Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Titipan Misterius.


__ADS_3

Mojokerto.


"Nis, tolong belikan sayur kol dan wortel di lapaknya bu Sri. Ini uangnya, gak usah pakai lama!" ujar Badiah ketika menemui Nisa yang sedang bersih-bersih di halaman rumah.


Gadis cantik itu segera meletakkan sapu lidi yang ada dalam genggamannya di samping toko kelontong. Dia mengambil uang pemberian Badiah dan setelah itu masuk ke dalam rumah untuk mengambil bolero dan kunci motor.


"Selain di bu Sri gak ada kah, Bu?" tanya Nisa setelah keluar dari kamarnya. Dia mengayun langkah menuju ruang tamu dan segera mendorong keluar motornya.


"Gak ada! Ibu sudah keliling di sekitar sini, tapi udah habis. Udah buruan berangkat, nanti kehabisan lagi. Mbakmu pasti mengharapkan capcay buatan Ibu jika kamu pergi ke sana nanti," ujar Badiah.


Tanpa banyak protes lagi, Nisa segera berangkat menuju lapak sayur bu Sri yang ada di desa sebelah. Gadis cantik itu sangat malas karena lapak sayur bu Sri hanya berjarak dua rumah saja dari kontrakan Ardi.


"Semoga aja dia gak ada di rumah," gumam Nisa ketika laju motornya mendekati rel kereta api. Pasalnya dia malas bertemu dengan penghuni kontrakan yang ada di dekat rel kereta itu.


Namun, sepertinya harapan yang sempat dipanjatkan Nisa tidak terkabul. Ternyata Ardi berdiri di halaman rumah sambil meregangkan otot-otot tubuh. Dari jauh Nisa melihat pemuda itu berjalan menuju lapak sayur bu Sri.


"Duh ngapain coba orang aneh itu pakai ke lapak sayurnya bu Sri! Duh, putar balik juga gak mungkin, bisa dicincang Ibu jika aku tidak mendapatkan sayur kol sama wortelnya. Bayi Surabaya juga bisa ngiler nanti! Aiish!" gerutu Nisa dengan kesal. Tidak ada pilihan yang baik dalam situasi yang dia hadapi saat ini.


Bukan tanpa sebab Nisa kesal dengan Ardi. Pasalnya, pemuda dengan pembawaan maskulin itu terkesan cuek dan aneh. Jarang menghubungi tetapi sering mengikuti kemana Nisa pergi. Pemuda itu seakan tahu apa saja dan di mana saja kegiatan Nisa berlangsung. Sebagai seorang gadis tentunya Nisa bingung menghadapi semua sikap aneh Ardi. Hal itu lah yang menambah kekesalan Nisa selama beberapa bulan terakhir ini.


"Bu, Sayur kol sama wortel masing-masing dua bungkus," ucap Nisa setelah berdiri di depan lapak sayur tersebut. Mau tidak mau dia harus berdiri di sisi Ardi yang sedang memilih aneka masakan siap makan yang tersedia di lapak tersebut.


"Antre dulu ya Mbak Nisa. Saya masih meladeni Mas Ardi nih. Tunggu sebentar aja, saya bungkusin lauknya dulu. Kasian loh dia gak ada yang masakin Mbak Nis," cerocos pedagang sayur bernama lengkap Sriti Neng Khali itu.


"Iya nih, Bu. Semuanya serba sendiri, maklum jauh dari orang tua," jawab Ardi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nisa.

__ADS_1


"Cari istri, Mas! Banyak anak gadis di sekitar sini, ya ... misal Mbak Nisa ini. Pepet aja Mas, siapa tahu jodoh!" kelakar Sriti sambil fokus membungkus sayur lodeh pesanan Ardi.


"Kalau anaknya mau sih, saya sih mau aja," jawab Ardi tanpa berpikir panjang.


Nisa terbelalak setelah mendengar jawaban asal itu. Wajahnya bersemu merah karena menahan malu di depan beberapa ibu-ibu yang ada di sana. Tangannya terkepal erat karena ingin sekali melayangkan bogem mentah kepada pemuda yang berdiri di sisinya.


"Awas saja kau, Manusia aneh!" ujar Nisa dalam hatinya.


"Ini uangnya, Bu," ucap Ardi setelah menerima kantong kresek berisi makanan jadi itu.


"Aku tunggu di depan rumah, ada yang ingin aku berikan untukmu," bisik Ardi sebelum meninggalkan lapak tersebut.


Nisa tak menghiraukan bisikan itu. Jangankan menjawab, menoleh saja rasanya enggan. Dia fokus pada Sriti yang sedang membungkus kol dan wortel. "Sebenarnya dia itu kenapa coba? Kenapa selalu mengganggu ku sih!" gerutu Nisa dalam hati.


Setelah selesai berbelanja di lapak tersebut, Nisa naik ke atas motornya. Dia harus segera pulang karena dua sayuran ini ditunggu oleh Badiah. Lagi pula, pagi ini dia harus pergi ke Surabaya, seperti permintaan Benny kemarin malam. Mungkin Nisa akan pulang setelah Benny kembali ke Surabaya.


Nisa menarik rem di tangan kirinya dengan kuat saat dihadang Ardi di depan rumahnya. Gadis berhijab itu semakin emosi dibuatnya karena terkejut. Dia tidak menyangka jika Ardi berani menghadangnya seperti itu.


"Kamu udah gak waras ya!" sarkas Nisa dengan kesal.


"Salah sendiri kenapa gak berhenti. Aku sudah bilang ada sesuatu yang harus aku berikan kepadamu," ujar Ardi dengan tegas, "minggir!" titahnya seraya meraba kunci motor matic itu dan tanpa diduga, dia mengambilnya.


"Hei! Jangan gila! Aku harus segera pulang!" teriak Nisa sambil mendorong motornya menepi di bahu jalan.


Suasana pagi yang indah telah dilewati Nisa dengan kekesalan terhadap Ardi. Pemuda itu benar-benar misterius baginya. Beberapa kali menghilang dan kembali muncul secara tiba-tiba. Alasan inilah yang membuat Nisa terus berpikir buruk tentang Ardi.

__ADS_1


"Aku titipkan kotak ini kepadamu. Tolong jangan dibuka dan sembunyikan di tempat yang aman. Kamu boleh membukanya jika tiga bulan ke depan aku tidak kembali ke kontrakan ini. Aku percaya denganmu," ucap Ardi saat menyerahkan kotak berwarna hitam yang dibungkus dengan kantong kain tutu. Jika dilihat dari kotaknya, pasti bukan barang sembarangan yang tersimpan di sana.


"Hei ini apa? Gak ah! Aku takut ini barang barang haram yang diincar polisi!" Nisa menolak barang titipan Ardi karena takut.


"Aku berani bersumpah, jika ini bukanlah barang haram. Ini barang berharga yang aku miliki. Aku tidak yakin bisa menjaganya selama aku pergi dari kontrakan ini. Jaga dirimu baik-baik. Hari ini kamu pergi ke Surabaya 'kan?" ujar Ardi sambil menepuk bahu Nisa.


Gadis berhijab itu terperangah setelah mendengar pernyataan Ardi. Dia tidak habis pikir, bagaimana Ardi bisa tahu jika dirinya akan pergi ke Surabaya, "kamu ... kamu! Kamu!" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Nisa.


Ardi mengembalikan kunci motor Nisa. Dia memutar kunci tersebut sampai dalam kondisi mesin hidup. Dia mengamati Nisa dengan intens karena selama ini belum pernah sedekat ini dengan Nisa, "sebaiknya kamu pulang sekarang! Pasti sayurnya ditunggu orang rumah," ujar Ardi sebelum meninggalkan Nisa di sana. Dia masauk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu tersebut.


"Astagfirullah," gumam Nisa setelah sadar dari rasa shocknya.


Gadis cantik itu pun akhirnya menarik gas yang ada di tangan kanannya. Selama dalam perjalanan pulang, Nisa terus kepikiran semua yang sudah diucapkan oleh Ardi, "sebenarnya ini kotak apa sih? Tujuannya apa coba dia menitipkan barang berharga ini?" gumam Nisa sebelum sampai di halaman rumah. Kedatangannya disambut Badiah yang sedang berkacak pinggang di teras rumah.


"Masyaallah, kamu ini beli sayur kol di lapaknya bu Sri atau di pasar langsung sih, Nis! Masa iya beli sayur saja lama sekali! Panci keburu gosong karena nunggu dua sayuran ini!" cerocos Badiah tanpa menunggu Nisa turun dari motor.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Sebenarnya si Ardi ini siapa dan kenapa?πŸ˜†...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya super duper keren untuk kalian semua😍Yuk baca karya author Desi Puspita dengan judul Pernikahan Tak Terduga. Jangan sampai gak bacaπŸ˜†...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2