Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Shock!


__ADS_3

Rasa was-was setiap hari menyelimuti diri Badiah setelah mengetahui putrinya berhubungan dengan seorang intel. Dua hari ini dia merasa tidak tenang karena pikiran buruk terus menghantui. Wanita yang menyandang status sebagai seorang nenek itu tidak bisa menikmati masa bahagia bersama cucunya setelah tahu masalah ini.


"Bu, nanti malam mau masak apa?" tanya Fina setelah menghampiri ibunya yang sedang termenung di toko kelontong.


"Apa ya, Fin? Ibu mendadak kehilangan ide mau masak apa." Terlihat jelas jika tidak ada semangat yang muncul dari dalam diri wanita paruh baya itu.


Fina menghela napas setelah melihat respon ibunya. Dia tahu jika beberapa hari ini Badiah sedang gelisah. Dari sorot matanya saja sudah terlihat jika ada beban berat yang sedang dirasakan wanita paruh baya itu.


"Bu, sudahlah," ucap Fina ketika menepuk bahu ibunya. Dia duduk di samping Badiah dengan helaan napas panjang, "tidak perlu berpikir berlebihan. Jangan berpikir negatif terus, Bu," tutur Fina dengan diiringi senyum tipis.


"Bagaimana Ibu gak mikir, Fin. Adikmu saja suka dengan pria itu. Bagaimana kalau mereka berjodoh? Ibu tidak siap melihat hidup Nisa tidak tenang dan selalu dihadapkan dengan bahaya," gumam Badiah dengan suara yang lirih.


"Bu, sebaiknya kita tidak memikirkan hal itu dulu. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas masalah ini lagi? Tetapi kenapa sekarang justru Ibu yang memikirkan semua ini. Ayolah, Bu ... ada Elza dan Shazia di sini, mereka bisa mengalihkan pikiran Ibu dari hal itu." Fina mencoba menenangkan ibunya agar tidak terlalu berpikir ke arah sana.


"Kata Kyai Ma'ruf dulu, jika kita mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, itu salah satu bentuk kesombongan kepada Allah loh, Bu," ucap Fina seraya tersenyum manis. Kyai Ma'ruf sendiri adalah pengasuh pondok pesantren yang dulu dia tempati menimba ilmu.


"Astagfirullah haladzim," gumam Badiah seraya mengusap dadanya.


Kehadiran Fina di sana mampu menenangkan hati Badiah meski tidak semua rasa khawatir itu hilang. Setidaknya masih ada anak yang bisa diajak bicara dengan membahas hal lain. Mereka berbincang bersama sampai ada mobil Alphard putih berhenti di depan toko kelontong. Badiah dan Fina beranjak dari tempatnya karena penasaran siapa gerangan yang datang.


"Siapa ya, Bu?" tanya Fina saat melihat sopir yang mengendarai mobil itu membukakan pintu belakang.


"Entahlah. Sepertinya orang penting," jawab Badiah sambil mengamati dua orang yang turun keluar dari mobil. Wanita paruh baya itu tidak mengenali sosok pria dan wanita dengan sebagian wajah yang tertutup masker.


"Coba lihat, Fin. Orangnya lewat samping," ucap Badiah ketika melihat kedua tamunya berjalan menuju teras rumahnya.


"Ibu saja lah, nanti aku susul deh, Bu. Tokonya ditutup saja." Fina sepertinya takut dengan kehadiran tamu tak dikenal itu.


Badiah mengayun langkah setelah mendengar suara seorang pria dari samping toko. Dia buru-buru keluar dari toko kelontong lewat pintu penghubung di ruang tamu. Tak lupa wanita paruh baya itu membenarkan kerudungnya sebelum menyambut kehadiran tamunya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," ucap janda dua anak itu setelah keluar dari ruang tamu, "maaf mau cari siapa?" tanya Badiah setelah berhadapan dengan kedua tamunya itu.


Kedua tamu misterius itu serempak melepas maskernya. Mereka mengembangkan senyum tipis sambil menatap lekat janda dua anak itu. Sementara Badiah sendiri masih termenung sambil mengingat wajah yang sangat familiar itu.


"Mbak Bad, masih ingat saya 'kan?" tanya wanita tersebut dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke dalam, "Rahayu," ucap wanita tersebut ketika Badiah tak segera menjawab pertanyaannya, "ini Wiratama." Wanita tersebut menepuk bahu pria yang ada di sampingnya.


"Ya Allah, Ya Allah." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Badiah karena terkejut dengan kehadiran tamu tak terduga itu, "mari silahkan masuk," ucap Badiah sambil memberikan jalan untuk kedua tamunya agar masuk ke dalam ruang tamu.


"Monggo pinarak," ucap Badiah sambil menunjuk sofa panjang yang ada di sana.


"Alhamdulillah." Pria bernama Wiratama itu bergumam setelah duduk di sofa bersama istrinya.


Badiah masih tidak percaya jika Rahayu dan Wiratama sampai datang ke Mojokerto untuk bertemu dengannya. Padahal, sudah puluhan tahun mereka tidak berkomunikasi. Badiah sampai lupa dengan perubahan wajah kedua tamunya itu.


"Maaf saya masih shock saat ini," ucap Badiah dengan senyum yang dipaksakan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Rahayu dan Wiratama.


"Santai saja Mbak, tidak perlu takut dan khawatir. Keadaan sudah aman." Wiratama mengembangkan senyum tipis, "Rawe sudah meninggal." Hanya itu yang disampaikan oleh Wiratama hingga membuat Badiah bernapas lega.


Kehadiran Fina dari pintu penghubung toko kelontong membuat ketiga orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arahnya, "Fin, sapa dulu Pak Wiratama dan Bu Rahayu," ucap Badiah sambil memberikan kode agar Fina bersalaman dengan tamunya.


"Ya Allah, Fina sudah sebesar ini. Cantik sekali," puji Rahayu ketika menatap Fina yang baru saja bersalaman dengannya dengan takzim.


"Terima kasih, Bu," jawab Fina dengan sopan.


Fina duduk di sebelah ibunya untuk sekadar basa-basi bersama tamu yang datang dari jauh itu. Tak lama setelah itu suara tangisan Shazia terdengar dari dalam rumah. Nisa pun keluar dari ruang keluarga tanpa memakai hijab karena dia belum tahu jika ada tamu.


"Mbak, Zia nangis nih!" ujarnya dengan suara lantang, "eh, ada tamu ternyata," gumam Nisa seraya berbalik arah. Dia malu karena sedang tidak memakai hijab.


"Nisa. Salim dulu sama Bu Rahayu dan Pak Wiratama!" ujar Badiah hingga membuat langkah Nisa terhenti.

__ADS_1


Gadis cantik dengan rambut hitam yang tergerai itu termangu di tempatnya. Dia merasa shock karena kehadiran orang tua Ardi atau Johan di rumahnya. Hati yang sempat porak-poranda karena rasa suka di hatinya terhempas karena larangan orang tua, kini semakin kacau.


"Nis, temui itu pak Wiratama sama istrinya. Biar Shazia sama aku," ucap Fina ketika mengambil alih Shazia dari gendongan Nisa, "udah, buruan salim sana!" ujar Fina dengan suara yang sangat lirih.


Perlahan, gadis cantik itu membalikkan badan dan menatap tamu yang hadir di sana untuk sesaat. Jujur saja dia merasa takut karena kehadiran mereka di sana. Apalagi, setelah mendengar cerita dari ibunya tentang hubungan keluarga mereka.


"Pak, Bu," sapa Nisa sambil membungkukkan badan. Dia bergegas menjabat tangan sepasang suami istri itu.


Rahayu mengembangkan senyum yang sangat manis ketika melihat wajah cantik tanpa hijab itu. Ibu Persit(Persatuan Istri Tentara) itu terkesima melihat kecantikan natural yang dimiliki oleh Nisa.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Badiah seraya menatap kedua tamunya. Dia seperti kehilangan kata-kata dalam diri karena situasi tak terduga ini.


"Kabar kami baik-baik saja, Mbak Bad. Alhamdulillah seperti yang Mbak lihat sekarang," jawab Rahayu dengan sikap yang sangat ramah.


"Maaf kami tidak datang saat Mas Hasan meninggal. Kami juga terlambat mengetahui kabar duka tersebut, karena pada saat itu saya masih ditugaskan di Papua, Mbak," jelas Wiratama dengan ekspresi wajah penuh sesal.


"Tidak apa-apa. Lagi pula Bapaknya anak-anak udah lama meninggal, jadi tidak ada yang perlu disesali. Kalian benar-benar berubah ya sekarang, selamat atas keberhasilan kalian. Kelihatan masih awet muda, tidak seperti saya yang udah tua ini." Badiah mengembangkan senyum yang manis saat mengucapkan hal itu.


Suara tawa renyah Wiratama terdengar di sana setelah mendengar candaan Badiah. Mereka bercengkrama setelah sekian lamanya tidak bertemu. Sementara Nisa hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar perbincangan tersebut.


"Oh ya, Nis. Maaf ya kalau Johan belum bisa menemui kamu. Saat itu, Johan mengalami cidera yang cukup parah dan membutuhkan waktu lama saat masa pemulihan. Sekarang dia mulai bisa beraktivitas, tetapi belum bisa ikut datang ke sini," jelas Rahayu mengenai kondisi putranya.


"Iya, Bu, tidak masalah. Alhamdulillah kalau Ardi ... eh maksud saya Johan baik-baik saja keadaannya." Ada rasa lega di hati gadis cantik itu setelah tahu bagaimana kondisi pemuda yang sudah membuat hari-harinya terasa hampa.


Badiah sendiri mendadak bingung harus bagaimana ketika mengamati wajah putrinya. Ada rasa tidak tega, tetapi masih terkalahkan dengan ego dan khawatir yang berlebihan. Situasi ini semakin membuat kepalanya berdenyut hebat.


"Jadi, apa tujuan kalian datang dari Jakarta ke kota ini? Apakah ada hal penting yang perlu dibahas dari sekadar silahturahmi?" tanya Badiah seraya menatap lekat wajah Rahayu dan Wiratama.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Selamat Berbuka Puasa😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2