Fina setelah membuka kelopak matanya. Dia duduk bersandar di headboard ranjang sambil memijat keningnya.


"Apa iya karena gak ada mas Benny jadi aku gak bisa tidur?" Fina mencoba menerka alasan yang membuat dirinya tetap terjaga hingga saat ini.

__ADS_1


"Gak! Pasti ini hanya kebetulan saja." Fina mencoba menolak praduga yang muncul dalam diri.


Wanita berbadan dua itu mengacak rambutnya dengan kasar karena tidak tahu harus bagaimana menyikapi keadaan ini. Lantas, dia mengalihkan pandangan ke samping, mengamati tempat kosong yang membuat ranjang tersebut terasa kurang lengkap.


"Aduh! Kenapa aku jadi nyesel begini sih!" Fina menepuk keningnya ketika rasa sesal hadir dalam diri, "gak! Aku gak boleh nyesel!" Fina mencoba menolak rasa yang ada dalam dirinya.


Sejauh apapun wanita berbadan dua itu membuang perasaannya, tetap saja, dia rindu dekapan hangat Benny. Padahal, masih beberapa jam saja dia berjauhan dengan ayah dari Elzayin itu.


"Kira-kira Mas Benny tidur di mana ya?" gumam Fina saat memikirkan keberadaan suaminya.


Rasa penasaran yang begitu besar membuat Fina turun dari tempat tidur. Dia ingin memastikan jika Benny tidur di tempat yang nyaman. Suasana lantai dua sunyi sepi seperti tak berpenghuni. Fina terus melangkahkan kaki menuju ruang keluarga yang ada di sana untuk mencari Benny.


"Loh kok gak ada sih?" gumam Fina setelah sampai di sana dan ternyata tidak menemukan batang hidung suaminya, "tidur di mana dia?" gumamnya lagi sambil membalikkan badan. Lantas dia berjalan menuju kamar tamu yang ada di sebelah kamar Elza.


"Kosong juga." Helaan napas berat terdengar di sana. Hanya ada satu kamar yang belum diperiksa yaitu kamar Elza.


Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibir itu tatkala melihat sosok yang dicari ada di sana. Fina melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut untuk memastikan jika anak dan ayah itu sedang tertidur pulas.


"Mending aku ikutan tidur di sini aja kali ya," gumam Fina dengan suara yang lirih.


Perlahan wanita berbadan dua itu duduk di tepian tempat tidur dan setelah itu dia membaringkan badan di sebelah Benny. Separuh jiwa yang sempat hilang, kini mulai kembali lagi. Dia merasa lega karena ada Benny di sampingnya.


"Terkadang hidup itu lucu. Tadi diusir sekarang dicari. Pasti tidak bisa tidur 'kan?"


Fina terbelalak setelah mendengar suara bariton itu. Dia menoleh ke samping dan tak lama setelahnya sang pemilik suara pun ikut membalikkan badan.


"Mas!" ujar Fina dengan wajah yang tertekuk. Dia merasa malu karena ternyata Benny tidak tidur.


"Kenapa? Kangen ya?" tanya Benny sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


"Iih apa sih!" Fina tersipu malu mendapati pertanyaan itu.


"Ayo pindah ke kamar. Jangan sampai Elza bangun gara-gara kamu berisik," ajak Benny sebelum bangun dari tempat tidur itu.


Tanpa banyak bicara ataupun protes, Fina pun mengikuti Benny keluar dari kamar Elza. Dia berjalan di belakang Benny menuju kamar utama. Ada rasa suka dan malu yang membaur menjadi satu setelah sepasang suami istri itu sampai di kamar.


"Udah cepat tidur! Kamu pasti dari tadi gak tidur kan?" ujar Benny sambil mengarahkan Fina ke tempat tidur.


"Enggak tuh! Aku dari tadi tidur nyenyak," kilah Fina tanpa berani menatap Benny.


"Oh, ya sudah kalau begitu aku tidur di kamarnya Elza saja," ujar Benny sambil membalikkan badan dan bersiap melangkah pergi.


"Jangan!" sergah Fina sambil menarik tangan suaminya. Dia tidak mau jika Benny pergi dari kamar ini.


Benny tersenyum penuh kemenangan setelah merasakan pergelangan tangannya dicekal oleh Fina. Kali ini kemenangan akan menjadi miliknya. Dia bertekad untuk mendapatkan sesuatu yang tadi sempat tertunda.


"Kali ini kamu yang harus dihukum. Ganti piyamamu dengan yang tadi!" ujar Benny setelah berdiri berhadapan dengan Fina.


"Tapi aku udah ngantuk, Mas! Besok saja ya," tolak Fina dengan suara yang manja.


Benny tak kehabisan akal dalam mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mencari cara agar bisa membuat Fina melakukan tugasnya. Mantan duda itu tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya, karena dia pun sempat tidak bisa tidur karena sakit kepala akibat hasrat yang tertunda.


"Memangnya kamu gak takut berdosa jika menolak nafkah dari suami? lagipula kamu sendiri bukan yang sudah mancing duluan. Jadi ... sekarang waktunya kamu mendapatkan ikannya." Benny menatap wajah cantik istrinya dengan lekat, "lakukan seperti yang tadi! Aku suka melihat kamu genit dan agresif," ucap Benny sambil mengerlingkan mata.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Mohon maaf ya sayangku karena update belum stabil. Yang ngesave nomor othor pasti tahu status WA othor lagi di mana aja😓Othor lagi sok sibuk kegiatan di RL sekaligus wara-wiri ke RS😎Tapi tenang aja, keadaan ini mungkin akan segera membaik. Harap sabar ya shay😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2